Bab 17
"Hei, lihat ini!" kata salah seorang pemuda yang sedang berada di ruang pengendali.
"Ada apa?" tanya salah seorang temannya.
Kelima pemuda mendekati temannya yang sedang berdiri di dekat dinding. Mereka penasaran dengan yang diucapkan olehnya. Di sana terlihat ada bayang-bayang fatamorgana.
"Ini apa?" tanya pemuda berbadan tinggi besar.
"Entahlah," jawab pemuda yang pertama kali melihat keanehan itu.
Si pemuda berbadan tinggi besar tadi menyentuh Dungeon dan tangannya tembus ke dalam sana. Teman-teman yang lainnya menatap takjub dan tidak percaya dengan apa yang sedang mereka lihat.
"Apa ini gate menuju ke dunia lain atau ke tempat lain di dunia ini?" tanya rekannya.
"Tidak tahu," jawab si pemuda tinggi besar.
Keenam pemuda itu merasa tertarik untuk masuk ke dalam sana. Mereka pun melangkah ke dalam Dungeon yang menjadi sumber malapetaka di Pulau Artac ini.
Armando berkeliling gedung untuk memastikan kalau tidak ada zombie di sana. Dia melihat ada pintu yang terbuka di salah satu lantai bawah tanah. Pemuda itu berjalan dengan pelan-pelan, karena merasa curiga dengan ruangan itu.
"Tidak ada siapa," gumam Armando saat masuk ke sana. Dia pun kembali berjalan ke luar ruangan itu dan menutup ruangan itu. Pemuda ini tidak tahu kalau saat ini ada enam pemuda masuk ke Dungeon.
Baru beberapa langkah Armando meninggalkan ruangan pengendali, dia kembali lagi berniat untuk mematikan lampu di ruangan itu. Ketika dia mematikan ruangan ada cahaya biru kehijauan pada dinding kanan ruangan itu.
Jantung Armando berdetak kencang. Dia berharap kalau apa yang dia lihat ini cuma ilusi atau khayalan dirinya saja. Namun, semakin dia mendekat penampakan itu malah semakin terlihat jelas. Mata Armando seakan keluar dari tempatnya melihat semua ini.
"Ya Tuhan, kenapa bisa muncul Dungeon di sini juga? Celaka!"
Dengan cepat Armando menghubungi Aron dan walikota. Bagaimanapun juga tempat itu sudah tidak bisa dijadikan benteng pertahanan warga, sekarang. Dia juga akan meminta Hilda dan Gaby untuk berjaga-jaga tanpa membuat ketakutan warga yang ada di bangunan. Sementara itu, dirinya berjaga-jaga di lantai bawah tanah takut ada makhluk dari dalam Dungeon yang keluar dari sana.
***
"Ada apa, Dad? Kenapa wajahmu sangat pucat sekali?" tanya Lewis begitu Aron mematikan panggilan telepon barusan.
"Keadaan semakin kacau, Lewis. Muncul Dungeon baru di ruang bawah tanah gedung pembangkit listrik," jawab Aron.
Maria dan Lewis yang mendengar itu langsung terperanjat. Mereka tahu bangunan itu adalah tempat bersembunyi para warga kota El Dorado saat ini, karena keadaan kota sekarang ini sedang mendapatkan serangan zombie yang berjumlah sangat banyak.
"Bagaimana itu bisa terjadi? Apa yang menjadi penyebab munculnya Dungeon di sana?" tanya Lewis dengan ekspresi panik. Dia teringat kepada sang kekasih yang ikut untuk menjaga warga dari serangan zombie.
"Aku tidak tahu apa yang bisa membuat Dungeon muncul? Atau bagaimana bisa Dungeon muncul di sana?" Aron merasa kepalanya semakin sakit.
Maria tahu kalau beberapa bulan ini suaminya kurang istirahat dan terlalu memaksakan diri. Aron merasa menjadi orang yang bertanggung jawab untuk menghilangkan zombie di pulau Artac ini. Semua orang juga masih bertumpu dan berharap banyak kepadanya.
Meneliti tumbuhan sebenarnya bukan dunia atau keahlian dari Aron. Namun, bukan berarti dia tidak apa-apa tentang ilmu kehidupan. Sejak berpacaran dengan Maria dia sering mendengarkan dan menemani sang kekasih belajar jadi dia tahu akan hal itu.
