Terbelalak, mata Partha hampir lompat ketika melihat sesosok wanita berwujud asap dengan rambut panjang dan mata yang hijau menyala. Ia melayang di hadapan mereka sambil menangis. Langit pun langsung berubah mendung disertai hujan.
"Bungaku... Bungaku... " katanya di sela isak tangis. Jantung Dara berdegup kencang ketika makhluk itu perlahan menatapnya.
Angis semakin berhembus kencang, hujan pun makin deras disertai petir. "Kembang ini hanya milikku! PUSPA ASIH!".
Petir nampak sahut menyahut di sekitar, sampai Dhika merapat kepada Partha karena takut tersambar. Sedangkan Dara sudah siaga dengan kedua pedangnya, ia tau betul kalau mereka sedang dalam masalah.
"Aku, Puspa Asih! Tidak akan mengampunimu yang telah mengambil bunga ini!" serunya sambil menyambarkan petir ke arah Dara. Dengan segera Dara melompat ke samping kiri sehingga ia menjauh dari Partha dan Dhika.
"Shield! " seru Dika untuk membuat pelindung pada Dara. Anak itu nampak panik dan berusaha membantu meski sihirnya tak begitu kuat.
"Putra, bagaimana ini?" tanya Partha pada Uta yang bertengger di kepalanya.
[ "Anda harus menenangkan Puspa Asih, Tuan, wanita itu murka karena Edelweiss yang merupakan lambang cintanya diambil begitu saja" ]
Partha berpikir keras, bagaimana caranya menenangkan Puspa Asih yang terus melimpahkan amarahnya pada Dara? Lagipula kenapa sih sampai begitunya ia murka.
Lelaki itu terus berpikir sampai Dara tersambar petir dan terikat oleh sulur yang dimiliki Puspa Asih. Ia pun tak ingin Dara terluka dan memberanikan diri.
"Dengarkan aku wahai Puspa Asih! Daku dan dirinya tak sengaja memetik bungamu, kami tidak berniat jahat bahkan merusak".
Pandangan Puspa Asih beralih pada Partha. Wajah wanita itu berlinangan air mata antara sedih dan marah.
"Kau tak tau laranya diriku ketika dia harus pergi" katanya tanpa peduli dengan hujan yang terus mengguyur mereka serta petir yang menyambar di sekitarnya. "Hanya bunga ini yang ia beri, hiks".
"Apa ini?" Dara nampak bingung ketika melihat sosok di depannya menangis pelan sambil menunduk. Angin badai pun mulai reda.
Partha menghela napas ketika berhasil membuat Puspa berhenti menyerang. "Tenangkan dirimu sejenak. Aku mengerti rasa dukamu itu" katanya lalu berjalan mendekati Puspa Asih.
Semakin dekat jarak mereka hingga keduanya saling berhadapan.
Uta menggenggam erat rambut Partha ketika Puspa Asih mengangkat kepala, dirinya takut dengan aura kuat makhluk itu.
Dhika dan Dara hanya diam di belakang mereka.
"Aku sudah memenuhi janji dengan menjaga bunga ini. Tapi Kang Jalu tak kunjung kembali" gumam Puspa Ayu namun masih dapat di dengar. Ia pun menutup wajahnya dengan tangan, tak ingin memperlihatkan wajah sedihnya.
"Dia kekasihmu?" tanya Partha dengan hati-hati lalu dibalas oleh anggukan.
"Ya... Tolong pertemukan kami, maka aku akan melepaskan kalian dan memberi bunga ini sebanyak yang kau mau".
Mendengar penuturan Puspa membuat Partha menggigit bibirnya sendiri. Apakah ia harus menerima penawaran ini? Tapi kalau pun ditolak, Puspa yang levelnya sangat tinggi pasti akan membantai mereka dengan mudah.
level 80 melawan level 5-8, pasti kalah telak.
"BAIKLAH KAMI AKAN MENURUTIMU!" sebuah suara cempreng menghentikan Partha yang sedang berpikir. Matanya langsung melotot ke sumber suara yang tak lain dan tak bukan adalah Dara.
***
Permintaan Puspa Asih pun menjadi quest spesial untuk mereka dan membawa ketiganya melipir ke kota sebelah, menunda kepergiannya menuju kerajaan Padjajaran.
"Kau terlalu gegabah menerima permintaannya" ucap Partha begitu mereka duduk di sebuah kedai kecil yang menjual gado-gado.
Dara mendengus, "Memang kau ada pilihan lain? Tidak kan?" katanya acuh lalu menyantap hidangan yang baru saja datang. Sedangkan Dhika tidak berniat ikut campur dan hanya makan sambil mengelus bulu Uta.
"Lalu bagaimana caranya mencari si Jalu itu? Mungkin saja dia sudah menikah atau bahkan mati" kata Partha dengan dingin.
"Jalu?" beo si Pedagang gado-gado yang diam-diam menyimak mereka. "Ada apa kalian mencari seseorang yang bernama Jalu?"
Partha dan Dara tersendak begitu si Pedagang bertanya. Keduanya saling tatap tapi melemparkan pandangan pada lelaki paruh baya yang tengah menghaluskan bumbu kacang.
"Kami ingin mempertemukannya dengan Puspa Asih. Apa anda mengenalnya?" Dara bertanya dengan antusias.
"Oh tidak... Ketika orang tua mereka tidak merestui keduanya, maka dewa pun mengutuk mereka. Sekalipun Jalu orang sakti tapi dia tak berdaya" tutur lelaki itu seolsh mengetahui cerita antara Puspa dan Jalu.
Dika mulai tertarik dengan pembicaraan ini. Ia segera menelan makanannya dan bertanya, "Memang kutukan apa?".
"Kutukannya lebih berpengaruh pada Puspa Asih, konon ia akan kehilangan wujudnya jika memaksa bersama dengan Jalu".
Sial, tanpa sadar Partha menepuk jidatnya ketika mendengar kata kutukan. Ia jadi tidak yakin dapat mempertemukan kedua orang itu.
"Tapi jika kau ingin menemui Jalu, dia tinggal di ujung pesawahan sana. Biasanya ia bersemedi di sungai dekat gubuknya".
***
Setelah mendapat keterangan dari penjual gado-gado, ketiganya pun bergegas menyambangi rumah Jalu sesuai arahan yang disebutkan.
Dengan melintasi hamparan sawah yang luas, akhirnya nampak juga sebuah gubuk tua yang memiliki hawa suram.
"Permisi" seru Partha dari depan pintu gubuk.
Tak lama kemudian muncul lah seorang pria muda dari dalam. Apakah ia anaknya Jalu?
Partha memandangi pria itu dari atas ke bawah sampai hingga pandangannya terhenti pada bercak merah di lengan lelaki tersebut. Matanya hampir melompar karena tak percaya.
"K-kau-"
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 17 Episodes
Comments