Bab 19
Keenam pemuda yang tadi sempat berubah menjadi zombie ditempatkan di sebuah ruang lantai satu. Mereka masih dalam keadaan tidak sadar. Lewis duduk bersisian dengan Hilda. Gadis itu duduk bersandar pada bahu sang kekasih.
Tidak jauh dari mereka terlihat Armando menatap keduanya dengan nanar. Cintanya bertepuk sebelah tangan, padahal selama ini dia menahan diri untuk tidak menyatakan perasaannya karena beredar gosip kalau Hilda tidak akan pacaran sebelum masuk kuliah. Jadi, pemuda itu berniat akan mengungkapkan cinta untuknya saat mereka duduk di bangku kuliah.
Tidak beda jauh dengan Armando, Gaby juga merasa cintanya tidak akan tergapai. Pemuda yang merupakan ketua klub basket dibsekolah dan atlet taekwondo internasional, sudah mencuri hatinya saat baru masuk sekolah.
Mereka dikejutkan oleh salah seorang dari keenam pemuda tadi yang tiba-tiba saja bangun. Dia terlihat linglung sambil melihat ke segala arah di ruangan itu.
Lewis dan yang lainnya mendekat untuk memastikan kalau pemuda itu benar-benar kembali menjadi manusia normal. Secara fisik luar memang terlihat kembali menjadi manusia, tetapi belum bisa dipastikan dengan organ dalam dan darah mereka masih normal atau sudah terkontaminasi dengan zat lainnya.
"Kenapa aku ada di sini?" tanya pemuda itu.
"Kamu siapa? Dan semalam kalian berada di mana dan apa yang terjadi dengan kalian?" tanya Lewis.
Sekarang semua informasi tentang keenam pemuda itu sangat penting. Dengan adanya bukti mereka, maka ada kemungkinan wabah virus zombie ini bisa di musnahkan di Pulau Artac ini. Lalu, warga Kota El Dorado juga tidak diliputi ketakutan lagi. Ada setitik harapan bagi mereka semua untuk tidak berubah menjadi zombie.
"Aku, Andrew. Kami berenam adalah warga Kota El Salvador yang mengungsi ke Kota El Dorado," jawab Andrew.
El Salvador adalah kota pesisir pantai yang berada di sebelah barat laut dari Kota El Dorado. Mayoritas penduduk di sana adalah nelayan dan memiliki restoran atau pabrik pengalengan ikan.
"Semalam kamu masuk ke lantai bawah tanah untuk mencari alat yang bisa dijadikan senjata jika ada zombie yang menyerang," lanjut Andrew dan keempat pemuda itu mendengarkan dengan seksama. Tidak ada salah bagi para pemuda itu mencari senjata untuk dijadikan sebagai senjata untuk melindungi diri.
"Kami berenam turun ke ruang pengontrolan niatnya ingin menjadikan aliran listrik sebagai senjata saat ada zombie menyerang. Lalu, entah kenapa muncul sesuatu di dinding ternyata itu adalah sebuah gate. Kami masuk ke dunia lain, di mana semua berukuran raksasa. Setelah itu aku tidak ingat apa-apa lagi sampai terbangun di sini," sambung Andrew.
Lewis dan ketiga temannya saling melirik. Seperti dugaan mereka saat itu, kalau orang biasa yang masuk ke Dungeon akan berubah menjadi zombie. Semakin banyak Dungeon yang muncul maka akan semakin besar memungkinkan mengubah manusia menjadi zombie tanpa perlu digigit oleh makhluk itu.
***
Lewis menerima telepon dari Aron untuk masuk ke Dungeon lagi dan membawa bunga bangkai yang banyak untuk dibuat serum. Hanya itu senjata yang bisa mereka buat saat ini. Mereka berempat pun masuk ke dunia itu lewat Dungeon yang ada di gedung pembangkit listrik.
Hal yang mereka lihat pertama kali setelah masuk kembali ke dunia lain itu adalah tumbuhan merambat sudah hampir menutupi tumbuhan di hutan. Tiba-tiba saja ada seekor burung yang menyambar ke arah mereka. Untungnya mereka bisa menghindar dengan cepat.
Di atas kepala mereka banyak burung yang saling menyerang satu sama lain. Hewan itu juga menyerang Lewis dan kawan-kawannya. Penyerangan secara brutal dan tidak teratur.
