"Kak Daniel, tunggu disini sebentar ya aku akan membayar makanan yang telah kita makan dulu" ucap Allena yang akan bangkit dari tempat duduknya namun dengan segera di hentikan oleh Daniel.
"Tidak perlu, semua makanan ini biar aku yang bayar" ucap Daniel sembari memanggil pelayan di rumah makan itu dan dengan segera membayar makanan yang telah mereka makan bahkan Daniel pun memberikan tips untuk pelayan tersebut.
"Kak, bukankah seharusnya aku yang membayar makanan kali ini" ucap Allena sembari menatap ke arah Daniel, "Karena kakak tidak memberikan kesempatan untukku membayar makanan ini maka izin kan aku mengganti makanan ini dengan menemani kakak jalan-jalan di pasar ini, aku dengar banyak hal yang menyenangkan disini" ucap Allena dengan mata yang berbinar.
Daniel yang melihat mata Allena berbinar seperti itu pun tersenyum samar "Baiklah kalau begitu, ayo temani aku" ucap Daniel yang kemudian bangkit dari duduknya dan berjalan keluar rumah makan itu yang diikuti oleh Allena yang kini berjalan di sampingnya, sepanjang perjalan Daniel pun menyesuaikan langkahnya dengan Allena agar dapat berjalan berdampingan dengannya.
Mereka berdua pun mengelilingi pasar dengan wajah yang bahagia bahkan mereka juga mencoba berbagai jenis kue yang ada di tempat itu, hingga tiba di sebuah kios kecil mata Allena untuk beberapa saat menatap lekat ke arah sebuah cincin, namun dia tak ingin melihat-lihat atau pun membelinya, karena dia hanya ingin fokus menghabiskan waktunya bersama Daniel saat itu, namun tanpa sepengetahuan Allena, Daniel pun sejak tadi teeus memperhatikan tatapan Allena.
"Kak, ayo kita duduk di kursi itu" ucap Allena yang menunjuk ke arah kursi yang berada di bawah pohon besar, tempat dimana dulu dia bertemu dengan kakek tua yang memberinya pin hitam.
Daniel pun melihat ke arah yang di tunjuk oleh Allena, dia pun mengangguk setuju lalu dengan segera berjalan ke tempat itu, sesampainya disana Allena pun duduk sembari menggoyang-goyangkan kakinya "Allena, aku ingin membeli beberapa kue untuk kita makan disini, kamu jangan pergi kemana-mana ya" ucap Daniel sembari menatap ke arah Allena.
"Baik kak, tolong bawakan kue yang enak ya" ucap Allena sembari tersenyum ke arah Daniel, setelah itu Daniel pun pergi meninggalkan Allena di tempat itu.
Tak jauh dari tempat Allena berada "Pangeran, tolong jangan begini, bukankah bayi yang ada di perut saya ini adalah darah daging pangeran sendiri" ucap seorang wanita muda yang tengah menangis sembari berlutut di bawah kaki seorang laki-laki, hal itu membuat tempat itu menjadi ramai seketika.
"Apa yang barus saja kau katakan, mana mungkin aku akan tertarik dengan wanita seperti mu sedangkan semua orang tau jika tunangan ku jauh lebih cantik darimu, jadi jangan mengganggu hubungan ku" ucap laki-laki tersebut.
Karena penasaran dengan apa yang terjadi Allena pun dengan segera melihat kejadian itu, ketika Allena melihatnya, Allena pun sangat terkejut karena laki-laki tersebut merupakan laki-laki yang dia kenal bahkan sempat menjadi tunangannya "Pangeran Jansen" ucapnya dengan nada pelan.
"Pangeran aku benar-benar tidak berbohong, bukankah dua hari yang lalu kita berdua juga baru saja melakukannya di taman kerajaan Rose" ucap kembali wanita muda tersebut dengan air mata yang terus menerus mengalir.
Mendengar apa yang baru saja dikatan wanita itu, putri Erika pun menjadi sangat marah "Kalau begitu pangeran Jansen segeralah menikah dengannya, aku akan segera mengirimkan surat pembatalan pertunangan kita" ucap putri Erika dengan nada dingin sembari meninggalkan pangeran Jansen di tempat itu.
"Erika tunggu, Erika dengarkan aku dulu" ucap pangeran Jansen yang ingin segera mengejar putri Erika namun langkah kakinya kembali tertahan karena muncul beberapa pengawal dari kerajaan Lion "Pangeran kedua mohon ikut dengan kami untuk kembali ke kerajaan Lion karena raja dan ratu ingin bertemu dengan pangeran" ucap salah satu pengawal tersebut sembari membawa pangeran Jansen beserta wanita muda tersebut.
