A & D: Mesin penghancur

"Ayara!"

Diana terbangun dari tidurnya dengan keringat yang membasahi sekujur badannya. Napas Diana memburu. Ia menatap tangan kanannya sudah menggenggam kalung yang Ayara berikan. Ia bangkit dari kasur lalu mengangkat kalung itu di atas udara yang tampak mengkilap kala cahaya matahari menerpa batu zamrud berwarna biru kehijauan itu.

"Apa aku benar-benar bisa keluar dari dunia ini dengan kalung ini?" Diana menatap kalung batu zamrud itu, ada sedikit keraguan menggerogoti hatinya saat ini.

"Selamat sore, Nona Ayara."

Diana terkejut ketika Selly masuk ke dalam kamar. Ia segera menyembunyikan kalung batu zamrud itu ke belakangnya.

"Kenapa kamu tiba-tiba masuk tanpa mengetuk pintu dulu?"

"Saya sudah mengetuk pintu beberapa kali tapi sepertinya anda tidak mendengar, Nona," balas Selly seraya melangkahkan kakinya mendekati sang nona muda.

"Ini minuman yang anda minta, Nona," Selly meletakkan minuman yang Diana minta di atas meja samping kasur."Apa Nona sakit?" tanya Selly kala mendapati wajah Diana terlihat pucat dan berkeringat.

Wanita itu dengan cepat menggeleng. Diana  mengambil minuman yang Selly bawakan lalu meminumnya hingga tandas karna ia benar-benar kehausan di tambah tubuhnya melemas seperti energinya terserap habis.

"Apakah Nona membutuhkan sesuatu?" tanya Selly sebelum beranjak pergi dari kamar itu.

Diana terdiam, lalu menatap ke arah Selly dengan tatapan yang menyiratkan sesuatu."Kapan gerhana matahari terjadi?"

Selly mengernyitkan keningnya, merasa aneh dengan pertanyaan nona muda. Meskipun begitu ia tetap menjawab pertanyaan Diana."Setahu saya gerhana matahari terjadi 100 tahun sekali_"

"Apa! 100 tahun!" pekik Diana langsung memotong ucapan pelayan pribadinya itu.

Selly refleks menutup kedua telinganya mendengar suara pekikan Diana yang terdengar sangat cempreng.

Wajah Diana tampak shock. Keburu mati bila harus menunggu 100 tahun. Ia merasa Ayara tengah mengerjainya.

"Apa ada masalah Nona?" Selly kembali melontarkan pertanyaannya kala melihat ekpresi tak biasa Diana.

"Tidak. Kamu boleh keluar," ucap Diana. Mendadak moodnya memburuk.

Selly yang kebingungan dengan tingkah nona mudanya hanya manggut-manggut mengikuti perintah Diana untuk keluar dari kamar. Akhir-akhir ini tingkah nona muda semakin aneh dan sikapnya juga berubah.

Sementara Diana terdiam merenungi nasibnya. Padahal tidak terlalu buruk berada di sini hanya saja ia tidak ingin terus terikat dengan Alvaro. Bukan karna sifat pria itu yang menyebalkan tapi Diana juga takut dengan Alvaro yang tiba-tiba melakukan sesuatu yang sulit tertebak. Bagi Diana, Alvaro seperti predator yang ganas.

Di sebuah ruangan yang hanya di terangi satu lampu  dan terasa lembab, terdapat tiga pria yang terikat dan berusaha melepaskan diri dari jeratan tali yang mengikatnya.

Tiba-tiba terdengar sayup-sayup suara langkah kaki yang membuat tiga pria itu langsung terdiam dan memandang satu sama lain. Dan tak lama muncul sosok pria yang tampak rapi dengan jas hitam tuxedo yang ia gunakan. Alvaro, pria itu menatap dingin namun begitu menusuk.

"Katakan, siapa yang menyuruh kalian menculik wanita itu?" tanya Alvaro langsung ke intinya.

Mereka bertiga kompak menggelengkan kepala."Ti-tidak ada yang menyuruh kami." ucap salah satu dari mereka yang tampak ketakutan.

Aura yang keluar dari Alvaro begitu menyeramkan dan mencekam.

"Baiklah bila kalian tidak mengaku. Buka kain menutup itu!" perintah Alvaro pada anak buahnya dengan suara yang terdengar sangat keras.

Dua anak buah Alvaro membuka kain yang menutupi sebuah mesin penggiling daging. Melihat itu membuat tiga pria itu meneguk ludahnya kasar dan tubuh yang tiba-tiba menegang.

"Saya baru saja membeli alat ini. Pisau dalam mesin itu juga sangat tajam untuk menggiling daging apapun termasuk daging manusia," ucap Alvaro dengan seringai mengerikan.

Wajah tiga orang itu langsung pucat pasi bak mayat hidup. Mereka sangat paham maksud dari ucapan Alvaro mengarah ke mana.

"Masukkan daging ke sana," perintah Alvaro pada anak buahnya. Terlihat daging yang dimasukkan tampak aneh, bukan daging sapi atau daging ayam melainkan daging...

Dengan mata kepala sendiri mereka melihat bagaimana mesin itu menghancurkan daging yang di masukkan ke dalam mesin penggiling itu. Salah satu dari mereka sampai menangis ketakutan melihat hal mengerikan itu. Membayangkan dirinya dimasukkan ke dalam sana sudah tak sanggup. Itu sangat mengerikan.

"Jadi, siapa yang ingin duluan."

"Jangan! Kami akan mengakuinya. Akash yang menyuruh kami. Ibu Ayara sudah menjualnya pada Akash. Kami hanya di suruh..." ucap mereka ketakutan. Lebih baik tak dapat umpah karna tidak berhasil menangkap Ayara di banding mereka di giling dalam mesin itu.

Rahang Alvaro seketika mengeras. Kedua tangannya terkepal. Ia mengenal pria itu. Pria hidung belang pemilik clubbing yang cukup terkenal di kota. Dan berani-beraninya wanita tua bangka itu menjual Diana saat wanita itu masih berstatus istrinya.

"Urus mereka!" Setelah mengatakan itu Alvaro keluar dari rumah kosong itu dengan amarah yang meluap-luap.

Sedangkan tiga pria itu di seret paksa menuju mesin penggiling oleh anak buah Alvaro.

_____

Hai semuanya! Terima kasih sudah mampir

Jangan lupa tinggalkan jejak dengan memberikan like dan komennya ya!

See you di part selanjutnya:)

Terpopuler

Comments

Hasan

Hasan

alvaro predator diana loh🤭🤭🤭 tahap awal gigitan serangga sudah di mulai tinggal nunggu tahap selanjutnya thor🤣🤣🤣

2023-06-10

2

Vhio

Vhio

lanjut thor

2023-06-10

2

azzalea

azzalea

dukung Diana gak yah?
tapi aku berharap Diana dapat kembali kedunia aslinya lho.....biar tuh cwok nyesal

2023-06-10

6

lihat semua
Episodes
Episodes

Updated 52 Episodes

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!