Bab 2. Zombie Di Laboratorium

Bab 2

"Honey, aku akan melihat keadaan laboratorium dulu," kata Aron sambil berjalan ke arah bufet.

Laki-laki setengah paruh baya itu mencari pistol revolver miliknya. Setelah memastikan terisi peluru dengan penuh, Aron pun masukan benda itu ke dalam saku jaketnya.

"Dad, jika yang dikatakan oleh orang itu adalah benar, bagaimana? Ini bukan ranah kita. Serahkan saja kepada militer yang punya kemampuan untuk bertarung melawan para zombie itu," ucap Lewis sambil membuntuti ayahnya yang berjalan menuju pintu depan.

Maria yang mengikuti Aron di belakangnya hanya terdiam. Otaknya masih mencerna semua ucapan sang suami mengenai zombie. Wanita itu juga merupakan seorang ilmuan di bidang biokimia yang sering meneliti suatu virus dan membuat penawar virus itu. Atau meneliti zat apa saja yang terkandung pada sesuatu itu. Ada banyak zat yang bisa membuat orang menjadi gila, kuat, atau hilang kendali. Namun, tidak mengubahnya menjadi zombie hanya saja banyak orang sering bilang jika ada manusia yang sudah ketergantungan obat-obatan terlarang mereka berubah seperti zombie. Inilah yang saat ini ada di dalam otak Maria, kerena dia belum melihat secara langsung zombie yang ada di laboratorium Geofisika.

Aron tahu kalau keluarganya sayang kepada dia dan takut terjadi sesuatu kepada dirinya. Namun, dia sebagai salah satu ketua tim yang sering melakukan eksperimen di laboratorium Geofisika bersama anak buahnya, merasa bertanggung jawab atas apa yang sedang terjadi di sana.

"Daddy akan berhati-hati. Kamu jaga ibumu di rumah," ujar Aron sambil menepuk pundak putranya.

Meski Aron selalu sibuk dengan penelitian di laboratorium. Dia masih bisa memberikan perhatian kepada keluarga di sela kesibukannya. Laki-laki ini dikenal sayang keluarga di kalangan teman-teman seprofesinya.

"Aku akan ikut dengan Daddy untuk melihat keadaan di sana. Jika terlihat berbahaya, maka aku akan paksa Daddy untuk pergi dari sana," tukas Lewis dengan tegas.

Aron dan Maria terkejut mendengar ucapan Lewis. Putra mereka yang selalu tidak mau ikut campur dalam urusan apa pun yang kiranya tidak menyenangkan baginya, kini ingin ikut bersama ayahnya untuk melihat keadaan ke tempat yang paling dihindari olehnya selama ini.

"Kamu, yakin ingin ikut ke laboratorium Geofisika?" tanya Aron lagi untuk memastikan.

"Ya, aku yakin," jawab Lewis.

Lewis merasa kalau ada sesuatu yang menarik di tempat itu. Selain dia juga takut terjadi sesuatu kepada ayahnya. Namun, ada sesuatu yang membuat dia harus ke sana.

Aron dan Maria saling melirik lalu mengangguk. Akhirnya Lewis pun ikut sang ayah ke tempatnya bekerja.

***

Aron tidak bisa masuk ke area laboratorium karena pintu gerbang dikunci. Meski dia sudah menekan tombol bel agar dibukakan pintu gerbang, tidak ada seorang pun yang menyahut panggilan dirinya.

"Dad, jangan-jangan di sini memang sedang terjadi sesuatu yang berbahaya," kata Lewis dengan tatapan sarat akan rasa takut.

"Daddy akan hubungi dulu teman yang tadi lembur," ucap Aron sambil mengeluarkan handphone miliknya.

Panggilan itu tidak ditanggapi. Lalu, dia mengganti panggilan kepada yang lain.

"Halo, Tuan Aron. Di sini keadaan sedang kacau, bahaya!" teriak orang itu diseberang sana.

Aron dan Lewis saling beradu pandang. Belum juga bicara apa pun, orang di sana memberikan sebuah informasi yang membuat keduanya takut dan panik.

"Benarkah mereka berubah menjadi zombie?" tanya Aron.

Grrrrr! Grrrrr!

"Aaaaaaa," teriak yang sedang berbicara dengan Aron barusan.

Lagi-lagi kejadian hal yang sama terjadi. Hal ini semakin membuat Lewis dan Aron yakin kalau keadaan memang benar-benar gawat dan harus segera ditangani secepatnya. Jika tidak maka penduduk kota El Dorado akan dalam bahaya.

