Setelah pertemuan terakhir Zia dan Daren waktu itu, Zia memilih fokus pada karirnya dan mengabaikan Daren.
Hari ini hari pertama Zia mulai bekerja sebagai sekretaris CEO di perusahaan Adhitama group.
"Huft..Gue kok gak percaya diri gini ya,Come on Zia. "
Zia menghirup nafas dalam lalu membuangnya, kemudian melangkah masuk ke dalam perusahaan yang menjulang tinggi di hadapannya.
"Selamat pagi. " Sapa Zia ramah pada perempuan yang bertugas sebagai resepsionis.
"Pagi, " balas resepsionis tak kalah ramahnya.
"Eh Mbak Zia ya? " tanya resepsionis yang baru mengingat wajah sekretaris baru bos mereka.
"Iya, Mbak! " jawab Zia, menghentikan langkah kaki nya berbalik menatap perempuan yang berjalan menghampiri nya.
"Asisten Jo menitip pesan, Mbak tolong selesaikan pekerjaan yang sudah ada diatas meja kerja Mbak, besok pagi bos kita akan datang. " Jelasnya sesuai perintah.
Jo hari ini datang terlambat ke kantor karena masih harus menghadiri meeting di luar sampai siang.
"Baiklah, terima kasih, Mbak. " Zia tersenyum sopan kemudian melanjutkan langkahnya kembali.
"Banyak banget mapnya? " Zia sedikit terkejut melihat map lumayan banyak terletak di atas mejanya.
Dengan telaten Zia menyelesaikan semua pekerjaannya hingga waktu pulang tiba.
"Ah.. Akhirnya selesai juga. " Zia merentang tangannya meregang otot-ototnya yang terasa kaku karena terlalu lama duduk.
"Sudah selesai? " suara asisten Jo mengejutkan Zia.
"Sudah, Pak. " Jawab Zia sopan, menunjukkan map yang disusun dengan rapi.
"Bagus, besok pagi langsung serahkan pada pak bos kita. " Setelah mengatakan itu, asisten Jo melangkah pergi meninggalkan Zia yang masih bersiap untuk pulang.
Keesokan paginya Zia tengah sibuk menyelesaikan pekerjaan nya memeriksa dengan teliti, fokus nya beralih saat ujung mata nya tanpa sengaja melihat seseorang berjalan di hadapan nya menuju ruangan CEO.
"Anda mau kemana?" Zia berdiri menghadang langkah pria di hadapannya.
Kening pria tersebut berkerut menatap bingung pada perempuan yang aneh menurutnya.
Bagaimana tidak, dia pemilik perusahaan malah di larang masuk ke ruangannya sendiri.
"Minggir! " serunya dingin menatap tajam pada Zia yang tidak kunjung beranjak.
"Bos saya tidak ada di dalam, Tuan bisa menunggu di sana! " pintanya menunjuk pada kursi tunggu.
Pria itu tidak menghiraukan perkataan Zia, kemudian kembali melanjutkan langkahnya menggapai gagang pintu.
"Kenapa anda sangat memaksa, Tuan. Sudah saya katakan kalau bos saya tidak ada di dalam. Silahkan tunggu atau besok datang lagi. " Gerutu nya dengan suara meninggi kembali menghadang memposisikan tubuh nya di depan pintu dengan merentangkan kedua tangannya.
"Zia, " panggil Jo yang baru saja tiba, disuguhkan dengan pemandangan luar biasa. Dimana bosnya yang terkenal dingin itu kalah telak oleh sekretaris barunya yang sedikit bar bar.
"Tuan ini memaksa masuk, Pak. Saya sudah kasih tau kalau bos gak ada tapi dia tetap memaksa. " Jo menepuk keningnya merasa kesal sekaligus lucu dengan sikap Zia. Tidakkah ia tahu kalau pria yang di hadapannya itu adalah bosnya sendiri.
Sedangkan pria yang jadi tersangka malah melotot kesal pada Zia, apakah perempuan ini normal atau idiot. Bagaimana bisa seorang sekretaris CEO tidak mengenal wajah bosnya sendiri, sedangkan di lobby perusahaan terpampang jelas foto besar CEO Adhitama group yaitu Zain Putra Adhitama.
"Astaga Zia, apa kamu gak tau dia ini siapa? " tanya Jo menunjuk pada Zain yang terlihat marah.
Zia hanya menggeleng lemah tanda memang tidak tahu.
