Pukul 6.00 pagi Alex sudah bangun, dia menyapu halaman Restoran. Tumpukan sampah yang sebagian besar adalah dedaunan kering ia bakar menggunakan elemen Apinya.
“Bagaimana Ayah bisa mengeluarkan Api dari ujung jari Ayah?” Sarah tiba-tiba sudah di sebelah Alex, mata birunya berbinar-binar karena rasa ingin tahunya yang sangat tinggi.
Alex tersenyum sembari mengacak-acak rambut Sarah yang sudah kusut itu karena ia baru saja bangun tidur. “Ayah tinggal membayangkannya saja... kurasa itu sama seperti saat Sarah menggunakan elemen Petir,” sahutnya.
Alex penasaran apakah Sarah memiliki elemen Api dan Es karena ia memiliki elemen Petir. Namun, ia ragu putrinya itu memiliki Kedua Elemen Sihir itu karena Elemen Petirnya itu adalah Elemen utama, bukan seperti yang ia lakukan dengan menggabungkan Elemen Api dan Es.
“Ahhhhhhh... ternyata sangat mudah!” teriak Sarah tersenyum lebar karena di ujung jarinya muncul Api yang sangat panas. “Tapi kok berwarna putih? Apakah ini bukan Api?” Dia keheranan dan menatap Alex untuk mendapatkan jawaban dari keraguannya itu.
Alex sendiri tercengang melihatnya. Kalau ia tidak memiliki ingatan dari kehidupan sebelumnya maka ia tidak tahu jenis Api apa yang muncul di ujung jari Sarah.
“Itu adalah Api Putih, jenis Api yang paling panas dan terdapat pada Inti Matahari,” sahut Alex masih tidak menyangka Putri setengah Elf-nya ini akan memiliki Elemen Api terkuat. “Setahu Ayah ada berbagai warna Api, yang paling umum berwarna merah, kemudian warna biru sangat panas serta tertulis dalam catatan kuno Benua Grandland dan yang paling panas adalah warna Putih. Jadi, jangan sembarangan menggunakan elemen apimu karena itu sangat sulit untuk dipadamkan.”
Sekarang Alex berpikir bakat putrinya ini hanya untuk yang terpilih saja atau bila dalam novel maka akan menjadi Protagonis Utama Over Power.
Sarah sangat senang setelah mendengar penjelasan Alex. Kini dengan kekuatannya ini maka semua yang ingin berbuat onar di Restoran milik Ayahnya akan ditendang olehnya karena ia sudah menjadi Pendekar berelemen Sihir.
Sarah memiliki daya ingat tinggi. Dia memejamkan matanya berusaha mengingat latihan menggunakan elemen Sihir oleh murid senior Sekolah Harapan.
Dia mengingat ada murid wanita yang mengalirkan Elemen Es ke bilah Pedangnya dan yang lain tubuhnya mereka dikelilingi oleh Tornado.
Sarah kemudian membayangkan Es di ujung Jarinya dan suhu udara disekitar mereka tiba-tiba menurun, dari ujung jari Sarah mengalir Air yang melingkari ujung jarinya dan sesaat kemudian membeku menjadi Es.
Alex mengerutkan keningnya. “Elemen Air dan Es, kenapa Elemen Sihirnya banyak? Jangan-jangan Dia masih bisa menggunakan elemen Sihir lainnya,” gumamnya menjadi khawatir ada yang melihat Sarah menggunakan elemen Sihir.
Pendekar berbakat seperti Sarah akan menjadi rebutan Sekolah-Sekolah seluruh Benua Grandland dan bahkan Kekaisaran Hazel dengan paksa akan membawanya untuk dilatih menjadi mesin pembunuh Kekaisaran.
Setelah menjalani Dua kehidupan, Alex tidak ingin lagi diperalat oleh Oligarki. Namun, akan berbeda bila ia yang ditunjuk menjadi Pemimpin atau Kaisar, maka ia akan berkamuflase sebagai sosok Pahlawan yang mencintai negaranya untuk merebut kepercayaan rakyatnya.
“Sarah... jangan pernah menunjukkan elemen sihirmu pada orang lain kecuali dalam keadaan terdesak. Mulai sekarang cukup tunjukkan Elemen Petir saja,” bisik Alex pada Sarah yang tersenyum karena di ujung jarinya ada bongkahan Es kecil.
Sarah langsung memahami kegelisahan ayahnya dan Dia langsung menganggukkan kepala serta berhenti untuk mencoba jenis Elemen Sihir lainnya.
