Margareth sangat senang dengan keterus-terangan Alex. “Aku ingin bekerjasama denganmu untuk membuka beberapa cabang Restoran lagi. Sebelumnya Bibi Evelyn telah menerima informasi kalau Paman Jack akan mengirim seseorang untuk meniru makanan buatan tuan Alex.”
Alex tersenyum lebar. “Mereka tidak akan dapat meniru dengan sempurna makanan buatanku karena itu menggunakan bumbu-bumbu rahasia yang kuciptakan sendiri,” sahutnya dengan bangga. “Untuk para pencipta makanan tradisional di Indonesia aku meminta maaf telah mengalihkan hak cipta padaku.” Alex memohon maaf dalam pikirannya.
Margareth dan Evelyn terkejut mendengarnya, kini akhirnya mereka mengerti kenapa Alex hanya membangun pembatas Kaca antara Dapur dan ruangan Restoran, ternyata makanan buatannya tidak akan mudah ditiru.
Margareth belum menyerah untuk bekerjasama dengan Alex. “Aku akan menyediakan semua dana dan tuan Alex hanya perlu mengajari Koki yang kami tunjuk makanan buatanmu,” katanya. “Dan... tuan Alex berhak memiliki Hak Kepemilikan Restoran sebesar 30%.” Dia membujuk Alex dengan Hak kepemilikan, bukan membeli resepnya karena ia yakin Alex pasti menolak.
Alex tidak langsung menjawab dan berpikir Hak Kepemilikan ini mungkin sama dengan Saham bila di Bumi. Memiliki 30% Saham memang sangat menggiurkan, Dividen akan mengalir ke sakunya setiap tahun.
Margareth yakin Alex merasa tawaran yang ia berikan masih terlalu kecil. “Aku akan berbicara dengan Kakek untuk meningkatkan Hak Kepemilikan tuan Alex hingga 35%, bagaimana?” tanyanya dengan ekspresi wajah khawatir, karena bila Alex meminta Hak Kepemilikan terlalu tinggi maka Paman-Pamannya akan menentang kerjasama ini, sebab Perusahaan Kelurga Donovan tidak pernah memberikan Hak Kepemilikan pada orang luar.
Setelah Margareth berbicara, Restoran itu menjadi hening cukup lama. Alex masih merenung cukup lama, Dia sedang menggabungkan informasi yang ia pelajari saat menjadi Pangeran dan informasi di Bumi.
Namun, di Bumi ia hanya Koki dan tidak pernah berkecimpung dalam Dunia Bisnis secara langsung walaupun ia memiliki Ribuan Lot Saham di Emiten Pertambangan yang memberikan Dividen setiap tahun. “Kalau aku tokoh utama dalam novel atau Komik maka aku akan serba bisa dan mengaplikasikan teknologi Bumi ke sini, akan tetapi Aku hanyalah Manusia biasa,” pikirnya.
Alex juga berfirasat Margareth sebenarnya hebat berbisnis, hanya saja Kelurga Donovan terlalu mengekangnya bahkan hanya memberikan Perusahaan Transportasi yang bangkrut untuk ia kelola sehingga ia tidak bisa memperlihatkan bakat bisnisnya karena saat ini bisnis transportasi sudah menjamur di Benua Grandland.
“Aku memiliki sebuah ide dan nona muda Margareth dapat menolaknya bila tidak setuju, kemudian kita cari lagi cara agar kita dapat bekerjasama sama di masa depan,” kata Alex sudah memikirkan dirinya harus memanfaatkan Margareth. “Serahkan saja urusan pada ahlinya, maka uang akan mengalir ke sakumu,” pikirnya sembari tersenyum licik.
Margareth menganggukkan kepala dan menatap Alex dengan seksama, tak sabar ingin mendengar ide yang ingin ia sampaikan.
Evelyn mengerutkan keningnya menatap Alex. “Apakah Dia benar-benar berasal dari wilayah kumuh? Kenapa Aku merasa nada bicaranya sangat berpengetahuan seperti para Bangsawan atau Pengusaha,” pikirnya.
“Pertama bubarkan Perusahaan Transportasi yang nona Margareth kelola, kemudian membangun Restoran... tidak-tidak, lebih baik membangun Perusahaan di bidang makanan saja. Namun, nona Margareth harus menjadi Pengendali Hak Kepemilikan Perusahaan baru itu, mungkin berikan saja 10% Hak Kepemilikan pada Kelurga Donovan; anggap saja 10% itu uang dari hasil penjualan Perusahaan Transportasi itu dan Aku tentu cukup 35% saja ha-ha-ha.” Alex tertawa bahagia karena bila kerjasama ini terealisasi maka hanya dengan modal ide saja dirinya akan menjadi orang kaya baru dalam sekejap.
Evelyn tercengang mendengarnya. “Itu memang ide yang sangat bagus. Bila nona muda tersisihkan dari kandidat pewaris Pemimpin Kelurga Donovan, maka ia tetap mandiri karena telah memiliki Perusahaan sendiri dan terlepas dari bayang-bayang Kelurga Donovan.”
Margareth juga merasa yang diucapkan oleh Alex sangat bagus. Dia tidak menolak ide itu, hanya saja dia harus berkonsultasi dengan Kakeknya terlebih dahulu karena tidak mungkin ia bisa menjual Perusahaan transportasi Kelurga Donovan tanpa ijin Kakeknya walaupun Perusahaan itu hampir bangkrut.
“Kami akan kembali dulu tuan Alex,” kata Margareth segera berdiri. “Tolong jangan terima dulu tawaran kerjasama dengan pihak lain, dalam waktu dekat aku akan memberitahu apakah akan menerima atau menolak tawaran kerjasama ini,” katanya lagi.
