Suapan demi suapan masuk ke dalam mulut Diana yang memakan bubur masih panas dengan begitu rakusnya walaupun beberapa kali merintih karna lidah yang terasa terbakar. Ia sangat menyukai bubur ini apalagi potong daging ayam yang begitu banyak.
"Nona, pelan-pelan makan buburnya," tegur Selly yang tampak meringis melihat cara makan Diana yang seperti orang kesurupan.
"Aku sangat kelaparan." Hanya balasan itu yang keluar dari mulut Diana.
Selly hanya geleng-geleng kepala dan kembali mengeringkan rambut Diana dengan herdrayer. Setelah bubur tandas Diana kembali mencomot ayam goreng tepung yang ia minta tadi. Sama seperti tadi, Diana makan begitu lahap dan rakus. Selly yang melihat itu meneguk ludahnya kasar. Sungguh, ia merasa di hadapannya sekarang bukan nona mudanya.
"Tolong ambilkan air putih."
Selly dengan segera menuangkan air putih ke gelas lalu memberikannya pada Diana yang langsung menyambutnya.
"Ooh iya, kamu tahu di mana dompet Ayara eh, maksudnya dompetku," ucap Diana yang keceplosan meskipun begitu Selly tidak menaruh curiga.
"Bukannya Nona yang menyimpan dompetnya?" Kini, Selly yang balik bertanya.
Diana tampak gelabakan tapi tetap berusaha setenang mungkin.
"Aku lupa meletakkannya. Jadi, cepat carikan dompetku," rengek Diana.
Selly menghela napas berat lalu mengangguk.
Pelayan berusia 20 tahunan itu mulai mencari dompet milik nona muda nya dan tidak butuh waktu lama Selly sudah mendapatkan dompet Ayara di laci paling bawah.
"Ini Nona dompetnya."
Diana begitu girang ketika Selly menyerahkan dompet milik Ayara. Ia segera membuka dompet tersebut. Mata Diana langsung melebar kala menatap isi dompet Ayara yang dihiasi lembaran merah dan beberapa kartu ATM.
Selly menatap aneh dengan tingkah nona mudanya.
"Wah, banyak sekali uangnya. Ini uang milikku semua?" Dengan tampang bodohnya Diana menanyakan hal itu. Selly mengangguk penuh kebingungan.
Pelayan itu meletakkan herdrayer ke atas meja setelah selesai mengeringkan rambut Diana. Dan saat matanya lurus menatap pintu keluar, tubuh Selly membeku dan langsung menundukkan kepalanya. Terlihat di depan pintu kamar Diana yang sedikit terbuka Alvaro berdiri tegap di sana sambil menatap lekat Diana yang sibuk memeriksa dompetnya dengan binar kebahagiaan. Bagaimana tidak bahagia bila mendapatkan uang sebanyak ini.
"Nona, apakah anda sudah selesai makannya? Kalau sudah, sisa makanannya akan saya bawa ke dapur."
"Bawa saja, aku sudah kenyang." Diana hanya fokus pada lembaran uang merahnya tanpa menatap lawan bicaranya.
"Kalau begitu saya permisi. Bila anda membutuhkan sesuatu bisa panggil saya."
"Hmm..."
Selly segera melangkah keluar dari kamar dengan membawa nampan dan membungkuk sopan pada Alvaro yang masih setia berdiri di depan pintu kamar Diana.
"Wah, gila banyak banget uang di dompetnya," monolog Diana setelah menghitung isi uang cash di dompet milik Ayara berjumlah lima juta.
Kini, Diana fokus menatap tiga kartu ATM dan kartu berwarna hitam yang ia sendiri tidak tahu namanya apa. Tapi yang jelas Diana merasa kaya mendadak. Ia kira saat menjadi istri Alvaro Ayara tidak diberi uang ternyata sebaliknya.
Diana bangkit dari tempat duduknya lalu berbalik badan. Senyuman di wajah wanita itu langsung luntur bersamaan dengan dompet yang ia pegang sekarang sudah jatuh ke lantai.
Alvaro berdiri tegap di hadapan Diana yang diam bak patung dengan wajah yang begitu pucat seolah melihat sesuatu yang sangat menakutkan.
"Saya kira kamu tidak akan kembali lagi ke sini." Alvaro tersenyum samar menatap Diana yang sudah berkeringat dingin.
"Jadi..." Alvaro melangkah maju mendekati Diana yang refleks langsung mundur dengan langkah lebar.
"Saya sangat benci denga pengkhianat apalagi seseorang yang berusaha membohongi saya. Perempuan ataupun laki-laki akan saya beri hukuman bila berani membohongi saya kecuali orang itu berani berkata jujur atas kebohongan yang dia lakukan."
Diana yang menunduk kini mengangkat kepalanya menatap Alvaro. Pria itu tersenyum tapi bagi Diana senyuman Alvaro seperti iblis. Ucapan yang Alvaro lontarkan juga berhasil membuat ia bergetar ketakutan dengan kaki yang mendadak lemas.
Sekarang ia tahu sisi gelap seorang protagonis tokoh utama di hadapannya sekarang yaitu menghukum seseorang tanpa kenal ampun.
"A-aku..." Mendadak lidah Diana menjadi kelu dan sulit untuk berucap. Ia juga bingung harus menceritakan masalah ini dari mana.
Tidak mungkin ia mengatakan ia berasal dari dunia nyata dan dia hanya tokoh novel, pasti Alvaro mengira ia berbohong.
"Se-sebenarnya aku ini jiwa yang tersesat." Sepertinya ucapan ini sangat tepat untuk dipahami Alvaro.
Sementara Alvaro yang mendengar itu mengangkat sebelah alisnya."Jiwa yang tersasar?"
Diana mengangguk."Tiba-tiba saja aku memasuki raga Ayara, aku juga tidak ingin berada di raga ini," ucap Diana seraya menunjuk dirinya sendiri.
Melihat Alvaro yang diam dengan tatapan tajamnya membuat Diana semakin takut. Apa Alvaro akan mengira ia sedang berbohong?
_____
Hai semuanya! Terima kasih sudah mampir
Jangan lupa tinggalkan jejak dengan memberikan like dan komennya ya!
See you di part selanjutnya:)
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 52 Episodes
Comments
Thebora Siagian
penulisnya lebih bodoh.
jadi mau berak aku bacanya.
cerita taik ini
2025-03-05
0
Liaastmrg
novel gblok pemeran utama kok menye menye cuih
2024-11-04
0
Hasan
hmmm tanggung thor🤤🤤
2023-05-29
0