10. Mayara

Partha merasakan hawa dingin menyelimuti dirinya. Ia menggigil ketika hawa itu semakin menusuk kulit.

"Hae! Cepat bangun dong, mana ku bisa-bisa habis karenamu"

Sebuah suara cempreng memasuki indra pendengaran Partha. Lelaki itu pun membuka mata.

Cukup lama ia diam seperti orang kesambet karena memikirkan kenapa dia bisa begini.

"Sadar juga akhirnya!" seru suara tadi dengan lega.

Partha pun menoleh dan mendapati seorang wanita berambut merah panjang yang terurai. Matanya berwarna senada dan terlihat membara terbakar emosi.

Lelaki itu mendudukan dirinya lalu bersandar pada batang pohon. Ia menoleh pada perempuan yang sedang mengobatinya dengan wajah di tekuk.

"Aku tidak memintamu melakukan itu, Nona" kata Partha sinis. Sedangkan si Gadis terbelalak, ia berpikir kalau lelaki ini tidak tau diri.

"Hei aku menolongmu karena ingin meminta sebagian item yang iblis itu drop, ya!" katanya dengan suara cempreng.

Partha mendengus, badannya masih lemas dan tidak mau berdebat.

"Oh iya. Uta, dimana Uta?"

"Peliharaanmu sedang tertidur." tunjuk si Gadis tepat ke samping kanan Partha.

"Kau tidak memberinya makan ya, sampai dia lemas begitu?"

Partha mengerenyit, bukannya Uta lemas karena berbagi mana dengannya? Tapi kalau dipikir-pikir mungkin saja sih, seingatnya dia belum pernah memberi Uta makan.

"Dasar jahat!" olok si Gadis sambil memicingkan mata. Namun meski begitu, dia tetap lanjut mengobati.

Sekali lagi Partha melempar tatapan sinis.

"Diam bawel! Lagi pula kau siapa sih? Tiba-tiba datang lalu marah-marah" omel Partha yang merasa terganggu oleh sikap Gadis di sampingnya.

Gadis itu berdecih.

"Nyeh! Jangan panggil aku bawel! Namaku Dara!"

"Dara?" beo Partha yang merasa de javu, sepertinya dia tidak asing dengan nama Dara. Oh iya! Itu kan merk dagang yang sering lewat di iklan TV.

"Iya, namamu siapa?"

"Ihh kepo!" ledek Partha dan langsung dihadiahi cubitan keras di perutnya.

"Awww sialun! Ini masih sakit!" pekik lelaki itu sambil mendoba melepaskan cubitan Dara.

Dara pun tertawa mengejek. "Suruh siapa menyebalkan?" katanya lalu melepaskan Partha yang merintih kesakitan.

Rasa sakitnya masih membekas, mungkin kah kulitnya sampai membiru? Kalau iya, Partha tidak akan memaafkan gadis yang bahkan belum 5 menit ia kenal.

Singkat cerita Dara kembali fokus menyembuhkan Partha yang terluka cukup parah hingga Hp-nya sekarat, sedangkan lelaki itu diminta untuk istirahat saja agar tenaganya cepat pulih dan mereka bisa keluar dari hutan.

Tak lama kemudian, mereka akhirnya memutuskan untuk kembali ke desanya Ki Sadam.

Partha memangku Uta sepanjang perjalanan, ia mengelus bulunya dengan penuh kasih sayang sambil menatapnya iba.

"Maafkan aku merepotkanmu" bisiknya dengan lembut.

Grusuk. Grusuk.

Partha dan Dara langsung terdiam ketika mendengar suara semak di dekat sana. Matanya melihat ke kanan dan kiri, mencari tau siapa yang ada disana.

Dara pun langsung menarik Partha untuk bersembunyi di balik batang. Namun sayang, sesuatu di balik semak itu lebih dulu menemukan mereka.

Seorang lelaki berambut hitam pekat keluar dari semak dengan dandanan yang berantakan. Ia juga memakai topeng merak berwarna ungu. Yap, dia adalah Purple.

