[Kita hanya perlu meyakinkannya, Tuan. Karena sebelumnya Jalu juga terlalu ragu karena takut Puspa Asih kehilangan wujudnya]
Partha mengangguk-angguk setuju.
"Baiklah kawan-kawan. Aku punya rencana... "
...•...
...•...
...•...
...Partha : The Legend of NeosanTower...
...Happy Reading!...
Kali ini Partha dan kawan-kawan langsung bergegas menuju ke arah utara, yaitu kampung halamannya Puspa Asih. Mereka semua sampai tepat sebelum matahari tenggelam.
Tapi sebelum menyambangi Ayah sang Gadis. Jalu yang melihat Partha dan kawan-kawannya kelelahan pun menawarkan mereka untuk mencari penginapan terlebih dahulu dan makan bersama.
"Meskipun ini sebuah desa, tapi cukup sering disambangi orang-orang karena terletak pada jalur perdagangan" tutur Jalu sambil memperlihatkan desa yang nampak lebih maju dari desanya ki Sadam.
"Oh.. Pantas saja banyak preman, ya?" ucap Dhika dengan polos. Jalu yang mendengarnya pun mengangguk tanpa sadar.
Tapi kening Dara mengkerut. "Eh? Kau tau darimana?" tanyanya heran. Padahal kan ini kali pertama mereka kesini.
"Coba lihat, disana ada pedagang yang dijegal oleh orang-orang menyeramkan!"
Semua menoleh ke arah yang ditunjuk Dhika. Dan benar saja, ada preman disana. Para preman itu nampak mengepung sebuah gerobak berisikan karung beras yang dibawa oleh sekelompok pedagang.
"Hahh... Yang benar saja... " desah Partha dengan suara lirih. Sungguh dia terlalu lelah untuk bertarung lagi.
"Tak bisa dibiarkan!" untung lah Jalu dan Dara maju lebih dulu tanpa diminta. Mereka berdua pun maju tanpa ragu.
Terlihat dua sejoli itu mengeluarkan aura intimidasi yang kuat hingga hampir semua orang disana dapat merasakannya.
Dhika berdecak kagum, "Woh, aura mereka sama ya?" tanyanya pada pada Partha yang masih setia berdiri disisinya.
Dhika menoleh pada sepupunya itu, "Kakak tidak berniat membantu mereka?" tanyanya heran. Biasanya kan Partha yang paling semangat kalau bertarung.
Partha hanya mengedikkan bahu sebagai jawaban. Lalu fokus melihat aksi kedua temannya yang hendak menghadang preman.
"Siapa kau? Kami tidak punya urusan dengan kalian!" salah satu preman mencoba untuk mengusir Jalu dan Dara. Nampak kelompok kriminal itu langsung siap siaga mengeluarkan golok dari sarungnya.
Tanpa menjawab, Jalu mengeluarkan kembali gelombang intimidasi yang lebih kuat. Rasanya seperti di hadang angin dingin sampai lutut mereka lemas seperti jelly hingga merinding ketakutan.
"Kembalikan uang dan barang pria itu sekarang juga!" seru Dara sambil mengayunkan tombaknya ke salah satu preman. Dengan sengaja gadis itu melempar tatapan mematikan.
"Enak saja! Berani-beraninya kalian--" belum sempat menyelesaikan kalimatnya, preman itu langsung terdiam saat mata tombak milik Dara menebas bajunya hingga sobek seketika.
Wajah para Preman langsung pucat pasi ketika sadar jika lawannya bukan orang biasa. Mau tak mau mereka pun menyerahkan barang rampasannya dan lari tunggang langgang.
"Cih, lihat saja nanti!".
Melihat masalah sudah selesai, Dhika dan Partha menghampiri mereka.
"Kalian baik-baik saja?" tanya Dhika kepada kelompok pedagang tersebut. lalu dibalas dengan anggukan.
Pria paruh baya yang sepertinya pemilik barang dagang itu berlutut. "Terima kasih, anak muda! Terima kasih banyak! Entah apa yang akan terjadi jika kalian tidak datang" katanya sambil hendak bersujud namun langsung dicegah Jalu.
Jalu mengangkat bahu Pria itu agar tegak kembali. Ia menarik ujung bibirnya membentuk senyuman. "Tak apa, sudah kewajibanku untuk membantu yang membutuhkan selagi mampu" balas Jalu dengan tulus.
Plak!
Dara turut mendekat ke arah Jalu. Gadis itu menepuk pundak kawannya dengan sedikit keras.
"Kau memang baik, pantas saja Puspa Asih jatuh hati padamu" puji gadis itu dengan sedikit menggoda. Partha dan Dhika pun tertawa mendengarnya.
Tapi wajar jika Jalu bersikap begitu. Dia tidak hanya sakti tapi juga berbudi. Dan entah apa alasannya sampai tidak disukai oleh Ayahnya Puspa Asih. Padahal Jalu adalah gambaran sempurna dari lelaki idaman.
"Sebagai ucapan terima kasih, akan aku teraktir kalian makan bersama" kata si Saudagar lalu menggaet tangan Jalu ke sebuah rumah inap yang memiliki warung makan.
Partha dan kawan-kawan, serta sekelompok pedagang itu pun pergi bersama.
Dan berkat kejadian itu Partha, Dhika dan Dara mendapatkan koin emas yang lumayan banyak dengan beberapa ramuan pemulih.
