Bab 3
Lewis mendorong kursi ke arah zombie yang hendak menyerang dirinya. Kuku zombie itu mencakar tangan sang pemuda sampai terluka goreng cakaran.
"Dad, lakukan sesuatu!" pinta Lewis dengan muka panik dan ketakutan. Dia takut dirinya juga akan berubah menjadi zombie akibat cakaran barusa
Pemuda itu tidak tahu harus melakukan apa saat ini. Ayahnya pun sepertinya sudah kehabisan peluru. Zombie itu menerjang tubuh Lewis dan berusaha menggigitnya. Namun, dia berusaha melawan dan zombie berhasil mengigit telapak tangannya.
Lewis ketakutan setengah mati saat melihat tangannya digigit. Aron mengambil kursi lalu memukulkannya ke kepala zombie sekuat tenaga sampai terpental kemudian menarik tangan sang anak.
"Kita keluar dari ruangan ini. Ayo!" ajak Aron sambil membuka kunci. Lalu keluar dari ruangan itu.
Lewis yang masih ketakutan akan berubah menjadi zombie, dibuat terkejut kembali saat melihat bekas cakaran dan gigitan tadi sudah hilang dan tidak berbekas.
'Kenapa? Apa yang sudah terjadi pada tubuhku? Aku tidak akan berubah jadi zombie, 'kan?' batin Lewis.
Mereka berdua lari menelusuri lorong. Di dekat lift ada zombie, lalu keduanya pun memutuskan untuk menuruni anak tangga. Satu-satunya cara untuk keluar dari gedung itu adalah dengan lewat jalan rahasia seperti mereka masuk ke sana semalam.
"Dad, aku lelah," kata Lewis dengan napas memburu dan sekujur tubuh penuh keringat.
"Kita baru turun satu lantai. Masih ada tujuh anak tangga yang harus kita turunkan," ucap Aron sambil menyeret tangan putranya.
Lewis sudah tidak punya lagi tenaga sepeti mau mati. Bagi dia tidak ada bedanya mati karena kelelahan berlari dengan digigit zombie.
Grrrrr! Grrrrr!
Baru saja hendak menuruni anak tangga ke lantai tiga, sudah ada zombie yang menyerang mereka. Tubuh Lewis sudah tidak bisa dipaksakan untuk bergerak lagi. Dia sudah mencapai batas kemampuannya.
Lewis dan Aron bergerak mundur karena harus memperhatikan gerak si zombie.
Grrrrr! Grrrrr!
Kini mereka mentok di kaca jendela. Jika saja mereka punya nyali, maka tanpa menunggu lama pasti akan lompat melalui jendela itu. Kedua orang itu pasrah saat ini ada lima zombie mengepung. Wajah ketakutan dari kedua orang itu begitu jelas.
"Dad." Lewis bicara dengan lirih. Pemuda itu benar-benar ketakutan.
Sebenarnya Aron juga tidak kalah takut dengan anaknya. Sekarang apa pun yang akan mereka lakukan tidak akan bisa selamat dari serangan zombie ini, kecuali ada keajaiban.
Grrrrr! Grrrrr!
Kelima zombie sudah mendekat dan merapat tinggal dua meter jarak memisahkan kedua ayah dan anak itu dengan para makhluk mengerikan ini.
Graaaaw! Graaaaw!
Zombie berteriak kesakitan saat tubuh mereka terkena sinar matahari yang masuk lewat jendela. Tubuh makhluk itu yang terkena cahaya menjadi berasap. Mereka pun mundur menjauh dari Aron dan Lewis.
Kedua laki-laki itu menatap heran kepada para zombie yang tiba-tiba pergi menjauh dengan lari sempoyongan tunggang-langgang. Dengan begini nyawa mereka masih bisa selamat.
"Mereka kenapa, Dad?" tanya Lewis masih dengan ekspresi heran.
"Tidak tahu. Pasti ada sesuatu yang membuat mereka bisa seperti itu," jawab Aron terlihat sedikit lega.
"Apa mereka begitu karena takut sinar matahari?" tanya Lewis mengingat tubuh para zombie itu mengeluarkan asap saat terkena cahaya matahari lewat jendela.
Aron pun berpikiran yang sama. Dia rasa makhluk itu lemah terhadap sinar matahari.
Graaaaw! Graaaaw! Graaaaw!
Terdengar suara keras dari luar bangunan. Lewis dan Aron melihat zombie profesor yang dijatuhkan oleh Aron semalam itu sedang menggelepar di atas rumput dengan mengeluarkan asap dan berubah menjadi abu lalu habis tertiup angin.
Baik Lewis maupun Aron terpana melihat pemandangan yang ada di bawah. Mereka menyaksikan bagaimana zombie itu hancur dan akhirnya berubah menjadi abu di bawah sinar matahari langsung.
"Dad, kita harus segera keluar dari sini dan selagi ada cahaya matahari," ucap Lewis.
"Ya, kamu benar," balas Aron.
Lewis dan Aron keluar lewat jendela dengan menggunakan selang. Mereka tidak mau mengambil resiko untuk bertemu dengan zombie jika turun lewat lift atau tangga.
***
"Dihimbau kepada seluruh warga kota El Dorado jangan keluar rumah atau mendekati kompleks laboratorium Geofisika. Telah terjadi kecelakaan dalam penelitian dan menyebabkan orang menjadi seperti zombie. Belum diketahui secara pasti kenapa mereka bisa menjadi seperti itu," seorang anchor menyampaikan berita di televisi.