"Dad, kita harus segera menghubungi militer," kata Lewis yang mulai panik.

Meski dirinya sebagai laki-laki, tetapi Lewis menyadari kalau dirinya memang lemah dan tidak bisa berkelahi. Bagaimana jika saja tiba-tiba zombie itu muncul dan dia tidak bisa melawan.

Aron pun segera menghubungi pihak keamanan kota El Dorado. Dia lalu menjelaskan apa yang sedang terjadi di laboratorium Geofisika. Namun, pihak militer tidak mempercayai ucapannya. Ayahnya Lewis tidak bisa memberikan bukti apa yang sedang terjadi di dalam gedung laboratorium, karena posisi dia juga masih di luar gedung.

"Si*al! Kenapa mereka tidak percaya kepadaku di saat genting seperti ini?" Aron memukul kap mobil karena sangat kesal.

"Apa aku harus memaksa masuk ke dalam dan mengambil video lalu mengirimkannya agar mereka percaya?" Aron bergumam.

"Dad, jangan melakukan hal yang berbahaya seperti itu! Aku dan mommy tidak mau terjadi sesuatu kepadamu, Dad," sergah Lewis sambil mencengkram lengan ayahnya.

Anak dan ayah itu saling beradu pandang. Jelas terlihat kalau keduanya tidak mau terjadi hal buruk kepada mereka.

"Tidak ada cara lain lagi. Saat ini keadaan kota El Dorado dalam bahaya," kata Aron lirih.

Aron yang sejak kecil dididik oleh ayahnya yang seorang tentara, mempunyai jiwa untuk melindungi orang-orang dan tempatnya berada dari musuh. Berbeda dengan Lewis yang sejak kecil dididik untuk menjadi anak yang cerdas dan bagaimana caranya agar bisa menjadi juara.

"Tapi, Dad."

"Ingat Lewis, kita bisa menjadi orang yang berguna bagi orang lain ketika kita bisa memberikan manfaat bagi mereka. Saat ini Daddy ingin menjadi orang yang berguna bagi orang lain dengan menyelamatkan mereka dari sesuatu yang berbahaya ini. Daddy sayang kamu, juga sayang sama mommy. Maka, Daddy akan melakukan apa pun untuk melindungi kalian," ucap Aron.

Hati Lewis bergetar, dia juga ingin bisa melindungi orang-orang yang disayanginya. Namun, dia tidak punya kekuatan dan keberanian. Jadi, dia tidak tahu apa yang harus dia lakukan.

"Kalau begitu aku juga akan ikut dengan Daddy masuk ke dalam," ucap Lewis.

***

Ada jalan rahasia untuk masuk ke dalam laboratorium. Aron mengajak Lewis masuk lewat sana. Jalan itu lewat bawah tanah dan akan masuk ke area ruang tempat dilakukan bebagai eksperimen. Untuk penelitian di lantai atas begitu juga dengan ruang kerja dan tempat istirahat bagi yang sedang lembur.

Lewis menatap kagum dengan semua yang dia lihat saat masuk ke ruang eksperimen. Tidak ada siapa-siapa di lantai paling dasar ini. Begitu mereka masuk ke dalam lift terlihat ada darah. 

"Sepertinya di sini juga terjadi sesuatu," kata Lewis.

"Ya. Kamu berhati-hatilah," ucap Aron sambil mengeluarkan revolver miliknya.

Lift naik ke lantai paling atas di mana terdapat ruang kerja para karyawan laboratorium berada. Begitu lift terbuka terlihat banyak zombie yang sedang mengigit seseorang.

"Oh, tidak. Dad!" teriak Lewis saat zombie yang paling dekat dengan lift tiba-tiba berlari sempoyongan ke arah mereka.

Aron segera menekan tombol lift agar menutup. Dia pun memberikan tembakan kepada makhluk itu. 

"Apa?" Aron memekik saat peluru itu tidak mempan untuk menaklukkan zombie.

Makhluk mengerikan itu sempat terhenti gerakannya saat terkena tembakan. Namun, dia kembali menyerang mereka.

"Dad!" teriak Lewis ketakutan saat zombie hampir mendekat ke pintu lift.

Aron kembali menembak kepala zombie itu. Untung pintu keburu menutup saat tangan zombie itu hendak menggapainya.

