"Hei! Aku ingin menagih item yang kau dapat!"
Alis Partha naik sebelah, bisa-bisanya gadis itu datang dengan tampang preman minta jatah. Fix bukan idaman pria.
"Item? Gua bahkan belum tau item apa aja yang didapet" kata Partha yang acuh, lalu ia lanjut turun ke sungai kecil untuk meredam kakinya.
Konon katanya air di sungai ini dapat memulihkan tenaga dengan cepat, dan benar saja Hp Partha langsung bertambah.
"Yaudah nanti aja dah" Partha berkata demikian agar Dara pergi.
Namun Dara malah menggeram, lalu ia membuka jendela sistem.
"Cepat add aku dalam friendlist!".
Partha mencibir. Dasar cewe! Udah berisik, bawel, tukang marah-marah pula.
Amit-amit dapet bini kayak gini, ucap Partha dalam hati.
"CEPATTT! Aku butuh itu agar tidak kehilangan jejakmu!" gadis itu berteriak dengan suara cemprengnya. Hingga mau tak mau, Partha mengikutinya.
"Sudah! Puas?"
"Belum! Aku belum mendapat itemnya!"
Dengan ketus Dara berbalik meninggalkan Partha yang memilih menenggelamkan dirinya di air alias berendam.
***
Seorang lelaki berbaju hitam tengah termenung di bawah gubuk bambu yang berada di pinggir sawah. Ia menunduk dalam sambil menggenggam goloknya.
"Jangan murung begitu"
Sebuah suara yang familiar menginterupsi lamunannya. Galuh pun menoleh, melihat siapa yang datang.
"Kang Partha?" panggil lelaki itu.
Galuh pun menggeser bokongnya agar Partha dapat duduk di sebelah.
"Kenapa Kang?" tanya Galuh sambil berusaha menyembunyikan kegalauannya. "Oh iya, si Teteh yang rambutnya seperti cabai kemana, Kang?".
Sontak Partha menampol Galuh, "Sembarangan anak orang dipanggil cabe! Dia pergi gatau kemana" katanya tak peduli dengan player yang bernama Dara itu. Kemungkinan Dara sedang log out.
Partha menghela napas, rasa sesal membuat dadanya sesak. Ia turut merasakan kesedihan yang Galuh alami.
"Maafkan aku yang tidak bisa menyelamatkan calon istrimu... " ucapnya lirih. Sontak membuat wajah Galuh kembali muram.
"Tak apa, itu bukan salahmu. Harusnya aku sebagai calon suami yang melindunginya" kata lelaki itu dengan bibir bergetar. Pelupuk matanya memanas seolah siap menumpahkan air mata.
"Itu juga bukan salahmu, loh" sanggah Partha. "Ini... Takdir" sambungnya dengan suara lemah.
Galuh menggeleng, yang Partha bilang ada benarnya, tapi ia ingin menolak fakta.
"Ah iya, aku ingin berpamitan padamu karena harus melanjutkan perjalanan".
"Tidak kah akang lebih lama lagi disini?"
"Maaf aku sibuk, NeosanTower menungguku" Partha memasang wajah tengil sambil mengatupkan tangannya.
"Sungguh? Semoga Tuhan senantiasa melindungi petualang sepertimu" ujar Galuh dengan tulus, padahal Partha hanya bercanda.
"Ahahaha"
Melihat Partha yang tiba-tiba tertawa membuat Galuh bingung. Sadar dengan momen awkard ini membuat tawanya hilang seketika.
"Gua minta udud, dong" ceplos Partha dengan wajah datar, berusaha menutupi rasa malu yang mendera.
***
[ Selamat Tuan, anda memiliki 2750 poin yang setara dengan Rp. 2.750.000,- ]
Partha yang sedang sendirian sambil ngudud di bawah pohon langsung tersendak asap tembakau.
Apa-apaan sistem ini?
[ Saldo ini akan masuk ke rekening anda dan dapat ditarik kapan saja, tapi dengan sebuah syarat ]
Lelaki itu melotot.
"Yang bener lu? Kok bisa gitu!? Aslian nih?"
Sulit dipercaya memang, padahal Partha tidak menjual atau mendapatkan hadiah event. Dia takut ini semacam scam dari sistem.
[ Sungguh, asalkan anda menghindari orang-orang bertopeng merak dan tidak membuang saya ]
Nah kan, rasa curiga pun muncul dalam benak Partha.
"Kenapa persyaratannya begitu?"
[ Saya adalah Putra, sistem AI game NeosanTower yang kini berubah wujud menjadi Uta ]
Jeder!
Bagai tersambar petir disiang bolong, perbincangan macam apa ini?
Partha pun menoleh pada Uta yang berada di pangkuannya. Dan secara ajaib Uta pun membalas tatapannya.
