"Jangan diambil hati perkataan Mama, sayang. Kita akan tetap bahagia walau seperti ini, berhenti mendiamkan ku, aku tersiksa."
Yudha menahan lengang Ruliana, jujur dia tidak senang istrinya selalu menghindar beberapa hari ini.
"Kita akan liburan."
"Segera temui Mama, aku tidak ingin Mama semakin memojokkan ku." ucap Ruliana tanpa melepaskan tangan Yudha yang menahannya.
Yudha tidak memaksa istrinya untuk melakukan permintaan sang ibu, tapi Yudha juga tidak bisa menolak begitu saja perintah ibunya. Lelaki itu menuntun istrinya untuk dibawa duduk di bibir ranjang.
"Aku melakukan kesalahan. Tapi jangan diamkan aku. Kumohon."
"Aku hanya sedang lelah. Pergilah temui Mama." bayangan Yudha yang bertemu dengan Nilam membuat dadanya berkecamuk di tambah melihat secara langsung keakraban antara mantan istri sang suami dengan ibu mertuanya.
Jika Ruliana sedang menahan sesak di dadanya, maka Yudha tengah di landa gelisah. Ini bukan Ruliana-nya. Tangan Yudha enggan melepaskan genggaman, tapi dia tidak bisa memaksa Ruliana.
Semua kacau sejak dia bertemu Nilam. Haruskah dia memberi perhitungan pada mantan istrinya itu.
"Kamu tahu, aku tidak bisa marah dengan mu, Ana." saat itu Yudha menahan gejolak di dadanya. Dia terlalu takut jika Ruliana bersedih karenanya.
Tidak pernah ada masalah serius selama mereka bersama sehingga mereka harus bungkam mulut. Yudha dan Ruliana selalu membuka diri, karena itu tidak pernah ada perselisihan berarti.
Dengan gesit Yudha memeluk Ruliana. Ruliana ingin menangis, tapi sekuat hati ia menahannya.
"Seperti yang kamu mau. Aku akan ada saat mata kamu terbuka hingga tertutup."
Sangat wajar jika Yudha ingin membuat istrinya bahagia. Tapi salah besar ketika harus mengabaikan perintah ibunya.
Malam itu Maulida mengirim pesan pada anak dan menantunya. Mengatakan jika mulai detik ini baik Yudha maupun Ruliana tidak perlu lagi datang ke rumah besar.
******
Menyambut pagi, tak lagi seperti biasa. Jam lima subuh, Yudha sudah pergi kerumah ibunya. Yudha merasa bersalah pada ibunya tapi tidak bisa meninggalkan Ruliana yang sedang marah, Yudha ingin rumah tangganya kembali sehat.
Ruliana sudah cair, kini justru Ibunya yang marah padanya. Yudha menelan ludahnya. Ia tahu salah, karena selama ini ibunya terus menghargai apa yang menjadi pilihannya, ini pertama kalinya sang Ibu meminta sesuatu.
Yudha berlari ke kamar ibunya. Biasanya, ibunya tidak pernah mengunci pintu kamar. Berulang kali Yudha mengetuk tapi tak kunjung dapat jawaban.
"Nyonya sedang pergi."
Sepagi ini?
"Mobilnya ada Bi." Yudha juga Pak Bendi sopir pribadi ibunya di pos ronda.
"Nyonya dijemput "
Yudha tertegun. Siapa yang menjemput ibunya di pagi buta seperti ini?
*******
"Nilam buatkan teh serai untuk Ibu, diminum biar Ibu sedikit lebih baik."
"Terimakasih, Nilam."
Seulas senyum diberikan Nilam pada mantan ibu mertuanya.
Semalam Nilam sudah mendengar keluh kesah ibu dari mantan suaminya itu. Maulida kecewa berat pada putranya Nilam hanya jadi pendengar tidak sedikitpun memberi tanggapan yang dirasanya bukan kapasitas untuk ikut campur.
Pagi-pagi sekali wanita itu menghubunginya, meminta jemput karena merasa bisa memotong urat nadinya jika sampai bertemu dengan putranya yang membuat sakit hati.
Salah Nilam memberikan nomor ponselnya kala pertemuan di restoran saat itu.
Sedangkan Yudha merasa ditampar oleh keadaan. Sang ibu tidak ada dirumah. Ibunya sedang menghindarinya.
******
Seorang anak hadir saat rumah tangga orang tuanya hancur tanpa dirinya tahu jika kehadirannya sama sekali tidak dinantikan sang ayah karena soal hati, kala itu ayahnya lebih memilih wanita lain yang dirasa cocok dengannya.
"Jangan sebut kata Papa, apalagi bertanya. Kamu, alasan Mama masih ada di dunia ini." Mylea Elvarette yang tidak tahu apa-apa diharuskan memahami keadaan yang tidak semestinya. Seolah didoktrin sejak dini dengan pemahaman itu.
