Terlihat Zia memberikan sesuatu pada Clara, membuat jantung Daren berdetak kencang. Entah kenapa perasaannya mendadak tidak tenang.
Zia memejamkan matanya sesaat guna menetralisir rasa sakit pengkhianatan cinta pertamanya,yang ia gadang-gadang sebagai imam di masa depan.
Slide foto Daren pun mulai diputar. Namun, tidak hanya itu. Sebuah video adegan tidak senonoh Daren bersama seorang perempuan yang sengaja di blur kembali mengejutkan semua orang.
Ya, Zia menyerahkan flashdisk pada Clara yang berisi bukti perselingkuhan Daren selama ini yang sengaja ia kumpulkan.
Rahang Daren terjatuh sehingga mulutnya terbuka lebar, terkejut melihat video yang sedang diputar apalagi ini menggunakan infokus.
"Itu semua bohong! " teriak Daren menggelegar, menyangkal semua bukti yang di tunjukkan.
Semua mata menatap dengan tatapan sinis pada Daren yang terlihat sangat marah.
Zain tersenyum bangga penuh kekaguman melihat pembalasan Zia yang terkesan elegan namun kejam, semakin menambah rasa tertariknya pada sosok seorang Ziandra.
"Di bagian mananya yang berbohong? " tantang Zia berjalan mendekati Daren tidak lupa sorot mata tajam penuh intimidasi.
Zia tersenyum remeh menatap pada Daren yang diam tak berkutik. "Bisa dijelaskan Tuan Daren yang terhormat? "
"Kamu sungguh pintar membalikkan fakta, Zia. Jelas-jelas aku yang memergokimu tengah berciuman dengan pria itu, dan sekarang kamu malah memfitnah ku untuk memutuskan hubungan kita." Kilahnya tak terima dengan tangan mengacung tepat pada Zain.
Jelas saja Daren berbohong untuk menutupi rasa malunya, padahal Daren juga tau waktu itu kalau Zia dan Zain tidak berciuman.
Zia melipat kedua tangannya di dada, masih diam dengan wajah tenang menunggu kelanjutan perkataan Daren.
Setelah beberapa saling diam dan Daren pun tak kunjung bersuara. "Boy, kemari! " Zia melambaikan tangan memanggil seseorang. Telinganya terasa panas mendengar bisik-bisik orang yang terprovokasi oleh omongan Daren.
"Kamu bisa cek video itu asli atau rekayasa, biar semua orang tau kebenarannya. "
Pria yang dipanggil Boy itu segera melakukan sesuai perintah Zia, sahabatnya.
Boy merupakan salah satu sahabat Zia dari kecil yang memiliki keahlian dibidang IT, yang ikut hadir memenuhi undangan Zia malam ini.
Suasana yang sempat riuh malah berubah mencekam.
"Videonya asli, " semua mata beralih menatap Daren yang sudah pucat pasi.
Zia bertepuk tangan berjalan mengelilingi tubuh Daren."You lost, " bisiknya tersenyum penuh kemenangan.
"Semuanya sudah jelaskan, mulai saat ini kita putus. "
Dengan perasaan kesal, malu dan marah yang menumpuk, Daren pergi meninggalkan rumah Zia.
Zia menghela nafas kasar namun lega setelah memutuskan hubungannya bersama Daren.
Duduk dikursi taman sembari memeluk tubuhnya sendiri, angin yang bertiup kencang membuat rasa dingin itu kian menusuk. Namun dia enggan beranjak pergi.
Ya, setelah kepergian Daren tadi Zia pun pergi meninggalkan pestanya yang masih berlangsung.
"Jangan ditahan! menangislah jika itu bisa membuatmu jadi lebih baik, " Zia tersentak dengan cepat mengusap air matanya.
Zia hanya mengangguk tetap mengambil sapu tangan yang di sodorkan Zain padanya.
Zain yang melihat Zia pergi dari pesta pun ikut menyusul. Meskipun Zia tersenyum terlihat tegar dihadapan semua orang, Zain tau di balik itu dia sangat rapuh.
Zia kembali tersentak saat merasakan sebuah kain menyelimuti tubuhnya yang mulai menggigil.
"Apa lebih baik? " tanya Zain kembali mendudukkan tubuhnya di samping Zia.
Zia menganggukkan kepalanya kemudian tersenyum meskipun wajahnya terlihat sembab, "Terima kasih. "
Sementara itu di tempat lain tepatnya di sebuah club.
"Zia lagi, " serunya langsung duduk di pangkuan Daren.
