A & D: Posesif

"Sudah?"

Diana terperangah dengan respon Alvaro yang terlihat biasa saja setelah ia berbicara panjang lebar. Setidaknya pria itu mengiakan atau menanyakan alasan ia minta kontrak ini segera diakhiri. Dasar pria menyebalkan! Pantas saja beberapa pembaca tidak menyukainya bila sifat tokoh utama prianya saja seperti ini.

Alvaro dengan tenang kembali menyantap sarapan paginya, sementara wanita di sebrangnya sudah ke bakaran jenggot karna responnya. Seolah ucapan yang Diana lontarkan hanya angin lalu.

Melihat respon Alvaro yang acuh Diana menghempaskan pantatnya di kursi. Dengan kasar ia mengambil piring yang tersedia di sana. Setiap gerak-gerik Diana tak lepas dari tatapan Alvaro. Senyuman samar-samar terukir di bibir pria itu. Entah apa yang membuat pria menyunggingkan senyumannya tanpa orang lain sadari termasuk Diana.

Suara klakson mobil yang cukup keras membuat Diana yang tengah mengunyah roti gandumnya terhenti. Ia bangkit dari tempat duduknya dan segera melangkah ke arah pintu utama. Terlihat di luar gerbang seorang pria melambaikan tangannya kala melihat Diana.

Senyuman Diana tersinggung melihat sosok Gian. Ia kembali masuk ke dalam mansion mengambil tasnya yang berada di dalam kamar. Alvaro menatap Diana yang terlihat tergesa-gesa, jangan lupakan senyuman yang tersungging di bibir wanita itu.

Tidak lama, sekitar kurang lebih satu menit Diana keluar dari kamar lalu menuruni tangga. Saat akan melangkah keluar dari pintu utama suara berat Alvaro menghentikan langkahnya. Tentu Diana menoleh pada sosok itu.

"Kenapa?"

Alvaro tidak menjawab pertanyaan Diana, melainkan bangkit dari kursinya. Ia melangkah lebar pada Diana. Sedangkan Diana yang melihat itu sedikit was-was. Entah mengapa, beberapa hari ini ia merasa takut dengan sosok Alvaro. Bukan hanya pendiam atau dingin tapi sikap yang pria itu berikan tak tertebak sama sekali.

"Ke mana?" Satu kata itu meluncur dari bibir Alvaro

Diana mendengus."Pergi, lah."

"Saya tidak mengizinkan."

Diana menatap sinis Alvaro yang menajamkan tatapannya pada seorang pria yang turun dari mobil. Pria yang mengenakan kaca mata hitam dengan kemeja putih kotak-kotak membalut tubuh pria yang tak lain Gian. Pria yang tak sengaja bertemu dengan Diana di club.

Diana melambaikan tangannya pada Gian agar mendekat, namun dengan cepat Alvaro menurunkan tangan Diana. Tidak lupa dengan tatapan yang Alvaro berikan pada Diana.

"Apaan sih!" Diana menepis tangan Alvaro kala mengenggam pergelangan tangannya. Ia menatap aneh pada sikap Alvaro.

"Sudah saya katakan jangan berdekatan dengan laki-laki lain," ucap Alvaro menatap tajam Diana.

"Memang kenapa? Apa kamu lupa, aku ini bukan Ayara melainkan Diana. Jadi, kamu tidak berhak membatasi apapun yang aku lakukan apalagi mengekang seperti ini! Dan apa kamu lupa, kamu tidak pernah menginginkan Ayara ada di kehidupanmu dan sekarang kamu bebas tanpa merasa risih dengan sosok Ayara yang terus menempelimu seperti lintah. Lebih baik kamu fokus kejar perempuan yang kamu cintai dan aku fokus dengan kehidupanku di dunia aneh ini!" ucap Diana panjang lebar dengan napas menggebu-gebu.

Ia juga heran kenapa tokoh Alvaro jadi seperti ini. Seharusnya pria itu membenci sosok wanita yang ia tempati sekarang raganya. Amit-amit bila Alvaro jatuh cinta padanya. Tapi tidak mungkin juga Alvaro menaruh perasaan padanya. Mengingat penulis membuat ending cerita ini Alvaro dan Ayara berpisah karna Alvaro lebih bahagia hidup bersama tokoh utama wanita yang ia lupa siapa namanya.

"Hai..."

Sapaan Gian membuat lamunan Diana luntur. Alvaro menatap tak suka pada pria di hadapannya sekarang yang entah sejak kapan sudah berdiri di hadapan mereka berdua.

"Perkenalkan aku Gian."

Gian mengulurkan tangannya pada Alvaro. Bukannya menyambut uluran tangan dari pria itu, Alvaro malah melingkarkan tangannya di pinggang ramping Diana dengan posesif. Diana yang diperlakukan seperti itu tampak kaget. Ia berusaha menjauhkan tangan Alvaro yang tidak sopannya bertengger di pinggangnya.

"Istri saya," ucap Alvaro datar. Pria itu semakin mengeratkan lingkaran tangannya di pinggang Diana.

Sedangkan Diana meringis kesakitan dengan cengkraman tangan Alvaro di pinggangnya yang semakin kuat, menekan bagian jari-jarinya menusuk bagian perutnya.

Gian tampak kikuk dengan respon Alvaro yang melenceng. Ia memperkenalkan diri tapi pria itu mengatakan hal lain.

"Sebaiknya kamu pergi, saya tidak mengizinkan dia pergi," ucap Alvaro.

Gian mengkerutkan keningnya. Ia menatap Diana yang menggelengkan kepalanya, seolah mengatakan agar jangan percaya dengan ucapan Alvaro. Entah apa mau pria gila ini.

"Tapi, kami berdua hanya pergi sebentar saja," ucap Gian.

"Tidak boleh, dia tetap di sini." Setelah mengatakan itu Alvaro mengecup pipi Diana yang membuat tubuh wanita itu menegang.

______

Hai semuanya! Terima kasih sudah mampir

Jangan lupa tinggalkan jejak dengan memberikan like dan komennya ya!

See you di part selanjutnya:)

Terpopuler

Comments

Hamokitsi Run

Hamokitsi Run

bnr2 keliatan bkn pria baik2...

2023-07-02

1

Hamokitsi Run

Hamokitsi Run

Diana... kamu kn blm tau siapa kluargamu.. sandaranmu jg blm ad.. koq berani minta cerai.. nnti klo udh cerai gmn??? blm tntu kenalanmu d club itu org baik...

2023-07-02

0

Zara Ra

Zara Ra

kak kpn up y kak

2023-06-05

0

lihat semua
Episodes
Episodes

Updated 52 Episodes

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!