Kencan Sebelum Jadian

Makasih ya, Kak. Mampir dulu yuk! " ajak Zia sebelum membuka pintu mobil, Zain hanya mengangguk kemudian ikut keluar menyusul Zia. 

"Zia pulang," teriaknya yang langsung di sikut oleh Zain. 

Zain menatap tak percaya pada gadis di samping nya yang selalu terlihat anggun sekarang berubah 100% saat di rumah. 

"Zia pul___, " suara Zia terpotong saat telinganya di jewer oleh sang mama. 

"Anak gadis itu harus sopan Zia! Jangan seperti tarzan. Gak malu apa di lihat Zain? " gerutu mama melepaskan jewerannya menatap tidak enak hati pada Zain. 

Zia mendengus kesal mengusap telinganya yang terasa panas akibat hadiah dari mama tercinta. 

"Assalamu'alaikum, Tante! " sapa Zain mencium tangan mama Zia. 

"Wa'alaikumussalam Zain, mari masuk. Kaya Zain dong udah tampan, sopan lagi. " Puji mama tersenyum bangga pada Zain. 

Zia mendengus kesal kemudian melangkah ke dapur meninggalkan Zain dan mamanya yang menuju ruang tamu. 

"Diminum dulu, Kak!" pinta Zia seraya meletakkan secangkir teh di hadapan Zain dengan hati-hati. 

Zain tersenyum tulus kemudian mulai minum teh miliknya. 

"Ada tamu? " tanya papa pada mama yang mencium tangannya. Menatap pada mobil mewah yang ada di depan rumahnya. 

"Iya, Pa. " Mengambil alih tas kerja suaminya kemudian melangkah menuju ruang tamu. 

"Tuan Nugraha? " panggil Zain tak percaya, menatap pada rekan bisnisnya yang berdiri tidak jauh darinya. 

"Tuan Zain! " balasnya menyapa Zain tersenyum, mengabaikan sorot mata Zain yang memerah. 

"Mmm.. Maafkan saya sebelumnya, bukan maksud saya ingin berbohong tentang Zia. Tapi kita hanya mencoba bekerja secara profesional, " ungkapnya menjelaskan. 

Ya, memang itu alasan yang sebenarnya. Sesuai permintaan Zia waktu itu. Dia ingin dikenal sebagai Ziandra bukan terkenal karena anak dari seorang pengusaha Nugraha. 

"Yang Papa katakan benar, itu juga alasan kenapa Zia bekerja di perusahaan lain bukan perusahaan kami sendiri. " Timpal Zia penuh penyesalan, ikut merasa bersalah dengan apa yang terjadi. 

"Saya permisi! " seru Zain dingin, kemudian melangkah pergi meninggalkan Zia dan keluarganya. 

"Tunggu dulu, kak! " pintanya, Zia ikut berlari menyusul langkah lebar Zain. 

Gerakan Zain yang ingin masuk mobil terpaksa terhenti saat Zia lebih dulu menutup pintu mobil.

"Apalagi? aku paling benci dengan kebohongan," sentaknya, hati Zia terasa tercubit mendengar perkataan Zain padanya.

Zia akui dia memang bersalah, tidak ada niat sedikitpun untuk membohongi Zain. Seperti alasan yang ia katakan sebelumnya Zia hanya ingin di kenal dengan namanya sendiri.

"Maafkan aku, " suara Zia berubah serak seperti ingin menangis. 

Zain hanya bisa menghela nafas mengusap kasar wajahnya. Ingin rasanya  Zain marah pada gadis itu tapi bertolak belakang dengan apa yang ada dalam hatinya. 

"Tidak masalah, saya pulang dulu! " sahut Zain dingin, ia masih kesal. Apalagi disini Zain jadi korban kebohongan anak dan bapak sekaligus. 

"Kak, maafin dong! " pintanya lagi dengan tatapan memohon. Kali ini Zia ikut memegang tangan Zian. 

"Iya, sana masuk! saya pulang dulu, " Zia bergeming malah mengeratkan pegangannya. Ada yang mengganjal di hatinya saat Zain menggunakan bahasa formal saat hanya ada mereka berdua. 

"Ayolah, sana masuk! " buruknya lagi menurunkan nada suaranya, menarik pelan tangan Zia hingga keduanya berdiri di depan pintu masuk. 

"Kakak udah maafin aku kan? gak marah lagi? " Zain hanya menggeleng, mendorong tubuh Zia masuk rumah. Kemudian berlari menuju mobilnya. 

