02.00 WIB
Seharusnya ia terlelap, mengistirahatkan jiwa dan raganya dari segala masalah duniawi. Namun sayang, mata ini tidak bisa diajak kompromi.
Walaupun sunyi dan tenang, tapi kenapa perasaannya gusar, ya?
"Duh kepikiran si Gesang nih.. " gumam Juna seraya menatap langit-langit kamarnya. Ia pun duduk di atas kasur dan menoleh pada perangkat VR yang terletak di atas meja PC.
***
"Bagaimana keadaanmu?".
Meski pelan tapi pasti, mata Juna akhirnya terbuka. Netranya pun menangkap sosok wanita cantik dengan rambut hitam yang terurai panjang.
"Ah.. Sedikit pusing" kata Juna sambil memegang kepalanya sendiri. Namun beberapa saat kemudian, mata lelaki itu mengerjap cepat. Ia menyadari sesuatu. "Empuk.." .
Begitu menoleh kesamping, dirinya malah dihadapkan dengan perut rata seseorang.
"Allahurabbi!" pekik Juna yang sontak terbangun dari posisi tidurnya.
"Apa yang kau lakukan Partha?" tanya wanita itu dengan heran.
"Kau! Apa maksudnya menidurkanku di pahamu!?" bukannya menjawab, Juna yang kini telah berubah menjadi Partha malah berteriak kepada Hijau yang kebingungan.
"Daripada kau tidur di atas batu, lebih enak tidur disana" Partha melempar tatapan tak percaya kepada Malin. Ada-ada saja pria ini.
"Ta-tapi tidak harus batu, daun kan ada" jawab lelaki itu dengan wajah memerah.
Mau bagaimana pun, Juna alias Partha adalah tipe lelaki cupu kalau soal wanita. Dia tidak pernah sedekat itu dengan lawan jenis.
"Hahaha, Kak Partha salah tingkah!" tanpa diduga, Gesang muncul dari belakang Partha. Lelaki itu pun menyangkal dengan seribu alasan. Hingga berujung perundungan.
Malin yang sedang bebenah pun menghela nafas dengan berat. "Banyak barang yang lenyap, bahkan tenda dan alat masak" katanya yang merasa kecewa.
"Selagi siang, kita harus bergegas mencari tempat singgah atau keluar dari hutan ini. Bermalam di hutan tanpa tempat berlindung akan sangat berbahaya" tutur Hijau yang langsung disetujui oleh ketiganya.
Singkat cerita mereka pun melanjutkan perjalanan menyusuri hutan dengan barang yang tersisa.
Di sepanjang jalan, Partha dan Gesang mengobrol lebih banyak hingga keduanya sangat akrab. Hijau berjalan mendahului mereka sambil memperhatikan kompas dan map agar tidak salah arah. Sedangkan Malin berjalan paling belakang sambil membawa tas besar di punggungnya yang sebenarnya kosong.
"Tunggu, arahnya sesuai tapi kenapa tempatnya berbeda?" kata Hijau yang tiba-tiba berhenti. Ia pun berbalik menatap teman-temannya.
"Beda?" beo mereka kebingungan.
Tanpa sepatah kata, semua membuka map pada sistem. "Jalannya sudah benar tapi tempat mana yang beda?" tanya Malin tak mengerti.
Sejurus kemudian Hijau menyingkirkan dedaunan lebar yang menghalangi mereka terhadap bangunan tua yang menyerupai candi.
"Tidak. Ini sungguhan Candi!" seru Gesang setelah mengamatinya lamat-lamat. Anak lelaki berambut hitam dengan kulit seputih salju itu kegirangan. Mata emasnya berbinar terang.
Kakinya tiba-tiba melesat begitu saja ke arah gapura melewati Hijau.
Bagaimana pun, Gesang adalah yang termuda di antara mereka. Meski menjadi petualang, tapi tingkah kanak-kanaknya tetap ada. Malin yang paling dewasa hanya menyuruhnya untuk berhati-hati.
Dengan senyum lebarnya Gesang mengangguk seolah mengatakan, "Tenang aku baik-baik saja".
Beberapa langkah masuk ke area candi, Gesang nampak terdiam, membuat ketiga orang dewasa di belakangnya menatap heran.
"GESANG CEPAT KEMBALI!"
Malin berteriak namun terlambat. Gesang sudah terpental di hadang makhluk tinggi yang wujudnya tidak jelas karena terhalang kepulan debu.
Malin dan Hijau hendak menghampiri Gesang.
"Tunggu! Dia terlalu kuat!" cegah Partha ketika sadar kalau itu bukan Mob's biasa karena levelnya tidak dapat terdeteksi.