***
Selepas makan malam, Partha dan kawan-kawan akhirnya memutuskan untuk menginap di tempat tersebut. Sedangkan si Saudagar memutuskan untuk pergi ke tempat tujuannya karena sudah dekat.
"Permisi Nona, kami pesan kamar untuk empat orang" ucap Partha saat menghampiri resepsionis.
"Baik Tuan, harap tunggu sebentar".
Wanita berambut hitam dengan kacamata oval itu nampak memeriksa daftar kamar yang masih kosong.
"Ini kuncinya, Tuan".
"Terima kasih"
Dengan sigap Partha menyambar kunci tersebut dan berjalan menghampiri teman-temannya.
"Ini kamar kalian, beristirahat lah dan jangan terlambat besok pagi!".
Semua mengangguk paham dan lekas pergi ke kamar masing-masing. Mereka semua mulai tidur sekaligus menambahkan Check Point di penginapan tersebut.
BRAK!
"Dimana para Bajingan kecil itu!?"
"KELUAR KALIAN! BANGS*T!"
Dhika yang hendak menutup mata akhirnya terjaga kembali. Anak itu pun langsung bangun dan mencoba mengintip lewat celah pintu.
"Itu... Preman tadi!?"
Mata Dhika sontak membulat sempurna ketika para Preman itu mulai mendekat ke arah kamarnya. Dengan tergesa-gesa ia pun mengunci pintu kamar dan menahannya dengan menanamkan segel sihir.
"Gawattt! Kak Juna harus tau!"
Sekarang Dhika benar-benar panik setengah mati. Ia pun membuka jendela informasi untuk mengecek akunnya Partha yang ternyata masih online, begitu juga dengan Dara.
Tapi belum sempat dia menghubungi keduanya, seseorang malah datang dan menggedor pintu dengan brutal.
"HEI ANAK KECIL! KELUAR LAH! AKU TAU KAU ADA DI DALAM!".
Dhika melompat kaget. Benar-benar tidak siap untuk menghadapi ini. Lagi pula bisa-bisanya mereka muncul di penginapan, harusnya tempat ini aman bagi player. Jujur saja, baru kali ini Dhika mengalaminya.
BRAK! BRAK!
Pintu masih di gebrak dengan kasar, orang-orang sinting di luar sana tak berniat untuk mengecilkan volume suaranya. Bahkan sihir penghalang sudah retak karena tak kuat menahan tekanan.
Sepertinya Dhika harus siap dengan kemungkinan terburuk.
Keringat di pelipis anak itu mulai bercucuran. Tangannya tergesa-gesa bergerak di bilah status untuk mengaktifkan semua Buff yang dia punya.
[***Buff pengurangan Damage, perlindungan efek sihir, mempercepat rapalan mantra, booster magic damage : Aktif ***]
BRAK!
Para preman yang berisi tiga orang itu berhasil memasuki kamar inap yang disinggahi Dhika. Pandangan mereka beredar mencari keberadaan sang Penghuni. Tapi nihil, anak itu tidak terlihat hingga sesuatu mengejutkan mereka.
"Magic Slash!"
Beberapa bola sihir berhasil mengenai kaki para preman. Mereka semua terkejut saat melihat Dhika yang hinggap di langit-langit kamar dengan bantuan sihir akar milik Dhika.
Namun tanpa disangka, serangannya dibalas lagi oleh sihir api dan sukses mengenai dirinya.
BRAK!
"Awh!"
Dhika terjatuh dengan api yang menyala di ujung bajunya. Beruntunglah bisa segera dipadamkan. Dengan sigap anak itu berdiri lagi.
Dilihat dari bilik statusnya, para NPC preman ini berlevel 10, sejujurnya tidak jauh beda. Tapi kalau melawan 3 sekaligus pasti merepotkan.
"Rasakan ini!" salah satu preman mengayunkan pedangnya ke arah Dhika. dan untuk saja anak itu berhasil menghindar.
Dhika pun merapalkan mantra untuk membuat segel sihir di lantai. Dia berencana untuk membuat ranjau.
Begitu para preman menginjak jebakannya, sebuah akar berduri keluar dan mengikat mereka untuk beberapa saat.
"Ya! Makan itu!" Dhika bernafas lega ketika jebakannya berhasil.
Dengan segera anak itu melompat dan berlari keluar menuju kamar rekan yang posisinya paling dekat, yaitu Dara.
Begitu berbelok di koridor, Dhika mendapati Dara yang berhasil melumpuhkan beberapa pria berotot.
"Ow, tangguh sekali seperti gajah" ucap Dhika penuh takjub. Sekarang dia sadar, yang harus lebih dikhawatirkan adalah dirinya sendiri, bukan Dara.
"Apa katamu!? Gajah? " ketus Dara yang mendengar pernyataan Dhika meski samar-samar.
Anak laki-laki itu sontak menggeleng takut.
Tapi untunglah Jalu dan Partha datang menghampiri mereka dengan tergesa-gesa.
"Kita harus segera pergi sebelum tempat ini di kepung!" seru Partha yang panik setengah mati. Uta pun melompat untuk menimpali.
Tanpa membuang waktu mereka pun berlari ke pintu keluar. Namun naas, sudah berdiri puluhan preman yang menunggu keempatnya.
"Ow.. Sial.. "
Mereka tak menyangka jika preman itu memiliki komplotan sebesar ini. Terlebih lagi ada seseorang berbadan besar dan kekar yang membawa celurit. Pria itu menghisap tembakaunya sambil menatap Partha sengit.
"Kalian... "
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 17 Episodes
Comments