Penentuan

"Ow.. Sial.. "

Mereka tak menyangka jika preman itu memiliki komplotan sebesar ini. Terlebih lagi ada seseorang berbadan besar dan kekar yang membawa celurit. Pria itu menghisap tembakaunya sambil menatap Partha sengit.

"Kalian... "

...•...

...•...

...•...

...Partha : The Legend of NeosanTower...

...Happy Reading!...

Malam yang kala itu sunyi langsung berubah bising karena penggerebekan para preman yang sejatinya adalah NPC.

Entah bagaimana caranya NPC bisa mengambil keputusan sendiri. Atau ini termasuk dalam secret story karena telah membantu saudagar tadi?

Keringat di pelipis Partha mengucur tanpa bisa diatur. Ini terjadi karena aura si Pentolan Preman yang sangat besar, tentu Partha kalah jauh dengannya.

"Sebenarnya apa yang terjadi, Putra?" tanya Partha dengan setengah berbisik.

[Nampaknya ada bug yang memicu munculnya secret story tuan]

Partha berdecak, ia bingung apakah ini pertanda baik atau buruk?

[Anda harus bijak untuk setiap tindakan, karena ini akan mempengaruhi nasib anda di NeosanTower]

Mendengar itu membuat Partha menghela nafas. Entah kenapa muncul beban batin yang berat.

"Apa mau kalian?" tanya Dara memberanikan diri. Statistik aura miliknya lumayan tinggi, jadi dia dapat mengimbangi.

Si Kelinci gembul itu menatap Partha dan kawan-kawannya dengan seksama dari ujung kaki hingga ujung rambut. Lalu meludah, menghilang sisa rasa tembakau dalam mulutnya.

"Oh, jadi ini yang katanya membantai anak buahku?" tanyanya dengan suara berat.

Partha meneguk ludahnya susah payah. Mencoba membasahi tenggorokan agar suaranya dapat keluar tanpa hambatan.

"Anak buahmu yang mencari masalah dengan Para pedagang, Tuan" jawab Partha membela temannya.

Dhika mengangguk cepat untuk meyakinkan pihak di seberangnya.

''Betul! Bahkan mereka lari ketakutan sebelum Kak Jalu dan Dara menyentuhnya." sahut anak itu sambil menunjuk orang-orang yang sebelumnya mereka temui.

Sang Preman langsung mendelik kepada anak buahnya. Ada raut tak suka dan penuh tanya di wajahnya ketika mendengar penuturan Dhika.

Orang yang dilirik langsung kalang kabut.

"Ti-tidak Bos! Mereka mengada-ngada. Lihatlah kami yang terluka setelah diserang tiba-tiba!".

Dara membulatkan matanya, tak percaya jika dirinya dituduh menyerang terlebih dahulu.

"Hei, jangan mengarang cerita sendiri ya!" tegur gadis itu dengan emosi. Dia tidak ingin dihakimi atas hal yang tidak dilakukannya.

"Bos-"

Kalimat pria itu terputus begitu melihat sang bos mengangkat tangan kanannya, tanda meminta orang lain diam.

Suasana pun hening seketika.

"Buktikan padaku kalau kau pihak yang benar, Yao" ujarnya sambil melempar tatapan tajam pada anak buahnya.

"Tapi kami sudah terluka Bos, kondisi mereka jauh lebih baik dan--" ucapan orang itu terhenti ketika menatap netra merah bosnya yang memberikan deathgleare (tatapan mematikan).

Sang Anak buah tidak dapat menolak, mereka pun memenuhi permintaan bosnya.

Jalu mengerjapkan matanya beberapa kali.

"Apa maksudnya ini?" tanyanya ketika lima preman yang pernah dia temui sudah siap dengan senjata masing-masing.

Bos preman yang berwujud kelinci itu menyeringai, lalu seperkian detik kemudian wajahnya menjadi serius.

"Lawan lah anak buahku, biar ku lihat pengakuan siapa yang nyata dan dusta di antara kalian".

Partha terkekeh. Tentu pihaknya yang akan menang.

"Baiklah-baiklah, demi nama baik kami" ucapnya lalu menoleh ke belakang sambil mengelus Uta dalam gendongannya.

"Betul, kan, teman-teman?" tanya Partha dan dibalas oleh anggukan ke empat rekannya.

****************

Kini semua orang berkumpul di markas preman tersebut. Namun daripada markas, Partha rasa ini lebih seperti tempat latihan bela diri.

Tempat yang mereka pijak memiliki lahan terbuka yang luas, namun di kelilingi oleh pendopo kayu. Nampak juga ada banyak perlengkapan berlatih yang berada di tepi lapangan.

"Peraturannya hanya satu, jangan membunuh dan menghancurkan tempat ini" ujar pemimpin preman yang ternyata masih memikirkan nyawa serta properti mereka.

GONGGG!

Aba-aba sudah diberikan. Tim Partha dan preman pun langsung baku hantam di tengah lapangan.

Dhika bahkan tidak merasa takut sedikitpun. Untuk apa takut? Kan mereka melakukan hal yang benar.

