Dewan Kota Milles bertemu dengan Jack saat ia hendak meninggalkan Pabrik. Dia terkejut melihat Putra Ketiga Dewan Kota Donovan itu menundukkan wajah di hadapannya.
“Apa yang membuatmu kemari, Jack?” tanya Milles tidak jadi naik ke Kereta Kuda.
Jack tersenyum lebar dan berkata, “Tuan Milles... Aku ingin membeli Restoranmu dengan harga Dua kaki lipat lebih tinggi dari yang ditawarkan oleh Dewan Kota Reus.” Dia langsung ke inti pembicaraan.
Milles mengerutkan keningnya. “Sayang sekali, Jack... kau terlambat selangkah. Ferdinand telah memiliki Sertifikat Kepemilikannya, jadi maaf... Aku tidak bisa membantumu lagi.”
Ekspresi wajah Jack langsung berubah masam dan tidak menyangka Kelurga Reus akan melakukan transaksi pembelian Restoran itu dengan cepat, padahal beberapa hari yang lalu ia sudah menyebarkan rumor tertarik membeli Restoran itu agar tidak ada yang menawarnya sehingga Milles menurunkan harga jualnya. Namun, siapa sangka, Keluarga Reus dengan terang-terangan menunjukkan permusuhan padanya.
“Apakah masih ada yang ingin kau tanyakan? Kalau tidak aku akan pergi dulu, Jack. Jangan kecewa, bisnis restoran itu keuntungannya sangat kecil, lebih baik kau mencoba bisnis lain.” Milles menghiburnya. Dia sudah tahu kabar tentang anak-anak Donovan bersaing memperebut warisannya.
Dia tidak menyangka Donovan akan membuat anak-anaknya saling bersaing bahkan sampai melibatkan pihak ketiga dan membuat anak keempatnya terluka karena diserang oleh orang asing, sehingga anak keempatnya itu memutuskan Putrinya yang menjadi penggantinya dalam kompetisi memperebutkan kedudukan Kepala Keluarga Donovan tersebut.
“Aku tidak memiliki pertanyaan lagi tuan Milles,” sahut Jack memaksakan diri untuk tersenyum. “Sampai jumpa lagi, aku juga akan pulang ke rumah!”
Setelah Kereta Kuda milik Dewan Kota Milles pergi, Jack juga naik ke dalam kereta kudanya. Dia berkata dingin, “Selidiki siapa pemilik restoran baru itu dan apa hubungannya dengan Dewan Kota Reus!”
Kusir Kereta Kuda yang juga Pengawal pribadinya itu segera menganggukkan kepala. “Baik tuan muda!”
“Kepalaku sangat sakit saat ini, carikan Aku Succubus cantik dan muda!” seru Jack pada Pengawal yang menunggang Kuda. “Langsung kirim ke rumah pribadiku!” katanya lagi merujuk pada rumah mewah miliknya yang tidak berada di Kastil Kelurga Donovan.
“Baik tuan muda!” Pendekar tingkat 5 itu segera memacu kudanya menuju rumah bordil terbesar di Kota Perdamaian tersebut.
...***...
Alex sangat senang saat kembali ke Restoran, Meja dan Kursi telah disusun rapi oleh para Dwarf.
“Apakah tuan Alex tidak membuat taman di halaman restoran atau menambah beberapa meja khusus untuk pelanggan Iblis,” kata Uran—Dwarf yang sedang menyusun meja didekat Alex.
“Hei, jangan berbicara sembarangan!” sela Duduke, Dwarf lainnya. Restoran-Restoran Manusia selalu mendiskriminasi pelanggan dari Ras lain kecuali kalangan Dwarf—karena mereka memiliki Dewan Kota Milles sehingga para Manusia itu tidak berani mengusir pelanggan Dwarf. Namun, untuk Ras lain maka mereka tidak akan segan-segan mengusirnya.
Sementara untuk kalangan Vampir dan Duyung sangat jarang berbaur dengan Ras lain serta jumlah mereka sangat sedikit walaupun Kedua Ras itu memiliki Dewan Kota dari kalangan mereka, makanya pengaruh Dewan Kota dari kalangan Manusia sangat kuat sekali.
“Tapi Putrinya itu Setengah Elf... berarti Dia memiliki istri Elf dan bukan golongan yang diskriminatif,” sahut Uran berbisik pada Duduke.
“Tapi tetap saja—”
Sebelum selesai Duduke berbicara, tiba-tiba Alex menyela, “Restoran ini akan terbuka untuk semua pelanggan tanpa memandang dari Ras manapun dan untuk meja di luar Restoran itu memang saran yang bagus karena Pendekar Iblis kadang-kadang tidak dapat mengontrol elemen Api mereka sehingga tubuh mereka tiba-tiba dipenuhi kobaran Api.”
“Bagaimana kalau membuat Meja dan Kursi yang terbuat dari Kayu Besi terbaik. Kami baru saja mengimpor Kayu Besi dari Kerajaan Iblis dan Kayu itu dapat menahan kekuatan Pendekar tingkat 7,” kata Uran dengan semangat. Dia sangat senang akhirnya bertemu dengan pemilik Restoran yang ramah dengan Ras asing.
