Bab 6. Mencari Sumber Penyebab

Bab 6

Lewis menatap penuh gelisah kepada kedua orang tuanya. Mungkin mereka masih bisa bertahan 3-7 hari, setelah itu tidak tahu. Pulau Artac bukan tempat yang bisa menghasilkan sayur dan buah-buahan. Pulau ini adalah tempat dilakukan berbagai penemuan para ilmuan. Banyak laboratorium di pulau kecil ini, makanya dijaga ketat. Mereka akan melakukan penelitian atau penemuan barang baru atau hal-hal yang baru. Jika ada benda asing pun akan diteliti di sini.

Penduduk di sini rata-rata memiliki otak yang cerdas dibandingkan dengan orang dari tempat lain. Hanya saja mereka kesulitan untuk mempunyai banyak anak. Paling hanya satu atau tidak sama sekali. Entah karena pulau ini banyak sekali radiasi, elektro magnetik, arus listrik, atau tingkat kesuburan kurang. Tidak ada wanita yang hamil dua kali di pulau ini, kecuali melakukan pengobatan ke pulau utama dan tinggal di sana dalam waktu yang lama.

Keresahan warga kota El Dorado semakin bertambah karena stok makanan sudah habis. Walikota pun meminta para nelayan dan orang yang tinggal di pinggiran pantai untuk mencari ikan di laut mulai dari pagi sampai sore hari. Hanya dari sumber di laut yang masih bisa mereka dapatkan.

Lewis mengajak teman-temannya untuk mencari bahan pangan ke toko swalayan yang sudah banyak ditinggalkan karena kawasan itu sudah menjadi desa mati, penduduknya menjadi zombie.

"Kamu yakin di daerah ini masih ada stok makanan?" tanya Hilda sambil berjalan cepat mengikuti langkah Lewis dan Armando.

"Kalau tidak kita cari bagaimana bisa tahu. Aku yakin kalau di sini masih ada banyak stok bahan pokok yang bisa diambil," jawab Lewis.

Mereka memasuki sebuah supermarket. Ada rasa was-was nanti zombie muncul di dalam gedung ini. Senjata yang mereka bawa adalah bom api dan setiap orang membawa satu.

Dengan langkah hati-hati mereka berempat masuk ke bagian makanan. Ternyata sesuai dugaan masih banyak stok makanan di sana meski dalam keadaan berantakan.

"Kita masing-masing bawa troli dan masukan sebanyak yang kita bisa!" titah Lewis.

Mereka berlomba-lomba memasukan banyak makanan pokok. Dengan gerak cepat.

Grrrrr! Grrrrr!

Terlihat ada tiga zombie berseragam kasir menuju mereka berempat. Kedatangan makhluk itu membuat mereka panik dan segera berlari.

"Ayo, cepat!" teriak Lewis kepada Gaby dan Hilda yang tertinggal di belakang.

Armando orang yang memiliki postur tubuh tinggi dan paling kuat di antara mereka berempat, mengambil gas pemadam kebakaran lalu menyemprotkan ke arah zombie. Lalu, dia mengambil satu botol bensin dan melemparkannya ke arah mereka disusul dengan pemantik yang menyala.

Booom!

Api besar menyala dan membakar dua zombie. Kini tinggal satu zombie yang mengejar mereka.

Grrrrr! Grrrrr!

"Oh, tidak mereka mulai berdatangan!" teriak Armando langsung masuk ke lift yang sudah penuh oleh troli berisi makanan.

"Gaby … Hilda, cepat!" Lewis sudah menekan pintu lift dan kedua gadis itu pun melompat sambil mendorong troli dan berhasil masuk sebelum lift tertutup.

Napas mereka memburu, nyaris saja nyawa mereka hilang. Setidaknya mereka mendapatkan empat troli bahan makanan. Secepatnya mereka masuk ke dalam mobil yang terparkir di depan supermarket.

Kedatangan Lewis dan teman-temannya yang membawa bahan makanan di sambut gembira. Setidaknya mereka masih bisa bertahan.

"Aku sudah menghubungi teman yang ada di pulau utama. Mereka besok akan mengirimkan makan makanan pokok lewat udara," kata Maria dan warga yang mendengar itu merasa gembira.

