"Ini bukan jalan pulang!" ucap Diana kala menyadari jalan yang Alvaro lewati bukan jalan pulang ke mansion.
"Kamu membawa aku ke mana?!" Dinda menggoyang-goyangkan lengan Alvaro yang tengah fokus menyetir.
"Berhenti melakukan ini, Diana! Ini membahayakan kita!" peringat Alvaro tegas di sertai lirikkan tajamnya.
Diana yang mendengar itu perlahan menjauhkan tangannya dari Alvaro. Pria itu kembali fokus mengemudi.
"Sebenarnya kita akan ke mana? Kamu tidak akan macam-macamkan dengan ku?" Tiba-tiba saja pikiran negatif hinggap di kepala Diana. Wanita itu tampak was-was pada Alvaro.
Alvaro memberhentikan mobil BMW m8 berwarna hitamnya ketika lampu merah menyala. Ia menoleh ke arah Diana, senyuman samar-samar terukir di bibirnya.
"Sepertinya otakmu sudah tercemar dengan pikiran kotor dan negatif," celetuk Alvaro. Mata Diana langsung melotot tajam mendengar itu.
Alvaro mendekatkan wajahnya pada Diana yang langsung menjauhkan dirinya. Jantung wanita itu berdegup kencang dengan tingkah Alvaro yang membuatnya harus menahan napas. Aroma parfum Woody spicy yang pria itu kenakan menusuk indra penciumannya.
"Bila saya mau, sudah dari kemarin saya melakukannya," bisik Alvaro ditelinga Diana.
Titt!
Suara klakson mobil dari belakang membuat Alvaro menjauhkan dirinya dari Diana lalu kembali menjalankan mobilnya setelah lampu hijau. Diana membenarkan posisi duduknya. Sikap Alvaro yang seperti ini selalu berhasil membuat tubuhnya tegang dan lemas.
Alvaro tersenyum samar ketika menatap wajah Diana dari balik cermin dalam mobil.
Sekitar 15 menitan mobil yang Alvaro kendarai sudah memasuki area perusahaan tempat ia bekerja. Ia memarkirkan mobilnya yang hanya dikhususkan untuknya.
"Kantor? Jadi kamu mengajakku ke sini?" Diana menatap Alvaro.
"Turun," perintah Alvaro tanpa menggubris pertanyaan Diana.
Pria itu keluar dari mobilnya dan membenarkan jas yang membalut tubuhnya. Sedangkan Diana menatap gedung yang menjulang tinggi dan terlihat mengkilap ketika cahaya matahari menerpa permukaan gedung itu.
"Eh..."
Diana tersentak kaget ketika sebuah tangan menarik pergelangan tangannya. Alvaro menarik tangannya memasuki gedung tersebut. Dua satpam mengangguk ramah ketika ia melewati lobby perusahaan.
"Untuk apa aku ke sini. Lebih enak di mansion bisa santai," gumam Diana pelan namun Alvaro masih bisa mendengarnya.
Alvaro menarik tangan Diana cukup kencang ketika memasuki lift, membuat wanita itu menubruk dada kokohnya.
"Saya malas mengantarkanmu ke mansion, membuang waktu."
Diana terperangah mendengarnya. Padahal tinggal pesankan taksi online di aplikasi untuknya, setidaknya itu tidak merepotkan pria itu. Dasar menyebalkan!
"Em...ngomong-ngomong kenapa kamu tidak suka, Ayara? Padahal dia istri kamu?" Tiba-tiba saja Diana ingin menyinggung soal wanita itu di hadapan Alvaro.
Pria itu diam tidak merespon. Ia sibuk menekan tombol menuju lantai yang akan ia tuju. Diana yang merasa diabaikan itu pun menghela napas berat lalu menyandarkan tubuhnya ke sisi lift.
"Karna saya tidak menyukai sifatnya."
Kan, sepertinya pria itu sangat suka menunda beberapa menit sebelum menjawab pertanyaan.
"Kenapa begitu? Aku merasa kasihan dengan Ayara, hidupnya sangat menyedihkan."
Alvaro melirik sekilas pada Diana.
"Untuk apa kasihan dengan orang yang sudah tidak ada di dunia ini. Saya tahu, kamu menanyakan ini hanya ingin tahu seberapa berarti Ayara dalam hidup saya?"
Diana dengan cepat mengangguk. Memang itu yang ia ingin cari tahu.
"Tidak berarti apapun. Karna saya tidak mencintai dia!"
Alvaro keluar lebih dulu saat pintu lift terbuka. Diana segera menyusul pria itu dengan rasa penasaran dalam benaknya. Tapi pernyataan Alvaro tidak bisa Diana salahkan juga, karna memang sulit menerima seseorang yang tidak dicintai. Lagipula, Alvaro sudah diciptakan sang penulis tidak memiliki perasaan berlebih pada Ayara dan mungkin ini penyebabnya. Huh, memang sangat pasaran sekali novel yang ia tempati sekarang, lebih mendukung Alvaro bersama wanita lain dibanding istri sahnya.