Zia menghela nafas panjang menatap kepergian mobil Zain yang semakin menjauh. 

*

*

"Pagi," sapa Zia dengan senyum manis, mengangguk hormat menyambut kedatangan Zain.

"Hmm," Zain hanya berdehem, kemudian masuk ke dalam ruangannya.

Zia menghela nafas kasar, menatap punggung Zain yang hilang di balik pintu. 

Zain yang masih kesal sengaja mengabaikan Zia begitu saja, sebagai konsekuensi dari kesalahannya. 

"Sepertinya dia masih marah, " gumam Zia dengan lesu. 

Detik berganti menit, menit berganti jam. Jam pulang kantor pun tiba. 

Namun, pria itu belum juga menunjukkan batang hidungnya. Membuat Zia memilih menunggu Zain di mejanya.

"Belum pulang! " gumam Zain, melirik pada Zia yang tidur dalam posisi duduk dengan kepala di atas meja, menjadikan kedua tangan sebagai bantal. 

"Aku mau marah sebenarnya, tapi gak tega liat wajah ini. " Menatap lekat wajah cantik Zia, tangannya terulur menyingkirkan anak rambut yang menutupi wajah Zia. 

Zia melenguh pelan merasakan sentuhan di wajahnya, perlahan mata itu terbuka. Mengucek matanya menatap pada pria yang berdiri di sampingnya yang sedang tersenyum. 

Zia memejamkan matanya sesaat, kemudian membukanya kembali. Pandangannya tetap sama yaitu Zain yang sedang tersenyum padanya. 

"Apa aku bermimpi? " tanyanya, membuat Zain melotot kesal. Kemudian menyentil kening Zia. 

"Auuhhh, " Zia mengaduh mengusap keningnya yang terasa sakit. Zain terkekeh tanpa ada rasa bersalah sedikit pun karena sudah menyakiti gadis itu.

"Nyata kan? " Zia tersenyum malu seraya menganggukkan kepalanya. 

"Kirain mimpi, karena seharian ini kakak mengabaikan aku! " keluhnya, wajahnya berubah murung.

"Jalan yuk! " ajaknya, menatap pada Zia yang mengambil tas bersiap untuk pulang.

Tanpa menunggu persetujuan dari Zia, pria itu langsung menarik tangannya masuk lift yang akan mengantarkan mereka ke lobby.

Zia hanya bisa pasrah mengikuti langkah Zain kemana membawanya.

"Kita mau kemana, Kak? " tanya Zia, melirik pada Zain yang duduk di kursi kemudi fokus pada jalanan.

"Kamu maunya kemana? " Zia mendelik kesal, bukannya menjawab Zain malah balik bertanya. Bagaimana tidak kesal, Zain yang mengajaknya jalan malah tidak punya tujuan mau kemana.

"Kita cari makan dulu, gimana? " Zain melirik Zia sekilas. Zia hanya mengangguk tanpa suara.

Mobil yang di kemudikan Zain berhenti di depan sebuah restoran mewah khas eropa.

Zain keluar lebih dulu mengitari mobil kemudian membukakan pintu untuk Zia.

Matanya mengitari setiap sudut restoran yang terlihat elegan namun mewah, dengan lampu besar yang menggantung di setiap sudut sebagai hiasan.

Zain sengaja membawa Zia duduk dimeja pojok ruangan, dari sana pengunjung lebih leluasa memandang keindahan kota Jakarta.

"Saya pesan Osso buco sama mashed potato, lalu bulgogi pakek kimchi dan minumannya orange juice dua. Ada lagi yang mau kamu pesan? " tanya Zain mendongak, beralih dari buku menu menatap pada Zia.

Zia menggeleng seraya tersenyum manis.

Hubungan Zain dan Zia terus mengalami kemajuan, Zia merasa sosok Zain sangat mengenalnya. Terbukti malam ini, tanpa bertanya Zain sudah tau apa yang Zia inginkan.

Setelah selesai makan, keduanya berjalan menuju taman kota. Berjalan bersisian menelusuri trotoar jalan, tanpa mereka sadari jemari keduanya saling menyatu.

"Malam ini kita namakan sebagai malam kencan kita sebelum jadian, " celetuk Zain tiba-tiba saat keduanya duduk di kursi taman.

Zia menoleh kesamping bersamaan dengan Zain yang mendekatkan wajahnya.