“Baiklah, ayo kita mandi dan Ayah akan memasakkan Ayam Crispy lagi untukmu,” kata Alex sembari menggendong Sarah.
Seorang yang mengenakan jubah hitam sedang duduk di balkon Rumah di sebelah Restoran Sarah. Sosok itu menatap Sarah dengan tatapan mata berbinar-binar, seolah-olah seperti melihat harta karun saja.
“Sudah 20 tahun aku tinggal di sini dan aku tidak menyangka Pendekar jenius akan terlahir,” gumamnya. Namun, tiba-tiba ekspresi wajahnya menjadi sedih. “Semoga saja ia bertambah kuat dengan cepat karena Segel di Hutan Monster mulai melemah, Aku takut bila Segel itu rusak maka Benua Grandland akan mengalami bencana yang mengerikan.”
...***...
Pukul 8.00, Alex membuka pintu Restoran dan terkejut melihat Irina dan Jessica ternyata sudah berdiri di sana.
“Jessicaaaaaaaaaaaaaa!” Sarah langsung berlari menghampiri Jessica yang terlihat senang bertemu lagi dengan teman baiknya itu.
Kedua gadis kecil itu berpelukan dan Sarah langsung membawa Jessica ke dalam Restoran. Irina tersenyum tipis dan berjalan ke dalam Restoran.
Irina sangat kagum dengan dekorasi Restoran yang terlihat sangat mewah, semua meja terbuat dari Kaca dan Kayu mahal.
“Bagaimana kabar orangtuaku, Bibi Irina?” Hannah menghampiri Irina.
“Mereka baik-baik saja,” sahut Irina tersenyum hangat. “Bibi Jane sekarang membantuku menjahit Pakaian dan Paman Mag sibuk mengurus Peternakan Ayam Broilernya.”
Hannah sangat senang orangtuanya baik-baik saja, bahkan mereka kini sangat sibuk dengan pekerjaan baru mereka sehingga lupa untuk menjenguk dirinya yang sebenarnya baru kerja Dua hari saja.
Alex datang dari dapur membawa teh hangat untuk Irina, sedangkan Sarah dan Jessica sudah di lantai Dua Restoran. Saat di dapur tadi, Alex memberikan keduanya Paha Ayam Crispy sebagai cemilan untuk keduanya.
Irina menyerahkan Kantong plastik berisi Pakaian yang dipesan oleh Alex kemarin. “Terimakasih tuan Alex... Anda sudah membantuku, bukan hanya memberikan modal usaha... Anda juga membuat Keluarga Reus membantuku,” ucapnya dengan tulus.
Alex tersenyum dan berkata, “Nona Irina adalah temanku, tentu aku akan membantumu semampuku. Tak perlu dibahas lagi, silahkan cicipi tehnya.”
“Oh, ya... apakah Bibi Irina sudah makan?” tanya Hannah. Karena mereka datang pagi-pagi, kemungkinan mereka ingin merasakan kembali Rendang buatan Alex. “Kalau belum maka Bibi Irina harus mencoba masakan baru Bos Alex, coba lihat di daftar menu itu!” saran Hannah.
Irina melirik Alex dan segera mengalihkan tatapannya pada daftar menu. Dia tercengang melihat harga yang tertera pada menu itu, terutama Rendang yang harganya mencapai 200 Koin Perak.
Awalnya ia berencana untuk membungkus beberapa Rendang untuk Bibi Jane. Namun, sepertinya ia harus mengurungkan niat itu untuk saat ini karena bisnis penjahit pakaiannya baru merintis sehingga baru mendatangkan keuntungan kecil.
“Jessica... makanlah bersama ibumu!” Alex memanggil Jessica yang bermain bersama Sarah di kamar. Tanpa menunggu apa yang dipesan oleh Irina, Alex langsung memasak Ayam Crispy.
“Bibi Irina memesan Gulai Daun Ubi Tumbuk dan Ayam Crispy untuk Jessica!” kata Hannah menghampiri Alex ke dapur.
Alex menganggukkan kepala, setelah ia selesai memasak hidangan tersebut. Dia menyuruh Hannah membawanya dan tidak menghampiri Irina lagi agar Dia tidak merasa canggung saat makan.
Di dapur, Alex memasukkan Rendang ke dalam Dua Kotak makanan. Satu untuk Irina dan Satu lagi untuk Pak tua Mag.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 217 Episodes
Comments
Rhakean Djati
masih kalah sakti sama author.hehehee
2024-08-02
3
Loly 💃
semoga aja orang baik' 🤭🤭🤭🤭🤭
2024-06-13
2
Loly 💃
ganas' 👍👍👍👍👍
2024-06-13
1