“Ya, aku tidak akan ke mana-mana kok, ha-ha-ha.” Alex bercanda sembari mengulurkan tangan menjabat tangan Margareth.
Margareth dan Evelyn kemudian meninggalkan Restoran Sarah dengan tergesa-gesa, mereka bahkan tidak mengambil kembalian uang setelah menyerahkan Satu Koin Emas pada Sarah.
“He-he-he... Sarah mendapatkan tip lagi,” katanya tertawa bahagia dan langsung menyimpan 650 Koin Perak yang tidak diambil oleh Margareth.
Alex hanya tersenyum saja dan segera berjalan ke dapur.
“Bos kecil... Aku datang lagi,” kata Uran tersenyum lebar menyapa Sarah.
“Selamat datang Paman Dwarf dan Paman Dwarf Dua serta Paman Dwarf Tiga,” sahut Sarah tersenyum pada Uran dan Dua temannya.
“Bos kecil itu menggemaskan sekali,” kata Dardaran, rekan Uran dan ini pertama kalinya ia ke sini. Uran memaksanya untuk makan di sini karena katanya masakan Daging di sini sangat enak, tetapi harganya cukup mahal.
“Masih sepi, ya... seharusnya Restoran ini melakukan promosi dengan mengundang para pejabat pemerintah makan siang gratis,” sahut Delvon yang juga dipaksa oleh Uran untuk makan di Restoran Sarah.
Uran mengabaikan ucapan Dua temannya itu, tanpa membuka daftar menu dia langsung memanggil Hannah dan memesan Tiga Rendang dan Tiga Ayam Crispy Dengan Sambal Pedas.
Sambil menunggu hidangan datang, Uran dan rekan-rekannya bercanda dengan Sarah yang nada bicaranya sangat lucu terdengar oleh Tiga Dwarf itu.
...***...
Margareth tidak kembali ke kantor Perusahaan transportasi yang ia kelola. Dia meminta Evelyn membawanya kembali Kastil Kelurga Donovan.
Setelah sampai di Kastil, Margareth segera menuju halaman belakang yang ditumbuhi kebun teh. Donovan sedang memetik teh di sana bersama para pekerja.
“Aku ingin berbicara denganmu, Kakek!” sapa Margareth berjalan mengikuti Donovan yang tetap sibuk memetik teh.
“Apakah kamu sudah menyerah seperti ayahmu atau meminta dana tambahan?” sahut Donovan tanpa menoleh ke arah Margareth. “Kalau meminta dana maka lupakan saja, karena aturannya sudah jelas dan tidak bisa diubah lagi,” katanya lagi.
“Bukan!” kata Margareth dengan tegas. “Aku akan menjual Perusahaan Transportasi dan membuat Perusahaan baru.”
Donovan berhenti memetik daun teh dan menatap cucu perempuannya yang sangat berambisi menjadi pebisnis tersebut. Dia bahkan menolak lamaran tuan muda Bangsawan Kekaisaran Hazel dan tiba-tiba mengajukan diri menggantikan ayahnya sebagai kandidat pewaris pemimpin Kelurga Donovan.
Setelah menatap Margareth, Donovan kembali memetik daun teh tanpa mengatakan sepatah katapun.
“Uang hasil penjualan Perusahaan transportasi itu akan menjadi 10% Hak Kepemilikan untuk Kelurga Donovan dan sisanya untukku sebagai Pengendali serta investor lain.” Margareth menjelaskan lagi.
Donovan mengerutkan keningnya karena hasil penjualan perusahaannya hanya mendapatkan 10% Hak Kepemilikan. Dia yakin Margareth sebenarnya tidak memiliki dana dan investor lain itu pasti dananya dibawah 10% hasil penjualan perusahaan transportasi itu.
“Apakah dia sudah berpikir tidak mungkin menang melawan Pamannya dan ingin tetap menjadi Pengusaha?” pikir Donovan merenung sejenak. Sudut bibirnya memancarkan senyuman tipis. “Bagaimana bila Perusahaanmu itu gagal, siapa yang akan bertanggungjawab atas kehilangan uang Keluarga Donovan itu?” Dia penasaran apakah Margareth tetap kukuh membuat perusahaan baru atau mengurungkan niatnya karena Margareth tidak mungkin bisa mengembalikan uangnya.
Margareth menggertak kan giginya. Dia tidak memikirkan hal ini karena merasa kerjasamanya dengan Alex pasti akan berhasil.
Dia menarik napas dalam-dalam dan berkata, “Aku siap dijadikan alat pernikahan politik atau bisnis!”
“Hmm?” Donovan menatap cucunya itu dan tidak menyangka Margareth akan berkata begitu. Dia kembali memetik daun teh dan berkata, “Terserah kamu saja. Ingat waktumu tinggal Tiga tahun lagi dan usiamu semakin tua, kalau kamu kalah maka hanya Duda tua saja yang mau menikah denganmu!”
Margareth tersenyum cerah karena mendapatkan ijin dari Kakeknya untuk menjual Perusahaan Transportasi Kelurga Donovan yang hampir bangkrut tersebut, bahkan Donovan tidak menolak dirinya yang akan memegang kendali penuh atas perusahaan barunya nanti.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 217 Episodes
Comments
Rhakean Djati
gak apa². udah di akui dan di sahkan UNESCO. udah jadi milik dunia.hahahaaa
2024-08-02
5
Harwi
/Grin/
2024-06-16
0
🍁mahes❣️💋🄻🄴🄱🄰🅁🄰🄽👻ᴸᴷ
wah.. wah.. pebisnis cilik ini beneran pinter cari duit 😁😁😁
2024-05-22
1