Malam telah tiba, Ki Sadam pun melihat Partha yang tertidur lelap sejak sore tadi. Lelaki itu sampai mendengkur dengan air liur yang mengalir.
Melihat pemuda di hadapannya membuat Ki Sadam teringat sang Anak saat bujang, namun kini dia telah tiada karena suatu insiden.
"Abah, ku mohon tetap disini ya dengan si Eneng... Jaka izin pergi ke medan tempur melawan mereka".
Itulah kalimat terakhir yang Ki Sadam dengar dari putranya. Saat itu ia ditarik untuk bersembunyi di ruang bawah tanah yang sudah disiapkan bersama sang Cucu.
Namun sampai kini putranya tak kunjung kembali. Orang bilang Jaka telah terbunuh dan jasadnya dibawa oleh mereka.
Partha mengerenyit dalam tidurnya, ingatan Ki Sadam terhubung ke dalam mimpinya.
Dalam game ini, ingatan dari NPC yang berhubungan dengan story akan terhubung otomatis kepada player. Entah lewat mimpi atau terbayang dalam benaknya.
Ki Sadam tidak sadar dengan perubahan air muka Partha. Ia pun meniup pelita terakhir hingga gubuk itu menjadi gelap gulita, lalu tidur di sudut lain ruangan.
***
Red mendatangi tanah landai yang menjadi tempat kejaidian perkara antara White dan Partha. Ia pun turun dengan diterangi api yang keluar dari tangannya.
Lelaki itu datang sendiri karena dia dan teman lainnya berpercar.
Red memandang ke tepian sungai. "Kau benar-benar melakukannya, Putra" tanya lelaki itu meski Putra tidak ada di hadapannya. Tapi ia harap Putra mendengarnya lewat sistem.
Red menghela nafas seraya membetulkan letak topengnya.
"Fire!"
BUSHHH!
Api yang tadinya hanya ada di tangan kini menjalar ke seluruh tubuh dan berkobar lebih besar.
"AAAAA!" suara melengking seorang wanita sontak terdengar menyakiti telinga.
Ternyata ada sesosok hantu wanita berambut panjang dengan kulit pucat mencoba menyerang Red dengan melayang di belakangnya.
Hantu wanita yang biasa disebut Kunti itu langsung terbakar tanpa sisa.
"Kalian bukan levelku" ucap Red alias Ryan dengan dingin. Ia berbalik dan mendapati gerombolan Kunti yang siap menyerang.
Di Neosantara akan muncul MOB'S tipe ghost ketika malam hari. Biasanya mereka banyak berkumpul di alas atau hutan, bataran sungai maupun tempat sepi lainnya.
***
Dugh! Dugh! Dugh!
Nampaknya Partha tak perlu menunggu esok tiba, karena kini hal yang dia cari menghampirinya sendiri.
Ya, pada pukul dua dini hari mereka datang memporak-porandakan desa.
Awalnya Partha tak sadar, tapi teriakan warga dan Ki Sadam membuatnya terjaga.
"Aki ada apa!?" tanya Partha yang masih linglung.
"Mereka datang, Nak! Mereka pasti ingin membantai kita karena menolak tunduk padanya".
Partha terperanjat. Dengan segera lelaki itu melompat dari atas balé menuju keluar gubuk.
Namun tepat di hadapan Partha, tengah berdiri sesosok makhluk bungkuk dengan nafas yang mengeluarkan hawa.
Makhluk itu mungkin setinggi dua meter dengan kulit hijau dan rambut hitam yang berantakan. Hampir saja Partha menabrak makhluk jelek itu ketika membuka pintu.
Karena terkejut, Partha reflek melompat ke belakang seraya menyiapkan posisi siaga.
"Ya Gusti! Iblis!" Ki Sadam pun sama kagetnya ketika mendapati makhluk itu.
"Partha... " panggil pria tua itu dengan gemetar.
Partha pun menggeser tubuhnya untuk membentengi Ki Sadam. "Aki sembunyi saja di belakang! Aku titipkan Uta padamu. Serahkan mereka padaku".
Seperti de javu, Ki Sadam menggelengkan kepalanya. Dia tidak mau sembunyi dan kehilangan lagi. Namun ketika ia hendak maju, Partha dengan sigap melompat seraya menghunuskan anak panahnya seperti tombak mini.
Aneh memang, tapi kita anggap saja ini gaya bertarung yang baru.
"Hiahh!" seru Partha sambil menebas.
Si Iblis pun melakukan perlawanan dengan mengayunkan kuku runcingnya yang hitam dan berhasil melukai lengan Partha. Lelaki itu pun terlempar menubruk dinding gubuk yang terbuat dari anyaman bambu.
"Partha!" seru Ki Sadam khawatir, tapi dia tidak berani melewati iblis yang tengah menggeram dengan liur yang berjatuhan.
"Ugh! Meski serangan kita sama-sama mengandalkan physical attack daripada magic attack. Tapi dia tetap makhluk supranatural" keluh Partha yang baru sadar kalau serangannya tidak akan begitu sakit jika tanpa mana atau di aliri sihir.
