Kutukan Dewa

Partha memandangi pria itu dari atas ke bawah sampai hingga pandangannya terhenti pada bercak merah di lengan lelaki tersebut. Matanya hampir melompat karena tak percaya.

"K-kau-"

...•...

...•...

...•...

...PARTHA...

...The Legend of NeosanTower...

......

"Siapa?" lelaki muda berparas tampan itu melempar tatapan penuh selidik kepada Partha dan kawan-kawan. Matanya yang berwarna merah menelisik dari ujung kaki hingga kepala.

Tapi disisi lain, Partha, Dhika juga Dara menatap kagum kepada Jalu yang nampak tampan dan awet muda seperti usia 25 tahun.

Padahal mereka kira jika Jalu adalah pria matang yang bahkan usianya sudah paruh baya. Mengingat tampilan Asih yang sudah berumur kala itu.

"Pergi saja" ucap pria itu dan hendak menutup pintu lagi saat tau kalau yang datang adalah orang asing.

"Tunggu dulu, kami petualang yang ingin bertemu Jalu!" dengan sigap Partha menahan pintu tersebut.

Untuk beberapa saat pandangan mereka beradu.

"Jangan ganggu aku!" balas sang Pemilik Gubuk setengah berseru.

"Dengar dulu! Kami mencari Jalu dan punya urusan dengannya!".

"Pergi!".

"Tidak! sebelum kami bertemu Jalu!"

Pria bermata merah itu mengalah, mengurungkan niatnya untuk menutup pintu lalu berkata, "Dengar.. Aku adalah Jalu. dan tanpa diberi tau, aku pun sudah tau tujuan kalian--".

Jalu menghela nafas sejenak. "--Sudah banyak petualang yang berusaha melakukannya, tapi tetap saja itu mustahil" ujarnya dengan lirih. Cekalan pada gagang pintu pun melemah.

Partha akhirnya bernafas lega.

Lalu Dara tiba-tiba bersuara. "Ayolah, kita bisa mencobanya sekali lagi. Kau kan lelaki! Kalau memang mencintai Asih maka perjuangkan!"

Jalu menatap lurus pada Dara. "Semua yang datang juga bilang begitu... Bukannya tak berjuang, tapi kini sudah pasrah setelah berbagai cara kami coba. Terlebih lagi aku tidak mau wujud Puspa Asih benar-benar lenyap".

Lelaki bermata merah itu menunduk, menyembunyikan raut wajahnya yang sendu.

Partha dan kawan-kawannya terdiam. Mereka jadi ragu bisa menyelesaikan quest ini setelah melihat Jalu yang putus asa.

Tapi Uta tiba-tiba melompat ke arah Jalu. Partha tentu saja terkejut, untung saja Jalu sigap menangkapnya.

"Ei-ei Uta~ itu tidak sopan" tegur Partha yang panik dan hendak mengambil peliharaan miliknya.

Bukannya menurut, Uta malah memanjat naik ke bahu Jalu.

"Uta ta!" seru makhluk mungil itu sambil menepuk bahu Jalu beberapa kali.

Pria yang tengah disinggahi Uta mengernyit bingung. "Kau mencoba membujukku?" tanyanya seolah mengerti yang Uta katakan.

"Uta!" seru makhluk itu untuk mengiyakan. Lalu kembali mengoceh dengan suara lucunya sambil menggoyangkan ekor.

"Apa? maksudmu.. kalian janji akan membantuku sampai berhasil?" lagi-lagi Jalu menanggapi Uta seperti mengerti ucapannya.

Dan ajaib! Uta mengangguk.

Partha, Dhika dan Dara sampai tak percaya dengan apa yang mereka lihat. Sebuah interaksi yang berbeda namun bisa saling memahami. Patut diacungi jempol!

Jalu melangkah melewati orang-orang asing itu. Dia berjalan ke arah tanah lapang yang berada tepat di depan rumahnya. Nampaknya itu tempat yang biasa digunakan untuk berlatih.