"Jangan ganggu aku, Celine! " bentaknya mendorong tubuh Celine menjauh darinya.
Ya, Celine ikut menyusul Daren ke club setelah mendapatkan kabar dari temannya yang kebetulan bekerja di club tersebut.
Namun, bukan Celine namanya kalau menurut meskipun sudah di bentak Daren. Ia malah mengalungkan tangannya dengan posisi masih di pangkuan Daren.
"Hey.. Ayo lah! masih banyak perempuan yang lain selain Zia, " tangan Celine mulai mengusap lembut rahang yang di penuhi bulu-bulu halus milik Daren.
"Tapi aku sangat mencintainya, aku ngak bisa hidup tanpa Zia! " racau Daren tak berdaya, mengusap kasar wajahnya.
Celine mendelik kesal kemudian beranjak berniat pergi, tapi langkahnya tertahan oleh cekalan Daren pada tangannya.
"Ayo ke hotel! " serunya, menarik tangan Celine keluar dari club.
Hanya ini yang bisa Daren lakukan saat ini, dengan harapan sakit hatinya mampu ia lupakan walaupun hanya sesaat.
Senyum lebar tersungging di bibir seksi Celine yang begitu bahagia, lagi-lagi ia berhasil mengalihkan perhatian Daren dari Zia padanya.
Celine yakin dengan hancurnya hubungan mereka ia akan memiliki banyak kesempatan untuk memiliki Daren sepenuhnya.
*
*
"Apa jadwal saya hari ini? " tanya Zain yang mulai berkutat dengan berkas yang belum sempat ia periksa.
Zia pun menjelaskan secara terperinci kegiatan bosnya dan membantu Zain untuk mengurus beberapa laporan keuangan. Keduanya bekerja secara profesional hingga jam pulang pun tiba. Dan seperti biasa Zia akan pulang bersamaan dengan Zain.
"Zain, " Jo berlari menghampiri Zia dan Zain.
Zain mendengus kesal ada saja pengganggu yang datang rencananya untuk pendekatan dengan Zia.
"Eh, ada Zia. " Ucap Jo pura-pura tidak tahu kalau disana juga ada Zia.
Jo sengaja datang saat melihat Zain dan Zia bersiap masuk lift, dengan niat ingin mengacau. Dan hal yang ia rencanakan sepertinya tercapai.
"Iya, Pak! " Zia mengangguk sopan pada Jo.
Ketiganya berjalan beriringan menuju lobby kantor, dengan posisi Zia di apit oleh kedua pria yang memasang wajah garangnya masing-masing.
"Zia, " gerakan tangan Zia terhenti saat Zain kembali memanggilnya.
"Iya, Tuan. "
Zia mengurungkan niatnya yang ingin masuk mobil saat melihat Zain berjalan menghampirinya.
Zain menggaruk kepalanya bingung ingin mengatakan alasan apa supaya dia bisa menghabiskan waktu berdua lebih lama bersama Zia.
"Hum, gak jadi. "
Zia menatap Zain dengan tatapan bingung, kemudian kembali membuka pintu mobil setelah melihat mobil yang ditumpangi Zain mulai melaju.
"Capeknya, " Zia membaringkan tubuh lelahnya di atas kasur empuk miliknya, dengan mata fokus pada televisi yang sedang menyala.
"Besok kamu ikut saya ke Bandung, kita berangkat jam 8 pagi. "
Sebuah pesan singkat masuk di ponsel Zia yang ternyata dari Zain, atasannya.
"Kok saya Pak? bukannya Pak Jo yang ikut?" Zia langsung membalas pesan dari Zain, sedikit keberatan dengan informasi mendadak dari bosnya.
Selain Zia tidak ada persiapan apapun, ia juga sedang malas berpergian jauh apalagi urusan pekerjaan, yang ada pikirannya semakin kacau.
"Jo tidak bisa! dia ada urusan mendesak jadinya kamu yang menggantikan. "
Zain bersorak senang sesaat setelah melihat balasan pesan dari Zia, wajahnya berbinar bahagia tidak sabar menunggu hari esok.
***
Tbc.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 75 Episodes
Comments
Erny Kurniawati
harusnys zian sdh tau siapa zia,kan datang pas ulang tahun zia
2024-01-14
0
Ichakim
sambungnya kemudian dengan menggebu-gebu
2023-08-11
0
Ichakim
bentaknya sembari menunjuk Zia dengan tatapan tajamnya
2023-08-11
0