Walaupun Dwarf diperbolehkan memasuki Restoran milik Manusia, tatapan mata semua orang tetap memandang rendah mereka. Uran yakin itu karena Manusia merasa lebih superior dari Ras lain, apalagi setelah perjanjian damai 100 tahun berlalu; jumlah Pendekar tingkat 10 dari kalangan Manusia telah mencapai 3.200. Jumlah itu yang Kekaisaran Hazel rilis saja, tetapi kabarnya masih banyak Pendekar tingkat 10 yang belum terdata.
Kekuatan Kekaisaran Hazel kini sudah setara dengan Kerajaan Naga. Banyak pihak yang memprediksi Perang antar Ras mungkin akan kembali terjadi di Benua Grandland karena Kekaisaran Hazel selalu menambah jumlah Pasukan di perbatasan dengan Kerajaan lain.
“Aku akan memesan Tiga Meja dan Dua Belas Kursi dari Kayu Besi itu untuk diletakkan di teras restoran sehingga pelanggan dari kalangan Iblis tetap dapat merasakan kelezatan makanan buatanku,” sahut Alex dengan percaya diri.
Para Dwarf sangat senang mendengar Alex akan membeli furnitur dari toko mereka. Namun, mereka sedikit terkejut mendengar Alex memuji makanan buatannya sendiri padahal belum dirilis. Para Koki di Restoran Saradam saja tidak akan membanggakan diri sendiri saat ada pelanggan yang memuji makanan buatan mereka adalah yang paling enak di Dunia.
“Wah, bagus sekali!” Sarah langsung naik ke atas meja Kaca dan berguling-guling diatasnya. “Aku tidur di sini saja!” Dia sangat senang sekali.
“Ah, aku melupakan tempat tidur untuk Sarah!” Alex menampar keningnya sendiri. “Oh, ya... tolong bawakan Dua Kasur terbaik dan Dua Lemari serta satu Meja kerja yang dilengkapi dengan Kursi empuk berbahan busa.”
Para Dwarf tertawa. “Kejadian seperti ini sering terjadi tuan Alex, makanya kami memberikan saran menambah meja diluar dari pada pas restoran di buka... ternyata masih banyak perlengkapan yang kurang,” kata Uran segera mencatat permintaan Alex.
Uran dengan cepat menyelesaikan permintaan Alex. Malamnya, Alex, Sarah dan Hannah makan nasi goreng petai.
Dua gadis itu langsung memuji Alex setinggi langit, Hannah yang biasanya bersikap seperti wanita Dewasa yang anggun itu malah seperti anak kecil setelah bergaul dengan Sarah dalam waktu setengah hari saja.
“Tuan Alex, apa nama makanan enak ini?” Hannah penasaran. “Apakah besok ini akan dijual?” selidiknya lagi.
“Ini adalah Nasi Goreng dan tidak akan masuk dalam daftar menu. Kita akan merilis Menu baru sekali Seminggu dan perlahan-lahan akan rilis sekali sebulan ketika pelanggan sudah mulai ramai,” sahut Alex dengan santai menyendok nasi ke dalam mulutnya.
Sarah menyadari ada sesuatu yang salah. Dia berpikir keras dan akhirnya menyadari kalau dirinya dan Hannah makan menggunakan tangan, sementara Ayahnya menggunakan sendok yang berkilau. “Ayahhhhh! Kenapa Ayah tidak mengatakan kalau memakan Nasi Goreng ini harus menggunakan Sendok berkilau itu!” gerutunya.
“Ehhhhhhhhhhhhhh!” Hannah terkejut dan merasa malu.
“Tenang saja, makan pakai sendok atau tangan rasanya sama saja.” Alex tersenyum lebar, padahal ia sudah menaruh Sendok dan Garpu di meja. Namun, kedua gadis ini terlalu tergesa-gesa menyantap Nasi Goreng sebelum menunggunya menggunakan sendok saat makan.
Sarah berdiri diatas Kursi, kemudian ia membelai kepala Hannah. “Sabar... sabar... Kak Hannah, anggap saja ini pelajaran berharga dan jangan mengulangi kesalahan yang sama besok.” Dia berkata dengan sungguh-sungguh, tetapi Hannah langsung tertawa terkekeh-kekeh karena merasa tindakan Sarah sangat lucu. Alex bahkan menyemburkan Nasi dari hidungnya, dia tidak menyangka Putrinya kini semakin pintar saja; apakah itu karena dia memakan makanan enak.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 217 Episodes
Comments
☯️꧁༒⫷Loͥngͣ ͫTian ⫸༒꧂☯️
pete dari mana pula ini 😆😆🤣🤣🤣
2025-02-27
0
🍁mahes❣️💋🄻🄴🄱🄰🅁🄰🄽👻ᴸᴷ
makanan enak bikin pintar 😁
2024-05-22
4
🍁mahes❣️💋🄻🄴🄱🄰🅁🄰🄽👻ᴸᴷ
harus percaya diri, minimal percayakan saja pada author 😅😅
2024-05-22
2