Ulang tahun Zia

Daren begitu emosi melihat kepergian Zia, terlebih setelah mendengar bisikan dari pria yang bersama kekasihnya itu. 

"Udah lah, jangan terlalu dipikirkan. Masih ada aku. " 

Daren malah menepis tangan Celine yang mengusap dadanya. 

"Apa liat-liat? " bentaknya menatap tajam pada orang-orang yang menggunjingnya. *

Saking kesalnya, Daren pergi begitu saja tanpa menghiraukan Celine yang mengejarnya. 

"Aku tidak akan melepaskan Zia sampai kapan pun. "

Celine yang duduk di samping kemudi hanya membisu enggan menanggapi ocehan Daren yang membuatnya sakit hati. 

*

*

"Anda bisa juga ketawa bos? " pertanyaan Zia membuat Zain menghentikan tawanya. Zain mendelik kesal menatap tajam pada Zia yang cengengesan. 

"Aku juga manusia, kalau kamu lupa. " 

Zain mendengus kesal kemudian menghentikan mobilnya di pinggir jalan. 

Zia pun membuka pintu mobil ikut menyusul Zain yang duduk di kursi taman tidak jauh dari sana. 

"Apa kamu gak sakit hati melihat kekasih kamu bersama wanita lain? "

"Aku udah mati rasa, bahkan aku pernah melihat mereka lebih dari itu. Aku tidak ingin lagi menangis karena dia, tapi disaat melihat mereka luka yang mulai sembuh itu kembali berdarah." Zia beranjak dari duduknya memandang air danau yang bergerak terkena angin. 

Pikirannya kembali tertuju saat pertama kali melihat Daren waktu itu. 

"Mau berteriak? kata orang berteriak bisa mengurangi beban dihati kita."

Zain ikut berdiri di samping Zia, menatap wajah cantik itu dengan tersenyum tulus. 

"Aaahhhh… " Beberapa kali Zia berteriak sekuat tenaga berharap sesak di dadanya mampu diuraikan. 

"Bagaimana? " 

 

"Lega, " Zia tersenyum manis sambil mengangguk pada Zain. 

"Gimana rencana kamu selanjutnya? masih bertahan atau melepaskan? "  Zain menatap lekat wajah Zia yang semakin cantik saat tersenyum. 

"Hanya orang bodoh yang mau bertahan dalam rasa sakit. "

Kening Zain berkerut menantikan jawaban Zia selanjutnya. 

"Aku memilih melepaskan! " senyum Zain mengembang dengan hati yang berbunga. 

Andai saja saat ini Zia tidak ada bersamanya mungkin Zain akan melompat-lompat kegirangan. 

Zain berdehem menetralkan rasa di hatinya yang sulit terbendung. "Pilihan yang tepat, " tersenyum meyakinkan Zia. 

Zia hanya mengangguk, meskipun berat melupakan cinta pertamanya itu Zia tetap melepaskan daripada bertahan dalam hubungan yang tidak akan bahagia. 

*

*

"Datang ya, Tuan! " Zia meletakkan sebuah undangan di atas meja kerja Zain. 

Tak terasa seminggu berlalu setelah kejadian itu, Zia sudah mulai terbiasa menjalani harinya tanpa Daren. Malah saat ini hubungan Zia dengan bosnya semakin dekat, selain satu tempat kerja waktu kebersamaan mereka juga semakin intens. 

"Kapan? " Zia mendelik kesal, bukankah waktu acaranya sudah dituliskan dalam undangan tersebut, apa salahnya dilihat dulu sebelum bertanya. 

"Malam minggu, Tuan. " Ketusnya, kemudian mengangguk hormat sebelum melangkah pergi. 

Malam minggu pun tiba, waktu yang ditunggu bagi Daren akhirnya datang juga. 

Daren yang semakin takut kehilangan Zia mencoba memperbaiki hubungan mereka yang semakin renggang. Terlebih melihat Zia yang selalu bersama Zain. Pria yang sudah menantangnya seminggu yang lalu secara terang-terangan. 

Dengan senyum merekah di tangannya memegang buket bunga mawar berukuran besar. Melangkah masuk ke dalam rumah Zia tempat diadakan acara. 

"Selamat ulang tahun, Sayang. " 

"Terima kasih, " Zia menjawab masih terkejut melihat Daren yang datang dan memeluknya. 

Dengan senyum terpaksa Zia menerima buket bunga yang diberikan Daren untuknya. 

