Menjelang Restoran tutup istirahat Siang, Irina dan Jessica meninggalkan Restoran. Irina menolak Dua Kotak makanan berisi Rendang yang diberikan oleh Alex. Namun, Alex memberikannya pada Jessica sehingga Irina tidak dapat menolaknya lagi.
Sarah sangat sedih Jessica harus pulang lebih awal padahal ia masih ingin bermain.
“Bagaimana kalau besok kamu bermain ke rumah Jessica,” kata Alex menghibur Sarah yang diam saja duduk di Kursi Kasir. Kebetulan besok adalah akhir pekan dan itu juga jadwal libur Restoran. “Ayah akan menjemputmu sorenya,” katanya lagi.
Sarah tersenyum cerah karena bisa bermain dengan Jessica seharian. “Bolehkah aku membeli banyak Ayam Crispy? Aku ingin membagikannya pada teman-temanku yang lain,” sahutnya.
Alex mengangguk setuju, lagi pula Sarah memiliki 99 Koin Emas tip dari Dewan Kota Reus sehingga tak masalah menghabiskan stok daging Ayam Broiler di mesin pendingin.
Alex juga berencana pergi berburu ke Hutan Monster karena ia ingin membuat Menu baru. Harga daging Monster di pasaran cukup mahal, untuk mengurangi biaya produksi maka ia akan menangkap langsung Monster tingkat tinggi agar kualitas rasa makanan buatannya tetap tinggi dan sesuai dengan motto Restoran yang menjual makanan mewah.
“Kenapa Paman Dwarf dan Kakak Elf cantik tidak datang lagi, ya?” gerutu Sarah karena tidak ada pelanggan yang datang ke Restoran kecuali Irina dan Jessica.
“Mereka pasti sibuk bekerja sehingga tidak sempat makan ke sini,” sahut Alex sembari menenggak teh panas dan memulai kegiatan rutinnya bila tak ada kerjaan, yaitu melamun.
Pukul 12.01, Sarah membuka pintu Restoran dan matanya berbinar-binar. “Ada pelanggan cantik,” teriaknya sehingga membuyarkan lamunan Alex.
Alex mengenali lambang yang tertera di gerbong kereta Kuda yang ditumpangi wanita cantik itu. Dia mengerutkan keningnya, karena lambang itu sama dengan lambang kereta kuda Jack yang mengejeknya saat di toko furnitur Dewan Kota Milles.
Ferdinand, Pelayan Kepala Kelurga Reus telah mengingatkan dia bahwa mungkin Jack lah yang mengirim Tiga Preman yang berulah di Restorannya kemarin, karena Jack juga ingin membeli Restorannya akan tetapi Ferdinand selangkah lebih cepat darinya. Yang paling mengejutkan adalah Ketiga Preman itu tiba-tiba menghilang seperti sengaja dilenyapkan.
Margareth tersenyum manis menatap Sarah, kemudian tatapannya tertuju pada Alex yang hanya tersenyum tipis saja padanya dan Pria tampan itu langsung berjalan ke dapur.
“Selamat datang di Restoran Sarah!” Hannah menyambut kedatangan Margareth yang didampingi oleh Evelyn, Pendekar tingkat 8.
Margareth sedikit menganggukkan kepala dan duduk di Kursi dekat dengan dapur. Matanya memperhatikan seluruh ruangan Restoran dan berhenti pada Alex yang sedang memotong daging ayam menjadi beberapa potongan.
Margareth kemudian membuka daftar menu, sudut bibirnya memancarkan senyuman tipis saat melihat harga yang tertera ternyata lebih mahal dari Restoran mewah di Kota Perdamaian.
“Aku memesan Rendang!” kata Margareth. Dia tidak tertarik memesan Ayam Crispy karena mengira rasanya sama dengan Ayam Goreng Restoran Saradan.
“Gulai Daun Ubi Tumbuk plus Sambal Tuk-Tuk!” sahut Evelyn sembari menutup daftar menu itu tanpa memperhatikan nominal harganya.
“Baik, tunggu sebentar, ya ....” Hannah bergegas ke dapur.
Evelyn tercengang saat merasakan Aura Pendekar tingkat 4 terpancar dari gadis kecil yang sedang duduk di tempat Kasir. Gadis kecil setengah Elf itu memiliki senyum menggemaskan dan membuatnya ingin mencium pipinya padahal biasanya keturunan darah campuran selalu didiskriminasi atau dikucilkan.
“Kakak cantik... sediakan sapu tangan sebelum memakan Rendang, karena semua orang yang memakannya akan menangis kecuali Ayahku,” kata Sarah. Dia kemudian turun dari Kursi dan mendekati Evelyn sembari berbisik, “Bibi bertudung hitam tak perlu khawatir, Gulai Daun Ubi Tumbuk akan membuat pipimu memerah dan berfantasi menyenangkan.”
