...~Happy reading~...
Langkah mereka terhenti saat mendengar suara Daren, ke tiga pasang mata itu kompak menatap Daren yang terlihat gugup.
"Bicara apa? " tanya papa, menatap bingung wajah kekasih anaknya yang tak kunjung bersuara.
"Hum, itu Om.. Saya mau melamar Zia, tapi bukan sekarang. Saya akan datang bersama orang tua saya ke rumah Om. " Ungkapnya yakin, walau sedikit terbata akibat merasakan gugup.
Zia menggeleng lemah tidak setuju dengan perkataan Daren.
"Jangan sekarang kak, aku belum siap! " sela Zia lembut, menolak halus rencana Daren.
Aku gak sudi tunangan sama orang yang sudah mengkhianati ku, sekarang aja selingkuh apalagi nanti setelah nikah pasti gitu juga, pikirnya.
"Aku baru wisuda Kak, aku masih ingin mengejar cita-citaku. " Lanjutnya lagi menjelaskan, mengusap lembut tangan Daren yang di genggamannya.
"Tunangan aja Sayang bukan nikah, " kilah Daren kekeh dengan keputusannya.
"Kak, aku mohon! kita bisa jalani hubungan kita seperti biasanya. " Pinta Zia dengan wajah memohon.
"Aku mau tau alasannya kenapa kamu gak mau, aku yakin bukan hanya sekedar karir." Sahut Daren menatap Zia dengan penuh selidik.
Mama dan papa yang merasa pembahasan mereka bukan lagi ranahnya memilih pergi. Menepuk pundak Daren sebelum papa melangkah masuk ke rumah lebih dulu.
"Gak ada alasan lain kak, aku hanya belum siap." Jelas Zia jujur. Belum siap dalam artian berbeda bagi Daren.
"Kamu masih nunggu apa lagi baru siap? " tanya Daren sedikit menaikan nada suaranya, menatap Zia penuh kekecewaan.
"Kak, tolong hargai keputusan ku! " pinta Zia, tanpa ada keinginan memberikan jawaban yang Daren inginkan. Kemudian melangkah lebar masuk ke dalam rumah, meninggalkan Daren sendirian dengan wajah memerah marah.
"Akkhh… " Teriaknya, dengan kaki menendang ban mobil melampiaskan amarahnya, kemudian masuk ke dalam mobil. Daren segera melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.
Zia melangkah gontai menaiki tangga setelah melihat Daren pergi. Masuk ke dalam kamar kemudian menghempaskan tubuhnya ke atas kasur.
"Kenapa kamu tolak, Sayang? " tanya mama lembut, yang baru saja masuk dan ikut duduk di samping anaknya.
"Ada masalah lain yang belum bisa Zia cerita ke mama. Zia akan pastikan semuanya lebih dulu sebelum cerita. " Terang Zia lesu, membaringkan tubuhnya di pangkuan sang mama.
Mama tidak hanya sekedar orang tua bagi Zia tapi juga teman sekaligus tempat nya berbagi selain pada Clara.
Tangan Mama terulur mengelus lembut rambut panjang anaknya.
"Baiklah, kapanpun kamu siap bercerita mama akan selalu ada buat kamu. " Ucap mama lembut cenderung pasrah tidak ingin memaksa Zia.
"Terima kasih, Ma. " Balas Zia tak kalah lembut, mencium tangan mamanya beberapa kali.
"Ya udah mandi gih! masa anak perawan jorok ntar gak laku loh. " Kelakar mama seraya tertawa kecil mencairkan suasana melow di antara mereka.
"Ihh.. Mana ada bau, gak ya. " Protesnya beranjak dari pangkuan mama kemudian mengendus-endus kedua ketiaknya.
"Masih wangi, Ma. Gak usah mandi kali ya? jodoh Zia pasti datang meskipun Zia gak mandi satu tahun. " Jawabnya membalas godaan sang mama.
Zia beranjak kemudian masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
Sementara di tempat lain tepatnya di rumah sakit milik keluarga Daren. Daren Sanjaya seorang Dokter bedah sekaligus Direktur utama rumah sakit tersebut. Merasa sakit hati dengan penolakan kekasihnya, membuat Daren mengamuk melempar semua benda yang ada di sekitarnya.
