Tanpa berpikir panjang, Alex langsung mengangguk setuju karena ia sudah berniat untuk merekrut Hannah sebagai karyawan pertamanya.
Hannah sangat senang mendengarnya dan membayangkan hari-hari memakan Rendang serta Ikan Bakar yang belum ia rasakan itu. Namun, Sarah mengatakan itu sangat nikmat, bahkan saat menceritakannya air liur Sarah sampai menetes sehingga Hannah juga sangat ingin memakannya.
Irina menghela napas dalam-dalam, Dia iri Hannah bisa memasak—sementara dirinya tidak bisa melakukannya karena sejak kecil ia selalu makan Roti kering dan ibunya hanya fokus melatihnya menjahit Pakaian. Namun, kemampuan menjahitnya itu hanya berguna untuk menjahit pakaian Jessica dan Sarah saja karena setiap ia melamar kerja—dirinya selalu gagal bersaing dengan pelamar lainnya.
“Ayah! Kapan kita akan makan? Teman-temanku sudah tidak sabar lagi ingin mengunyah Rendang yang sangat nikmat ini!” seru Sarah menghentikan perbincangan Alex dengan Jane.
“Baiklah, tidak perlu berbasa-basi lagi, Ayo makan!” sahut Alex tersenyum lebar.
Dia tahu sebenarnya Sarah yang sudah tidak sabar ingin segera makan karena air liurnya sudah menetes dan matanya yang biru itu tidak berkedip serta hanya tertuju pada Rendang Daging Rusa.
Alex melirik Irina yang tiba-tiba mende$ah saat mengunyah Rendang, matanya terpejam dan air mata membasahi pipinya. Ini adalah pertama kalinya ia memakan makanan yang begitu nikmat dan sulit baginya mendeskripsikan kenikmatan itu. Tatapannya kemudian tertuju pada Alex yang dengan santai mengunyah rendang dengan nasi, perasaannya campur aduk dan dia ingin mengatakan sesuatu—tetapi akhirnya ia memutuskan memendamnya saja.
Alex melamun serta berpikir bagaimana cara membantu keluarga Pak tua Mag dan Keluarga Irina. Membawa mereka ke wilayah barat itu tidak mungkin, orang-orang Kaya di sana pasti akan menentangnya. Pada akhirnya Kedua Keluarga yang sangat baik padanya dan putrinya itu harus tetap tinggal di wilayah timur ini, Alex berencana akan menyumbangkan mereka Koin Emas untuk digunakan membuka usaha.
Suara tangisan anak-anak dan Pak tua Mag segera membuyarkan lamunan Alex. “Kenapa kalian menangis? Kalau mau tambah Nasi, di periuk masih banyak.” Dia tidak menyangka Rendang buatannya ini membuat semua orang menangis.
“Pasti karena terlalu nikmat, Ayah!” sahut Sarah yang juga menitikkan air mata. Namun, tangan imutnya terus memasukkan nasi ke dalam peluk hingga pipinya menjadi kembung.
Alex tidak tahu apakah harus ikutan menangis atau tertawa. Dia kemudian mengatakan bagi siapa yang belum merasa kenyang untuk mengangkat tangan agar dia segera menambah Nasi mereka dan seluruh anak-anak mengangkat tangan.
Setelah anak-anak itu kenyang, mereka kesulitan untuk berjalan karena perut mereka telah membuncit akibat makan terlalu banyak.
Alex tertawa melihatnya dan menyuruh mereka pulang. Dia membungkus nasi berisi rendang untuk diberikan kepada orangtua masing-masing.
Hannah segera pulang untuk mengemasi pakaiannya setelah Ferdinand, Kepala Pelayan Keluarga Reus datang menyerahkan Kunci Restoran dan sertifikat kepemilikan Restoran tersebut.
Dua anak Pak tua Mag juga ingin ikut dengan Hannah tinggal di Restoran milik Alex. Namun, Jane langsung memarahi mereka karena Restoran itu bukanlah Panti Asuhan, kalau mereka ingin tinggal di sana maka mereka harus belajar memasak dulu barulah melamar kerja ke sana.
Jessica menatap ibunya. Dia bingung kenapa ibunya tidak mengatakan pada Paman Alex untuk membiarkan mereka tinggal di Restoran itu juga agar mereka dapat makan makanan enak setiap hari.
Irina membelai rambut Jessica, ia tahu apa yang dipikirkan putrinya itu. “Kita tidak boleh menyusahkan Paman Alex, ibu akan bekerja keras dan sesekali kita akan membeli Rendang buatan Paman Alex,” bisiknya.
