Bab 12

Tatapan tajam Nilam menusuk netra Yudha.

"Katakan pada istri mu, putriku bukan anak haram! Dan kamu jangan lagi ikut campur urusanku. Anak seperti apa yang kamu mau? Anak dari siapa? Yang jelas bukan putriku. Karena itu kesalahan untukmu."

Ketegangan mulai terasa. Bola mata Yudha menghunus istrinya.

"Apa?" marah Ruliana, tatapan mata Yudha membuatnya terluka, kemana perginya sorot teduh yang selama ini ia dapatkan?

"Aku cuma butuh pengertian setidaknya untuk masalah ini." kentara sekali jika Yudha berusaha menahan emosi menjaga agar apa yang di ucapkan tak menyakiti hati Ruliana. Tapi tatapannya tak bisa berbohong jika dia marah dengan perbuatan istrinya kali ini.

"Tidak ada pengertian untuk masa lalu, sekarang kamu bisa memilih! Mas ingin pergi bersamaku atau tetap disini? Dan itu artinya kamu harus siap kehilangan aku."

Egois.

Yudha serasa tidak percaya mendengar kata-kata yang diucapkan oleh Ruliana.

Benarkan ini Ruliana istrinya?

"Aku berharap kamu salah bicara."

Keributan keduanya terpaksa harus berhenti karena dua satpam berhasil membuat keduanya di paksa keluar ruangan.

Jenar jengah mendengar perdebatan suami istri di sekitarnya. Sangat menganggu.

*******

"Dia benar Papa?"

"Mylea mau?"

Obrolan bersama putrinya, kembali dihadapi Nilam.

"Mama bagaimana?"

Nilam tidak harus menjawab. Mylea anak pintar dan Mylea dididik melihat masalah dengan persepektif luas.

Selanjutnya anak itu akan mengemukakan praktik menurut cara pandangnya.

"Mau lanjut berkenalan dengannya?" tanya Nilam tenang.

"Dia terlihat merindukanku." Mylea dapat melihat cara Yudha memandangnya.

"Mama tidak membatasi, jika kamu mau bertemu, silahkan."

"Setelah itu mama yang meninggalkan aku?" tanya itu sendu.

"Tidak. Selamanya mama untuk Mylea."

Tangan kecil itu meraih tangan Nilam.

"Promise?"

Nilam mengangguk sambil tersenyum manis.

Jenar menyaksikan langsung interaksi antara ibu dan anak yang mengharukan, mungkin ini pemandangan terakhir yang akan tersimpan di memorinya setelah kepergiannya esok.

"Besok Mylea boleh pulang. Itu artinya kita bisa ke pantai sama Om Je?"

Om Je?

Jenar tak bersuara meski tahu yang dimaksud Lea adalah dirinya. Harus apa? Karena esok dia harus sudah benar-benar pergi.

"Bagaimana ma, om?"

Oh, Nilam jadi tau siapa orang yang dimaksud putrinya. om Je? ada-ada saja Mylea.

"Ya "

"Maaf."

Serempak, tapi tak sama.

Keduanya saling memandang kemudian Jenar lebih dulu membuang pandangannya.

"Ada sesuatu?" tanya Nilam.

"Aku benar-benar harus pergi besok."

"Oh,"

Tak terasa waktu terus berjalan dan Jenar sudah bekerja lebih satu bulan dengannya, bahkan satu minggu yang di minta Jenar untuk mencari penggantinya telah terlewati begitu saja.

Tidak masalah.

Nilam tetap tidak akan mempersulit pekerjanya.

"Tentang pengganti ku..."

"Akan segera ku cari."

"Baik."

********

Semua makhluk di kantor Yudha akan menundukkan kepalanya, bila perlu langsung menghilang jika berhadapan dengan atasan mereka dalam keadaan bermasalah.

"Benar-benar tidak becus!" cacian, makian terus terdengar dari ruangan direktur utama yang tak lain adalah Yudha ayah dari seorang anak yang bernama Mylea.

Yudha mengerang frustasi setelah Ruliana pergi dari rumah, sedang Mylea pun sudah tidak berada di rumah sakit, Nilam? wanita itu tidak bisa di temui di manapun. Bahkan apartemen wanita itu sudah di tempati oleh orang lain. Kepala Yudha rasanya mau meledak.

Tapi Yudha melampiaskan kemarahannya pada orang-orang yang menggantungkan hidup dari perusahaan miliknya.

Miris.

Tapi itulah sifat manusia.

"Minum?" tanya David melihat pada atasannya.

Yudha mengangkat wajahnya.

"Istri ku minggat."

"Istrimu yang minggat tapi seisi kantor yang kau salahkan? Jika seperti ini terus, tidak cuma istrimu saja yang minggat tapi bahkan semua karyawan disini."

