Bab 7. Dungeon

Bab 7

Lewis dan yang lainnya mendatangi laboratorium Geofisika lewat jalan rahasia. Mereka semua berhati-hati takut ada serangan dadakan dari zombie. Sama seperti pertama kali datang ke gedung ini, Lewis merasa ada sesuatu perasaan yang mencekam. Ternyata bukan hanya dia saja yang merasakan hal ini. Ketiga temannya pun merasakan hal yang sama. Hilda sampai memegang tangan Lewis dengan erat tanpa disadari. Begitu juga dengan Gaby yang merangkul lengan Armando, meski pemuda itu tidak menyukainya.

"Bersiap-siaplah kalian! Bisa saja akan ada zombie di lantai bawah tanah ini," ucap Aron saat akan membuka pintu.

Keadaan di sana sangat sepi dan hanya ada beberapa lampu yang menyala. Untungnya mereka masing-masing membawa peralatan penting, salah satunya senter.

Grrrr! Grrrr!

Terlihat ada zombie berseragam laboratorium Geofisika yang berjalan ke arah mereka. Lalu, Lewis melemparkan botol berisi bahan bakar khusus, kemudian dilemparkan lagi pemantik sehingga zombie yang terbakar. Meski begitu makhluk itu masih bisa berjalan ke arah mereka. Maka, Armando melemparkan lagi botol berisi bahan bakar dan api pun semakin besar dan membakar zombie itu menjadi arang lalu hancur menjadi abu.

"Aku tidak menyangka akan sulit seperti ini," ucap Armando.

"Apa zombie juga ada tingkatan kekuatan?" tanya Lewis sambil melirik kepada ayahnya.

Biasanya satu botol bahan bakar khusus ini bisa memusnahkan zombie. Sebab, ini bukan sembarang bahan bakar seperti di pom bensin pada umumnya.

"Entah. Makanya kita datang ke sini untuk memeriksa virus zombie itu berasal," jawab Aron.

Mereka semua berjalan ke suatu ruangan yang menjadi ruang uji coba. Begitu pintu dibuka hawa ruangan itu begitu dingin seperti minus dibawah 0° Celcius.

"Dingin sekali di sini," bisik Hilda yang semakin erat menggenggam tangan Lewis. Jangan tanya detak jantung pemuda itu. Meski dia tipe orang yang suka berdiam diri di rumah kalau untuk pubertas dia juga mengalami. Setelah beberapa hari bersama menghabiskan waktu dengan teman-temannya, Lewis merasa tertarik kepada Hilda, meski dia malu mengakuinya.

"Kamu merasa dingin? Pakai saja jaketku," tawar Lewis dan ditolak oleh Hilda karena dia juga sudah memakai jaket.

Aron merasa adanya gelombang medan magnet dan arus listrik yang sangat kuat saat masuk ke ruangan itu. Lalu, dia mengambil alat mengukur kekuatan medan magnet dan hasilnya alat itu menunjukan angka yang melebihi kapasitas dan akhirnya rusak. Begitu juga dengan kekuatan arus listrik tidak bisa diukur dengan alat.

"Ini sangat gila! Dari mana datangnya kekuatan sebesar ini?" pekik Aron.

"Dad, lihat!" Lewis menunjuk ke arah tengah ruangan seperti ada bayang-bayang fatamorgana.

Semua orang melihat sesuatu hal aneh di ruangan uji coba ini. Mereka pun penasaran itu apa, maka semua mencoba mendekat dan mengulurkan tangan ke arah hal aneh itu. Namun, ucapan seseorang membuat mereka menghentikan hal itu.

"Kenapa, Dad?" tanya Lewis.

"Sssttt, terdengar suara zombie lagi," jawab Aron.

Ketiga anak muda yang lain meminta Aron dan Lewis memeriksa fenomena yang aneh ini. Sementara itu, mereka bertiga dengan bersemangat akan melawan para zombie yang masih berkeliaran di sana.

Selama ini mereka berempat sudah meningkatkan kemampuan fisik agar bisa melawan zombie. Terutama Lewis yang begitu harus ekstra latihan agar tubuhnya bisa kuat, begitu juga dengan pernapasannya. Setidaknya sekarang laki-laki itu bisa di ajak berlari, tidak seperti dahulu yang baru lari semenit sudah ngos-ngosan hampir tidak sadarkan diri karena kehabisan napas.

Grrrrr! Grrrrr!

"Ayo, kita harus melawan zombie itu!" ajak Armando kepada kedua temannya.

***

Sementara itu, di bangunan laboratorium Biokimia yang jaraknya sekitar 15 kilometer. Serangan zombie yang ada di sana membuat panik para ilmuan yang sedang mengembangkan vaksin SS13.

Grrrrr! Grrrrr!

Mereka menjauh dari zombie itu dan melakukan perlawanan dengan memberikan tembakan peluru karet. Terlalu beresiko kalau menggunakan sesuatu yang bisa memicu munculnya api. Bisa-bisa akan terjadi kebakaran nanti di sana.

Maria yang bersama dengan tim ilmuan yang lain melawan kedua zombie dengan menggunakan kursi. Mereka terus mendesak makhluk itu dengan terus memukul tanpa henti sampai terdesak. Lalu, makhluk itu diikat dengan kuat di brankar khusus yang sering mereka gunakan untuk eksperimen. Ranjang sejenis untuk pasien sakit jiwa yang suka mengamuk. Leher, tangan, perut, dan kaki terborgol kuat ke tempat pembaringan.

Maria meminta izin untuk mencoba mengambil sampel daging dari makhluk itu dan akan meminta Profesor Enzo untuk meneliti. Wanita itu pun memasukan potongan daging itu selalu tabung berukuran sedang. Kini di ruangan itu menjadi tenang kembali setelah kedua zombie terikat kuat.

***

Lewis mengulurkan tangan lalu menyentuh area yang seperti bayangan fatamorgana. Ternyata tangannya tembus dan dia berpikir kalau itu akan tembus ke dimensi lain. Pemuda pun itu merasakan ada kekuatan yang menarik tangannya ke dalam sana.

"Dad, sepertinya di sini merupakan suatu pintu gerbang ke dunia lain," ucap Lewis sambil melirik ke arah ayahnya.

"Hah, maksudnya itu jalan yang menghubungkan dunia kita dengan dunia lain?" tanya Aron dengan terkejut.

"Iya. Ini aku rasa ini adalah sebuah Dungeon penghubung dunia kita ke dunia lain. Apa aku masuk ke sana untuk melihat ada apa dibalik Dungeon ini?" Lewis masih menatap ke arah Aron untuk meminta izin darinya.

***

Dunia seperti apa dibalik Dungeon itu? Ikuti terus kisah mereka, ya!

Terpopuler

Comments

❤️ Nurul Qolbi ❤️

❤️ Nurul Qolbi ❤️

Lah, si Kakak Author kayaknya ngetik sambil tidur 🤭. Banyak yang hilang tuh

2023-06-15

3

Muhamad Bardi

Muhamad Bardi

jangan" dungeon itu dunia zombie, jangan kesana lewis nanti kamu pulangnya nyasar lagi🤣🤣🤣

2023-06-15

5

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!