"Masa bodoh! Gesang dalam bahaya" sentak Hijau yang memilih untuk tetap menghampiri Gesang.
"Ku bilang tunggu! Dia objek tidak dikenali" seru Partha dengan emosi. Dirinya tidak bisa mencegah kepergian Hijau yang disusul oleh Malin karena keduanya sudah berlari.
Disisi lain, Malin sudah menyiapkan sarung tangannya yang terbuat dari logam berat. Sedangkan Hijau sudah siap dengan tombaknya.
Malin melompat, melayangkan pukulan ke tanah hingga permukaannya bergetar. Bangunan ini terlalu kuat untuk di robohkan ternyata.
Partha yang sebenarnya masih ketakutan mencoba melesatkan beberapa anak panah yang dikombinasikan dengan skill yang ia punya. Namun nihil, serangannya tidak mempan. Si Monster tak bergeming. Hingga akhirnya Hijau pun muncul mengayunkan tombaknya.
Tapi sebelum serangan Hijau sampai, tiba-tiba wanita itu terpental dengan tombak lain yang menembus dadanya.
"Hijau!" pekik Malin dan Partha bersamaan. Wanita itu berusaha bangkit namun kesadarannya mulai menghilang.
Trak! Trak!
Dengan bantuan sarung tangan logam, Malin menghalangi hujaman panah yang berasal dari arah candi. Mereka semua mendapat serangan balik, tapi bukan dari si Makhluk, melainkan dari senjata automatik. Partha pun berdecak, ia pikir percuma melawannya.
Tanah kembali berguncang, Malin pun kehilangan keseimbangan hingga ia terjungkal ke belakang, tepat di bawah gapura.
Ctak. Malin tak sengaja menekan sesuatu dan balok batu pun jatuh dari atas gapura.
"AAAA!"
Nahas, balok tersebut menimpa seluruh tubuhnya.
Partha tidak percaya dengan apa yang dia lihat, semuanya terlalu singkat.
"Kenapa?.. " tanyanya entah pada siapa. Seluruh tubuhnya menjadi lemas setelah menyaksikan kematian kedua orang tersebut.
"Sadar Kak Partha! Sadar!" sebuah suara yang tak asing menegurnya. "Ayo kita lawan dia!" ucap Gesang dengan sorot mata yang terbakar amarah.
Partha menggeleng sebagai isyarat, namun Gesang tetap saja batu dan menyerang musuh sambil menunggangi Maung.
Lelaki itu meringis. Tak ada pilihan lain, dia harus menyusul Gesang dengan Maung yang ukurannya menjadi lebih besar.
Maung dan makhluk yang masih belum jelas wujudnya itu bertarung. Dari balik kepulan asap yang bercampur kabut, keduanya saling melemparkan serangan.
Duagh!
Sebuah gada melesat ingin memukul Maung, namun dengan sigap Maung melompat dan mengambil kesempatan untuk naik ke tangan makhluk itu. Tapi rencananya tidak mulus. Maung beserta Gesang terjatuh dan langsung dihadang oleh tangan yang satunya hingga terpental jauh menabrak gapura dimana Malin tertimbun batu.
"Awas di atas sana!" pekik Gesang yang di tubuhnya sudah tertanam batu runcing. Anak itu pun batuk darah.
Partha yang posisinya tidak jauh dari sana terkejut. Ia melihat lengan besar yang muncul dari atas seolah ingin meratakannya dengan tanah.
Karena shock dan pasrah, tubuh lelaki itu malah mematung, seolah sudah siap dengan kematian dalam game ini.
Meski sekedar permainan, tapi rasa takut yang memacu adrenalin terasa nyata sekali.
BUMMM!
Sebuah debuman tercipta ketika tangan makhluk itu menyentuh tanah.
Gesang yang menjadi saksi kematian kawan-kawannya pun meneteskan air mata disertai muntah darah.
"Meski aku NPC, seharusnya alur cerita tidak sekejam ini.. " gumam anak itu dengan lemah. Karena jujur saja, adegan ini tidak ada dalam script yang disiapkan dalam game.
"Huekk!" Gesang kembali muntah dengan darah yang lebih banyak. Meski kepayahan, anak itu mencoba untuk membuka sistem. Entah apa tujuannya, tapi tiba-tiba muncul bola putih di hadapannya. Sebelum pada akhirnya Gesang tak sadarkan diri dan perlahan berubah menjadi partikel bercahaya seperti kunang-kunang. Begitu pula dengan Malin dan Hijau.
"Apakah kau akan kembali datang?".
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 17 Episodes
Comments
Firenia
sadar dia 😂
2023-05-31
1