Bab 20. Perbedaan Waktu

Bab 20

Keempat remaja itu menatap bunga merah yang terlihat sangat cantik. Siapapun pasti akan mengatakan hal yang sama. Namun, jika sudah tahu keganasan yang diberikan olehnya, pasti tidak akan mau mendekat.

Lewis mencoba mematahkan tangkai bunga itu, meski kesulitan akhirnya bisa juga. Bunga yang dia pilih masih berbentuk kuncup belum mekar. Lalu bunga itu dibakar olehnya dan berubah menjadi layu terakhir menghitam jadi arang. Setelah itu dia injak-injak sampai tidak bersisa. 

"Kita ambil sedikit untuk diperiksa nanti di laboratorium," kata Lewis sambil mengambil bubuk arang itu sedikit.

"Sebaiknya putik dan benang sarinya juga ambil sekalian," lanjut Armando.

"Kalau itu aku sudah ambil kemarin dan setelah diteliti memang sangat berbahaya," ucap Lewis sambil memasukan botol kecil tadi ke dalam tas.

Mereka sudah lelah mencari bunga bangkai itu. Entah berapa lama keempat pemuda itu berjalan. Bukannya bunga bangkai yang mereka temukan, malah binatang-binatang yang ngamuk menyerang mereka secara sembarangan. Untungnya Lewis memiliki serumnya.

"Kita di sini sudah berapa jam?" tanya Lewis.

"Entahlah. Yang pasti kita sudah lama berjalan di hutan ini dan perutku semakin terasa pedih," jawab Hilda yang berjalan bersisian.

Armando melihat dari arah jauh ada hewan sejenis singa dan bison sedang adu kekuatan saling menyerang. Banyak sekali bunga mereka di sekitarnya. Sudah dipastikan di sana tidak ada bunga bangkai yang tumbuh.

"Hai, coba kalian lihat ke arah jam tiga!" teriak Gaby sambil menunjuk.

Di sana terlihat ada beberapa rusa sedang asyik minum di tepi sungai. Tidak saling berkelahi satu sama lain.

"Kita ke sana!" ajak Lewis sambil menarik tangan Hilda dan Armando.

Benar saja di sana tumbuh sebuah bunga bangkai yang sangat besar sekali. Diperkirakan lebih dari sepuluh meter diameternya. Mereka juga bingung bagaimana cara mengambil bunga itu.

"Kita potong-potong jadi 4 bagian. Masing-masing bisa ambil seperempat. Kalau masih kesusahan membawanya kita bolak balik saja," ucap Hilda.

"Tidak. Itu akan terlalu beresiko bagi kita. Belum lagi jika banyak hewan berubah menjadi buas. Kita pasti akan lebih kesulitan lagi," kata Armando dan dibenarkan oleh Lewis.

Jangankan untuk membawa ke dunia mereka. Memotong bunga itu saja kesulitan. Lewis sudah membawa alat pemotong portabel yang dibuat khusus oleh salah satu rekan Aron. Barang langka yang tidak dijualbelikan. Armando dan Gaby sampai tercengang melihat barang seperti itu. 

"Armando, kamu pegang satu sisinya lagi! Kita lakukan seperti menggergaji pohon," titah Lewis setelah mengukur panjangnya batang bunga bangkai yang menyentuh tanah.

Ternyata mereka berdua tidak mampu karena perlu tenaga yang besar. Maka Hilda dan Gaby ikut membantu. Peluh sudah membanjiri tubuh mereka dan batang bunga itu baru sedikit yang terpotong.

"Lihat ada cairan keluar dari batangnya!" tunjuk Hilda dan Lewis pun mengambil botol untuk menampung cairan itu. Ini bisa diteliti nanti di laboratorium.

"Ayo, lanjut lagi!" perintah Armando dengan semangat.

Mereka terus berusaha memotong bunga itu dan tidak sadar berapa lama sudah melakukan hal itu. Batangnya baru terpotong setengah dan masih butuh setengah lagi untuk bisa mengambil bunganya.

"Hai, bagaimana jika kita ambil setengahnya dahulu, besok kita lanjut yang setengahnya lagi?" Gaby memberikan sebuah ide.

