Diana melambaikan tangannya ke arah mobil Lamborghini hitam yang baru saja mengantarkannya sampai di depan gerbang mansion. Semenjak tinggal di dunia novel ini ia memiliki satu teman, setidaknya ia tidak merasa asing di sini, karna hanya ia orang luar yang tiba-tiba masuk ke dalam dunia karangan penulis.
Saat melangkahkan kakinya masuk ke dalam mansion, tampak ruangan dalam mansion ini gelap gulita. Apa mungkin semua orang sudah tidur? Tapi saat Diana melihat jam di ponselnya waktu baru saja menunjukkan pukul 10: 00 malam, di mana para pelayan masih sibuk dengan pekerjaan mereka. Tapi entahlah, ia tidak ingin memikirkan hal tak penting ini.
Diana melangkahkan kakinya menaiki anak tangga dengan senter ponsel yang ia nyalakan karna dalam mansion ini benar-benar gelap.
Diana terhenyak ketika tiba-tiba seluruh lampu dalam mansion itu menyala serentak dan di ujung tangga Alvaro sudah berdiri di sana dengan kedua tangan terlipat di dada. Tatapan pria itu sangat tajam dan begitu menusuk.
"Semakin hari sikapmu semakin seenaknya," ucap Alvaro.
Diana mengkerutkan keningnya. Mendadak perasaannya tidak enak.
"Kamu memang tidak boleh meninggalkan mansion karna masih terlibat perjanjian kontrak dengan saya. Tapi, bukan berarti kamu bisa seenaknya pulang selarut ini!" ucapnya begitu menusuk dengan tatapan mengerikan yang pria itu berikan.
Diana meneguk ludahnya kasar dan mengumpulkan keberanian untuk membalas ucapan Alvaro. Bagaimana pun aura kemarahan pria itu berhasil menyerap energinya.
"A-aku hanya ingin bersenang-senang saja." Yaa, hanya alasan itu yang terlintas di kepalanya dan itu memang kenyataan. Ia tidak ingin terpaku dalam mansion tanpa ingin bersenang-senang menikmati kehidupan di dunia novel ini.
"Dengan laki-laki?"
Diana mengangguk. Bukankah itu hal yang wajar berteman dengan lawan jenis?
Wajah Alvaro semakin mendatar. Ia melangkah mendekat pada Diana yang dengan cepat melangkah mundur. Wanita itu hampir jatuh karna gagal menginjak anak tangga, beruntung ia berpegangan pada sisi tangga.
"Jangan pernah berteman dengan laki-laki, saya tidak suka." Setelah mengatakan itu Alvaro berlalu pergi dari hadapan Diana.
Wajah Diana tampak cengo mendengar ucapan Alvaro. Apa tadi katanya, jangan berteman dengan laki-laki? Enak saja, suka-suka ia ingin berteman dengan siapa saja. Lagi pula ia bukan Ayara asli! Garis bawahi itu.
Diana menatap sebal pada punggung lebar itu yang kini menghilang dari pandangan matanya. Wanita itu kembali melanjutkan langkahnya menuju kamar. Tak sabar rasanya menghempaskan tubuhnya ke kasur empuk setelah beraktivitas seharian.
Baru saja hendak memutar tuas pintu kamarnya, pekikan suara Selly menghentikan pergerakan tangan Diana. Ia menoleh menatap pelayan pribadinya melangkah menghampiri nya.
"Nona Ayara ke mana saja?" tanya Selly dengan napas tak beraturan.
Diana mengkerutkan keningnya."Kenapa bertanya seperti itu?"
Selly menghela napas panjang."Saat tuan Alvaro tahu Nona tidak ada di mansion, kami semua kena marah. Apalagi Nona pulang sampai selarut ini. Jadi, mulai besok kami di perintahkan untuk melarang Nona pergi keluar apapun alasannya."
"Kenapa seperti itu?! Itu namanya merenggut kebesaran ku!" sentak Diana marah."Dan sejak kapan laki-laki itu peduli padaku?"
Seingat Diana, Alvaro dalam cerita novel tidak memperdulikan Ayara. Mau wanita itu hidup ataupun mati. Apa jangan-jangan alur cerita ini sudah berantakan karna kehadirannya?
"Nona kenapa?" Selly menatap heran Diana yang menggerutu dengan suara pelan.
"Tidak pa-pa, tapi...apa Alvaro pernah se-perduli ini padaku? Maksudku melarangku saat berdekatan dengan laki-laki lain atau pulang larut malam?" Sepertinya ia harus mengorek-ngorek informasi tentang kehidupan rumah tangga Ayara dan Alvaro sebelum ia masuk ke dalam novel ini.
