***
Di ambang kesadaran antara mimpi atau nyata, sekilas Alina melihat siluet seseorang yang tengah duduk disamping ranjang yang dia tempati untuk tidur bersama dengan Alesya, sebelum kembali lelap dalam tidurnya.
Dan tanpa gadis itu sadari, jika sedari tadi sepasang mata itu tidak lepas menatapnya penuh dengan rasa marah dan benci.
Setelah merasa cukup lama dirinya berada dikamar itu, orang itu pun akhirnya pergi. Kembali masuk kedalam kamar baru yang dia tempati saat ini.
Pagi harinya...
Saat pagi menyapa, Alina akan mulai disibukkan dengan mengurusi semua keperluan Alesya. Mulai dari mandi, memakaikan pakaian hingga memberikan bayi mungil itu susu sebagai pengganti ASI yang sama sekali tidak pernah dia dapatkan dari ibu kandung nya sendiri.
Kesibukan Alina pun tentu saja tidak luput dari perhatian seisi rumah keluarga Wiratama. Termasuk Pras sendiri, namun pria dengan ego yang tinggi itu begitu enggan mengakui jika Alina begitu pandai dalam mengurusi bayinya.
Bahkan usia Alina saja baru menginjak usia 23 tahun, tapi gadis yang tengah menyusun skripsi itu begitu terampil dalam menangani seorang bayi yang kadang mood nya tidak bisa kita prediksi.
Kadang tertawa geli, lalu detik kemudian nangis kejer entah karena apa dan entah mau nya apa. Namun Alina begitu sabar dalam menyikapi Alesya yang kadang anteng mau main sama siapa saja. Kadang lagi tidak bisa lepas dari tangan nya.
Hingga untuk mandi pun Alina sedikit kesusahan. Seperti saat ini, haru sudah menunjukan sore hari. Namun Alina belum sempat membersihkan dirinya karena Alesya yang tidak mau lepas dari nya dan tidak mau ditinggalkan..
Alina pun tampak menghela nafas lelahnya, namun tetap dengan sabar menghadapi si kecil Alesya.
"Sana mandi dulu saja, mumpung Alesya nya tidur." ujar mama Widia saat melihat bagaimana kacaunya penampilan Alina saat ini.
Bahkan Alina masih menggunakan piyama yang tadi malam dia pakai saat pergi begitu saja dari rumah tanpa menggantinya terlebih dahulu setelah mendapat kabar jika Alesya rewel dan tidak mau berhenti menangis.
"Iya tante, pengen sih. Tapi nggak bawa baju ganti," lirih gadis itu menatap sendu mama Widia.
"Dikamar utama, masih tersimpan beberapa pakaian milik Alisa. Pakailah, tante rasa ukuran nya sesuai dengan ukuran pakaianmu,"
"Tapi,"
"Pras? Sudah, jangan hiraukan dia. Nanti biar tante saja yang bicara dengan nya,"
Karena sudah tidak bisa lagi menahan rasa gerah dan tidak nyaman karena sudah seharian ini Alina belum membersihkan dirinya.
Akhirnya ALina pun setuju untuk pergi ke kamar utama untuk membersihkan diri di sana sekalian untuk mengganti pakaian nya dengan pakaian bekas mendiang Alisa.
Beruntung saat masuk kesana perlengkapan mandi didalam kama mandi masih tersedia dengan sangat lengkap.
Bukan hanya sabun, shampo, dan pasta gigi saja. Bahkan lulur mandi dan masker wajah masih tersimpan rapih meski penghuni kamar itu sudah meninggal dunia dua bulan yang lalu.
Alina pun segera membersihkan diri dengan peralatan yang tersedia di sana. Merasa situasi aman dan berpikir tidak akan ada yang masuk kedalam sana.
Alina pun memutuskan untuk keluar dari dalam kamar mandi dengan hanya menggunakan handuk yang dia lilitkan di dada dan ke bawahnya hanya menutupi setengah pahanya saja.
Alina pun berjalan santai keluar dari kamar mandi dan berniat pergi menuju ke arh lemari yang di perkirakan menyimpan baju baju peninggalan mendiang Alisa.
Namun saat baru saja dua langkah melangkahkan kakinya dari arah pintu kamar mandi, Alina langsung menghentikan langkah kaki itu tatkala netra nya bertemu dengan sepasang mata yang menyorot tajam pada nya.
"Ka_Kak Pras?" tanya Alina dengan nada bicara terbata karena kaget dan juga takut,
"Sedang apa kamu disini? Siapa yang mengijinkan kamu untuk masuk dan memakai perabotan yang ada disini,"
Alina tersentak kaget saat suara Pras menggema di seluruh ruangan kamar itu. Dan hal itu membuat Alina ketakutan, Bahkan saking takutnya Alina sampai mundur beberapa langkah demi menjaga jarak aman dengan Pria tempramental itu.
"jawab, kenapa diam?" bentak Pras lagi yang membuat tubuh Alina kian gemetar ketakutan.
"Mama yang mengijinkan Alina untuk masuk dan menggunakan pakaian mendiang Alisa, Pras."
Pras langsung menoleh ke arah pintu, dimana wanita paruh baya tengah berjalan memasuki ruangan yang sama dengan nya dan juga Alina.
Mama Widia pun berjalan santai ke arah lemari dan mengambil satu dress tidur yang ada di sana lengkap dengan baju dalam milik Alisa dulu untuk dipakai oleh Alina.
"Bawa ini, kamu ganti pakaian di kamar Alesya saja ya. Ada yang ingin tante bicarakan dengan Pras,"
"Baik tante, terima kasih."
Tanpa menoleh ke arah Pras lagi, ALina pun bergegas keluar dari arah kamar mandi dan segera menuju ke kamar Alesya.
Sementara mama Widia sendiri masih ada di kamar itu untuk berbicara dengan putranya. Mama Widia langsung mendorong kursi roda yang dipakai Pras menuju ke balkon kamar.
"Apa yang ingin Mama bicarakan?" tanya Pras to the point.
"Begini Pras, Mama harap kamu mau bersabar dan membiarkan Alesya bersama Alina dulu. Mereka tidak bisa dipisahkan, sementara ALina tidak bisa terus menerus disini. Akan ada segelintir yang mungkin menggunjingkan hal ini. Mungkin jika dulu saat Alisa masih ada, tidak akan ada masalah. Tapi sekarang semua nya sudah berubah, Mama pikir. Lebih baik Alesya tinggal dulu bersama dengan Alina. Setelah dia mengerti, baru kita bujuk dia untuk tinggal denganmu, bagaimana?"
"Tidak bisa Ma, aku tidak akan membiarkan anakku pergi dari rumah ini,"
"Tapi Pras,,,"
"Mama tenang saja, aku punya cara agar Alesya bisa tetap bersama dengan kita."
*
***
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 84 Episodes
Comments
Hilmiya Kasinji
Pras oh pras
2024-07-08
0
Wanti Suswanti
dasar pria egois...
2023-11-23
5
Yunerty Blessa
pasti disuruh menikah..agar Alina bisa tinggal tetap di rumah Pras
2023-09-30
2