***

Lewis dan teman-temannya diajak oleh Aron untuk mencari tahu apa yang menjadi penyebab awal orang-orang bisa berubah jadi zombie. Selama beberapa hari ini dia terus memeriksa rekaman cctv di laboratorium Geofisika yang dulu dibawa oleh Lewis.

"Coba kalian lihat! Aku rasa ini adalah orang yang pertama kali berubah menjadi zombie," kata Aron saat memutar rekaman cctv di ruang laboratorium bawah tanah.

Dalam rekaman itu terlihat seorang laki-laki yang memakai seragam laboratorium Geofisika keluar dari ruang uji coba yang bersebelahan dengan ruang penelitian tim Aron. Orang itu sudah berubah menjadi zombie. Lalu, layar monitor berubah ke rekaman cctv yang ada di dalam lift. Zombie tadi menyerang pegawai laboratorium lainnya dan mengubahnya menjadi zombie juga.

"Berarti ada suatu hal di ruang uji coba yang membuat orang tadi bisa berubah menjadi zombie?" Lewis menatap ke arah sang Ayah.

"Ya, daddy juga rasa begitu," jawab Aron.

"Kalau begitu kita harus cari tahu ada apa di ruangan itu?" Armando berbicara dengan penuh semangat.

"Ya, aku setuju. Bagaimanapun juga kita harus mencari sumber awal dari kejadian ini. Agar tidak ada lagi hal buruk lainnya yang akan terjadi di pulau ini," lanjut Gaby dengan tatapan sendu. Dia masih shock melihat banyak orang yang dia kenal berubah menjadi zombie.

"Tapi, kita harus mempersiapkan semuanya dengan matang. Jangan sampai kita pergi ke medan perang tanpa membawa senjata dan strategi apa yang digunakan untuk mengalahkan musuh," tambah Hilda.

Mereka berlima pun memutuskan untuk pergi ke laboratorium Geofisika besok pagi dengan membawa beberapa senjata yang bisa membuat api besar. Bom api juga sudah mereka siapkan.

***

Bukan hanya Aron dan para anak muda itu saja yang bersemangat untuk memusnahkan para zombie, begitu juga dengan Maria. Dia dan beberapa rekan kerjanya yang pernah membuat vaksin SS13, kini mereka juga membuat lebih banyak untuk semua warga pulau Artac. Bagaimanapun juga sekarang zombie sudah menyebar di seluruh pulau.

Sudah tiga hari Maria dan timnya membuat serum yang bisa disuntikan atau dikonsumsi.

"Kita buat berapa ratus ribu tabung?" tanya Aiden kepada Maria sambil menunjukkan tabung kecil sepanjang 7 sentimeter. Tabung itu digunakan hanya sekali pakai.

"Aku rasa buat sebanyak yang kita bisa. Karena bisa saja seseorang memerlukan lebih dari satu tabung," jawab Maria. Dia teringat akan kondisi tubuh Lewis dan Armando yang memberikan reaksi yang berbeda terhadap vaksin SS13 ini.

Sementara itu, di gudang laboratorium Biokimia tempat Maria dan yang lainnya sedang membuat vaksin. Seorang rekan Maria hendak membawa satu dus tabung kosong untuk wadah cairan vaksin itu.

Grrrrr! Grrrrr!

Wajah wanita itu mendadak berubah menjadi pucat saat mendengar suara zombie. Lalu, dia mengedarkan pandangannya ke segala penjuru sambil berjalan hati-hati.

Grrrrr! Grrrrr!

"Aaaaaaa!"

Wanita itu berteriak kencang saat zombie mengigit lehernya. Tubuh wanita itu mengejang sambil berteriak kesakitan. Dia tentu saja takut berubah menjadi zombie. Kesakitan yang teramat sangat membuat dirinya yakin kalau dia akan berubah menjadi zombie juga. Namun, dia masih bisa menekan tanda bahaya, sehingga sunyi sirine bergaung di gedung laboratorium Biokimia.

"Apa yang terjadi?" Semua orang yang sedang membuat vaksin dibuat terkejut oleh bunyi sirine ini.

Grrrrr! Grrrrr!

"Gawat, ada zombie di gedung ini!" teriak Maria histeris.

***

Terpopuler

Comments

Muhamad Bardi

Muhamad Bardi

waduh ko bisa ada zombie bukannya tempatnya tertutup🤔🤔🤔🤔

2023-06-14

4

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!