Setelah selesai makan pagi, Alex segera membuka pintu Restoran dan membalikkan tulisan tutup menjadi buka.
Dia juga menempelkan kertas bertuliskan jadwal buka Restoran. Buka Pukul 8.00–10.00, kemudian jeda istirahat hingga Pukul 11.00 dan tutup 9.00 Malam. Akhir Pekan libur.
“Yeay... akhirnya kita jualan dan Aku akan mengambil uangnya dari pelanggan,” kata Sarah tertawa bahagia.
Alex tidak menolak keinginan Sarah karena Sarah sudah bisa berhitung. Dia tidak menyangka kecerdasan dirinya akan menurun pada putrinya itu walaupun saat seumuran Sarah, Alex hanya dipangkuan Permaisuri (ibunya/istri Kaisar) bermalas-malasan.
Setelah pintu Restoran yang cukup lebar hingga bagian dalam Restoran terlihat dari jalanan itu terbuka, Alex segera duduk di Kursi Kasir yang letaknya dekat dari Pintu sehingga mempermudah memantau Pelanggan; mana tahu ada yang menyelinap pergi tanpa membayar lebih dulu.
Namun, Satu Jam telah berlalu, tidak ada Pelanggan yang masuk ke dalam Restoran walaupun beberapa orang tampak berhenti dan menoleh ke arah Restoran, tetapi tak ada satupun yang memutuskan masuk ke dalam Restoran.
Sarah merebahkan tubuhnya di lantai dengan tangan terentang, sepertinya ia telah bosan menunggu Pelanggan yang akan masuk ke dalam Restoran. Dia terlihat sangat kecewa.
“Apa Sarah mengantuk? Bagaimana kalau Ayah gendong ke kamar?” Alex berjongkok di sebelah Sarah. Namun, Sarah menggelengkan kepala.
“Apakah Restoran ini sudah mulai berjualan?”
Sarah segera berdiri dan matanya berbinar-binar mendengar suara itu. Dia menarik tangan Alex agar segera menyambut Pelanggan tersebut.
Alex tersenyum hangat menatap Pelanggan pertama Restoran yang di papan namanya bertuliskan “Restoran Sarah” tersebut. Dan dibawah nana Restoran Sarah itu ada tulisan “Menyajikan Makanan Mewah dan Pertama di Benua Grandland” sehingga siapapun yang melihatnya pasti menebak kalau Restoran baru itu ingin bersaing dengan Restoran mewah yang lebih dulu ada di Kota Perdamaian.
“Selamat datang di Restoran... eh, ternyata tuan Uran!” sapa Alex segera menjabat tangan Uran, Dwarf yang memasang furnitur di Restorannya. “Silahkan dilihat lebih dulu menunya tuan Uran, mana tahu Anda menyukai makanan buatan Restoran Sarah.”
Uran tersenyum dan segera duduk di Kursi paling dekat darinya. Dia memeriksa menu Restoran yang hanya menyajikan Tiga menu saja dan salah satunya adalah Menu Vegetarian.
Alex sengaja membuat Menu khusus Vegetarian karena para Elf biasanya hanya memakan sayuran saja walaupun kadang-kadang ada juga yang memakan segalanya seperti istrinya, Helena.
Uran tampak mengerutkan keningnya saat melihat harga pada menu itu. “Harga di sini lebih mahal dari Restoran Saradan, apakah Bos Alex menjamin makanan buatanmu jauh lebih enak dari mereka?” Uran bercanda sembari menatap Alex dan menutup daftar menu tersebut.
“Maaf mengecewakan tuan Uran, makanan Restoran Sarah tidak bisa sandingkan dengan Restoran Saradan. Dengan bangga aku mengatakan kami selalu menyajikan makanan paling enak di seluruh Grandland,” sahut Alex dengan percaya diri dan hanya tersenyum tipis saja.
Uran tidak menyangka Alex sangat percaya diri sekali. “Baiklah Aku akan memesan Rendang dan Ayam... entah apa namanya itu, pokoknya nasinya Satu Piring penuh.”
“Tunggu sebentar tuan Uran!” sahut Alex segera berjalan ke dapur.
Uran masih memikirkan harga yang tertera di daftar menu. Satu porsi Rendang adalah 200 Perak, itu sangat mahal sekali. UMK Kota Perdamaian saja cuma 1000 Perak atau Satu Koin Emas, sedangkan Ayam Crispy harganya 150 Perak. Hanya Gulai Daun Ubi tumbuk plus sambal tuk tuk yang harganya cukup murah, yaitu 100 Perak.
Uran tidak memesan menu Vegetarian itu karena Dwarf lebih suka makan daging, kalau tidak dalam keadaan terpaksa maka Dwarf tidak akan pernah makan sayuran walaupun banyak orang yang mengatakan sayuran tersebut sangat enak.
“Untung saja Aku membawa Koin Emas,” gumam Uran.
Uran adalah kepala bagian pemasangan furnitur di toko furnitur Dewan Kota Milles sehingga gajinya cukup tinggi, belum lagi ada lembur dan uang tip dari Pelanggan sehingga ia tidak akan kekurangan uang bila makan disemua Restoran Mewah setiap hari.
