Hidung Sarah mengendus aroma makanan sehingga tubuhnya bergerak sendiri padahal matanya masih tertutup rapat. Kakinya mulai melangkah dari tempat tidur dan keluar dari kamar, air liurnya telah menetes dan menggumamkan kata Rendang.
Hannah kebetulan hendak menuju kamar mandi dan terkejut melihat Sarah yang masih mengantuk hendak melangkah menuruni tangga ke lantai bawah Restoran.
Hannah segera meraih tangan Sarah. “Hati-hati, nanti kamu jatuh. Sarah pasti mau ke dapur, kan?” selidiknya, “ayo mandi bareng barulah kita mengintip apa yang dimasak oleh Bos Alex.”
Sarah mengusap wajahnya, kemudian ia menatap lantai bawah. Dia ragu-ragu memilih pergi mandi atau menonton Ayahnya yang sedang memasak. Setelah berpikir sejenak, “Baiklah... Ayo kita mandi bersama Kak Hannah.”
Di dapur, Alex sedang sibuk mengaduk Rendang di Kuali besar. Walaupun Dia tidak yakin apakah nanti ada pelanggan yang datang ke Restorannya, akan tetapi Rendang adalah makanan yang dapat bertahan lama. Dia cukup menaruhnya pada pemanas atau microwave buatan Dwarf maka Rendang itu akan awet sebulan lebih.
Alex mendengar suara Sarah yang sedang tertawa cekikikan dan Dia pun menatap Jam dinding, ternyata sudah Pukul Delapan pagi. “Pantas saja suara si imut itu terdengar,” gumamnya tertawa.
Alex mematikan Api Kompor bertenaga Inti Monster tersebut. Dia mengangkat Kuali besar dengan tangan kosong dan membawanya ke ruangan di sebelah dapur yang merupakan gudang persediaan bahan-bahan makanan.
Tangan Alex tidak kepanasan karena ia memiliki Elemen Api dan Elemen Es. Namun, yang paling musuh takuti darinya adalah Alex mampu menggabungkan Dua Elemen itu yang memunculkan Elemen Petir.
Tak seperti Dunia Sihir lain, di Benua Grandland memiliki Dua Elemen Sihir itu sangat langka sekali apalagi memiliki Tiga Elemen, mungkin jumlahnya hanya hitungan jari saja yang tercatat dalam sejarah.
Untuk menjadi Pendekar sebenarnya tidak mengharuskan mereka memiliki Elemen Sihir, karena Elemen itu hanya berfungsi meningkatkan daya tempur saja dan membutuhkan Alat untuk menyalurkan Elemen Sihir itu.
Dalam cerita-cerita Dongeng fantasi, Penyihir dapat membuat Lautan terbelah dengan Elemen Sihir atau menarik Meteor dari langit serta membelah gunung hanya dengan menjentikkan jarinya. Namun, di Benua Grandland, Pendekar tidak dapat melakukan itu; keistimewaan mereka hanya memiliki tubuh yang kuat dan dipadukan dengan seni beladiri—makanya mereka berbeda dengan mereka yang bukan Pendekar.
Para Pendekar yang memiliki Elemen Sihir akan mengalirkan Elemen Sihir itu ke tubuh atau ke Senjata yang mereka gunakan.
Misalnya Pendekar Elemen Api dapat membuat seluruh tubuhnya terbakar sehingga bila lawannya menyentuhnya—maka lawannya itu akan ikut terbakar atau merasakan hawa panas yang membuat lawan tidak berani mendekat. Pendekar Elemen Api itu juga dapat mengalirkan Api ke Pedangnya sehingga Pedang itu dipenuhi kobaran Api. Hasil akhir tetap bertumpu pada tingkat dari Kekuatan tubuh dan keberuntungan, itulah sebabnya Pendekar dikategorikan dalam Sepuluh Tingkatan.
Tingkatan Pendekar dimulai dari Pendekar tingkat 1 hingga Pendekar tingkat 10. Namun, tidak menutup kemungkinan akan ada tingkatan lainnya bila Pendekar tingkat 10 tersebut dapat meningkatkan Kekuatannya lagi, akan tetapi belum ada yang dapat melampaui Pendekar tingkat 10 hingga saat ini.
Membedakan tingkatan Pendekar dapat dilihat dari pancaran Aura Kekuatan yang keluar dari tubuh mereka. Pendekar tingkat 10 dapat membuat orang lain merasa tertekan walaupun Pendekar itu tidak memiliki Elemen Sihir.
Pendekar tanpa Elemen Sihir ini mirip Fang Yuan dalam novel Bang Regar saat Roh Bela dirinya belum muncul; Fang Yuan tetap dapat melawan Kultivator hanya mengandalkan kekuatan fisik saja.
“Di mana Ayah?”