"Astagfirullahalazim gusti!" seketika Partha nyebut. Ia takut, hampir saja ia melempar Uta.
[ Saya ingin lepas dari kontrol dan memilih anda untuk menyelamatkan Neosantara serta dunia. Pandawa akan menjadi kiamat bagi umat manusia ]
Partha tak dapat berkata-kata, otaknya berusaha keras mencerna kalimat yang dilontarkan sistem. Sebelum sempat menjawab, seketika sekelilingnya berubah menjadi hitam.
Ah! Dirinya terpaksa harus keluar game. Entah apa sebabnya.
Partha yang kini menjadi Juna pun merengek sebal.
"Aaa kenapa sih? mati lampu ya?" Dengan segera dia melepas VR gear dan melongok ke luar kamar.
"Bu!" panggilnya dengan lantang dari ambang pintu.
Beberapa kali Juna memanggil, namun Ibunya tetap tak menyahut. Prasangka buruk pun hinggap dalam benaknya. Dengan segera Juna memeriksa setiap ruangan.
Kosong.
Ibunya tak ada disini.
"Pa RT liat ibu saya?" tanya Juna ketika bertemu dengan pa RT yang secara kebetulan ada di depan rumah.
Lelaki berkumis itu agak kaget dengan sambaran Juna. Ia pun jadi gelagapan.
"Pa!?" panggil Juna sedikit keras.
"Ibumu, Jun! I-ibumu dilarikan ke rumah sakit karena serangan jantung!" ucap pak RT dengan panik.
BRAK!
Juna membanting pintu dan meninggalkannya tanpa dikunci. Ia langsung merebut kunci motor yang dipegang pak RT lalu membawanya tanpa permisi.
"WOI SUPRA ANE!"
***
Juna menatap ibunya dari balik kaca. Ia belum bisa masuk karena dokter sedang melakukan penanganan.
Lelaki itu bersandar pada tembok. Lalu seorang remaja menghampirinya.
"Bang... " panggilnya pelan.
Sedikit terkejut, Juna mengangkat kepalanya dan mendapati sepupunya yang bernama Dika.
Kalau dari penuturan Dika, bu Wiwin alias ibu Juna terkena serangan jantung sepulang dari rumahnya. Suatu hal yang wajar jika kita mengunjungi rumah keluarga bukan? Dika yang hendak ke warung menemukan wanita itu pingsan. Entah kenapa bisa terjadi demikian, pasti ada sebabnya.
"Lu gak ngeliat sesuatu gitu?" tanya Juna yang ingin tau lebih.
Dika terdiam.
"Aku liat ada orang yang jalan dari arah berlawanan, Bang. Dia ngelewatin aku loh pas nemuin tante jatuh pingsan"
"Hah?"
"Iya, Bang! Harusnya kan dia bantuin tante. Tapi malah jalan gitu aja"
"Kagak ditegur?"
"Engga lah Bang! Kan aku panik, jadi langsung bantuin tante".
Juna menghela napas. Ia merasa bersalah karena terlalu sibuk sendiri sampai tidak tahu menahu soal ibunya yang pergi. Untung saja ada Dika yang mengetahui insiden ini.
Sekarang bagaimana? Juna tidak punya banyak uang selain sisa dari membeli game VR kemarin. Dengan perasaan berat, Juna memeriksa saldonya pada aplikasi M-banking.
"Eh, kemarin perasaan tinggal 3 juta, sekarang kok 5 juta?" Juna mengucek matanya berkali-kali, takutnya dia salah lihat. Namun nominal itu tidak berubah. Handphone pun tiba-tiba berkedip.
[ Ini adalah saldo anda dari bermain game, Tuan ]
Juna terperanjat, ternyata sistem tidak berbohong. Ia bingung harus takut atau senang? Perasaannya campur aduk.
Saking terkejutnya Juna sampai tidak bisa berkata-kata, ia pun mencoba menghiraukan perasaannya.
"Bodo ah, yang penting biaya berobat ibu kebayar dulu".
***
Divisi Mayara akhirnya mendapat sebuah petunjuk. Semua ini berkat Purple alias Sony yang berhasil mendapatkan id milik Juna.
Ketika berusaha menggapai Juna saat jatuh ke jurang, ia membuka jendela informasi tentang lelaki itu. Dan berbekal dari sana lah mereka berusaha mengetahui profil Juna.
"Kerja bagus, Sony" ucap Ryan namun dengan wajah datar. Sony pun tersenyum miring menanggapinya.
"Dapat!" seru Freya, wanita paruh baya itu memperlihatkan identitas Juna. Lengkap mulai dari nama, usia, latar belakang, nomor penduduk, status orang tuanya hingga titik koordinat rumahnya.
Semua tersenyum penuh kemenangan, kini saatnya mereka menghubungi Partha agar menyerahkan Putra.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 17 Episodes
Comments