***

Terpopuler

Comments

Flo aja

Flo aja

alurnya jangan ngebut k

2023-11-11

0

lihat semua
Episodes
1 Kecewa
2 Penolakan Zia
3 Pertemuan pertama
4 Maling teriak maling
5 Suami takut istri
6 Ulang tahun Zia
7 Putus
8 Ke Bandung
9 Kencan Sebelum Jadian
10 Ketahuan
11 Semakin Bucin
12 Nge Date Kelompok
13 Truth or Dare
14 Menguntit
15 Ujian LDRan
16 Kejutan
17 Melepas Rindu
18 Pisah Kantor
19 Wanita Penganggu
20 Ameera Putri Adhitama
21 Salah Paham
22 Acara Lamaran
23 Acara Lamaran 2
24 Ulang Tahun Mami
25 Masih Ulang Tahun
26 Rencana Licik
27 Bodyguard Zia
28 Pewaris Nugraha
29 Obsesi Daren
30 Obsesi Daren 2
31 Trauma Zia
32 Hukuman Daren
33 Persiapan Pernikahan
34 Pingitan Sebelum Pernikahan
35 Kerikil Kecil Sebelum Pernikahan
36 Hari H
37 Resepsi Pernikahan
38 Malam Pertama
39 Honeymoon Tertunda
40 Hari Pertama Di Rumah Mertua
41 Kembali Bekerja
42 Honeymoon
43 Malam pertama yang sesungguhnya
44 Jalan-jalan
45 Pulang
46 Kecelakaan
47 Hikmah di balik musibah
48 Siapa Dalang nya?
49 Pelaku
50 Cemburu
51 USG
52 Ada apa dengan Zain?
53 Kehamilan simpatik
54 Keluar Negri
55 Di jebak
56 Hampir Keguguran
57 Pulang
58 Angela seorang OCD
59 Saling merindu
60 Ancaman
61 Akhir Dari Demian dan Angela
62 Baby boy
63 Keinginan Ibu Hamil
64 Penikahan Joshua dan Clara
65 Apakah Zia selingkuh?
66 Surprise buat Pipi
67 Kontraksi
68 Zain kontraksi?
69 Mau melahirkan
70 Penerus Adhitama
71 Promosi novel baru
72 Zachery Putra Adhitama
73 Gagal
74 Makan malam bersama
75 Nikah dadakan
Episodes

Updated 75 Episodes

1
Kecewa
2
Penolakan Zia
3
Pertemuan pertama
4
Maling teriak maling
5
Suami takut istri
6
Ulang tahun Zia
7
Putus
8
Ke Bandung
9
Kencan Sebelum Jadian
10
Ketahuan
11
Semakin Bucin
12
Nge Date Kelompok
13
Truth or Dare
14
Menguntit
15
Ujian LDRan
16
Kejutan
17
Melepas Rindu
18
Pisah Kantor
19
Wanita Penganggu
20
Ameera Putri Adhitama
21
Salah Paham
22
Acara Lamaran
23
Acara Lamaran 2
24
Ulang Tahun Mami
25
Masih Ulang Tahun
26
Rencana Licik
27
Bodyguard Zia
28
Pewaris Nugraha
29
Obsesi Daren
30
Obsesi Daren 2
31
Trauma Zia
32
Hukuman Daren
33
Persiapan Pernikahan
34
Pingitan Sebelum Pernikahan
35
Kerikil Kecil Sebelum Pernikahan
36
Hari H
37
Resepsi Pernikahan
38
Malam Pertama
39
Honeymoon Tertunda
40
Hari Pertama Di Rumah Mertua
41
Kembali Bekerja
42
Honeymoon
43
Malam pertama yang sesungguhnya
44
Jalan-jalan
45
Pulang
46
Kecelakaan
47
Hikmah di balik musibah
48
Siapa Dalang nya?
49
Pelaku
50
Cemburu
51
USG
52
Ada apa dengan Zain?
53
Kehamilan simpatik
54
Keluar Negri
55
Di jebak
56
Hampir Keguguran
57
Pulang
58
Angela seorang OCD
59
Saling merindu
60
Ancaman
61
Akhir Dari Demian dan Angela
62
Baby boy
63
Keinginan Ibu Hamil
64
Penikahan Joshua dan Clara
65
Apakah Zia selingkuh?
66
Surprise buat Pipi
67
Kontraksi
68
Zain kontraksi?
69
Mau melahirkan
70
Penerus Adhitama
71
Promosi novel baru
72
Zachery Putra Adhitama
73
Gagal
74
Makan malam bersama
75
Nikah dadakan

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!