Jantung Lewis dan Aron berdetak kencang dan tubuh mereka mendadak lemas. Keduanya tidak menyangka akan mendapatkan kejadian seperti ini. Tubuh mereka dibanjiri keringat dingin karena sudah mengalami hal yang menakutkan. Lewis melihat dengan jelas tadi saat seseorang digigit oleh zombie lalu tidak lama kemudian butuhnya menegang dan bergetar hebat. Setelah itu dia pun berubah menjadi makhluk yang sama. Muka pucat, bola mata memutih, dan mulut terbuka lebar. Ternyata laporan tadi bukan omong kosong.

"Apa yang harus kita lakukan saat ini, Dad?" tanya Lewis masih dengan tubuh yang lemas dan bergetar.

"Kita harus ke ruang monitor. Sepertinya cctv masih berjalan dengan baik. Kita harus mendapatkan rekaman itu untuk menjadi barang bukti kalau keadaan di sini sangat kacau," jawab Aron.

Ruangan monitor berada di lantai lima, dua lantai di bawah ruang kerja tadi. Lewis dan Aron harus waspada dan berhati-hati, bisa saja zombie tiba-tiba muncul.

Aron tidak menyangka kalau malam ini akan banyak orang yang melakukan lembur, padahal besok adalah week end. Biasanya di hari ini jarang ada yang lembur kecuali sedang ada penemuan sesuatu yang besar.

'Apa saat ini sedang terjadi sesuatu yang aku lewatkan?' batin Aron.

Pintu lift terbuka dan keadaan lorong aman. Keduanya segera berlari ke arah ujung lorong di mana tempat monitor itu berada.

Grrrrr! Grrrrr!

Terdengar suara geraman yang menandakan ada zombie di sekitar sana. Aron pun menarik Lewis agar bisa berlari cepat. Anaknya itu benar-benar sangat lemah dalam berolahraga, baru lari sebentar saja napasnya sudah putus-putus.

Grrrrr! Grrrrr!

"Aaaaa!"

Tiba-tiba makhluk itu muncul di persimpangan lorong dan menerkam Lewis. Aron langsung menembak kepala zombie yang hendak mengigit putranya. Saat zombie itu terdiam beberapa saat Aron menendang sekuat tenaga agar menjauh dari sang anak.

"Ayo!" Aron kembali menarik paksa tubuh Lewis.

Saat akan mencapai pintu ada serangan zombie lainnya. Aron tahu siapa makhluk ini, dia adalah salah seorang profesor yang ahli di bidang nuklir. Lalu, dia pun mendorong kuat zombie itu ke arah jendela kaca dengan kuat sambil menembaknya. Zombie itu pun terlempar ke luar gedung.

"Ayo, masuk!" Aron mendorong Lewis masuk ke ruang monitor dan mengunci ruangan itu karena ada zombie yang berlari ke arah mereka.

Napas kedua orang itu memburu sambil memperhatikan keadaan sekitar. Untungnya tidak ada zombie di ruangan itu. Lalu, Aron memeriksa keadaan rekaman cctv. Terlihat ada beberapa zombie tersebar di lantai paling atas dan beberapa tersebar di lantai lainnya. Bukan hanya rekan kerja dia sesama ilmuan yang berubah, tetapi tim keamanan yang biasa menjaga gerbang dan ruang monitor ini pun sama, semua berubah.

Lewis membantu Aron mengirimkan rekaman video kepada pihak militer agar segara mengambil tindakan. Di luar terdengar suara geraman zombie, jadi mereka belum bisa keluar. 

Waktu sudah masuk dini hari, tetapi Aron dan Lewis tidak bisa keluar dari ruangan itu. Handphone miliknya juga hilang entah ke mana. Sekarang kedua orang ini terjebak di bangunan yang dipenuhi oleh para zombie.

Aron dan Lewis tertidur tanpa sadar karena kelelahan. Mereka menunggu bantuan militer yang akan datang.

Tiba-tiba lemari yang disandari oleh kedua orang itu bergerak-gerak. Masih dalam keadaan setengah sadar, Lewis membuka lemari itu untuk melihat isinya.

"Aaaaa!"

Ada zombie yang menggunakan seragam kemanan di dalam lemari itu. Lalu, Aron pun menebaknya meski tahu itu percuma.

***

Terpopuler

Comments

Muhamad Bardi

Muhamad Bardi

ceritanya seru kak ada tegang"nya dan ada kagetnya juga soalnya lagi baca pas tegang"nya dikagetin sama si bos kan kaget jadinya🤣🤣🤣🤣

2023-06-09

5

❤️ Nurul Qolbi ❤️

❤️ Nurul Qolbi ❤️

lanjut, Kak. Penasaran

2023-06-09

6

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!