Ia hanya takut ada beberapa bab yang ia lewatkan saat membaca kisah mereka berdua.
"Sepertinya tidak pernah, Nona. Ini pertama kalinya Tuan semarah ini saat tahu Nona keluar," ucap Selly.
Diana terdiam sejenak. Seolah berpikir keras dengan sikap Alvaro yang benar-benar tidak sejalan dengan alur novel. Seharusnya pria itu membencinya. Terlalu sibuk membahas Alvaro. Diana sampai tak menyadari sebuah CCTV merekam setiap gerak-geriknya. CCTV yang juga bisa merekam setiap ucapan yang di lontarkan.
•
•
"Akh!!"
Suara teriakan Diana membuat penghuni mansion terkejut. Pelayan segera berlari ke kamar wanita itu. Takut terjadi hal tak diinginkan pada nona mudanya.
Brak!
Selly membuka pintu kamar dengan kasar hingga menciptakan suara yang keras. Diana, wanita itu mengusap-ngusap bagian lehernya yang begitu banyak bercak-bercak merah kebiruan. Selly melangkah mendekati Diana yang sibuk menggosok-gosok lehernya di depan cermin.
"No-nona, anda kenapa?"
"Lihat," Diana menunjuk bagian lehernya dan Selly terkejut melihat itu, termasuk beberapa pelayan yang berkumpul di depan pintu."Aku ingin pindah kamar, di sini sepertinya benar-benar ada serangganya!"
Selly membekap mulutnya. Bukan terkejut karna Diana ingin pindah kamar, tapi tanda merah itu seperti kissmark.
"I-itu, bukan gigitan serangga, Nona."
Diana langsung menoleh cepat ke arah Selly dengan pandangan yang menuntut penjelasan dengan ucapan yang baru saja pelayan pribadinya lontarkan.
"Maksudnya?"
Selly menatap ke arah para pelayan yang tiba-tiba membubarkan dirinya dari depan kamar nona mudanya.
"Itu seperti tanda yang sengaja diciptakan oleh seseorang dengan cara di sesap atau di gigit kecil," jelas Selly dengan wajah yang memerah. Sungguh, itu penjelasan yang sangat memalukan.
Tubuh Diana langsung menegang mendengar penjelasan itu. Tapi, tadi malam ia mimpi sedang mengemut permen.
"Apa Nona tadi malam naninu dengan laki-laki lain?" Tiba-tiba ucapan tak sopan tercetus dari mulut Selly. Karna tidak mungkin tuan Alvaro yang melakukannya, melihat hubungan mereka yang sangat merenggang.
"Jaga ucapan itu!" Diana menatap marah pada Selly yang langsung menundukkan kepalanya."Kamu pikir aku ini perempuan apa melakukan itu dengan laki-laki lain!"
"Maaf, kan, saya Nona." Selly benar-benar menyesali ucapan yang baru saja ia lontarkan.
•
•
Diana menuruni anak tangga dengan raut wajah yang suram, seolah awan hitam menutupi aura terang wanita cantik bermata bulat itu.
Alvaro mengangkat sebelah alisnya menatap sang istri menggunakan syal di lehernya.
"Apakah di luar hujan?"
Diana membalas ucapan suaminya dengan raut wajah yang terlihat sinis. Wanita itu mendudukkan dirinya di kursi yang berhadapan langsung dengan hamparan makanan yang baru saja di sajikan para pelayan di atas meja.
"Kapan kontrak itu berakhir?" tanya Diana. Kali ini ia ingin secepatnya pergi dari mansion ini.
"Kenapa menanyakan itu?"
Diana menatap kedua mata hitam kelam milik Alvaro."Aku tidak tahu perjanjian apa yang kamu lakukan dengan Ayara, tapi yang jelas aku ingin segera mengakhiri pernikahan tidak jelas ini!"
_______
Hai semuanya! Terima kasih sudah mampir
Jangan lupa tinggalkan jejak dengan memberikan like dan komennya ya!
See you di part selanjutnya:)
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 52 Episodes
Comments
Sarita
di gerayanginbgenderuwo kalo tidur Diana .entar di bunting juga ga tau kapan bikinnya 🤣🤣🤣🤣
2024-01-20
0
Ari Peny
masak gk kerasa walau tidur terlalu deh thor begonya
2023-07-02
0
Rubby Aqillah
asu lu
2023-06-13
0