Hari ini adalah hari kedua Zia bekerja di perusahaan Adhitama group.
Setelah menempuh perjalanan satu setengah jam, mobil kesayangan Zia berhenti di parkiran perusahaan Adhitama.
"Zia, " baru saja Zia menutup pintu mobil nya, suara dingin nan tegas itu sudah menyapa indera pendengarnya.
Perlahan Zia berbalik, dengan langkah cepat berjalan menghampiri bosnya yang sudah melambaikan tangan menyuruhnya mendekat.
"Itu adalah beberapa dokumen penting perusahaan, bawa dan letakkan di atas meja saya! " terang Zain melihat wajah bingung sekretarisnya. Zia hanya bisa menghela nafas kasar, kemudian berjalan mengikuti langkah bosnya dari belakang.
"Kenapa harus gue yang bawa, dia kan punya tangan sendiri. Dasar bos tidak punya perasaan. " Gerutunya kesal.
Zain tersenyum tipis menatap wajah kesal Zia yang sangat kentara. Entah kenapa, membuat Zia kesal kesenangan baru bagi Zain.
"Sini tas nya! " pinta Zain mengambil paksa tas yang di tangan Zia.
Zia kesulitan memegang tasnya karena masih harus membawa barang bawaan Zain.
Ingin rasanya Zia tertawa melihat Zain yang berjalan gagah sambil menenteng tas perempuan, kesan cool seorang pemimpin luntur begitu saja di mata Zia.
Zain terus melangkah tanpa memperdulikan banyak mata yang menatap aneh pada nya.
"Udah mirip seperti suami takut istri. " Jo tertawa ngakak saat berpapasan dengan Zain yang berjalan membawa tas perempuan, yang diduga tas Zia.
Zia meringis mendengar perkataan Jo, dengan langkah cepat Zia meletakkan kotak itu di atas meja kerja bosnya kemudian berlalu keluar.
"Tasnya, Nona! " seru Jo dengan nada meledek.
Ingin rasanya Zia mengubur diri saking malunya. Zia berbalik mengambil tas di tangan Zain tanpa berani menatap dua orang pria tersebut.
"Kurang ajar banget sih lo, " gerutu Zain kesal, meninju bahu Jo yang masih tertawa mengejeknya.
Jo meringis mengusap lengannya yang dipukul Zain sangat kuat.
"Zia cantik loh, Zain! " Jo mendudukkan bokongnya di kursi yang ada di seberang Zain.
"Lalu? " Jo mendengus kesal mendengar jawaban Zain seperti tidak peduli.
"Lo tertarik gak? "
"B aja. " Jo menggebrak meja, kekesalannya semakin menumpuk mendengar perkataan Zain.
"Lo apa-apaan sih? " Zain mengelus dada karena terkejut tanpa mengalihkan tatapan tajamnya dari asisten luknutnya itu.
Jo menjentikkan jarinya, kemudian mencondongkan tubuhnya ke hadapan Zain.
"Kalau lo gak tertarik, itu artinya Zia bagian gue. " Zain langsung menarik kerah baju Jo, entah kenapa emosi Zain langsung membuncah saat mendengar perkataan Jo tentang Zia.
"Awas lo! " serunya penuh ancaman, kemudian menghempaskan cengkramannya.
Jo menyeringai melihat reaksi Zain tepat seperti dugaannya. Jo tau kalau Zain tertarik pada Zia, dari cara Zain memandang Zia jelas dengan sorot mata yang berbeda.
Sedangkan di luar ruangan, Zia masih mengomel panjang lebar masih memendam kekesalan pada Jo dan Zain.
"Hei.. Kamu itu kenapa? " tanya Zain yang tengah menikmati makan siangnya.
Ya, saat ini Zain dan Zia tengah berada di sebuah restoran cepat saji. Tengah menikmati makan siang mereka setelah selesai meeting.
Menatap bingung pada Zia yang menyendok makanan nya dengan kasar, tanpa mengalihkan pandangan matanya dari dua orang berbeda jenis yang tengah bermesraan.
"Nanti malam kita menginap di hotel lagi, ya! "
"Apapun untukmu honey. " Wanita itu mencium mesra bibir pria yang bersamanya.
Meskipun Zia tidak bisa mendengar jelas obrolan mereka, emosinya kian menumpuk saat melihat keduanya bermesraan tanpa ada rasa malu sedikitpun.