David benar-benar tidak habis pikir dengan sifat sahabatnya.

Lirikan tajam Yudha layangkan pada asistennya.

"Perlu rekrut sekretaris baru?"

"Aku mau pulang."

"Yud, ada pertemuan penting!"

"Handle dulu."

Yang benar saja?

Tapi berkali-kali David memanggil nama atasannya Yudha tetap keluar dari ruangannya.

******

Nilam baru saja pulang dari Jambi setelah hampir lima hari disana.

Bukan untuk pertama kalinya Nilam bepergian ke luar kota maupun luar negeri tapi ini pertama kalinya dia pergi tanpa membawa putri kecilnya, bukan tanpa alasan. Karena kini Mylea sudah masuk kelas dua sekolah dasar meskipun Mylea mendapatkan pendidikan itu dengan cara home schooling.

Tidak ikut sertanya Mylea membuat Nilam sangat-sangat merindukan buah hatinya. Dia ke apartemen hanya untuk menjemput Mylea untuk dibawa ke sebuah pertemuan penting.

Setelah melepas rindu sejenak, Nilam membawa serta Mylea untuk bertemu dengan seseorang yang akan menjadi rekan bisnisnya.

"Maaf sedikit terlambat, Pak Udgam." Nilam berjabat tangan.

Profesionalitas Nilam sering membuat orang terkagum-kagum. Wanita itu bisa menghadapi siapa saja dengan semua kondisi.

"Anda terluka?"

Nilam tersenyum tipis.

"Maaf atas keterlambatannya, Pak."

Tidak menjawab. Pria paruh baya itu malah melihat dengan seksama goresan memanjang yang berada di pipi kanan Nilam.

"Saya tersanjung bisa bertemu langsung dengan anda."

Tatapan kagum tidak di tanggapi Nilam. Bersyukur sekali dia bisa bekerja sama dengan perusahaan raksasa milik Udgam. Dan kini pria itu sendiri yang menghadiri pertemuan penting ini.

"Sebelumnya bisakah saya bertanya satu hal?"

Nilam mempersilahkan.

"Tentang luka anda. Apa sudah di obati?"

Sangat kentara pria itu berhati lembut tapi Nilam sudah tidak apa-apa.

Semua karena masa lalu, dan Nilam tidak bisa tenang karena ulah istri mantan suaminya itu.

"Saya tidak apa-apa. Tadi ada orang gila yang mengamuk dan pipi saya kena cakaran."

Berharap pak Udgam percaya dengan ucapannya Nilam tersenyum manis sekali lagi.

Sudah hampir tujuh menit tapi mereka belum memulai perihal kerja sama.

"Maaf saya sedang menunggu putra saya yang masih di perjalanan, Alfaaro yang akan melanjutkan perjuangan saya."

Nilam tidak terganggu dengan nama itu.

Jauh sebelum Nilam pulang ke Indonesia ia sudah tertarik bekerja sama dengan perusahaan Udgam namun baru sekarang terlaksanakan.

Pria dihadapannya sudah memiliki banyak umur. Tapi masih terlihat bugar. Mungkin karena pola hidup sehat yang di jalani. Siapa yang tidak mengenal Udgam dia juga terkenal dengan sebutan petani organik tersukses sejak tahun 2007 sayur-mayur sehat dan juga buah-buahan.

Dan hari ini Nilam seolah menjadi paham bahwa makan yang dikonsumsi seseorang bisa mempengaruhi kesehatan di masa tua.

"Kenapa sangat terlambat?" pak Udgam melihat ponselnya.

"Tidak apa-apa Pak, biasa di sore hari Jakarta sangat macet."

"Dia mau terjun di perusahaan juga karena sedikit paksaan untuk itu saya sedikit memaklumi, tapi kalau sampai membuat seseorang menunggu rasanya kurang pantas."

Nilam masih bungkam. Baru sekitar tujuh menit pria bernama Alfaaro itu telat tidak terlalu fatal dan masih dimaklumi.

Saat Nilam menikmati milk tea suara pria yang telah di tunggu terdengar menyapa.

"Maaf terlambat."

Melepas sedotan Nilam mengangkat wajahnya.

Mata Nilam bertemu dengan netra pria bernama Alfaaro tersebut.

Dan.....

"Bu Nilam?"

Terpopuler

Comments

Evy

Evy

kang Jenar kayaknya...

2024-05-05

0

Mrs. Labil

Mrs. Labil

keknya Om Jenarr deh 😍😍😍

2024-04-17

0

Mrs. Labil

Mrs. Labil

loh. loh. mau pergi tohh ??
nnti balik ya mas Jenarr 😍😍😍

2024-04-17

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!