Margareth dan Evelyn saling berpandangan, sesaat kemudian Kedua tersenyum lebar. Mereka merasa bualan gadis kecil setengah Elf itu lucu sekali. Apakah Dia yang menjadi daya tarik Restoran ini.
Hannah keluar dari dapur membawa nampan berisi Dua Piring Nasi serta Dua gelas air Putih dan Dua gelas es teh manis.
Alex tidak ikut membantu karena ia kini mengenakan seragam Koki Putih dengan celemek hitam, lingkup kerjanya hanya area dapur saja.
Setelah Hannah selesai menghidangkan semua pesanan di atas meja kaca. Margareth mengambil garpu dan pisau, kemudian dia memotong bagian tepi Daging Rendang dan memasukkannya ke mulutnya dengan garpu.
“Hmm?” Kenangan indah bersama kelurganya tiba-tiba muncul di benaknya. Air mata mulai menetes membasahi pipinya.
Sarah menggelengkan kepala dan menghela napas panjang. “Aku sudah memperingatkan kalian, tetapi kalian tidak percaya,” gumamnya segera duduk kembali di tempat Kasir dan melirik laci yang masih kosong.
Margareth akhirnya sadar kalau air mata sudah mengalir membasahi pipinya setelah Rendang dan Nasi di piringnya habis.
“Kenapa Nona muda menangis?” Evelyn terkejut. Dia juga baru menyadarinya setelah menghabiskan Gulai Daun Ubi Tumbuk plus Sambal Tuk-Tuknya.
“Bibi Evelyn juga sepertinya sedang tersipu, apa yang bibi fantasikan?” sahut Margareth sembari menyeka air matanya dan keduanya pun tertawa karena yang dikatakan oleh gadis kecil setengah Elf itu ternyata benar.
Margareth menarik napas dalam-dalam untuk memenangkan hatinya. Dia melirik ke dapur, Alex sedang mencuci wajan di wastafel.
“Bisakah Aku berbicara dengan pemilik Restoran Sarah ini?” tanya Margareth pada Hannah yang sedang memindahkan piring kotor ke dalam wajan.
“Aku tanyakan dulu ya, nona ....” Hannah segera memberitahu Alex kalau pelanggan wanita itu ingin berbicara dengannya.
Alex melepaskan celemek hitam yang ia kenakan dan menghampiri Margareth.
“Maaf mengganggumu tuan Alex,” sapa Margareth lebih dulu sembari tersenyum hangat.
Alex tidak merasakan jejak permusuhan dari sikap wanita cantik yang terlihat berusia Dua Puluhan tahun tersebut.
Walaupun Alex membenci Jack, ia juga kagum Kelurga Reus tidak menikahkan Margareth padahal wanita seusianya sudah menikah, baik secara sukarela atau dijodohkan.
“Tidak apa-apa, Aku juga tidak sibuk,” sahut Alex duduk di kursi seberang meja mereka. “Apa yang ingin nona muda tanyakan?”
Margareth tersenyum Alex langsung berbicara tanpa berbasa-basi lebih dulu. “Perkenalkan Aku... Margareth, cucu dari Dewan Kota Donovan yang juga kandidat keempat pewaris Keluarga Donovan.”
Alex tak menyangka Kelurga Donovan akan membolehkan wanita menjadi salah satu calon Pemimpin Keluarga mereka, padahal Benua Grandland memiliki sistem Patriarki yang sangat kental dan menganggap wanita sebagai pelengkap Pria serta mengurus anak di rumah.
Sangat jarang Pendekar wanita berasal dari kalangan Bangsawan maupun Pengusaha, hanya mereka memiliki jiwa Petualang saja yang berani menjadi Pendekar dan menentang keputusan Kelurga untuk menjodohkan mereka.
Margareth menceritakan tentang pertarungannya melawan Tiga Pamannya untuk menjadi Pemimpin Kelurga Donovan. Dia juga menceritakan tentang setiap kandidat diberikan beberapa aset bisnis Kelurga Donovan dan harus memajukan bisnis tersebut, pemenangnya dinilai dari aset bisnis siapa yang paling besar Lima Tahun kemudian. Kompetisi itu juga sudah berlangsung selama Dua tahun dan hanya Tiga tahun lagi waktu yang tersisa, sementara bisnis transportasi yang ia kelola belum juga mendulang keuntungan.
“Jadi, apa tujuan nona muda Margareth menjumpaiku?” selidik Alex penasaran, karena tidak mungkin wanita dari kalangan atas hanya berkeluh kesah saja padanya yang hanya Pria biasa yang baru merintis usaha tersebut.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 217 Episodes
Comments
Loly 💃
kegiatan rutin, melamun 🤭🤭🤭🤭🤭
2024-06-13
5
🍁mahes❣️💋🄻🄴🄱🄰🅁🄰🄽👻ᴸᴷ
hemat ongkos produksi 😁😁
2024-05-22
1
Reiva
harusnya kan keluarga donovan
2024-04-15
1