"Mylea hanya milik Mama." ini bukan nasehat tapi memang begitu seharusnya.
Berbeda dengan keadaan di luar negeri di Indonesia orang sangat kritis terhadap sekitar.
Contoh saja hari ini.
Baru saja putrinya masuk ke lingkungan sekolah Mylea sudah mulai bertanya tentang ayahnya.
Lingkungan sangat berpengaruh.
Sebelumnya ini yang membuat Nilam enggan membawa Mylea kembali, tapi Nilam sadar, cepat atau lambat Mylea memang akan tetap menanyakan hal tersebut.
Mylea seketika memeluk Nilam saat ciuman kecil mendarat di puncak kepalanya.
"Mylea sayang Mama." parau suara putrinya menandakan jika anak itu sangat menyayangi Nilam.
Di tempatnya, Yudha terpaku melihat kenyataan di hadapannya. Di belakang mobil ia bisa melihat wajah Mylea, yang tak lain adalah darah dagingnya.
Yudha tidak bisa bergerak, hingga dua orang yang pernah terikat dengannya pergi bersama.
Hak? Yudha tidak ingin menyinggung hal itu. Tentang naluri laki-laki yang sudah menjadi ayah mudah sekali merasakan keadaan memilukan ini. Yudha yang begitu perhatian pada keluarga mempunyai cinta yang besar pada istrinya nyatanya mengabaikan seorang anak yang kini telah tumbuh besar.
Ketika tiba di rumah, Yudha memperhatikan istrinya yang sudah menunggu kedatangannya.
"Mandi dulu, kita makan bersama."
Meski bibirnya mengulas senyum hati Yudha dilanda tanya. Bisakah Ruliana membuatnya melupakan masa lalu yang berlalu lalang di depan mata atau dirinya sendiri yang harus menutup mata pada masa lalunya?
Yudha mengulurkan tangannya. Ia tidak mau sendiri disaat gundah tengah melanda.
Bersama Ruliana, Yudha ingin melepas penat yang membebaninya. Hari ini bukan hanya perkara Ibunya yang tak ingin ditemui, hati tengah berkiprah pada masa lalu yang sulit ditentang nurani.
*****
"Mas Yudha tidak datang karena aku sakit, Ma."
Senin pagi Ruliana datang kerumah mertuanya, alangkah kagetnya dia melihat ibu suaminya itu tengah berbincang hangat dengan sang mantan menantu.
Maulida membuat Ruliana mengerti bahwa marwah tertinggi seorang wanita adalah ketika dia bisa meletakkan kodrat di atas segalanya.
"Sebagai istri kamu tidak bisa memberikan pedoman yang benar, jika denganku saja kamu cemburu bagaimana kelak ketika kalian memiliki anak?"
Nilam tidak mau ikut campur, setelah Pak Kadik mengatakan sudah berada di halaman rumah mantan mertuanya Nilam bergegas pamit mengundurkan diri.
"Jaga diri, Ibu." pesan Nilam.
"Tidak perlu berpesan, saya sebagai menantu Ibu pasti akan sangat menjaga ibu mertua saya."
Itu seperti unjuk diri. Tapi Nilam tidak mempermasalahkan, toh bagus jika istri Yudha paham kewajibannya.
Sudah malam Nilam ingin menghabiskan waktunya untuk putrinya. Harusnya dia bisa pulang lebih cepat, tapi tiba-tiba Maulida ingin mengembalikan barang milik Nilam yang di tinggal wanita itu delapan tahun yang lalu.
Sebuah cincin. Dulu sengaja Nilam tinggalkan karena dia merasa tidak berhak. Tapi Maulida tidak mau jika Nilam meninggalkan benda tersebut. Setidaknya itu sebagai kenang-kenangan darinya sebagai mantan ibu mertua.
Soal perbincangan. Mereka tidak menyinggung masa lalu.
Maulida tidak pernah menyebut nama putranya, setiap bertemu Nilam Maulida hanya menilai dari hati, tidak ada menyinggung apapun yang berkaitan dengan masa lalu.
Maulida memang kecewa karena Nilam tidak bisa menjadi menantunya lagi, tapi beliau terus mendoakan Nilam semoga mendapatkan pengganti yang jauh lebih baik.
"Ada tujuan apa anda kemari, Pak Yudha yang terhormat?"
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 91 Episodes
Comments
Heryta Herman
mantan suami yg aneh...
mamtan istri tdk mengusik hidupmu,kenapa jadi kamu yg meneror dan mengusik hidup mantan istri mu...
2024-07-29
2
fiza
nilam rilek jer,yg diorg tu nape gelisah sgt?..rasa bersalah la tu,🙄
2024-05-07
0
Mrs. Labil
knp yudha mrsa kacau stlh brtmu Nilam kmbali ?? msh ada rasa yg tertinggal kah ? katanya cintanya ruliana 😒😆😆
2024-04-17
1