"Kau player?" tanya Dara yang berusaha menutupi rasa gugupnya. Purple pun berdeham ketika mendapati wanita cantik dihadapannya.

"Hm. Iya" jawab lelaki itu.

Alis Partha menukik, sepertinya dia tidak asing. Siapa ya?

Ah! Lelaki itu mirip dengan player yang mengejarnya kemarin. Apa dia juga berbahaya?

Sebelum Purple menyadari kehadirannya, Partha langsung menutupi wajahnya dengan poni yang menjuntai ke depan. Tak peduli jika dirinya terlihat seperti jamet.

"Kau?" panggil Purple pada Partha.

Partha mendongkak dengan gugup.

"Eh-Iya?" tanyanya balik.

Mata Purple pun memicing, mencoba meneliti Partha dari atas hingga bawah. Sepertinya dia ingat sesuatu.

Sedangkan di sisi lain Partha sudah senam jantung karena takut terjadi insinden pengejaran. Apalagi dia sedang bersama Dara, bagaimana kalau gadis itu malah dijadikan sandera?

Tanpa pikir panjang, Partha langsung berlari meninggalkan Purple sendiri. Ia menarik lengan Dara agar ikut dengannya.

"Oi tunggu!"

Sontak Purple mengejar mereka, lelaki dengan kepribadian kasar itu menggenggam erat kerambit di tangannya.

Jantung Partha berdegup kencang, terlebih ketika Purple berhasil mencegatnya. Lelaki itu memiliki gerakan yang senyap, sangat berbeda dengan kepribadiannya yang brutal.

"Cepat lari!" titah Partha pada Dara sambil mengoper Uta.

Dara yang bingung dan panik hanya menuruti apa katanya saja. Purple membiarkannya pergi karena yang ia incar adalah Patha.

"DIMANA PUTRA!?" bentak lelaki bertopeng itu.

Partha melempar tatapan bingung. "Siapa Putra?" tanyanya yang mengira jika Putra adalah nama seseorang.

Purple alias Sony menggeram. Ia pun melompat dengan kerambit yang siap mengkoyak tubuh Partha.

"Aku tidak tau siapa Putra!" tegas Partha sambil menghindar. Ia mengambil golok Ki Sadam yang mungkin kondisinya sudah tidak begitu tajam.

"Lalu kenapa kau lari, hah?"

"Aku hanya reflek" elak Partha sambil terus menahan serangan Purple.

Purple mendecih, "Ya reflek karna apa!?". Ia kembali mengayunkan kerambitnya kanan dan kiri.

"Dih ngegas mulu nadjong! Namanya reflek ya reflek aja!" kini giliran Partha yang ikut ngegas. Lelaki itu pun menendang perut Purple hingga terpental.

"Stun!" seru Partha sambil melesatkan satu anak panah lalu berlari pergi.

"Sialan kau!" geram si Lelaki bertopeng itu karena gerakannya tertahan. Ketika skill Partha hilang, ia pun langsung berlari mengejar.

Napas Partha semakin memburu ketika melihat Purple kembali menyusul dengan kecepatan yang mampu menandinginya.

Segala benda yang menghalangi jalan terus Partha terjang. Mulai dari ranting, daun, semak dan bahkan batang pohon yang melintang pun Partha lompati.

Sedangkan di belakang Purple mencoba mengindikasi ID milik Partha, namun dia berada di luar zona interaksi sehingga tidak dapat melihat profil player tersebut. Dirinya harus lebih dekat!

Sial. Partha tak melihat lagi pepohonan di depan, dan benar saja jika sebuah jurang tengah menantinya disana.

[ Lompat saja Tuan! Aku akan menjamin keselamatanmu ]

Partha terperangah mendengar suara sistem.

"Di depan jurang!" katanya dengan kesal namun tetap berlari lurus ke depan.

[ Di bawah terdapat tanaman menjalar yang dapat menahan anda ]

Ah baiklah, untuk kesekian kalinya Partha menuruti apa kata sistem. Sejauh ini sih perkataannya selalu benar.