Akhirnya keempat pemuda itu memutuskan untuk kembali dulu ke dunia mereka. Lagian mereka sudah terlalu lama masuk ke Dungeon ini. Mereka pun memotong setengahnya dahulu lalu dibagi lagi menjadi empat agar tidak berat dan mudah dibawa oleh mereka. 

***

"Akhirnya kalian kembali juga!" pekik Maria sambil memeluk Lewis begitu melihat putranya kembali dari Dungeon.

Lewis dan teman-temannya saling melirik. Ada beberapa orang di ruangan pengendali pembangkit listrik. Aron, Aiden, dan Walikota Adams Smith langsung memeluk mereka satu persatu.

"Apa yang terjadi di sana? Kenapa kalian pergi begitu lama?" tanya Aron kepada Lewis begitu menguraikan pelukannya.

Gaby pun menceritakan apa yang sudah mereka alami di dunia itu dengan detail agar semua tahu apa sudah mereka alami. Dia orang yang paling bisa berbicara banyak meski kadang didramatisir.

"Tapi, kalian pergi selama tiga hari ke Dungeon itu. Kalian berkemah di mana?" tanya Walikota Adams Smith.

"Apa, tiga hari?" pekik keempat pemuda itu tidak percaya.

Lewis dan teman-temannya masih bingung dengan kenyataan ini. Selama ini saat mereka pergi ke Dungeon memang tidak pernah lama di dunia sana. Jadi, saat pulang ke dunia aslinya masih di hari yang sama. Namun, saat ini mereka melewati waktu sampai tiga hari.

"Berarti di dunia itu tidak ada malam, karena tidak pernah ada gelap," ucap Armando menggebu.

"Aku baru sadar, di hutan itu tidak terlihat adanya matahari," lanjut Lewis dengan tatapan heran.

"Berarti di sana siang terus?" tanya Gaby.

"Bisa saja ada siang dan malam. Tetapi, perbedaan rotasi antara dunia kita dan dunia sana sangat jauh berbeda. Bisa saja di dunia kita satu bulan di sana satu hari atau waktu di dunia kita satu tahun di dunia sana baru satu hari," jawab Hilda dan membuat ketiga temannya tercengang.

Lewis menjadi semakin kepikiran akan rentang perbedaan waktu ini. Dia menjadi was was, karena pertumbuhan pohon merambat itu semakin cepat dan sudah menutupi banyak kawasan hutan.

"Apa kalian ingat dengan pohon merambat yang memiliki bunga merah itu?" tanya Lewis dan ketiga temannya mengangguk.

"Katakanlah kalau kita sekitar tiga jam di dunia sana dan itu sama dengan tiga hari di sini. Wajarkah dengan pertumbuhan pohon merambat itu?" lanjut Lewis dan membuat wajah ketiganya memucat.

Aron, Aiden, Maria, dan Walikota Adams Smith menatap keempat pemuda itu dengan ekspresi heran juga penasaran. Mereka tidak tahu seperti apa pohon itu dan bagaimana pertumbuhan yang di maksud oleh Lewis.

"Oh, tidak! Jangan sampai tumbuhan itu hidup lebih lama lagi!" pekik Gaby.

Lewis dan yang lainnya berpikir seperti ini. Mereka harus bisa memusnahkan pohonnya. Itu adalah salah satu cara untuk membasmi sumber virus zombie.

"A–ku tidak bisa membayangkan jika tumbuhan itu berhasil menutup semua hutan. Pastinya bunga bangkai itu tidak akan sanggup hidup dan serbuk-serbuk yang disemburkan oleh bunganya juga akan semakin banyak dan berbahaya," lanjut Hilda histeris.

Pastinya hewan-hewan di sana akan sulit dikendalikan. Juga tidak akan ada bunga yang bisa dibuat sebagai obat penawar.

"Yang aku takutkan adalah tumbuhan itu bisa melintasi Dungeon seperti kita bisa masuk ke dunia itu," tukas Lewis dan membuat semua orang di sana terdiam membeku.

***

Apakah pertumbuhan pohon merambat itu akan sampai ke dunia manusia? Ikuti terus kisah mereka, ya!

Terpopuler

Comments

Muhamad Bardi

Muhamad Bardi

duh jangan sampai bunga itu merambat sampai ke dunia manusia bisa jadi malapetaka buat manusia yang masih normal...

2023-06-22

6

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!