***
Alina dan Denis sepakat mendatangi sebuah cafe yang terletak tidak jauh dari kampus. Hanya membutuhkan waktu 15 menit dengan berjalan kaki keduanya sudah sampai di cafe favoritnya para mahasiswa dan mahasiswi kampus itu.
Denis yang lebih dulu berjalan didepan Ana memilih tempat yang dekat dengan jendela. Dati dulu hingga sekarang, Alina dan juga Denis sama sama suka duduk dekat jendela kala mendatangi sebuah cafe atau restoran dan sejenisnya.
Kedua teman yang sudah berteman sejak dibangku sekolah menengah pertama itu suka sekali melihat aktifitas jalanan. Mulai dari kendaraan yang berlalu lalang entah akan kemana perginya.
Juga para pejalan kaki yang sering terlihat di trotoar, dan cuaca kala itu. Baik saat panas atau pun hujan. Bagi Alina dan Denis, pemandangan jalanan memiliki ke indahan tersendiri bagi penikmat nya.
Alina dan Denis pun segera memesan minuman dan sedikit makanan sebagai teman minum saat salah satu karyawan cafe datang dan menyodorkan buku menu pada keduanya.
Sambil menunggu pesanan itu datang, ALina dan Denis tampak berbincang prihal masa masa sekolah hingga kuliah yang sebentar lagi akan menemui ujung nya.
"Lin, bukan nya itu suami lo ya?" tanya Denis saat melihat tiga orang masuk kedalam cafe itu dengan salah satu orang itu duduk di kursi roda yang tengah didorong oleh pria satu nya lagi.
Sementara disamping pria itu ada seorang wanita cantik, anggun dan elegan tampak mengikuti kemana Pras dan Wahyu pergi. Hingga ketiganya pun memilih tempat yang tidak jauh dari meja dimana ada Alina dan juga Denis di sana.
"Iya, itu Mas Pras. Biarkan saja, mungkin mereka lagi membicarakan pekerjaan," jawab Alina yang melihat jika orang yang disebut oleh Denis itu memang benar suaminya.
Denis pun hanya mengangguk angguk saja, lalu keduanya kembali larut dalam pembicaraan tentang kehidupan mereka selama ini.
"Lu nggak ke sana Lin? Nyapa suami lo itu,mungkin?" tanya Denis pada Alina yang terlihat cuek saat melihat suaminya berada di cafe bersama dengan seorang wanita.
"Nggak usah lah Den, lagi pula mas Pras Pasti lagi kerja. Masa aku ganggu, nggak enak banget lah," jawab Alina dengan cueknya.
"Ceweknya cantik ya? Anggun banget lagi. Idaman para cowok cowok kantoran banget," lanjut Deni saat melihat ke arah meja yang ditempati oleh Pras dan juga Monica.
"Lu kenal siapa wanita itu Lin?" lanjut Denis lagi yang entah kenapa hari ini tiba-tiba saja menjadi lebih cerewet dari biasanya.
"Nggak, aku nggak kenal. Mungkin rekan kerja mas Pras, udahlah kenapa kamu malah membahas mereka sih? Biarkan aja mungkin mereka lagi kerja," jawab Alina kembali dengan nada yang santai.
"Kok lo santai gitu sih Lin? mereka duduk berdua tuh, cowok yang satunya pergi," lanjut Denis lagi yang seketika membuat Alina pun menjadi kepikiran.
Entah mengapa hatinya tiba-tiba saja gelisah saat melihat Pras bersama dengan wanita cantik yang tidak Alina kenali sebelumnya.
"Ya Terus gue harus apa? datangin terus marah-marah gitu? Kan belum tentu juga mereka ada apa-apa? udahlah biarin aja mereka rekan kerja yang lagi meeting mungkin," jawab Alina tidak ingin kepikiran prihal Pras yang tengah bersama seorang wanita.
Denis pun hanya bisa mengangkat bahunya pasrah saat Alina masih saja terlihat cuek ketika melihat suaminya bersama dengan wanita lain. Namun tanpa Denis ketahui saat ini hati Alina tengah bergemuruh dengan hebatnya saat melihat Pras yang begitu akrab dengan wanita cantik itu.
Sementara Pras sendiri yang saat ini tengah membicarakan proyek bersama Monica, tiba-tiba saja fokusnya teralihkan ke arah lain.
Perhatian Pras kini beralih ke salah satu meja yang ada di ujung ruangan. Sebuah meja yang diisi oleh Alina bersama seorang pemuda yang tidak dikenali olehnya.
Seketika emosi Pras pun kembali tersulut di dalam diri saat melihat Alina tersenyum begitu lembut didepan Pemuda asing itu.
Bahkan kedua tangan Pras sampai terkepal kuat di bawah meja demi menekan rasa amarahnya hanya agar tidak meledak saat ini juga.
"Pras kamu kenapa? kamu baik-baik saja kan?" tanya Monica saat melihat wajah Pras yang tiba tiba saja berubah menjadi memucat.
Pras tidak menanggapi pertanyaan dari Monica. Fokusnya saat ini hanya pada sepasang muda mudi yang tengah asik berbincang didepan nya itu.
Pras pun langsung memanggil Wahyu yang saat itu tengah berada didalam toilet. Dengan sigap, Wahyu pun langsung datang saat atasan nya itu memanggil dirinya.
"Ada apa tuan? Apa tuan mau pulang sekarang?" tanya Wahyu setelah tiba di meja yang ditempati oleh Pras dan Monica.
"Iya, tapi sebelum pulang. Bawa aku menemui mereka," jawab Pras yang tidak mengalihkan perhatian nya sedikit pun dari Alina dan juga Denis.
"Baik tuan," jawab Wahyu yang langsung berjalan ke belakang Pras untuk membantu mendorong kursi roda yang dipakai oleh pria itu.
"Loh kok pulang Pras? Bukan nya kita belum makan ya?" tanya Monica mencegah Pras untuk beranjak dari sana.
"Kamu bisa makan dulu, tapi maaf. Aku harus segera pulang, aku butuh istirahat," jawab Pras tanpa menoleh sedikit pun pada Monica.
"Ayo, bawa aku ke meja itu," titah Pras pada Wahyu lalu menunju salah satu meja yang ada di sana yang ternyata ditempati oleh Alina dan seorang pria.
Wahyu pun segera mendorong kursi roda itu hingga mendekati meja dimana Alina tengah makan disana bersama dengan Denis.
"Kalau sudah selesai makan nya, cepat keluar. Kita pulang bersama,"
Deg...
Jantung Alina hampir saja jatuh saat mendengar suara bariton yang tidak asing lagi ditelinga nya itu.
*
***
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 84 Episodes
Comments
Wanti Suswanti
orang sombong otw bucin...
2023-11-23
8
Ririn Nursisminingsih
buat pras bucin dulu thor
2023-10-16
2
Yunerty Blessa
Pras mulai nih cemburu..
2023-10-01
1