Hannah datang dari dapur membawa nampan. Dia tersenyum manis pada Uran yang langsung terkejut karena tidak menyangka gadis yang kemarin sangat kurus dan berdada rata itu telah berubah dalam semalam; Hannah kini lebih berisi, terutama dua tonjolan di dadanya.
“Kalau dipikir-pikir, Bos Alex kemarin itu juga sangat kurus begitu juga dengan Bos kecil setengah Elf. Apa mereka meminum ramuan ajaib?” pikir Uran karena Sarah kini sangat menggemaskan dengan pipi bulat berlemak, sedangkan Alex mirip Pendekar. “Hmm, Dia mirip Alex Acherron, Pendekar tingkat 10 terkuat dan juga Pangeran termuda Kekaisaran Hazel.”
Namun, Uran segera menepis pikirannya itu karena Alex Acherron telah mati empat tahun yang lalu, lagi pula mana mungkin seorang Pangeran memutuskan menjadi Koki—memasak Telor dadar saja ia tak bisa.
Alex tiba-tiba bersin, untung saja ia langsung menutup mulutnya. “Padahal kekuatanku sudah kembali, kenapa aku bisa bersin?” gumamnya kebingungan.
Sarah muncul di dapur. “Ayah... bolehkah Aku minta satu Ayam Crispy,” bisiknya, “Aku akan sengaja makan di depan Paman itu agar ia mencium aromanya.”
Alex tersenyum dan langsung memberikan Paha Ayam Crispy. “Jangan sampai Paman Dwarf itu ngiler, ya?” candanya dan Sarah langsung berlari ke tempat Kasir.
Hannah meletakkan gelas berisi air putih, gelas berisi es teh manis dan air kobokan atau tempat cuci tangan bagi Pelanggan yang lebih suka makan menggunakan tangan.
Mata Uran tertuju pada Sarah yang sedang mengunyah sesuatu yang mirip Paha Ayam. Namun, itu dibalut oleh sesuatu yang terdengar meletup saat dikunyah dan memiliki aroma yang begitu menggoda.
Uran menelan air liurnya dan mengutuk Alex karena menggunakan Putri imutnya sebagai bintang iklan mempromosikan Ayam goreng yang memiliki nama aneh dan panjang tersebut.
“Kenapa Bos Alex lama sekali? Apakah ia sengaja mengulur waktu mengerjai diriku,” gumam Uran karena tadi tidak percaya dengan ucapan Alex yang menyombongkan diri kalau makanan buatannya adalah yang terenak di Benua Grandland.
Alex tersenyum melihat Uran yang mulai gelisah. Dia kemudian membawa nampan dan meletakkan Piring berisi Nasi di atas meja, disusul Piring kecil berisi Rendang, Ayam Crispy, Sambal Pedas dan Saus Pedas.
Mata Uran langsung bersinar dan kebingungan, apakah lebih dulu memakan Rendang atau Ayam goreng.
Dia menatap Alex. “Mana yang lebih nikmat, makan pakai tangan atau sendok?” tanyanya penasaran karena diatas meja juga ada Sendok, Garpu dan Pisau.
Alex tersenyum tipis dan menjawab, “Aku rasa itu sama saja. Namun, para bangsawan dan orang-orang Kaya lebih suka terlihat perfeksionis saat makan, sementara sebagian orang lebih suka pakai tangan karena merasa puas saat memasukkan makanan dalam jumlah besar ke dalam mulut dan itu adalah ledakan kenikmatan yang tak terlukiskan.”
“Jawabanmu membuatku semakin dilema saja,” sahut Uran menggelengkan kepala. “Singkirkan sendok itu, aku akan makan pakai tangan saja agar dapat memasukkan banyak nasi ke dalam mulut,” katanya lagi.
Alex mengangguk pelan dan mengambil Sendok, Garpu dan Pisau diatas meja, kemudian membawanya ke dapur.
“Ha-ha-ha... Paman Dwarf menangis seperti Kak Hannah saat memakan daging Rendang.” Sarah tertawa melihat Uran yang menitikkan air mata setelah mengunyah daging Rendang.
Alex tidak menyangka Dwarf juga akan menangis seperti Pak tua Mag dan teman-teman Sarah. “Hmm, apakah itu karena daging monster yang berkualitas tinggi atau bumbu rendangnya yang menciptakan halusinasi?” gumamnya.
Uran tidak mendengar suara tawa Sarah, Dia tenggelam dalam kenikmatan daging Rendang itu dan tanpa sadar sudah menghabiskan satu piring nasi.
“Bos Alex! Tambah nasi!” seru Uran belum merasa kenyang, apalagi masih ada Ayam Crispy di depannya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 217 Episodes
Comments
Loly 💃
sunah Rasul makan pakai tangan omm 🤭🤭🤭🤭🤭
2024-06-13
5
Loly 💃
ada merek orang tua nya gak ya' 🤭🤭🤭🤭🤭🤭
2024-06-13
1
Loly 💃
promosi masakan daerah Indonesia 🤣🤣🤣🤣🤣🤣
2024-06-13
1