Bab 12. Sumber Virus Zombie

Bab 12

Sepasang anak manusia yang saling menatap perlahan saling mendekatkan wajahnya. Getar-getar yang sedang mereka rasakan di dalam hati mereka, membuat perasaan keduanya bahagia. Lewis dan Hilda menyatukan bibir mereka dengan perlahan dengan mata terpejam. Jantung keduanya bertalu-talu seiring dengan pergerakan mulut mereka.

Ini merupakan ciuman pertama bagi keduanya. Hilda sejak lama menaruh hati kepada Lewis. Namun, sikap pendiam dan dingin dari laki-laki itu tidak membuatnya berani mendekat. Kedekatan mereka baru-baru ini membuatnya lebih mengenal siapa sosok sang pujaan hati. Ternyata pemuda itu selain punya otak jenius, dia juga ramah dan sayang keluarga. Memberi nilai lebih di mata sang gadis.

Sebenarnya Lewis sering memergoki Hilda sedang melihat ke arahnya. Gadis paling cantik di sekolah itu merupakan salah satu murid populer dan banyak orang yang menyukainya. Tidak jarang murid laki-laki di sekolah selalu berusaha untuk mendapatkan dirinya. Setelah sering bersama belakangan ini, dia baru tahu kalau perempuan itu belum pernah pacaran.

Malam yang dingin dengan langit dihiasi jutaan bintang dan bulan sabit. Kedua remaja itu saling menyalurkan perasaan yang selama ini mereka pendam.

"Kenapa kamu menciumku?" tanya Lewis dengan tatapan nakal.

"Bukannya kamu yang menciumku duluan," jawab Hilda dengan pipi yang merah merona.

"Tidak. Kamu 'lah yang mencium aku duluan tadi," bantah Lewis bersikukuh.

Hilda semakin merasa malu. Dia pun menunduk karena merasa salah tingkah. Sampai Lewis mengangkat dagunya, kemudian kembali mencium bibir ranum yang terasa begitu lembut. Keduanya kembali terbuai akan sentuhan yang lawan berikan.

Grrrrr! Grrrr!

Mendengar ada suara zombie, otomatis keduanya saling memisahkan diri. Lalu, bersiap mencari sosok yang harus segera dimusnahkan. 

Terlihat ada zombie di dekat pagar rumah. Saat ini posisi keduanya sedang berada di atas atap rumah kosong itu. Tempat ini adalah zona perbatasan antara wilayah bahaya dan wilayah yang masih aman dari zombie.

Lewis pun melemparkan satu botol bahan bakar khusus, kemudian Hilda menembakan peluru api sehingga dengan mudah zombie itu terbakar. Tidak perlu waktu lama berubah menjadi arang kemudian menjadi abu.

Kedua remaja itu saling melirik kemudian tertawa bersama. Bisa-bisanya mereka bermesraan di saat sedang bertugas. Padahal banyak zombie yang berkeliaran di malam hari.

"I love you," ucap Hilda dengan malu-malu. Senyum bahagia tidak mampu disembunyikan saat ini.

"I love you too," balas Lewis dengan senyum tampannya. Akhirnya keduanya memutuskan untuk menjalin hubungan kekasih.

***

Selama satu minggu ini semua orang sibuk dengan tugas mereka masing-masing. Bahkan Aron berdiam di laboratorium ruang bawah tanah rumahnya. Untung rumah kawasan mereka masih aman dari gangguan zombie. Dia sudah berhasil meneliti zat apa saja yang ada di dunia lain itu. Ada beberapa zat yang baru dia ketahui jenisnya. Apalagi ada satu tumbuhan yang kandungan di dalamnya tidak diketahui apa itu.

Aron juga merasa aneh dengan kandungan zat yang ada pada udara di sana. Bisa dipastikan kalau udara di sana sangat berbahaya. Makanya tikus itu bisa berubah buas dan menjadi zombie.

Berbeda dengan kandungan zat pada air. Tidak ditemukan zat yang berbahaya. Dia juga mencoba memberikan beberapa tetes air dari dunia sana ke beberapa hewan yang sudah di sediakan sebagai kelinci percobaan. Semua hewan yang diberi air dari dunia sana, masih tetap baik-baik saja meski sudah satu minggu. 

