***
"Apa tuan mau turun sekarang?"
"Tidak usah, kita langsung ke rumah sakit saja,"
"Tapi___, baik tuan,"
Wahyu pun segera melajukan kembali mobil yang di bawanya, setelah Pras menatap cukup tajam ke arahnya.
Bertahun tahun bekerja dengan Pras, tentu Wahyu sudah cukup tahu keinginan sang atasan meski hanya dari tatapan matanya saja dan hal itu tidak bisa dibantah oleh nya.
Dan itulah kenapa Wahyu langsung patuh meski Pras tidak mengatakan apapun. Mata pria yang saat ini sudah memasuki usia kepala tiga itu benar benar mampu mengatakan segalanya tanpa harus berucap kata.
Sementara Pras sendiri, hanya melirik sekilas buket bunga yang ada disampingnya, lalu
kembali membuang muka ke arah jendela mobil, memandangi lingkungan sekitar pinggir jalan yang nampak sibuk dengan kegiatan penghuninya.
Sudah satu minggu berlalu sejak kejadian, dimana Alina menangis sejadi jadinya didepan matanya. Dan sejak saat itu juga, keduanya bagai hidup di dua dimensi yang berbeda meski berada dibawah naungan atap yang sama.
Pras lebih memilih menyibukkan diri dengan pekerjaan nya di ruangan kerja. Sementara Alina sibuk mengurusi si kecil Alesya yang saat ini sudah mulai belajar berjalan.
Seketika rumah itu terasa begitu damai dan tentram dengan tidak adanya lagi bentakan bentakan yang keluar dari mulut Pras yang tengah menegur atau memarahi Alina.
Semua sudah tampak normal, jika di lihat dari luar. Rumah tangga mereka berdua terlihat begitu harmonis, namun semua ke normalan itu menyisakan rasa sepi di hati masing masing.
Semua yang mereka berdua lakukan saat ini semua terasa hambar dan tidak bersemangat sama sekali. Menyisakan ruang kosong yang begitu terasa hampa.
*
*
Di Rumah sakit....
"Mau sampai kapan, kamu terus menyembunyikan hal ini dari keluarga dan istrimu Pras? Ini sudah 6 bulan berlalu, sudah waktunya mereka tahu yang sebenarnya," ucap seorang dokter yang ber name tag Bara Wijaya.
Dokter yang selama ini sudah dipercaya untuk menangani setiap keluhan mengenai kesehatan dari keluarga Wiratama.
Bahkan pria itu sudah didaulat menjadi dokter keluarga Wiratama sejak dia mendapatkan gelar dokter yang selama ini dia banggakan.
"Belum, ini belum saat nya mereka tahu Bara. Dan aku harap kamu bisa bekerja sama,"
Pria bernama Bara itu hanya bisa menghela nafas kala menghadapi sikap keras kepala dari
sahabatnya itu. Bara adalah sahabat Pras sejak duduk dibangku sekolah dasar.
Sama sama disekolahkan di sekolah internasional, membuat keduanya menjadi akrab karena kebetulan kedua orang tua mereka yang juga berteman baik.
Pertemanan mereka terus berlanjut hingga kini, meski sempat berpisah saat kuliah karena memilih kuliah di jurusan yang berbeda dan di negara yang berbeda juga.
Namun mereka tetap berkomunikasi dengan baik. Pras yang memilih kuliah dengan jurusan bisnis di universitas ternama yang ada di London, terpaksa berpisah dengan Bara yang memilih kuliah di kedokteran di Singapura.
Membuat kedua sahabat itu sempat berpisah selama beberapa tahun dan kembali dipertemukan setelah keduanya meraih gelar yang mereka kejar dan perjuangkan selama beberapa tahun itu.
"Baiklah, jika itu sudah jadi keputusanmu. Ini resep obat yang masih harus kamu konsumsi, ingat. Bulan depan jangan lupa kontrol lagi," lanjut Bara, yang akhirnya mengikuti keinginan pasien nya itu.
"Ck, tentu saja aku tidak akan lupa. Belum waktunya saja aku sudah diteror dengan telpon telpon mu itu. Sudah seperti buronan pinjol saja, menyebalkan," jawab Pras dengan sedikit mencebik kesal.
Sementara Bara sendiri hanya bisa tertawa terbahak saat melihat raut wajah kesal Pras saat dirinya terus saja mengingatkan jadwal kontrolnya.
"Ini juga demi kebaikan mu Pras. Sudah sana pulang, bete aku lihat wajah kamu yang muram begitu. Makanya, kalo cinta itu di ungkapkan bukan di sembunyikan, disayang bukan di abaikan," lanjut Bara yang semakin membuat Pras kesal.
Tanpa aba aba, pria yang masih setia beraktivitas dengan menggunakan kursi roda itu pun langsung melempar bantal yang ada diatas brangkar yang ada di ruangan itu ke arah sang dokter yang duduk di kursi kebesaran nya.
"Bacot lo,"
"Apa? Itu kenyataan nya kan? Sok sok an jutek, belaga nggak butuh. Sekalinya jalan sama yang lain aja, uring uringan nggak jelas, muka kusut kaya kanebo kering. Ckckckck, benar benar dan sungguh sungguh penyiksaan diri yang maha sempurna,"
"Nggak usah sok tahu deh lo. Nggak usah juga sok jadi cenayang yang tahu apa yang akan terjadi di masa depan. Menyebalkan,"
"Prasetyo, Prasetyo. Gue nggak usah jadi cenayang buat tahu isi hati lo. Kita kenal udah puluhan tahun dan jangan kan gue, noh si Wahyu juga udah tahu apa yang lo rasain sama dia. Ngaku aja deh, sebelum di embat orang lain,"
"Ngawur lo,"
"Masih aja keras kepala, beneran pergi dan ngilang baru tahu rasa lo,"
"Mending diem deh lo, gue cabut, gue cape pengen istirahat,"
"Ok, awas ntar kalo beneran di ambil orang jangan nangis didepan gue ya,"
"Bacot lo,"
Pras pun segera pergi meninggalkan ruangan itu dengan kembali mengayuh kursi roda nya. Sementara Bara, hanya bisa geleng geleng kepala melihat sikap keras kepala Pras yang sama sekali tidak berubah sedari dulu kala.
*
*
"Sayang, kenapa? Makanan nya tidak enak? Kok nggak dimakan,hmm?"
"Enak kok Ma, ini juga mau dimakan kok,"
Meski enggan, Alina pun terpaksa menyuapkan makanan yang ada didepan nya kedalam mulut. Saat ini Alina beserta keluarga besarnya tengah mengadakan acara makan siang bersama disebuah restoran mewah yang terletak di pusat kota.
Kedua orang tua dan kedua mertuanya sepakat untuk merayakan hari kelulusan Alina di sana. Semua tampak berkumpul bersama, bahkan Mbok Ijah dan si kecil Alesya juga tampak ikut serta dalam acara perayaan itu.
Namun satu kursi masih tampak kosong di sana, dan si penghuni kursi khusus itu masih belum juga menampakan diri meski acara makan siang itu sudah hampir selesai. Dan entah mengapa, Alina menjadi tidak berselera makan hanya karena kursi itu belum di isi oleh penghuninya.
*
***
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 84 Episodes
Comments
Hilmiya Kasinji
awas menyesal Lo mas karna gak mungkin ada daftar ulang
2024-07-08
0
Hera Puspita
entar alina pergi baru kamu menyesal pras
2024-05-21
1
Wanti Suswanti
jahat banget Pras nanti kalau Alina tau kebohongan Pras dia marah dan pergi baru tau rasa tu si Pras..
2023-11-23
4