"Alfa, hati-hati." Alfaaro tersentak ketika sadar hampir saja menabrak mobil di depannya.
"Maaf."
"Kamu baik-baik saja?"
"Aku hanya sedang kepikiran."
"Mikirin apa sampai nggak fokus? Bahaya!"
"Mikirin kamu.."
Nilam melihat wajah Alfaaro dari spion tengah, wajah itu tampak tenang namun perkataannya berhasil membuat Nilam melihat kearahnya.
Alfaaro pernah mencintai seorang gadis dulu, tapi hubungan mereka kandas karena orang tua si gadis tidak menyetujui hubungan mereka lantaran Alfaaro diketahui bukan putra kandung Udgam yang kaya raya, hanya anak seorang pelakor. Tanpa diketahui papa kandungnya juga bukan orang sembarangan.
Tentu saja pernyataan itu melukai hati Alfaaro, dia pergi dari rumah meninggalkan Udgam dan kakanya. Mencari kebebasan sebab putus cinta.
Saat keluarga besar si wanita menyesal, Alfaaro sudah kehilangan rasa itu, sebab ia tahu cinta si gadis untuknya bukan ketulusan, melainkan diukur dari jabatan dan kekayaan.
Untuk itu Alfaaro ingin memalsukan identitas, ingin mencari cinta sejati, siapa sangka dia malah naksir janda yang bukan sembarang janda.
Alfaaro ikut menatap kearah Nilam.
Tapi bukan Nilam jika tak bisa mengontrol diri, sejenak ucapan Alfaaro tidak lagi di pusingkan.
Kini pikirannya kembali berangan apa gerangan yang dilakukan istri Yudha pada mantan ibu mertuanya?
Nilam tidak sadar bahwa sikap tenangnya sangat mengusik hati pria yang masih bujangan. Meski tidak dengan tingkah menantang Alfaaro yang sedang jatuh cinta bisa melihat keistimewaan pada wanita itu.
Tidak ditemukan Alfaaro kilat penuh arti dari tatapan Nilam, semuanya masih sama seperti pertama kali bertemu dengan wanita itu. Raut dingin dengan tatapan datar yang sulit diartikan.
Bukan tidak merespon sebenarnya. Tapi menurut Nilam rasa suka bisa dimiliki siapa saja. Itu adalah hak semua orang.
Mobil kembali hening karena Mylea juga tertidur pulas di pangkuan Nilam hingga saat mobil mereka sampai di kediaman Maulida.
Awal mulanya Ruliana marah karena mendengar kabar jika Maulida akan memberikan aset berharganya untuk cucu pertamanya, itu berarti anak Nilam. Emosi menguasai diri hingga pertengkaran hebat dengan Yudha tak terelakkan.
"Aku akan menghentikan ibumu." teriak Ruliana.
"Ana, jangan egois, itu hak ibu. Terserah dia akan memberikannya kepada siapa." tegur Yudha.
"Harusnya anak kita yang dapat warisan itu " teriak Ruliana emosi.
"Aku tahu, tapi kita belum memilikinya bukan?"
"Aku nggak rela mas. Wanita itu pasti sudah menghasut ibumu."
Menghasut bagaimana? Bahkan beberapa hari ini Yudha tahu bahwa Nilam tidak pernah bertemu dengan sang ibu.
"Wanita itu memeras ibumu."
Dia kaya raya.
Ingin rasanya Yudha berkata seperti itu tapi takut semakin membuat istrinya emosi.
Yudha menatap kedua bola mata Ruliana.
Dulunya, kedua bola mata itu selalu terasa indah. Banyak sekali kemesraan yang dulunya Yudha lihat dari manik coklat Ruliana. Banyak sekali harapan yang dulunya Ruliana berikan untuk Yudha. Namun, sekarang. Semakin dalam tatapan itu Yudha labuhkan, semakin dalam dia menyiksa batinnya sendiri. Mengapa wanita yang dicintainya serasa asing sekarang?
Yudha tatap wajah cantik Ruliana yang masih diselimuti oleh amarah. Wajah itu masih sama. Debar jantung Yudha juga masih sama. Masih sama saat Yudha menjatuhkan hatinya pada Ruliana. Dulunya, senandung cinta Ruliana terdengar menembus relung hati Yudha. Namun, sekarang, hanya rintihan hati yang membawa kekalahan jiwa yang mencinta. Bukan maksud Yudha untuk menyalahkan pilihannya. Tetapi Yudha tak sanggup jika dia memeluk luka yang terus menggerogoti hatinya.
"Kamu tidak suka kan dengan keputusanku saat ini?" tak tahu dengan alasan apa pertanyaan itu muncul di bibir Ruliana.
"Aku akan melakukan bayi tabung, tapi katakan pada ibu mu bahwa hartanya tidak boleh di berikan pada anak haram itu "
Yudha memejamkan matanya, sudah untuk ketiga kalinya Ruliana menyebut Mylea anak haram. Tidak tahukah wanita itu jika julukannya menyakiti perasaan Yudha.
"Bayi tabung juga ada resikonya. Meski, potensi kehamilannya terbilang tinggi." terang Yudha berharap istrinya tidak terus menerus mengamuk.