"Hai bocah, dimana senjatamu?" sapa preman berjenggot tipis dengan nada mengejek.

Dhika ingat betul kalau orang itulah yang menodongkan senjata saat memalak saudagar.

Enggan menjawab, Dhika pun melancarkan serangan tanpa basa-basi dan hampir mengenai lawannya.

Sang Lawan bersiul, "Ow, Viper Class ya". Ia pun langsung menyerang Dhika membabi buta. Bahkan melemparkan jarum-jarum tipis yang dilumuri racun.

"HEY! Bukan kah itu curang!? peraturannya kita tidak boleh membunuh!" protes Dhika ketika jarum tersebut membuat sihir akarnya meleleh terbakar.

Tapi tak ada yang mendengarnya karena bising suara dentingan senjata serta ledakan sihir.

"Aku tidak membunuhmu anak muda, hanya meruntuhkan pertahananmu saja".

Gigi Dhika bergemeletuk karena menahan amarah. Orang itu pikir dapat membodohi dirinya? Cih, padahal itu trik murahan yang nantinya berujung playing victim.

Dhika pun mengeluarkan semua jurusnya untuk mengacaukan pergerakan musuh.

Tapi hal tersebut malah membuat Dhika terlihat ceroboh dan banyak celah. Sampai tidak sadar dengan golok yang di lempar ke arahnya.

Mata anak itu membulat sempurna.

Dalam seperkian detik, golok tersebut dapat membelah kepalanya. Dan lebih parahnya lagi, Dhika tidak akan sempat membuat pertahanan karena tengah merapalkan mantra lain.

PRANGG!!

Suara dentingan mengalihkan perhatian semua mata.

Ternyata Partha melompat untuk mematahkan serangan mematikan musuh yang mengarah pada Dhika dengan goloknya.

Terpancar kilatan marah dari mata Partha.

"Beraninya kau berniat membunuh anak kecil!" seru Partha emosi. Untuk sejenak dia merasa dejavu, tidak ingin kejadian seperti Gesang terulang lagi.

Orang-orang yang sedang berduel pun berhenti seketika.

Pemimpin preman pun ikut berdiri, menatap diam ke arah lapangan. Mencoba memperhatikan adu cekcok antara anak buahnya dan Partha.

"Kau tidak lihat? Anak itu juga menyerangku dengan membabi buta".

"Tapi kau menggunakan racun tingkat 4 yang dapat membunuhnya!" seru Partha lantang dengan urat leher yang menegang.

Uta yang bertengger di bahu Partha pun terkejut. Nampak sekali jika tuannya benar-benar marah.

Samar-samar Dara mendengar decakan dari lawan di hadapannya. Apakah preman itu malu dengan tingkah temannya sendiri?

Namun di tengah keterdiaman semua orang, Jalu malah tiba-tiba menendang preman yang sebelumnya melawan Dhika.

Sontak semuanya terkejut dan bersorak heboh. Ke 5 preman yang berduel pun marah dan langsung kembali menyerang.

Kali ini pertarungan nampak seimbang. Hingga sesuatu tak terduga terjadi.

Preman-preman itu mengeluarkan botol ramuan dan meminumnya secara bersamaan.

Bos Preman yang tadinya di pinggir lapangan, memutuskan untuk melompat ke arah lapangan.

Begitu mendarat, ke lima anak buahnya tiba-tiba lenyap dan hanya menyisakan bercakan darah.

Partha dan kawan-kawannya spontan melompat mundur, tak menyangka dengan apa yang mereka lihat.

Sedangkan si Bos preman nampak membersihkan jubahnya yang kotor dengan santai.

"Cukup, aku sudah melihat siapa yang mengada-ngada disini" ucapnya lalu memanggil semua orang berkumpul di lapangan.

****************

"Maaf atas kelakuan anak buahku. Kami memang preman, tapi hanya ketika seseorang membayarnya"

Kelinci tambun dan kekar itu duduk bersila sambil menjelaskan latar belakang mereka.

Partha mengangguk paham. "Aku cukup kagum denganmu Tuan. Kau tegas dan bijak meski seorang preman---"

Plak!

"Apa yang kau katakan bodoh!" maki Dara setengah berbisik setelah memukul kepala Partha. Ia takut kalau pria kelinci di depannya akan mengamuk.

"Dia benar Nona, aku memang preman"

"Ah ya, sebagai permintaan maaf aku akan berhutang budi kepada kalian. Kami akan membantu kalian kapanpun."

Semua mangut-mangut mendengarnya.

"Tapi Tuan, karena anda langsung menghabisinya, kita jadi tidak tau kenapa mereka menuduh kami" kata Partha dengan nada penasaran.

Bos Preman yang bernama Yaoru itu tersenyum simpul.

"Menurut sepengelihatanku, mereka terlalu berbahaya jika dibiarkan. Ramuan yang mereka minum dipastikan berasal dari Makhluk Langit... "

UHUK!

Partha tersendak dan langsung melongo begitu mendengar hal tersebut.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!