Berbeda dengan beberapa tumbuhan yang dijadikan sampel. Ada satu tanaman yang memiliki zat yang hampir sama dengan yang ada di dalam kandungan udara. Dia merasa kalau tumbuhan ini berbahaya dan harus segera dimusnahkan. Dia mencoba memasukan tumbukan itu ke dalam kotak seekor kelinci, tidak lama kemudian kelinci itu mengamuk lalu berubah menjadi zombie seperti tikus yang dibawa ke Dungeon dahulu, oleh Lewis.

"Tidak salah lagi. Ini penemuan yang sangat berharga!" pekik Aron bahagia karena tidak menyangka.

"Sepertinya ini sumber penyebab kenapa hewan bisa berubah menjadi zombie," lanjut gumam Aron dengan mata yang berbinar puas karena berhasil memeriksa semua penelitian dari bahan yang dahulu dibawa oleh Lewis dari Dungeon.

***

Sementara itu, Maria juga sibuk bersama Aiden di ruang laboratorium milik Profesor Enzo yang memiliki banyak ruang dan fasilitas lebih lengkap jika dibandingkan milik laboratorium di rumah Maria. 

Kedua ilmuan muda itu sedang memeriksa kandungan dari Vaksin SS13 yang kemarin dibuat masal. Mereka takut kalau kesalahan memang berasal dari vaksin itu.

"Aku tidak menemukan kejanggalan dari kandungan vaksin ini," ucap Maria begitu selesai memeriksa ulang vaksin SS13 yang kemarin dibuat masal.

"Apa mungkin tubuh dari orang itu yang tidak bisa menerima vaksin yang?" tanya  Aiden  menduga.

Laki-laki itu teringat kepada putra semata wayangany, Armando dengan Lewis juga mempunyai reaksi yang berbeda terhadap vaksin itu. Namun, semoga saja mereka bisa secepatnya memusnahkan para zombie itu.

Maria pun menduga hal yang sama. Namun, kenapa zombie dari manusia yang pernah divaksin SS13 itu bisa begitu kuat dan agak susah di musnahkan. Ini yang harus Maria teliti kembali.

***

Bahan pangan yang dikirim minggu kemarin sudah habis. Maria pun meminta kepada temannya untuk dikirim kembali.

"Apa maksudmu tidak bisa mengirim kembali bahan pokok untuk kami? Bukannya aku bayar semua harga yang kamu keluarkan untuk pengiriman itu?"

Maria marah kepada temannya yang ada di pulau utama. Dia tidak mau lagi mengirim bahan makanan untuk warga Pulau Artac. Padahal sudah tahu sekarang di pulau ini sudah tidak ada lagi bahan makanan.

Lewis dan teman-temannya yang ikut tinggal di rumahnya itu saling beradu pandang. Terlihat kalau mereka harus pergi lagi ke beberapa tempat supermarket yang diperkirakan masih menyimpan stok bahan makanan. Masih ada beberapa desa yang dulu belum mereka telusuri saat mencari bahan makanan.

"Sekarang kita harus bagaimana?" tanya Aiden.

"Mungkin untuk kita bisa memakan pil penambah gizi dan imun tubuh. Satu pil bisa membuat kita bisa bertahan tidak perlu makan sehari semalam. Namun, jumlahnya tidak banyak dan yang aku pikirkan bagaimana dengan warga El Dorado lainnya. Mereka terancam kelaparan," ujar Maria sambil mondar-mandir.

***

Bagaimana nasib orang-orang yang ada di Pulau Artac, terutama kota El Dorado? Bisakah mereka bertahan hidup dalam kelaparan dan ketakutan? Ikuti terus kisah mereka, ya!

Terpopuler

Comments

Muhamad Bardi

Muhamad Bardi

akhirnya lewis dapat vitamin ciuuum juga dari kekasihnya pastinya tambah semangaaat nih lewis😊😊😊

2023-06-18

5

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!