Maria menyuruh Lewis pergi ke gedung pembangkit listrik seorang diri dengan membawa sekitar 100 kapsul berisi cairan hasil penemuan mereka barusan. Keadaan Aron tidak memungkinkan untuk ikut ke sana.
Lewis menaiki mobil dan melihat bagaimana kacaunya keadaan kota dini hari ini. Sekarang waktu menunjukan pukul 03:00 dini hari, masih ada sekitar 3 jam lagi matahari terbit.
Grrrrr! Grrrrr Grrrrr!
Banyak zombie yang menghadang di jalan, Lewis mencoba mengabaikan mereka. Pemuda itu tabrak saja semua zombie yang menghalangi, karena keadaan di gedung pembangkit listrik sekarang dalam keadaan genting.
Hal yang ditakutkan oleh Lewis tadi adalah orang-orang yang sedang bersembunyi di sana berubah menjadi zombie karena adanya Dungeon yang tiba-tiba muncul di sana.
Grrrrr! Grrrrr! Grrrrr!
"Kalian mengganggu saja!" Lewis menabrak sekumpulan zombie.
"Wah … wah! Ini tidak akan mudah lewat." Lewis dikepung begitu banyak zombie sehingga mobilnya tidak bisa bergerak. Mau tidak mau dia pun melemparkan bom api ke arah kumpulan zombie.
Graaaaw! Graaaaw! Graaaaw!
Makhluk itu berteriak saat tubuh mereka terbalut dalam kobaran api yang besar. Lewis pun tidak menyia-nyiakan kesempatan ini saat para zombie menjauh dari zombie yang terbakar. Dengan kecepatan penuh pemuda itu kembali melajukan mobilnya.
***
Keenam pemuda masuk ke Dungeon tanpa persiapan apa-apa. Mereka memang pernah beberapa kali mendapatkan vaksin SS13 dari Maria. Mereka menatap takjub dengan apa yang ada di dunia lain itu.
"Semua yang ada di sini bentuknya raksasa. Negara mana ini?" tanya salah seorang dari mereka.
"Sepertinya kita berada di dunia lain, karena di bumi tidak pernah ditemukan burung-burung sebesar itu," balas yang lain sambil menunjuk seekor burung yang ada di dahan pohon.
Semua orang yang ada di sana sangat terkejut melihat ukuran burung dan tupai yang ada di dahan lainnya. Mereka semakin mendekat ke arah tumbuhan merambat yang memiliki bunga cantik berwarna merah.
"Lihat bunga ini indah sekali. Sepertinya di bumi tidak ada yang seperti ini," ucap pemuda berpostur tinggi besar.
"Memangnya kamu sudah pernah keliling dunia?" ujar yang lain, semua orang tertawa.
Salah satu bunga dekat mereka menyembur dan mengenai tubuh para pemuda itu, lalu sebagian terhirup lewat saluran pernapasan. Mereka terbatuk-batuk akibat semburan tadi.
"Kita kembali, yuk!" ajak salah seorang dari mereka karena merasa pusing.
"Di sini sepertinya lebih aman dari pada di El Dorado," balas salah seorang temannya dan dibenarkan oleh yang lain.
Tidak sampai lima menit, mereka merasa tubuh panas dan napas sesak. Salah seorang di antaranya kejang-kejang disusul dengan yang lainnya. Tubuh mereka satu persatu berjatuhan ke tanah lalu tidak sadarkan diri.
***
Ketika semua orang sedang tertidur di lantai atas, pintu ruang pengendali di bawah tanah terbuka dengan keras. Terlihat para pemuda tadi berlarian dalam keadaan sudah berubah menjadi zombie. Armando, Hilda, dan Gaby belum menyadari akan adanya zombie baru di gedung itu.
Zombie-zombie itu menaiki anak tangga untuk meninggalkan ruang bawah tanah. Mereka saling bertubrukan saat keluar dari pintu. Mereka terus berjalan menuju lantai atas.
Grrrr! Grrrrr! Grrrrr!
***
Apakah Armando, Hilda, dan Gaby bisa mengatasi keenam zombie ini? Atau akan banyak warga yang berubah menjadi zombie baru? Ikuti terus kisah mereka, ya!
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 31 Episodes
Comments
Muhamad Bardi
aduh bener ini mah semakin kacau🤦♀️🤦♀️🤦♀️
2023-06-21
4