"Aku tidak menerima penolakan Zia, kamu harus jadi milikku apapun caranya. " Ucapnya penuh ambisius.
"Astaga.. Apa yang terjadi? " pekik seseorang, terkejut melihat ruangan atasannya yang seperti kapal pecah.
"Kamu kenapa, Sayang? " tanyanya kemudian, berjalan cepat mendekati Daren yang berdiri di dekat jendela, melingkar kan tangannya di perut sang kekasih.
"Perempuan itu lagi, " sungutnya merasa kesal, melihat foto perempuan yang ada di tangan Daren.
"Apa sih kelebihan dia yang membuat kamu begitu mencintainya? " tanyanya dengan nada meninggi.
Daren menatap tajam pada wanita yang lancang menghina gadis pujaannya.
"Yang pastinya tidak ada pada dirimu! " sengitnya, menatap tajam wanita itu dari atas sampai bawah kemudian menyunggingkan senyum remeh.
"Aku bahkan lebih hebat darinya, bisa memuaskan mu bahkan sampai berjam-jam. Lah dia hanya modal tampang doang," hinanya lagi membuat Daren makin emosi.
"Dia gadis terhormat tidak seperti kamu yang rela menyerahkan diri hanya karena uang. " Hardiknya, mencengkram kuat rahang wanita itu.
"Jangan terlalu naif, Daren! Kamu juga sangat menikmati percintaan kita, jangan lupakan itu. Hidup itu harus realistis, butuh biaya. " Sanggahnya, tangannya mengusap rahangnya yang terasa sakit setelah dilepaskan oleh Daren.
"Diam Celine! " bentak Daren menggelegar dalam ruangan direktur tersebut.
Wajah Celine memucat saat melihat wajah marah Daren yang baru kali ini ia lihat.
Celine seorang suster di rumah sakit yang biasa mendampingi Daren saat bekerja, sekaligus menjadi pemuas nafsu Daren selama 1 tahun ini. Zia selalu menjaga diri menganut gaya berpacaran sehat, karena hal ini lah Daren selingkuh di belakangnya.
"Mau kemana? " tanya Daren saat melihat Celine berjalan melewatinya.
"Setelah membuat ku marah, dan sekarang ingin pergi begitu saja. " Lanjutnya lagi mencekal pergelangan tangan Celine.
"Layani aku! " titahnya, langsung menarik kasar tangan Celine masuk ke dalam kamar pribadinya yang ada di dalam ruangan.
Celine berusaha bangun saat Daren menghempaskan tubuhnya di atas ranjang, menciumnya dengan brutal membuat nafas Celine terengah-engah, tangannya mendorong dada Daren menjauh darinya tapi tenaga Celine kalah kuat dari Daren yang sudah mengungkungnya.
"Akhh.. " pekik Celine kesakitan saat Daren menerobos masuk begitu saja tanpa menunggu tubuh Celine siap.
Daren begitu semangat memacu tubuh Celine yang dia lihat sebagai Zia kekasihnya.
"Zia, aku sangat mencintaimu. " Racaunya di sela kegiatan panas mereka.
Tanpa sadar air mata Celine menetes entah karena merasakan sakit pada tubuhnya atau hatinya.
Tak heran sebenarnya karena Daren selalu memanggil nama Zia selama ini walaupun orang yang berada di bawahnya bukan lah Zia melainkan wanita lain.
Awal nya Celine biasa saja menerima perlakuan Daren padanya, toh Daren selalu memberikan uang setelah Celine selesai melayaninya. Seiring berjalanya waktu dalam kurun yang lama, membuat rasa lain tumbuh di hati Celine.
"Kenapa sesakit ini? " batinnya, menatap wajah tampan Daren yang berkeringat masih mencari sesuatu yang belum dia dapatkan.
"Zia… Aku sangat mencintaimu, " racaunya mengerang hebat saat puncak kenikmatan itu dia rasakan.
Daren beranjak dari atas tubuh Celine berlalu masuk ke kamar mandi. Sebelumnya meletakkan sesuatu di samping tubuh polos Celine.
***
Hai hai semuanya..Jangan lupa tinggalkan jekak kalian, kasih like, komen dan vote ya.
Dukungan kalian motivasi bagi kami.
Tbc.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 75 Episodes
Comments
Ruk Mini
ko egois bgt kau der..der
2024-01-14
1