"Utaaa!" peliharaan Partha tiba-tiba melompat menghampirinya, makhluk kecil itu naik ke puncak kepalanya lalu mengeluarkan aura biru yang terasa dingin.
Partha pun melihat bar mana yang asalnya hanya satu baris menjadi lima baris. Circle mana dalam tubuhnya bertambah drastis.
"Roargghh!"
Iblis itu ingin menampol Partha lagi, namun tangannya berhasil ditahan menggunakan anak panah.
Si Iblis pun meraung ketika panah itu menembus lengannya hingga bercucuran darah.
"Enyah kau!" kata Partha sambil menendang iblis yang berada tepat di depan pintu hingga tersungkur keluar gubuk.
Bukh! Suara debuman terdengar.
Partha mundur sedikit ke area minimal untuk membidik.
Set.
Dengan menambahkan aliran mana pada serangannya, iblis itu terbakar oleh api berwarna biru.
Partha menghela nafas lega, namun ia masih mendengar teriakan para warga di luar sana. Ia pun menoleh ke belakang, mencoba memeriksa keadaan Ki Sadam yang tengah terduduk lemas di ambang pintu kamar.
"Berlindung lah disini Ki, tolong jangan pergi sebelum aku kembali" pinta pemuda itu sambil tersenyum penuh arti.
Ki Sadam tak menjawab, namun ia melepas golok yang terikat di pinggangnya.
"Bawa ini, kulihat kau bertarung dengan anak panah dalam jarak dekat. Ku harap ini lebih membantu" kata lelaki tua itu dengan mata berkaca-kaca.
Tanpa mau membuang waktu, Partha mengucapkan terima kasih lalu ia melompat keluar gubuk dan berlari.
***
Satu kata yang mampu mendeskripsikan keadaan saat ini adalah "Kacau".
Partha terperangah ketika mendapati beberapa gubuk yang terbakar dengan orang yang berlarian sambil mengangis.
"Abah tolong!"
Terdengar teriakan anak kecil di dekatnya. Dengan segera Partha melesatkan anak panah kepada makhluk yang berwujud banteng.
Merasa terganggu, iblis banteng itu menggeram menatap Partha yang berani melukainya. Ia pun menjatuhkan anak kecil yang sebelumnya digenggam.
Layaknya banteng, iblis itu mengambil ancang-ancang untuk menubruk Partha.
"Stun!" Namun sebelum berhasil, ia sudah lebih dulu di bekukan oleh skill milik Partha.
Saat ini Partha naik 2 level karena mendapatkan Exp yang banyak setelah menghabisi iblis pertama. Kini dia sudah level 5 sedangkan iblis di hadapannya level 7.
"Sepertinya aku akan panen Exp"
"Kau siap Uta?" tanya Partha pada Uta yang masih bertengger di kepalanya sambil terus mengalirkan mana.
"Uthaaa!" seru Uta dengan semangat 45.
"YA! Ayo lawan!" seru Partha sambil melesatkan bidikannya berkali-kali.
Si Banteng terus berusaha menyeruduk tubuh Partha yang lebih kecil darinya, tapi selalu saja meleset karena targetnya lincah.
"Baiklah, akan ku gunakan goloknya Aki!"
Partha pun melepas golok yang gagangnya berbentuk ular itu sambil berlari lalu melompat ke kepala si Banteng.
"HIATTT!"
Partha mendarat dengan membelakangi musuhnya. Dan secara dramatis iblis itu berbakar api biru dan lenyap ke alam bala.
Tak henti sampai disana, ternyata para iblis hendak pergi dari desa sambil membawa beberapa gadis.
Partha melihat sekitar dan mendapati para pemuda dan pria dewasa yang terkapar tak berdaya menatap warga mereka yang diculik.
"Kita harus mengejar mereka!" seru Partha yang geram kepada iblis-iblis itu.
Semua orang menoleh kepadanya. Partha yang menyadari telah menjadi pusat perhatian pun langsung kikuk.
[ Jangan ragu untuk mempengaruhi warga sekitar Tuan. Semakin banyak yang percaya padamu maka semakin tinggi kharisma yang kau punya. Akan banyak keuntungan yang didapat. ]
Partha mengerenyit, bisa-bisanya sistem baru muncul setelah mengalami insiden hanyut di sungai.
Belum sempat menjawab sistem, tiba-tiba seorang pemuda berkulit cokelat dengan tubuh tegap mendatangi Partha.
"Kau ingin mengejarnya?" tanya pemuda itu seraya menenteng golok yang lebih besar dari milik Partha.
Awalnya Partha terdiam, lalu ia mengangguk mantap. "Kita harus menyelamatkan orang-orang yang telah diculik".
"Biarkan aku ikut!" katanya dengan wajah memohon.
"Kami pun akan ikut jika seorang petualang ikut mendampingi" beberapa pemuda lain pun ikut menimpali.
Partha tak menyangka, sepenjang hidupnya dia belum pernah memberi pengaruh kepada orang lain. Dia tak menyangka akan ada orang yang mengikutinya.
"Nama Akang siapa?" tanya pemuda berkulit cokelat itu.
"Partha, namaku Partha."
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 17 Episodes
Comments