"Saat pertama kali masuk kesini, apa kamu gak liat di lobby ada fotonya? " lagi-lagi Zia menggeleng.
Inilah minus besar seorang Ziandra Nugraha, kurang peka dengan keadaan sekitar.
Jo dan Zain menghela nafas berat, kedua pasang mata itu menatap tajam pada Zia yang memasang wajah bodohnya.
"Kenapa bisa gadis seperti dia bisa jadi sekretaris CEO? " sela Zain protes menatap tajam pada asisten pribadinya itu.
Zia mendelik mendengar pria yang belum diketahui entah siapa malah menghinanya.
"Waktu interview gak seperti ini, dia pintar nilai akademik nya juga bagus. Bahkan dia lulusan terbaik di Universitas terbesar di ibu kota. " Ungkap Jo menatap Zia dengan penuh selidik.
"Apa orangnya tertukar? " tanya Zain dengan bodohnya.
"Gak mungkin, wajah nya sama persis. Apa dia kembar? " Jo dan Zain masih beradu argumen mengabaikan Zia yang menatap mereka berdua dengan bingung.
"Stop! " teriakan Zia membuat suasana mendadak hening.
"Beritahu padanya siapa aku, supaya kejadian seperti ini tidak terulang lagi. " Zain kembali memberi perintah kemudian langsung masuk kedalam ruangan nya.
Zia yang masih ingin menghalangi pria itu ikut beranjak, tapi langkah kakinya tertahan karena cekalan Jo di tangan nya.
"Hei.. Hentikan sikap konyol kamu ini Zia.
Dia itu bos kita, Zain Putra Adhitama. Ingat bos kita. " Terang Jo penuh penekanan.
Zia menutup mulutnya tak percaya dengan apa yang didengarnya, kemudian kembali menatap pada Jo meminta kepastian. Tubuh Zia terasa lemas saat Jo mengangguk pasti tanpa ada keraguan.
"Hehehe.. Gimana dong, Pak? " tanya Zia cengengesan, menggaruk kepalanya yang tidak gatal menatap pada Jo yang sangat kesal.
"Buruan masuk, minta maaf! semoga saja tidak langsung dipecat. "
Jo langsung melangkah meninggalkan Zia dengan ketakutannya.
"Apa gue pulang aja ya? daripada dipecat secara tidak hormat. Memalukan sekali, dipecat di hari pertama bekerja.Oh no, jangan sampai itu terjadi. Bagaimana jadinya seorang Ziandra lulusan cumlaude harus mengalami hal buruk seperti itu. " Gumamnya.
Setelah beberapa saat menimang keputusannya, dengan langkah lesu Zia memilih masuk kedalam ruangan bos nya.
"Permisi bos, " sapa Zia saat sudah berdiri di depan meja Zain, menundukkan kepalanya seraya meremas kedua tangannya yang terasa dingin.
"Ada apa? " suara Zain sangat dingin dan datar, jangan lupakan matanya yang menyorot tajam pada Zia. Zia bergidik ngeri saat mendengar suara bariton itu terasa begitu menusuk, apalagi wajahnya sudah pasti menyeramkan, pikirnya.
"Maaf. Saya minta maaf atas sikap saya yang sudah lancang kepada anda,Tuan." Ungkapnya penuh penyesalan, tidak berani mengangkat wajahnya menatap pada Zain.
"Saya mohon jangan pecat saya, Tuan. " Imbuhnya lagi penuh permohonan.
Zia harap-harap cemas menantikan respon bosnya yang tidak kunjung bersuara.
Badan Zia semakin bergetar saat Zain malah berjalan mendekatinya.
"Angkat wajahmu! " titahnya masih dengan suara dingin.
Dengan ragu-ragu Zia memberanikan diri mengangkat wajahnya.
Sejenak pandangan kedua mata itu beradu, Zain seakan terhipnotis menatap mata hitam nan indah itu seolah terhanyut dalam ketenangan yang mampu mengalihkan kesadarannya. Zain meraba dadanya yang berdetak kencang saat wajah cantik itu tersenyum indah padanya.
Sama halnya dengan Zia, yang begitu terpesona menatap wajah tampan Zain bak dewa yunani, sungguh indah ciptaan Tuhan yang dihadapannya.
***
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 75 Episodes
Comments
Flo aja
awal menarik bahasanya udh bagus semangat k
2023-11-10
0