Zia membuang muka memutuskan pandangan mata mereka.
"Maaf kan saya, Tuan. " Lagi-lagi Zia meminta maaf atas kesalahannya.
"Untuk kali ini saya maafkan, tapi tidak lain kali. " Senyum Zia mengembang menatap bosnya dengan wajah berbinar.
"Jangan senang dulu, hari ini kamu tetap saya hukum! " senyum Zia jadi luntur saat mendengar perkataan Zain.
"Hukum? " beonya, memandang Zain dengan wajah seperti orang yang sedang tertindas.
"Ya, hari ini kamu harus ikut kemanapun saya pergi termasuk meeting di luar. " Titahnya penuh dengan penekanan.
Zia menghela nafas lega, hukumannya tidak terlalu berat, pikirnya.
"Baik, Tuan. " Jawab Zia sopan. Menunduk hormat pada Zain kemudian berjalan keluar setelah mendapat perintah dari bosnya.
"Ayo berangkat! " suara bariton itu mengejutkan Zia yang tengah asik berkutat dengan laptopnya.
Dengan bergegas Zia segera mengambil semua keperluan yang akan dibawa meeting. Melangkah lebar mengikuti Zain dari belakang.
"Duduk dibelakang! " seru Zain, menghentikan gerakan tangan Zia yang akan membuka pintu mobil di samping kemudi. Kemudian berpindah membuka pintu mobil pada kursi penumpang bagian belakang.
Suasana di dalam mobil mendadak hening tidak ada yang bicara, Zia menatap keluar jendela mobil menikmati pemandangan jalan ibu kota yang sangat padat dan begitu sesak.
"Apa pemandangan di luar lebih menarik dari wajah tampan ku. Atau jangan-jangan dia malah menghitung berapa buah mobil yang lewat." Batinnya.
Zain kesal melihat Zia yang tidak tertarik pada wajah tampannya. Sedangkan para wanita diluar sana begitu mendambakan seorang Zain.
Mobil yang dikemudikan Jo berhenti depan sebuah restoran mewah. Ketiga nya melangkah beriringan masuk ke dalam menuju salah satu ruangan VIP di restoran tersebut.
"Selamat datang Tuan Zain, Tuan Jo dan Non__, " suara Andi sebagai asisten Tuan Nugraha tercekat di tenggorokan saat mengulurkan tangan pada anak majikannya.
Sama halnya dengan Andi, Zia juga terkejut saat melihat klien Zain ternyata adalah papa nya.
"Perkenalkan saya Ziandra sekretaris Tuan Zain. " Sahutnya cepat menyambut uluran tangan Andi, kemudian beralih menjabat tangan papa nya.
"Ziandra."
"Samantha Nugraha, " Zia mengulas senyum sopan sambil memberi kode lewat matanya pada sang papa. Tuan Samantha yang paham akan maksud anaknya, ikut tersenyum mengikuti alur sandiwara Zia.
"Silahkan duduk, " Zia, Zain dan Jo segera duduk pada kursi yang sudah disediakan.
Selama meeting berlangsung, berulang kali Zia mencuri pandang pada sang ayah, yang terlihat tenang dan santai seperti biasa.Berbeda pada Zia yang terlihat sangat gugup selain karena ini meeting pertamanya, juga karena klien mereka adalah papanya sendiri.
Meeting berlangsung dengan lancar, setelahnya mereka melanjutkan dengan makan siang bersama.
"Senang bekerja sama dengan anda, Tuan. " Zain kembali menjabat tangan Tuan Samntha dan Andi bergantian sekaligus berpamitan.
Kemudian mereka berjalan keluar dari restoran.
"Apa kamu sudah mengenal asisten Tuan Samantha sebelumya? " tanya Zain menoleh pada Zia yang duduk di sebelahnya. Saat ini mereka sudah berada di dalam mobil kembali ke kantor.
Zain merasa ada yang aneh saat melihat reaksi Zia dan Andi yang saling terkejut pada saat pertemuan pertama mereka.
"Tidak, Tuan." Jawab Zia singkat menoleh sekilas pada Zain.
"Benarkah? " Zain masih kurang yakin dengan jawaban yang Zia berikan. Matanya memicing menatap Zia penuh selidik.
"I-iya, Tuan. " Zia berusaha menjawab dengan tenang meskipun sedikit gagap.
Zain kembali diam, mungkin hanya perasaanku saja, pikirnya.