"Zia, " Dengan langkah kecil Zia berjalan menyambut Zain dan Jo yang baru tiba. Mengabaikan Daren yang terlihat sangat kesal.

" Selamat datang Tuan Zain, Pak Jo. " Tersenyum sopan menunduk hormat pada atasannya itu. 

Zain mencuri pandang pada Zia yang dihadapannya terlihat sangat cantik malam ini. Gaun tanpa lengan berwarna pink lembut membungkus tubuh indah itu, rambut yang sengaja di curly bagian bawahnya membuat Zia terlihat lebih dewasa. 

"Zia cantik sekali, Zain! " seru Jo yang langsung dihadiahi tatapan membunuh dari sahabat sekaligus atasannya itu. 

"Jaga pandanganmu atau ku pindahkan posisi mata itu, " ucapnya dingin penuh ancaman. 

Jo tergelak kemudian mengikuti Zain duduk di salah satu meja tamu undangan. 

Baru saja Zia selesai memberikan kue pada sang mama, semua orang termasuk Zia dikejutkan oleh aksi Daren yang tiba-tiba saja berlutut di hadapannya. 

"Jika aku bisa memberimu hadiah apapun, aku akan memberimu cinta dan tawa, hati yang damai, mimpi khusus dan kegembiraan selamanya. Aku tidak bisa merangkai kata-kata indah untukmu tapi satu yang pasti, will you marry me? " 

Rahang Zain mengeras melihat keberanian Daren yang menurutnya tidak tahu malu. Pandangan matanya teralihkan pada Zia yang masih terpaku menatap pada Daren yang menyodorkan kotak beludru yang ada cincin di dalamnya. 

Zia mendongak menatap langit-langit rumah, mencegah air matanya yang sudah menggenang tidak menetes. 

Andai dulu Daren melamarnya seperti ini, tanpa berpikir dua kali sudah dipastikan Zia akan menerimanya. 

"Maaf, " sebuah kata meluncur begitu saja dari bibirnya, kata yang mampu menghancurkan hati Daren hingga berkeping-keping tak berbentuk. 

"Sayang, " Daren menatap Zia dengan tatapan hancur. 

Oh ayolah Daren, siapa juga yang mau menerima lamaran seorang laki-laki pecundang sepertimu. 

"Aku tidak bisa. " 

Cincin yang dipegang Daren terjatuh begitu saja begitu perkataan Zia selesai. 

Muka Daren memerah karena marah atas penolakan Zia, apalagi Zia menolaknya dihadapan orang banyak. Harga dirinya seolah di injak-injak oleh seorang perempuan, sayangnya perempuan yang sangat ia cintai. 

"Kamu bercanda kan? " 

Daren meletakkan kedua tangannya di bahu Zia. 

Zia menggeleng kemudian mengalihkan pandangannya enggan bersitatap lebih lama dengan pria munafik seperti Daren. 

"Apa kamu menolak ku karena pria itu? " tudingnya, menunjuk pada Zain yang berdiri tidak jauh dari mereka. 

Zia menggeleng tak percaya dengan perkataan Daren, atas dasar apa pria di hadapannya ini malah mengkambing hitamkan orang lain. 

Ingin rasanya Zain memberi bogem mentah pada pria sialan itu, tapi ditahan oleh Jo. 

"Biarkan Zia menyelesaikan masalahnya! kalau lo ikut kesana itu akan memperkuat asumsi mereka tentang lo. " Zain pun mengurungkan niatnya, memperhatikan mereka dari tempatnya semula. 

"Jangan bawa orang lain dalam masalah kita, " suara Zia meninggi namun tetap tenang, tidak ingin membuat kekacauan dari acaranya sendiri. 

Daren tersenyum miring kemudian kembali mengambil cincin yang sempat ia abaikan, menyodorkan pada Zia lagi. 

"Terima lamaran ku! " pintanya sangat memaksa. 

"Tidak!  aku tidak ingin menerima lamaran pria yang sudah mengkhianatiku, meskipun aku mencintaimu tapi maaf aku hanya ingin jadi perempuan satu-satu bagi pasanganku. " Tolak Zia dengan tegas penuh penekanan. 

Daren terkejut bukan main mendengar perkataan Zia. Apa Zia tau aku selingkuh di belakangnya selama ini, pikirnya. 

Tidak! itu tidak mungkin. Daren menggeleng lemah dengan sorot mata mengiba.