Sarah yang telah selesai mandi dan mengenakan baju baru terkejut tidak melihat Alex di dapur.
“Aku di sini!” Suara Alex muncul dari pintu yang terbuka di ujung ruang dapur. “Ayah sedang menyimpan stok Rendang ke dalam pemanas,” katanya lagi.
Sarah dan Hannah masuk ke ruangan itu, mata mereka terbelalak melihat banyak sekali persediaan bahan-bahan makanan di sana.
“Kasihan Ayam ini kedinginan... sampai bulunya pun menghilang,” kata Sarah menghela napas panjang menatap tumpukan Ayam Broiler di dalam mesin Pendingin atau Freezer besar buatan Dwarf.
Alex hanya tertawa mendengar ucapan Sarah dan tidak menyelanya. Dia sedang sibuk menuangkan Rendang ke dalam wadah khusus sebelum di masukkan ke dalam mesin Pemanas.
“Biar kubantu, Bos!” Hannah segera mendekati Alex dan membantunya menuangkan Rendang ke dalam wadah khusus.
“Ayah... apa ini?” tanya Sarah yang sedang memegang Satu ikat Sayuran.
“Daun Ubi!” sahut Alex.
“Ini!” katanya lagi.
“Terong!” sahut Alex.
Sarah terus menanyakan nama-nama persediaan bahan makanan yang ada di sana, bahkan Cabai rawit pun tak luput dari perhatiannya.
Alex menyisakan Sepuluh Potong daging Rendang dalam wadah kecil yang akan ia taruh pada mesin Pemanas kecil yang ada di dapur. Dia juga membawa Satu Ikat Daun Ubi, Satu Ayam Broiler dan bumbunya.
Dia menaruh Daun Ubi ke dalam Kulkas bersama sebagian daging ayam broiler. Dia hanya memasak setengahnya saja karena firasatnya tidak akan ada pelanggan yang datang ke Restoran, lebih baik menghemat bahan dari pada terbuang sia-sia.
Sarah tidak betah di dapur, Dia segera mengambil Sapu lidi dan mengatakan aka menyapu halaman karena ada beberapa daun kering bertebaran di sana.
Alex menganggukkan kepala tanda setuju. Asalkan Sarah senang maka Alex akan membiarkannya melakukan sesuatu sesuka hatinya kecuali Dia melakukan hal yang salah atau berbahaya.
“Apakah Bos Alex ingin membuat Ayam goreng seperti Restoran Saradan?” tanya Hannah penasaran saat karena Alex sedang memotong-motong daging Ayam menjadi beberapa potongan.
Restoran Saradan yang dikatakan oleh Hannah itu memiliki menu Ayam goreng pedas yang cukup terkenal. Namun, Ayam goreng itu hanya digoreng biasa saja kemudian dilumuri cabai merah.
Walaupun tidak pernah memakan Ayam goreng Restoran Saradan, Alex yakin yang membuat menu ayam goreng itu terkenal karena kualitas daging ayam saja. Kabarnya Ayam itu adalah Monster tingkat 3 yang ditangkap oleh Pemburu dari Hutan Monster.
Alex menggelengkan kepala dan berkata, “Aku akan membuat Ayam Crispy dengan Sambal Pedas dan Saus pedas bagi mereka yang tidak suka sambal yang terlalu pedas.”
Hannah tidak pernah mendengar nama makanan yang disebutkan oleh Alex. “Terdengar keren sekali, aku yakin pasti enak!” sahut Hannah memperhatikan Alex yang sedang membenamkan daging Ayam ke dalam tepung.
Hannah melompat karena terkejut melihat minyak goreng menggelembung serta mengeluarkan bunyi ketika daging Ayam dijatuhkan ke dalamnya. Karena tinggal di wilayah timur yang kumuh, Hannah tidak pernah menggoreng menggunakan minyak kelapa yang harganya mahal tersebut.
“Aromanya enak sekali!” Sarah tiba-tiba muncul di dapur lagi, tangannya yang kecil itu masih menggenggam sapu lidi.
Alex tertawa karena tidak menyangka indra penciuman putrinya sangat tajam bila berurusan dengan makanan. “Ayah memasak Ayam goreng untukmu,” sahutnya.
Sarah menarik bangku dan berdiri di atasnya agar ia bisa melihat sumber dari aroma yang enak tersebut. Mata birunya berbinar-binar, dia menelan air liur karena sudah tidak sabar ingin mencicipinya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 217 Episodes
Comments
☯️꧁༒⫷Loͥngͣ ͫTian ⫸༒꧂☯️
ayam McD hot spicy sama crispy 😆😆😆
2025-02-27
0
Aila Choerunisa
ngawadul mulu Thor
2024-10-18
2
Loly 💃
sumpah masih bingung jalan ceritanya
tapi seru juga sih 🤭🤭🤭🤭
2024-06-13
1