Allena yang melihat hal itu pun merasa sangat lega karena pertunangan antara dia dan juga pangeran Jansen telah di batalkan, karena Allena sama sekali tak ingin hidup membina rumah tangga dengan laki-laki yang tak punya kejujuran dan juga kesetiaan.
"Allena apa yang kau lihat" ucap Daniel yang berhasil membuat Allena tersadar dari apa yang baru saja di pikirkannya.
Allena pun menatap ke arah Daniel, lalu Allena pun menjelaskan apa yang baru saja di lihatnya di tempat itu tanpa kurang sedikit pun sembari berjalan ke tempat dimana Allena duduk sebelumnya.
"Kak, aku rasa di zaman ini sangat sulit ya untuk menemukan laki-laki yang hanya akan memilih satu wanita saja sebagai istrinya" ucap Allena sembari menarik napas berat.
Mendengar apa yang dikatakan Allena, Daniel pun dengan segera menatap ke arah Allena "Siapa yang bilang sulit, buktinya saja ayahandaku, ketua akademi Black dan beberapa orang besar lainnya hanya memiliki satu wanita disisinya" ucap Daniel meyakinkan Allena.
Allena pun tersenyum ke arah Daniel sembari membalas tatapannya "Lalu bagaimana dengan kakak? Apakah kakak akan seperti mereka atau seperti pangeran Jansen?" tanya Allena sembari menatap lekat ke arah Daniel karena dia tak ingin ada kebohongan di setiap kata-kata yang nantinya akan dia dengar, alasan Allena menatap ke arah mata Daniel adalah karena mata tak akan mungkin dapat berbohong.
"Tentu saja aku akan mengikuti ayahandaku, jika aku mengikuti pangeran Jansen sudah pasti saat ini aku memiliki seorang tunangan atau bahkan seorang selir" ucap Daniel tanpa ada sedikit keraguan pun sembari membalas tatapan Allena dengan penuh kelembutan.
Mendengar apa yang baru saja Daniel katakan Allena pun menganggukkan kepalanya sebagai tanda mengerti "Aku yakin jika kakak orang yang seperti itu, karena aku sama sekali tak melihat adanya kebohongan di mata kakak, siapa pun wanita yang akan menjadi pasangan kakak pasti akan menjadi wanita yang sangat beruntung" ucap Allena sembari melihat ke arah pasar dan memakan kue yang baru saja dibawa oleh Daniel.
"Aku harap wanita itu adalah kamu" ucap Daniel di dalam hatinya sembari mentap ke arah Allena yang sibuk menatap ke arah pasar, entah mengapa menatap wajah Allena seperti itu mampu membuat senyuman keluar begitu saja dari bibirnya yang kaku itu.
"Aku rasa apa yang kau katakan benar, namun aku juga berharap dapat hidup bersama dengan orang yang aku cintai bukan hidup dengan seorang wanita yang melalui pernikahan politik atau pun perjodohan" ucap Daniel sembari ikut menikmati kue tersebut.
Mendengar hal tersebut Allena pun seketika menebak jika Daniel sudah pasti dari kalangan bangsawan "Kak, Apakah keluarga mu akan memilihkan jodoh untukmu?"Tanya Allena dengan rasa penasarannya.
"Tentu saja tidak, karena bagi mereka kebahagian anak-anaknya jauh lebih penting dari pada apapun" jawab Daniel dengan ekspresi yang dipenuhi dengan keseriusan.
Mereka berdua pun menghabiskan waktu bersama, hingga tak terasa waktu pun mulai petang, Allena dan Daniel pun memutuskan untuk kembali ke kediaman masing-masing "Kak terima kasih untuk hari ini, aku harap kita dapat bertemu kembali" ucap Allena dengan senyuman tulusnya sembari ingin memasuki kereta kudanya.
"Aku juga ingin berterima kasih padamu karena telah menemaniku hari ini, namun kita akan sulit bertemu untuk beberapa saat karena aku harus kembali ke rumah" ucap Daniel sembari menatap ke arah Allena yang telah duduk di kereta kuda.
"Jaga dirimu baik-baik ya Allena, aku pergi" ucap Daniel sembari mengambil tangan Allena dan memakaikan sehuah cincin di jari manis Allena, setelah itu barulah Daniel pun melangkah pergi meninggalkan Allena yang tengah mematung.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 54 Episodes
Comments
Frando Kanan
next Thor 😃.
2023-09-14
0