"Zia pulang! " serunya berteriak saat masuk rumah.
Melanjutkan langkahnya mencari keberadaan sang mama.
"Ma, Zia pu__, " suara Zia terpotong saat mama muncul menegur anaknya yang memiliki kebiasaan buruk.
"Jangan berteriak! kalau masuk rumah ucap salam Zia bukan teriak gak jelas kek tarzan. " Gerutu mama, merasa kesal dengan tingkah putri semata wayangnya itu.
Zia cengengesan memeluk tubuh mamanya dari samping. "Jangan marah dong, nanti cantiknya ilang. " Godanya mencubit kecil dagu mamanya.
"Alah.. Gombalnya gak mempan," sahutnya pura-pura merajuk melerai pelukannya.
"Gimana hari pertama kerjanya? " tanya mama, mengajak Zia duduk di sofa ruang tamu.
"Aiishhh… Menyebalkan. " Mata mama menyipit menatap wajah anaknya yang terlihat kesal.
"Tadi siang Zia ikut meeting sama bos di luar, apa Mama tau? " mama menggeleng sebagai jawaban, bagaimana bisa tau Zia aja belum kasih tau.
"Kliennya adalah papa. " Seketika tawa mama pecah, membayangkan bagaimana wajah terkejut anaknya.
"Lalu? " Zia kemudian menceritakan semuanya, termasuk dia yang pura-pura tidak mengenal sang ayah.
"Jadi, papa juga pura-pura gak kenal kamu? " Zia mengangguk membenarkan.
Papa hanya mengikuti apa yang Zia inginkan.
"Ada apa nih kok bawa-bawa nama papa? " Samantha yang baru pulang ikut bergabung duduk di samping istrinya.
Mama pun kembali menceritakan pada suaminya sesuai yang Zia katakan.
"Iya, Ma. Andi sampai tidak bisa melanjutkan ucapannya saat melihat Zia ada disana. " mama kembali tertawa kemudian melirik pada Zia yang mengangguk.
"Nyonya, di depan ada Tuan Daren! " seorang pembantu datang menghampiri majikannya.
Mood Zia semakin memburuk saat mendengar nama pria yang selalu ia hindari. Zia yang hendak pergi ke kamarnya langsung dicekal oleh mama.
"Mau kemana? " Zia menoleh pada mama yang menatapnya dengan bingung.
"Ke kamar, Ma. " Zia kembali melanjutkan langkahnya. Tapi kembali tertahan oleh suara papa.
"Kalau ada masalah itu diselesaikan Zia, jangan pergi seperti lari dari masalah. " Dengan langkah malas Zia berjalan keluar rumah.
Daren yang melihat Zia datang langsung berdiri hendak memeluk tubuh kekasihnya, Zia yang menyadari hal itu melangkah mundur, jadilah Daren hanya bisa memeluk udara.
"Ada apa? " Zia yang enggan menatap Daren, memilih beranjak duduk di kursi taman depan rumah.
"Kok nanyanya gitu? kamu berubah sekarang. " Tuduhnya menatap kesal pada Zia yang terlihat santai tidak menanggapi ocehannya. Bukannya apa, Daren sangat merasakan perubahan sikap Zia padanya, dari sikap cuek Zia bahkan mengabaikan Daren. Hubungan mereka terasa jadi hambar, jangankan untuk menghabiskan waktu bersama, komunikasi mereka pun sekarang tidak intens seperti biasanya.
"Itu hanya perasaan kakak saja. " Kilah Zia tidak ingin berdebat bersama Daren.
"Kalau gak ada yang penting, aku masuk ya! " imbuhnya, kemudian bangkit beranjak ingin pergi dari sana.
"Apa kamu punya laki-laki lain di belakang ku? " pertanyaan Daren menghentikan langkah kaki Zia.
Berbalik badan kemudian kembali berjalan mendekati Daren. Zia menggeleng dengan bibir tersenyum miring menatap tak percaya dengan apa yang Daren tanya kan.
"Gak salah? " Zia malah tertawa kecil, merasa lucu dengan Daren seperti maling teriak maling.
"Maksud kamu apa? "
Zia menyeringai melihat gelagat aneh kekasihnya kemudian mendekatkan wajahnya, Daren yang berpikir Zia akan menciumnya segera memejamkan mata.
***
Tbc.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 75 Episodes
Comments
Ruk Mini
tah.. maling tereak maling bener bgt
2024-01-14
0