Diana berusaha melepaskan diri dari jeratan tiga preman itu yang menarik paksa dirinya untuk masuk ke dalam mobil kijang hitam.
"Lepaskan aku!" jerit Diana memberontak sekuat tenaga. Bahkan ia berusaha menggunakan kakinya untuk menendang preman itu tapi sayangnya gerakkan nya sudah terbaca.
"Ganas sekali kelinci kecil ini." Salah satu preman mencolek dagu Diana. Wanita itu membuang kasar wajahnya, menghindar dari setiap sentuhan yang pria itu berikan.
Rasanya Diana ingin menangis mendapatkan perlakuan seperti ini. Ia merasa dilecehkan. Bahkan ia tidak memiliki kesempatan untuk kabur. Dan sekarang ia benar-benar ketakutan apalagi ucapan frontal yang tiga pria itu ucapkan mengarah pada sesuatu yang berbau ****. Apa ia akan dijual? Dan apa hubungan Ayara dengan tiga pria ini?
Bug!
Salah satu preman jatuh tersungkur dan kepalanya terbentur body mobil sangat keras ketika seseorang menendang bagian punggungnya. Sontak hal tersebut membuat dua preman berbalik badan termasuk Diana yang sudah berlinang air mata saking takutnya.
Alvaro menatap menusuk pada dua preman yang menggeram marah. Ia merenggangkan tubuhnya sepertinya ia akan sedikit mengeluarkan tenaga untuk menghadapi dua hama di hadapannya ini. Diana mundur menjauh dari mereka. Entah ia harus bersyukur atau tidak dengan kedatangan Alvaro.
"Berani-beraninya kamu ikut campur dengan urusan kami!" sentak satu preman yang maju dan hendak mendaratkan pukulan di wajah Alvaro. Tapi dengan gesit pria itu menghindar dari serangan tersebut dan dengan cepat memelintir tangan preman itu ke belakang. Sepertinya preman itu kurang lihai berkelahi membuat Alvaro sangat mudah melumpuhkannya.
"Akh...sakit. Lepaskan bodoh!" jeritnya merasakan kesakitan pada tangan kanannya yang semakin di putar ke atas.
Diana yang melihat itu merasa ngilu. Dan serentak badannya meremang.
Satu preman yang melihat itu hendak maju menolong temannya namun gerakkan kakinya tiba-tiba terhenti ketika darah segar menyembur. Alvaro menusuk leher preman yang ada dalam genggamannya dengan pisau kecil yang selalu ia bawa.
Kedua kaki Diana melemas melihat pemandangan mengerikan di hadapannya. Ia menatap ke arah Alvaro yang tampak santai melakukan itu.
Buk!
Badan preman itu jatuh ke tanah setelah Alvaro puas melakukan perbuatan sadisnya. Satu preman yang melihat temannya terkulai lemas di tanah menegang penuh ketakutan. Ia melangkah mundur dengan pelan-pelan agar pergerakan tidak diketahui pria mengerikan itu. Tapi sayang, Alvaro melihat pergerakannya yang hendak kabur. Sekali gerakkan Alvaro menendang perut preman itu yang langsung tergeletak di tanah tak sadarkan diri karna tendangan yang cukup keras yang ia dapatkan.
Tiga preman sudah tergeletak tak sadarkan diri di tanah dalam hitungan menit. Tubuh Diana gemetar melihat itu termasuk bagaimana Alvaro melakukan perbuatan yang membuat Diana merinding melihatnya.
Alvaro membersihkan bercak darah yang mengotori kemeja abu-abu yang ia kenakan dengan tissu dan setelah melakukan hal tersebut matanya memandang ke arah Diana.
"Kemarilah..." titah Alvaro seperti memerintah.
Dengan ragu-ragu dan rasa takut yang masih mendekap dalam benak Diana, ia melangkah mendekat pada Alvaro. Sisa air mata masih terlihat di pipi Diana.
Diana menjerit kala Alvaro menarik tubuhnya dalam pelukan pria itu dan mendekap dirinya begitu erat.
"Jangan pernah jauh-jauh dari saya, kamu tidak tahu semengerikan apa dunia yang kamu tempati sekarang," ucap Alvaro yang terselip sebuah ancaman di sana.
Diana diam, bingung harus merespon apa di tambah ia tidak mengerti maksud ucapan pria itu. Menurut Diana, dunia ini memang tak seindah yang dipikirkan termasuk orang-orang jahat yang berusaha menyakitinya.
Alvaro melepaskan pelukannya lalu menangkup wajah Diana agar fokus menatap dirinya."Menurutmu apa yang harus saya lakukan pada mereka, hmm?"
Mendengar itu Diana langsung mengarahkan tatapannya pada tiga preman yang ia yakini belum mati.
"Mereka baru saja menyentuh tubuhmu dengan tangan kotor mereka."
Mendengar ucapan Alvaro mendadak menyulut emosi Diana. Kedua tangan wanita itu terkepal saat mengingat bagaimana pria jelek itu menyentuh dan melecehkannya dengan tangan yang menjijikkan itu.
Senyuman menyeringai samar-samar terlihat dari wajah Alvaro kala melihat reaksi Diana yang mudah terpancing.
"Aku ingin menginjak wajah mereka satu persatu dan memotong tangan mereka!" ucap Diana dengan napas menggebu-gebu.
"Baiklah, saya akan menurutinya." Alvaro mengeluarkan ponsel dari saku celananya dan hendak menelpon seseorang namun dengan cepat Diana menahannya.
"Ja-jangan bunuh mereka. Aku memerlukan mereka untuk tahu motif mereka ingin menculik Ayara." Yaa, karna preman itu hanya tahu Diana adalah Ayara.
Alvaro menurunkan ponsel miliknya yang awalnya bertengger di telinga. Senyuman miring tercetak di sana.
"Baiklah kalau itu mau mu, Diana..." Alvaro menekan kalimat terakhir yang ia ucapkan membuat Diana tampak kikuk.
"Ayo ikut saya..."
Tanpa penolakan Diana mengikuti Alvaro yang menggiringnya ke mobil Lamborghini hitam yang terparkir tidak jauh dari tempat kejadian.
"Kenapa kamu baik padaku? Padahal aku bukan Ayara?" Pertanyaan yang sedari tadi Diana tahan akhirnya keluar.
Alvaro menoleh sekilas pada Diana dan setelah lahnya mulai menjalankan mobilnya tanpa ingin menjawab pertanyaan Diana. Merasa diacuhkan membuat wanita itu mendengus kesal.
______
Hai semuanya! Terima kasih sudah mampir
Jangan lupa tinggalkan jejak dengan memberikan like dan komennya ya!
See you di part selanjutnya:)
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 52 Episodes
Comments
Hasan
karena si suami dingin lu udah mulai bucin sama kamu diana makanya tuh kamar lu banyak serangga🤣🤣🤣
2023-06-08
3