Alex mengeluarkan 10 Keping Emas atau itu setara dengan Sepuluh Kali Upah Minimum Kota Perdamaian pada Pak tua Mag.
“Ada apa ini?” Pak tua Mag langsung menolak pemberian Alex. “Gunakan saja untuk biaya operasional Restoranmu, karena memulai usaha itu tidak mudah,” katanya lagi.
Orang-orang Kaya di wilayah barat pasti hanya mau makan di Restoran ternama. Mereka tidak akan tertarik pada Restoran Alex yang berasal dari wilayah timur, mereka pasti menuding masakan Alex tidak enak dan membuat mereka sakit perut bila memakannya.
Alex tersenyum dan berkata, “Uang ini tidak gratis. Paman Mag harus beternak Ayam Broiler dan setiap minggu ke Lima aku akan datang membelinya.”
Pak tua Mag tertegun sejenak untuk mencerna ucapan Alex. Sesaat kemudian mulutnya menganga lebar, “Kau ingin Aku menjadi penyuplai Ayam untuk Restoranmu?”
Alex mengangguk dan tersenyum lebar. Menjadikan Pak tua Mag penyuplai Ayam adalah pilihan terbaik karena Dia sebenarnya memelihara beberapa ekor Ayam Broiler betina dan Belasan Ayam Broiler Jantan. Namun, Ayam-Ayam itu dilepas liar saja dan akan kembali ke kandang menjelang malam.
Pak tua Mag menarik napas dalam-dalam. “Baiklah, aku akan menyuplai Ayam Broiler untukmu. Mulai sekarang Aku akan menjadi Peternak Ayam ha-ha-ha... dan berhenti menjadi tukang Sapu jalanan.”
Alex kembali mengeluarkan Kantong berisi 20 Koin Emas dan menyerahkannya pada Irina yang juga langsung menolak pemberian itu.
“Ini adalah uang pembayaran Enam Set Pakaian Pelayan Restoran untuk Hannah dan untukku Pakaian berwarna Putih serta celemek berwarna hitam,” kata Alex tersenyum hangat. “Oh, ya... buatkan juga pakaian sehari-hari untuk Sarah dan Jessica. Kurasa itu saja untuk saat ini, di masa depan aku akan selalu belanja pakaian buatanmu.”
Irina tertegun sejenak seperti Pak tua Mag. Alex segera masuk ke dalam gubuknya untuk mengemasi barang-barang yang masih dapat digunakan, kemudian ia membakar gubuk kecil itu.
“Nona Irina... tanahku ini untukmu saja!” Alex menyerahkan sertifikat kepemilikan tanahnya pada Irina. “Semoga sukses dan bila kamu ingin membangun Toko di wilayah barat, jangan ragu untuk mencariku dan aku akan membantumu sebisaku.”
Alex menggendong Sarah, kemudian naik ke kereta kuda bersama Hannah. Irina masih terdiam menatap punggung Alex, air matanya mengalir deras membasahi pipinya. Akhirnya impiannya menjadi penjahit pakaian terwujud.
Jane menepuk pundak Irina. “Jangan terlalu sedih, masih banyak Pria baik disekitar sini. Misalnya Pemburu Dimitrov, dia adalah Pria yang memiliki lengan yang kekar walaupun ada bekas luka diwajahnya. Namun, Dia masih lumayan tampan, kok!”
“Bibi Jane! Apa yang kamu pikirkan? Aku tidak ingin menikah lagi, aku hanya kelilipan, kok!” sahut Irina menyeka air matanya. “Tolong katakan pada Paman Mag untuk merenovasi rumahku. Sebelah sana ruang tengah, di situ dapur dan di sana kamar tidur.”
“Eh, ternyata Alex telah memberikanmu tanahnya,” kata Jane langsung cemberut karena tidak mendapatkan hadiah dari Alex. “Baiklah, Aku akan meminta suamiku merenovasi rumahmu. Namun, hati-hati dalam menyimpan uang itu, kalau kamu ingin membeli mesin Jahit maka bawalah Dimitrov bersamamu. Dia akan melindungimu dari bandit karena Dia itu Pendekar tingkat 3,” katanya lagi. Jane sudah lama tahu kalau impian Irina adalah menjadi Penjahit pakaian.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 217 Episodes
Comments
Angel Ribka
kubayangkan cerita ini campuran indo+Eropa dilihat dr nama-nama pemerannya 🤭
2025-02-12
2
Pierany Prahasiwie
bingung membayangkan sutiasi di dlm cerita ini..
2024-05-30
5
🍁mahes❣️💋🄻🄴🄱🄰🅁🄰🄽👻ᴸᴷ
bandit udh dibantai Alex 😁
2024-05-22
0