"Resiko? Apa?" tanya Ruliana.
Sebelumnya Yudha sudah menemui dokter dan mencari tahu tentang bayi tabung, dan sudah mendengar baik buruknya dan resiko menjalani bayi tabung.
"Pertama, sindrom hipersyimulasi ovarium. Jadi, si ibu akan menghasilkan sel telur lebih banyak dari kondisi normal akibat pemberian obat penyubur. Biasanya, ditandai dengan sakit perut, kembung, dan berat badan naik. Sekitar dua persen perempuan yang melakukan bayi tabung mengalami sindrom ini, kemudian, keguguran, kehamilan oktopik, dan cacat lahir...."
"Kamu berniat menakuti ku, Mas?" potong Ruliana.
Yudha diam. Apa yang dipikirkan istrinya ini? Yudha mengkhawatirkan sang istri tapi yang dipikirkan istrinya malah hal lain.
Manusia percaya bahwa seribu kebaikan takkan bisa mengubah manusia menjadi malaikat, tapi dengan satu kesalahan saja, manusia bisa melabeli manusia lain dengan panggilan keji seperti iblis. Mereka akan selalu memandang buruk manusia yang pernah melakukan keburukan, meski sebanyak apa pun kebaikan yang sudah diperbuat.
Disinilah akhirnya Yudha menyusul sang istri yang datang mengganggu ketenangan Ibunya.
Tidak hanya meluahkan rasa kecewanya Ruliana juga tak segan melemparkan barang yang ada di rumah sang ibu.
"Ruliana, cukup!!!"
Bersama bentakan Yudha dan tangan kanannya yang melayang di udara bersamaan dengan itu tiga sosok lain datang.
Tatapan Yudha beradu dengan mata wanita yang beberapa hari ini memenuhi angannya. Tanpa terasa tangan itu turun berlahan melihat sosok cantik yang bergandengan tangan dengan seorang pria yang familiar.
"Nilam..." suara Maulida bergetar, mata wanita paruh baya itu jatuh pada sosok Mylea.
Hanya dengan melihat saja Maulida sudah bisa mengetahui darah siapa yang mengalir di tubuh kecil anak Nilam.
"Mama.."
Seperti mengerti keinginan putrinya Nilam mengangguk.
Mylea melangkah mendekati tubuh wanita yang telah melahirkan ayahnya, saat sudah dekat Maulida langsung merengkuh tubuh cucu pertamanya.
Sementara Yudha langsung menarik tangan Ruliana untuk menyingkir.
Yudha malu dengan Nilam, apa yang dia perjuangkan tak seindah bayangan.
Sementara itu Nilam masih mengamati putrinya yang di tangisi oleh neneknya.
Nilam sadar pertemuan mereka sangat terlambat, tapi sepertinya begini lebih baik. Mylea sendiri sudah cukup mengerti keadaan orang tuanya.
********
Sekarang, duduk di pinggir sofa dengan semangkuk air dingin berisi beberapa balok es dan sehelai handuk kecil. Dengan penuh kehati-hatian, Nilam menempelkan handuk kecil itu di pelipis Yudha yang benjol karena hantaman keramik oleh istrinya. Bukan maksud apa-apa hanya bentuk simpati kemanusiaan saja. Lagian ada Alfaaro, Mylea dan Maulida di sekitar mereka.
"Terimakasih." ucap Yudha tulus.
Sudah tak terhitung bibir Yudha mengucapkan kata terima kasih, tapi tak sekalipun Nilam menanggapi.
Yudha tidak lupa, tujuan dari Nilam kesini bukan untuk dirinya apalagi bersimpati akan keadaannya, yang membawa langkah Nilam adalah ibunya. Sesayang itu Nilam pada ibunya meski wanita itu tak lagi menyandang status menantu. Yudha sadar terlambat untuk berucap maaf, meski enggan, lembah rasa sakit itulah yang akan tetap menjadi akhir cerita.
"Ayo, aku akan mengantarmu ke bandara."
Ucapan Nilam membuat Alfaaro melihat padanya.
"Sudah satu jam lebih, apa masih sempat?" tanya Nilam lagi.
Alfaaro melihat arlojinya.
"Ya, "
"Kalau begitu kita pergi sekarang."
Nilam berbalik untuk berpamitan pada Maulida, wanita itu juga masih belum menerima pemberian Maulida untuk putrinya, bukan tidak menghargai, tapi sebenarnya Nilam memang tidak membutuhkannya.
Istri Yudha lupa jika mantan istri suaminya adalah wanita elite, dengan sejuta talenta dan bergelimang harta.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 91 Episodes
Comments
Heryta Herman
yudha yudha..baru sadar lu,salah milih wanita...ruliana wanita sekadar serpihan kaca...
2024-07-30
0
Mrs. Labil
baru sadar klo cinta yg kau perjuangkan memalukan 🤭👎
2024-04-18
1
⚘️💙⚘️ Neng Gemoy ⚘️💙⚘️
padahal mah diterima aja, Nilam .... toh itu dari nenek buat cucu nya ... bukan buat kamu sbg mantan menantu ...
hargai niat baik dan rasa cinta bu Maulida buat Mylea ...
2023-12-30
0