***

Tbc

Episodes
1 Kecewa
2 Penolakan Zia
3 Pertemuan pertama
4 Maling teriak maling
5 Suami takut istri
6 Ulang tahun Zia
7 Putus
8 Ke Bandung
9 Kencan Sebelum Jadian
10 Ketahuan
11 Semakin Bucin
12 Nge Date Kelompok
13 Truth or Dare
14 Menguntit
15 Ujian LDRan
16 Kejutan
17 Melepas Rindu
18 Pisah Kantor
19 Wanita Penganggu
20 Ameera Putri Adhitama
21 Salah Paham
22 Acara Lamaran
23 Acara Lamaran 2
24 Ulang Tahun Mami
25 Masih Ulang Tahun
26 Rencana Licik
27 Bodyguard Zia
28 Pewaris Nugraha
29 Obsesi Daren
30 Obsesi Daren 2
31 Trauma Zia
32 Hukuman Daren
33 Persiapan Pernikahan
34 Pingitan Sebelum Pernikahan
35 Kerikil Kecil Sebelum Pernikahan
36 Hari H
37 Resepsi Pernikahan
38 Malam Pertama
39 Honeymoon Tertunda
40 Hari Pertama Di Rumah Mertua
41 Kembali Bekerja
42 Honeymoon
43 Malam pertama yang sesungguhnya
44 Jalan-jalan
45 Pulang
46 Kecelakaan
47 Hikmah di balik musibah
48 Siapa Dalang nya?
49 Pelaku
50 Cemburu
51 USG
52 Ada apa dengan Zain?
53 Kehamilan simpatik
54 Keluar Negri
55 Di jebak
56 Hampir Keguguran
57 Pulang
58 Angela seorang OCD
59 Saling merindu
60 Ancaman
61 Akhir Dari Demian dan Angela
62 Baby boy
63 Keinginan Ibu Hamil
64 Penikahan Joshua dan Clara
65 Apakah Zia selingkuh?
66 Surprise buat Pipi
67 Kontraksi
68 Zain kontraksi?
69 Mau melahirkan
70 Penerus Adhitama
71 Promosi novel baru
72 Zachery Putra Adhitama
73 Gagal
74 Makan malam bersama
75 Nikah dadakan
Episodes

Updated 75 Episodes

1
Kecewa
2
Penolakan Zia
3
Pertemuan pertama
4
Maling teriak maling
5
Suami takut istri
6
Ulang tahun Zia
7
Putus
8
Ke Bandung
9
Kencan Sebelum Jadian
10
Ketahuan
11
Semakin Bucin
12
Nge Date Kelompok
13
Truth or Dare
14
Menguntit
15
Ujian LDRan
16
Kejutan
17
Melepas Rindu
18
Pisah Kantor
19
Wanita Penganggu
20
Ameera Putri Adhitama
21
Salah Paham
22
Acara Lamaran
23
Acara Lamaran 2
24
Ulang Tahun Mami
25
Masih Ulang Tahun
26
Rencana Licik
27
Bodyguard Zia
28
Pewaris Nugraha
29
Obsesi Daren
30
Obsesi Daren 2
31
Trauma Zia
32
Hukuman Daren
33
Persiapan Pernikahan
34
Pingitan Sebelum Pernikahan
35
Kerikil Kecil Sebelum Pernikahan
36
Hari H
37
Resepsi Pernikahan
38
Malam Pertama
39
Honeymoon Tertunda
40
Hari Pertama Di Rumah Mertua
41
Kembali Bekerja
42
Honeymoon
43
Malam pertama yang sesungguhnya
44
Jalan-jalan
45
Pulang
46
Kecelakaan
47
Hikmah di balik musibah
48
Siapa Dalang nya?
49
Pelaku
50
Cemburu
51
USG
52
Ada apa dengan Zain?
53
Kehamilan simpatik
54
Keluar Negri
55
Di jebak
56
Hampir Keguguran
57
Pulang
58
Angela seorang OCD
59
Saling merindu
60
Ancaman
61
Akhir Dari Demian dan Angela
62
Baby boy
63
Keinginan Ibu Hamil
64
Penikahan Joshua dan Clara
65
Apakah Zia selingkuh?
66
Surprise buat Pipi
67
Kontraksi
68
Zain kontraksi?
69
Mau melahirkan
70
Penerus Adhitama
71
Promosi novel baru
72
Zachery Putra Adhitama
73
Gagal
74
Makan malam bersama
75
Nikah dadakan

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!