Setelah sampai di tengah lapangan, Jalu pun berbalik menghadap Partha dan kawan-kawan.

"Baik, tapi aku ingin menguji kalian terlebih dahulu. Apakah kalian cukup kuat dan dapat diandalkan atau tidak?".

Angin tiba-tiba berhembus membelai rambut panjang nan tebal milik Jalu.

Partha nampak menyeringai. Ia suka ini.

"Baiklah! Biar aku saja yang maju!'' ucapnya dengan penuh semangat. Partha melempar jubahnya lalu melompat tinggi hingga tanah bergetar karena sentakan kakinya.

"Kau ini!!" pekik Dara kesal karena terjungkal. sedangkan Dhika hanya bisa meringis sambil mengelus pantatnya yang sakit.

"Aku serahkan serangan pembukanya padamu, Kisanak!"

Mendengar itu membuat Partha menyeringai semakin lebar.

"Weapon!"

Partha memanggil senjatanya lalu melesatkan beberapa panah ke arah Jalu. Namun sang Lawan dapat menghindar dengan salto kebelakang.

"Yah lemah sekali. Sekarang giliranku, GrimmWolf Soul! " tanpa disangka tenyata Jalu memanggil Mystic miliknya.

Seekor serigala hitam dengan bekas luka di seluruh tubuhnya pun muncul. Ia pun melolong panjang sambil menyebarkan aura intimidasi yang kuat.

"Dahsyat sekali!" komentar Dhika yang seketika jatuh lemas karena efek area dari GrimmWolf.

Partha yang baru mendarat pun langsung bergidik ngeri. Jakun di lehernya naik turun karena gugup.

"Bodohnya Partha, dia Main serang saja tanpa tau kalau lawannya Viper Class" rutuk Dara sambil menggigit jarinya sendiri. Ia dan Dhika hanya bisa menonton dari kejauhan.

"Putra, apa kau punya rencana?" tanya Partha dengan berbisik pada Uta yang bertengger ke kepalanya.

[Aku akan mengalirkan mana padamu, Tuan. Jenis serigala biasanya memiliki koloni, dan GrimmWolf pasti akan memanggilnya jika tidak segera dihentikan]

Partha mengangguk.

"Baiklah, terdengar merepotkan yah"

Partha akhirnya memposisikan kuda-kuda sambil mengarahkan panahnya ke arah GrimmWolf yang berlari mendekat. Ia melesatkan panah dengan tempo cepat.

"Bukan kah dia hanya Eagle Class?" tanya Jalu pada dirinya sendiri begitu melihat mana yang mengalir pada serangan Partha.

"AUUUUU!" GrimmWolf kembali melolong karena bahunya tertusuk panah.

"GrimmWolf!" seru Jalu karena terkejut.

"Hei, jangan mengabaikanku dong!"

Sulit dipercaya, Partha tiba-tiba muncul di belakang Jalu seraya mengayunkan golok berbentuk kepala ular.

Jalu berhasil menangkis tangan Partha dan menendangnya untuk menjaga jarak.

"GrimmWolf, Grim Claws! " seru Jalu lalu Mystic nya kembali datang untuk menyerang Partha.

Lelaki itu dicakar secara brutal oleh GrimmWolf. Meski berhasil membuat barrier, tapi nampaknya tidak akan bertahan lama dan dirinya terus dipukul mundur tanpan celah.

"Aku tidak sanggup melihatnya" gumam Dhika sambil menutup mata. Dara juga nampak frustasi melihat Partha yang terpojok.

"Utaaaa!" makhluk mungil itu berseru mengatakan sesuatu.

Seolah mengerti, Partha pun menyahut. "Apa? Baiklah!"

Tanpa disangka ternyata Partha merunduk untuk menghindari cakaran GrimmWolf dan dengan sigap bergerak ke bawah perutnya.

Jalu nampak tak percaya dan terpukau dengan kelincahan Partha.