Zain semakin bingung melihat Zia yang terlihat sangat marah, perlahan merubah posisi tubuhnya berbalik mengikuti arah pandangan mata Zia. Kening Zain semakin berkerut kala melihat dua orang manusia berbeda jenis tengah tertawa. Melihat keintiman mereka Zain berasumsi kalau mereka adalah sepasang kekasih. Pandangannya kembali terpusat pada Zia.
"Mau kemana? " Zia yang semakin emosi melihat Daren dan selingkuhannya memilih pergi keluar dari restoran.
"Aahhkk."
Karena terlalu buru-buru membuat kaki Zia tersandung oleh kakinya sendiri membuatnya hampir saja terjatuh, untungnya Zain dengan sigap menopang tubuh Zia. Sejenak pandangan mata keduanya terpaku satu sama lain, dengan jantung berdegup kencang.
Pandangan mata Zain jatuh pada bibir merah nan ranum itu, yang terlihat begitu menggoda. Wajahnya perlahan mendekat semakin turun, Zia seperti terhipnotis pun ikut memejamkan matanya seolah menanti dua benda kenyal itu menempel.
"Zia, " teriakan seseorang menyadarkan Zia dan Zain yang terhanyut dengan suasana yang terjadi.
Pupil mata Zia melebar melihat siapa yang datang. Zia langsung membenarkan posisi tubuhnya menjauh dari Zain.
Namun, senyum miring terbit di bibir Zia saat melihat wanita yang berdiri di samping Daren.
"Ya, ada apa? " bukannya ingin menjelaskan pada Daren, Zia malah terkesan cuek dan santai.
"Jadi begini kelakuan kamu di belakang ku, iya? " suara Daren meninggi, membuat mata semua orang yang ada disana tertuju pada mereka.
"Turunkan nada suaramu, kak! " ucap Zia geram. Mendelik kesal pada Daren yang menurutnya tidak punya malu.
Zia yang merasa terlanjur malu, memilih berlalu keluar dari restoran.
"Dasar perempuan murahan, " Zia yang sudah melangkah kembali berbalik saat mendengar hinaan Daren padanya.
"Sebelum menghinaku, lebih baik berkaca lebih dulu. " Sanggah Zia menghadiahi sebuah tamparan, kepala Daren tertoleh akibat tamparan keras dari Zia. Mengusap pipinya yang sudah bercap lima jari Zia.
"Maksud kamu apa? " Daren berusaha mencekal tangan Zia.
"Ayo! " Zia menghempaskan tangan Daren yang menahannya, kemudian beralih pada Zain yang sedari tadi diam jadi penonton.
Sebelum pergi Zia melayangkan tatapan sinis pada wanita yang sedang mengusap bahu Daren.
"Lepaskan! aku siap jadi pengganti mu," bisik Zain tepat di telinga Daren sebelum melangkah menyusul Zia.
Melihat apa yang terjadi, Zain bisa menarik kesimpulan bahwa pria di hadapannya itu adalah kekasih Zia yang sedang bersama pacarnya.
Mata Daren memerah marah, apalagi mendengar perkataan pria yang bersama kekasihnya itu.
"Bangsat, " Daren yang kesal mengusap kasar wajahnya, kemudian menendang kursi yang berada di dekatnya.
Sementara di dalam mobil, Zia mengusap air matanya yang mengalir tanpa bisa dicegah.
Meskipun perasaan Zia tidak lagi seperti dulu, rasa sakit itu masih setia hadir saat melihat Daren dan perempuan itu, perempuan yang sama saat di ruangan Daren waktu itu.
"Jangan buang air matamu untuk laki-laki pengecut itu, " ucap Zain, seraya menyodorkan sapu tangan ke hadapan Zia.
"Sebenarnya aku tidak ingin menangis, tapi air mata ini gak mau berhenti. " Kelakarnya, mengundang gelak tawa dari bibir Zain yang sangat langka terlihat.
Zain memutar tubuhnya menghadapi Zia, tangannya terulur mengusap lembut pipi Zia yang basah karena air mata. Seperti mendapatkan dorongan dari hatinya, Zain memiringkan kepalanya menatap lekat wajah cantik sekretarisnya itu.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 75 Episodes
Comments
Ruk Mini
ternyata ..galak d awal aje..melehoy jg bank zi
2024-01-14
0