Lewis dan Aron terkejut karena video rekaman cctv yang mereka kirimkan ke pihak militer dan pemerintah kota El Dorado kini tersiar ke publik. Tentu saja ini akan memancing ketakutan dan kepanikan warga kota.
"Seharusnya mereka bertindak cepat selagi para zombie itu masih berkumpul di gedung laboratorium dan belum menyebar ke kota," ujar Aron dengan penuh kekesalan.
"Apa kalian melakukan penelitian yang berbahaya sampai membuat manusia berubah menjadi zombie?" tanya Maria heran. Sebab tempat itu bukan untuk mengubah atau meneliti suatu spesies makhluk hidup.
Ketiga anggota keluarga Walker sedang berdiskusi. Kenapa bisa terjadi hal seperti ini dan bagaimana bisa makhluk itu bisa hancur oleh sinar matahari.
***
Siang hari suara sirine terdengar memenuhi kota El Dorado. Para warga menjadi ketakutan, banyak orang yang memilih pergi dari pulau kecil itu. Ada juga yang memilih bersembunyi di ruang bawah tanah. Toko swalayan banyak diserbu oleh warga yang ingin menyetok bahan pangan selama mereka bersembunyi. Hanya segelintir orang saja yang tidak terlalu memedulikan keadaan ini. Mereka percaya pihak militer akan mampu melawan para zombie.
Walikota Adams Smith menghimbau warga jangan keluar rumah setelah matahari terbenam selama keadaan kota belum stabil. Dia juga menghubungi pemerintah pusat untuk memberikan bantuan tenaga dan peralatan militer, juga bahan pangan yang banyak untuk stok agar warga tidak mengalami kelaparan saat mereka bersembunyi.
Seorang sersan dan beberapa anggota militer masuk ke kompleks laboratorium Geofisika. Kesalahan mereka adalah merusak pintu gerbang. Padahal Aron sudah memberi tahu jalan masuk ke tempat itu dan jangan sampai ada zombie yang keluar dari benteng laboratorium. Kini pintu gerbang yang menjulang tinggi dan kokoh itu sudah rusak setelah dihancurkan oleh bom. Tingkat keamanan laboratorium Geofisika memang canggih agar tidak bisa disusupi oleh sembarang orang.
Pasukan militer masuk ke dalam ruang laboratorium lewat pintu masuk utama. Lagi-lagi mereka menghancurkan pintu itu untuk bisa masuk ke dalam gedung. Kedatangan mereka langsung disambut oleh tiga zombie berseragam keamanan laboratorium. Pihak militer menembaki makhluk itu dengan peluru canggih. Namun, mereka tetap masih bisa menyerang kembali. Tidak sampai satu jam satu kompi pasukan militer itu semua berubah menjadi zombie.
Matahari telah tenggelam di ufuk barat, para zombie kini berkeliaran keluar gedung laboratorium dan melewati pintu gerbang menuju ke pemukiman warga. Orang-orang yang belum tahu kalau sudah banyak zombie yang memasuki pusat kota mendapat serangan dan mereka pun berubah menjadi makhluk yang serupa.
Kini keadaan pinggiran kota El Dorado yang beberapa kilometer dari lokasi laboratorium Geofisika mencekam. Banyak warga yang mencoba menyelamatkan diri dan bersembunyi. Setelah mendapat serangan, jumlah zombie semakin banyak dan mereka bergerak terus menuju pusat kota.
"Armando, cepat kita pergi dari sini!" teriak seorang laki-laki setengah paruh baya.
"Kita mau ke mana kita, Dad?" tanya Armando, pemuda gagah dan seorang atlet taekwondo.
"Kita ke rumah Maria. Dia mempunyai banker yang kokoh di rumahnya," jawab Aiden, rekan Maria yang bekerja sebagai ilmuwan di bidang biokimia.
Begitu keluar rumah, sudah banyak zombie yang berkeliaran. Makhluk itu pun berlari menuju ayah dan anak ini.
"Cepat kita naik ke mobil!" teriak Aiden.
Grrrrr! Grrrrr!
Ada dua zombie di dekat mobil dan siap menyerang Aiden dan Armando. Keduanya pun berlari menjauh dari makhluk itu. Kedua orang itu kini terkepung oleh para tetangga yang sudah berubah menjadi zombie.
"Apa yang harus kita lakukan sekarang?" tanya Armando kepada ayahnya.
"Kita harus melakukan perlawanan. Apa ada senjata yang bisa untuk melawan mereka?" Aiden menjawab dengan panik.
Armando melihat ada sebuah mobil milik militer. Dia pun berlari ke arah sana sambil menarik tangan ayahnya. Dia berharap ada senjata di sana.
"Ada bom tangan, Dad," kata Armando.
Semakin banyak gerombolan zombie mengepung mereka. Tanpa berpikir panjang, Armando melemparkan bom itu ke arah kumpulan makhluk itu.
Duar!
Bom itu meledak dan beberapa zombie terbakar oleh api besar.
"Itu bukan bom peledak. Itu bom api," ucap Aiden
Graaaaw! Graaaaw! Graaaaw!
Zombie yang diselimuti oleh api mengeluarkan suara keras dan mereka berubah menjadi abu setelah apinya mati. Baik Armando maupun Aiden tidak percaya dengan apa yang mereka lihat.
"Mereka hancur jadi abu setelah terbakar," gumam Aiden.
"Be–nar, Dad," balas Armando yang masih dalam keadaan shock.
Grrrrr! Grrrrr!
"Dad, mereka masih ada!" teriak Armando saat melihat ke bagian belakang.
***
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 31 Episodes
Comments
Muhamad Bardi
apakah Armando itu temannya lewis ya kak thor..
2023-06-10
7