Keduanya pun akhirnya terguling ke arah berlawan. Tapi sebelum kembali diserang, Partha langsung menghujani GrimmWolf dengan panah dan berlari menghadang menggunakan golok.

"HIAAAATTT!" seru Partha sambil mengayunkan senjata.

KRAK!

Siluet GrimmWolf pun lenyap karena intinya terlepas.

Namun tak sampai disana, Jalu muncul untuk memukul Partha dan berhasil di tangkis.

Nampak jika Partha mengunci Jalu dengan golok di lehernya. Dan Jalu pula mengunci Partha dengan tangan yang mengepal disertai aliran mana namun dapat berakibat fatal karena mengarah ke ulu hati.

"HENTIKANNN!"

Pekikan itu sukses mencuri atensi dua pria yang sedang saling mengunci serangan.

Mereka menoleh ke arah Dara yang menjadi sumber suara. Wanita itu berlari ke tengah lapangan lalu memisahkan keduanya.

"Sudah cukup! Kalian seri. Kalau di lanjut nanti malah tidak bisa menjalankan misi. Huh!" tutur Dhika yang ikut mendekat.

Tanpa aba-aba dia langsung mengambil inti GrimmWolf dan mengalirkan mana untuk memulihkannya.

Jalu tersenyum. Ia pun berjalan mendekati Dhika lalu meraih bahunya. "Terima kasih, ternyata kau anak yang baik ya? " ucapnya dengan tulus.

Dhika pun turut membalas dengan senyuman hangat.

Jalu pun mengangkat kepalanya, ia memandang Partha, Dhika dan Dara secara bergantian. "Baiklah, aku pikir kalian dapat diandalkan... Mohon bantuannya"

Akhirnya pria tampan itu bersedia memberikan kesempatan untuk dirinya sendiri maupun tim party milik Partha, untuk memperjuangkan cintanya pada Puspa Asih.

***

"Kami tak mau basa basi, kita semua sudah tau awal mula-nya" ujar Partha memulai pembicaraan setelah semuanya dipersilahkan masuk ke dalam gubuknya Jalu.

Jalu bersedekap dada, "Ya, aku juga"

"Baik, jadi sebelumnya apa saja yang sudah coba kau lakukan?" tanya Partha to the point.

"Aku bahkan tidak bisa memasuki ladang edelweiss karena barrier yang dibuat dewa akibat kutukan Ayahnya Asih yang tidak merestui kita." ujar Jalu sambil menunduk dalam.

"Restu? Apakah kau sudah menemui Ayahnya Asih untuk meminta restu lagi?" kali ini Dara yang bertanya, dan dijawab oleh gelengan kepala.

Oh, Astaga.

"Itu adalah satu-satunya cara yang belum aku coba. Dan aku sadar akan hal itu. Hanya saja... sulit sekali untuk menemui beliau".

Partha dan Dara mengangguk paham dengan rumitnya posisi Jalu. Ayahnya Asih pasti enggan menemui pria yang membuat anaknya menjadi pembangkang.

Disisi lain, Dhika hanya diam menyimak. Ia berusaha mencerna pembahasan mereka. Tapi apalah daya, dirinya terlalu kecil untuk memahami urusan orang dewasa.

[Tuan, aku menemukan beberapa cara untuk mendapatkan hati Ayahnya Puspa Asih]

Tiba-tiba Putra bersuara. Partha yang mendengar itu langsung antusias.

"Apa itu?" tanyanya setengah berbisik.

[Menurut data, orang tuanya tak merestui karena berselisih paham. Orang tua Puspa Asih tidak ingin anaknya dekat dengan orang sakti terlebih lagi dengan Jalu yang antah berantah asal-usulnya]

[Kita hanya perlu meyakinkannya, Tuan. Karena sebelumnya Jalu juga terlalu ragu karena takut Puspa Asih kehilangan wujudnya]

Partha mengangguk-angguk setuju.

"Baiklah kawan-kawan. Aku punya rencana... "

...~BERSAMBUNG~...

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!