"Tak bisa kabur kau-"

Raut wajah Purple berubah drastis. ia menatap tidak percaya pada Partha yang nekat melompat ke dalam jurang.

"Bye! Bye!" seru Partha setengah mengejek lalu terjun bebas.

***

Dara mendekap Uta yang masih terlelap dengan erat. Ah sial, karena panik dia jadi berlari tanpa arah. Dan juga bisa-bisanya dia berlari meninggalkan pria itu sambil membawa peliharaannya.

Samar-samar Dara mendengar sesuatu. Semakin lama semakin dekat. Suaranya seperti sesuatu yang jatuh dari atas. Dara pun mendongkak melihatnya.

"AAAAAAAAA!"

BRUK!

Dara terjungkal karena hampir tertimpa seseorang yang jatuh dari langit.

"Tolong woi jangan diem bae!" seru Partha dengan bahasa rumahnya yang tiba-tiba keluar. Ia tengah tergantung di antara tanaman menjalar dan ranting dengan badan terbalik.

"NGAPAIN DISANA KOCAK!?"

***

"Kang Partha!"

Sebuah suara datang dari arah depan. Lelaki beriris biru itu menajamkan matanya, melihat siapa yang datang. Dan ternyata mereka adalah pemuda desa.

"Akang baik-baik saja?" kata pemuda itu dengan logat Sundanya yang khas.

Partha pun mengangguk lalu menoleh pada Dara. "Mungkin iya. Untung ada dia" katanya dengan wajah datar.

"Ah iya, bagaimana keadaan Galuh?" tanya Partha yang teringat dengan kawan barunya itu. Seingatnya tadi Galuh terlihat lemas tanpa tenaga, ia khawatir pemuda itu kenapa-napa.

Lelaki di hadapannya menunduk. "Galuh masih terguncang karena kematian calon istrinya.. " tuturnya dengan lirih.

"Calon istri?" beo Partha dengan bingung. Setaunya hanya ada satu korban yang meninggal tadi, yaitu seorang gadis yang dimakan iblis.

Pemuda itu mengangguk, "Iya.. Calon istrinya Galuh itu cucunya Ki Sadam".

Sontak nafas Partha tercekat. Bagaimana mungkin? Mau bilang apa dia pada Ki Sadam?

Partha dan Dara akhirnya sampai di desa sebelum sore tiba bersama beberapa pemuda yang kembali menyusul mereka. Uta yang tadi tertidur pun kembali bertengger di kepala Partha.

Begitu memasuki gapura, lelaki itu langsung dihadang pelukan dari Ki Sadam.

"Syukurlah kau selamat, Nak... " ki Sadam mengangkat kepalanya yang berlinang air mata.

Partha tersenyum dengan bibir bergetar, ia kembali memeluk ki Sadam dengan erat.

"Maaf.. Aku gagal menyelamatkan cucumu... " Kata lelaki itu yang turut menumpahkan air mata. Rasa sesal hinggap di dadanya yang tidak dapat menepati janji.

Ki Sadam menepuk pundak Partha, "Tak apa. Kau berhasil menyelamatkan kami. Semua yang terjadi memang takdir yang tak bisa dipungkiri".

Mendengar itu Partha semakin membenamkan kepalanya pada Ki Sadam. Tak peduli dengan Dara yang menatap aneh kepadanya.

[ Level Up! 7 ]

Sebuah notifikasi pun muncul. Berkat membantai Iblis disana dan menyelesaikan quest, Partha mendapatkan banyak Exp dan item bagus. Ia juga mendapat 1000 poin.

"Terima kasih untuk ini, Ki. Dan maaf goloknya jadi rusak"

Partha menyodorkan golok milik Ki Sadam yang sebelumnya dia gunakan. Namun sayang, ujung golok itu patah karena terbentur.

Ki Sadam menatap Partha. "Tak apa, kau simpan saja sebagai kenangan" ucapnya sambil mengulum senyum.

Partha pun menerimanya.

"Terima kasih Ki... "

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!