"Ada apa dengan burung-burung ini?" tanya Gaby sambil menghindari hewan-hewan itu.
Hilda dan Lewis bersembunyi di balik akar-akar pohon yang menjulang di atas permukaan tanah. Sementara itu, Armando bersembunyi di balik pohon.
Lewis pun mencoba serum buatan keluargnya untuk hewan-hewan itu. Dia ingin melihat reaksi apa yang akan terjadi, jika diberikan kepada hewan di dunia ini. Pemuda itu mencoba menembak satu burung yang kebetulan melintas di atasnya. Dalam satu tembakan hewan itu jatuh lalu bangun lagi dalam keadaan normal. Hal ini bisa dilihat dari matanya.
Lewis menembakan kembali beberapa peluru serum kepada burung-burung yang masih saling beradu di langit. Begitu terkena tembakan satu persatu hewan itu jatuh ke tanah kemudian bangkit sudah dalam keadaan normal.
"Wow. Ini hebat!" pekik Hilda yang menatap takjub karena burung-burung tadi sudah kembali dalam keadaan normal.
"Dengan begini, sudah dipastikan kalau bunga bangkai itu adalah penawar atau penetralisir virus zombie yang di semburkan oleh si bunga cantik berwana merah itu," ucap Lewis.
Saat ini orang tua Lewis baru membuat serum dalam bentuk kapsul peluru. Belum dalam bentuk lainnya. Jika sekarang mereka bisa membawa banyak bunga bangkai, maka akan mudah untuk membuat obat penawar.
"Ayo, kita cari bunga itu!" ajak Lewis kepada teman-temannya untuk melanjutkan perjalanan.
Baru saja sekitar 17 menit mereka berjalan mencari bunga bangkai, datang tiga ekor ular besar dan menyerang mereka berempat. Lewis terkena serangan itu dan terpental cukup jauh.
"Lewis, kamu masih bisa bergerak?" tanya Hilda cemas.
"Ya, aku masih bisa bergerak," jawab Lewis lalu segera bangkit dan berlari ke balik pohon.
Terlihat ketika ular itu saling serang satu sama lain, tetapi mereka juga menyerang Armando, Hilda, dan Gaby jika berada didekatnya. Ular itu juga sudah berubah menjadi buas. Tetesan bisanya terlihat berubah menjadi hitam. Entah apa jadinya jika mengenai tubuh.
Lewis pun menemukan serum ke arah ular yang akan menyerang Gaby. Lanjut ke ular yang lainnya, sampai ketiga ular itu terkena tembakan serum. Pemuda itu sengaja menembak ke arah bagian bawah kepalanya. Ular-ular itu pun langsung tumbang dan tidak lama kemudian hewan melata itu pergi.
"Huh, serumnya tinggal sedikit lagi kalau seperti ini terus," gumam Lewis.
Keempat pemuda itu kembali melanjutkan pencarian. Setelah lama berjalan, tidak ada satu pun bunga bangkai yang mereka cari.
"Kenapa kita bisa menemukan satu pun bunga bangkainya? Apa itu termasuk bunga yang sangat langka?" tanya Armando.
Lewis juga berpikir begitu. Dia melihat ke sekeliling hutan yang kini lebih banyak dipenuhi oleh tumbuhan merambat yang bunganya juga banyak bermekaran. Dari bunga-bunga itu sesekali menyemburkan sesuatu dari putik dan benang sari.
"Hei, jika bunga-bunga ini kita hancurkan, apa bisa mengurangi penyebaran serbuk yang disemburkan olehnya?" tanya Hilda kepada ketiga temannya.
"Entahlah. Tapi, bisa saja itu terjadi. Hanya saja apa kita akan bisa memetik bunga-bunga itu yang jumlahnya sangat banyak?" Gaby menatap tumbuhan merambat itu yang dipenuhi oleh bunga berwarna merah.
***
Apakah Lewis dan teman-temannya bisa menemukan Bunga Bangkai untuk obat penawar virus zombie? Ikuti terus kisah mereka, ya!
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 31 Episodes
Comments
Muhamad Bardi
oh...jadi penawarnya adalah bunga bangkai, bunga bangkai memang bunga yang langka namanya unik bunga bangkai tapi bunganya sangat cantik😊😊
2023-06-22
3