"Selamat siang Alvaro, rapat sudah menunggu," ucap Hendrik ketika berpapasan di koridor menuju ruangannya.
Alvaro mengangguk dan melanjutkan langkahnya menuju ke ruangannya. Diana segera menyusul pria itu tapi sebuah tangan menahan lengannya.
"Mau ke mana? Alvaro ada rapat dan kamu tidak perlu masuk ke dalam," ucap Hendrik semakin mengeratkan cengkramannya di lengan wanita itu.
Diana menghempaskan tangan Hendrik dari lengannya."Terserahku!" Ia menatap sangar pada pria di hadapannya. Hendrik hanya tokoh sampingan tapi benar-benar membuatnya tak suka karna tatapan benci pria itu yang ditujukan padanya.
"Ternyata kamu tetap sama, Ayara yang sombong dan angkuh. Dan aku sangat menyayangkan Alvaro masih mempertahankan mu."
"Memang kenapa?! Kamu hanya bawahan jadi tidak usah ikut campur dalam urusanku!"
Setelah mengatakan itu Diana segera pergi menyusul Alvaro. Ia tidak habis pikir kenapa Hendrik membenci Ayara. Kalaupun Ayara sombong dan angkuh apa salahnya, lagi pula tidak merugikan pria itu.
"Kenapa lama sekali?" Baru memasuki ruangan yang menyeruak aroma maskulin, Alvaro sudah menodong pertanyaan.
Diana tidak menjawab melainkan melangkah menghampiri Alvaro. Matanya menatap menelisik ruangan milik pria itu.
"Aku ingin pulang."
"Tunggu saya selesai rapat setelah itu kamu boleh pulang."
Diana menghela napas panjang lalu melangkahkan kakinya menuju sofa. Wanita itu menghempaskan bokongnya di sofa yang terasa sangat empuk. Entah mengapa ia jadi bingung seperti tak tentu arah di dunia ini. Apa yang harus ia lakukan, mencari informasi tentang Ayara saja belum tuntas. Tapi, saat ini keinginan terbesarnya ingin pulang ke dunianya.
Diana mengeluarkan kalung yang ia kenakan dari balik baju. Ia mengusap-ngusap batu zamrud yang menggantung di sana.
"Kapan gerhana matahari?" gumam Diana pelan.
Tanpa di sadari Alvaro memperhatikan Diana, termasuk samar-samar mendengar suara pelan wanita itu. Matanya menyipit menatap kalung yang melingkar di leher Diana. Sangat unik dan belum pernah ia lihat.
•
•
Diana menghela napas panjang. Hampir satu jam ia berada dalam ruangan ini tapi Alvaro tak kunjung kembali. Pria itu mengatakan hanya sebentar rapatnya tapi ini sudah sangat lama baginya.
Diana yang sudah lama duduk di sofa kini bangkit dari tempat duduknya. Ia melangkah menuju kaca besar yang ada di ruangan itu, menampilkan kepadatan ibu kota serta rumah penduduk yang begitu padat di bawah sana. Kota ini tidak beda jauh dari tempat tinggal aslinya.
Diana merogoh saku celananya, dan mengambil benda pipih di dalam sana. Ia menatap layar ponsel yang menampilkan nomor kontak ibu. Yaa, ibu Ayara. Apa ia telpon saja wanita itu agar ia tahu permasalahan sebenarnya antara Ayara dan ibunya sampai Ayara di jual dengan pria clubbing tersebut?
Diana tiba-tiba memegangi perutnya yang terasa lapar dan perih. Tadi bagi ia hanya makan sedikit. Bagaimana bisa makan banyak bila ada ibu mertuanya yang membuat ia tak nyaman dan tegang.
"Sebaiknya aku ke kantin dulu daripada penyakit maagku kambuh," monolog Diana.
Ia melangkahkan kakinya keluar dari ruangannya itu dan beruntung masih ada sisa uang di saku celananya.
Saat berpapasan di koridor kantor para karyawan menyapa ramah Diana. Tentu, semua orang tahu Ayara adalah istri Alvaro. Tapi semua orang juga tidak tahu bagaimana rumah tangga mereka berdua yang jauh dari kata harmonis.
Langkah Diana terhenti ketika seseorang menghalangi jalannya.
______
Hai semuanya! Terima kasih sudah mampir
Jangan lupa tinggalkan jejak dengan memberikan like dan komennya ya!
See you di part selanjutnya:)
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 52 Episodes
Comments
@puje_devi
itu pasti si hendrik kah ???
punya dendam kesumat apa sih hendrik ama ayara thor,kok berasa benci bgt sama ayara ???
sepertinya tidak semudah itu diana kamu bisa kembali ke duniamu,mungkin setelah semua teka teki terjawab kenapa kamu masuk kedunia novel,tp kenapa alurnya jd berubah setelah diana masuk thor ???
2023-06-15
4
windanor
Seharusnya td mlm update tapi bab ini lama bgt lolosnya dan sekarang baru lolos siang ini. Klu ada typo tandai
2023-06-15
3