Sukses melumpuhkan White dengan ide cemerlangnya, Partha harus mengorbankan ujung jarinya yang sedikit membeku.
Lelaki itu mengambil kain jarik yang di jemur untuk menutupi wajahnya, mengikuti apa kata sistem. Lantas berlari meninggalkan White.
Karena saking paniknya, Partha sampai tidak menyadari kalau di depan ada sebuah tanah landai hingga ia terjun meluncur sampai tercebur ke sungai.
"HOAH!"
Partha timbul ke permukaan. Ia berhasil menyeimbangkan diri dalam air meski tubuhnya tetap terbawa hanyut. Gapapa lah hanyut mah, yang penting gak tenggelam.
Di tengah diamnya yang pasrah terbawa air, lelaki itu tiba-tiba teringat sesuatu.
"Uta? Eh, Uta!? Dimana Uta!?" panggilnya sambil menengok kesana kemari. Namun bukannya Uta yang menyahut, malah terdengar suara berat seorang pria dari atas sana.
"Hei kau!"
Partha menoleh, ternyata orang itu adalah White yang masih mengejarnya.
"Sial!" umpat Partha lalu ia menyelam ke air untuk bersembunyi.
White yang melihat Partha menenggelamkan diri sampai menggeram. "Tcih, I'll find you!"
Lelaki bertopeng itu meluncur ke bawah dengan esnya. Dia mencoba membekukan permukaan sungai agar bisa lewat tapi gagal.
Arusnya terlalu kuat hingga White tak dapat menahannya.
Di sisi lain Partha melihat ikan bercahaya yang pernah ia temui sebelumnya. Lelaki itu seketika terpana sampai lupa bernafas ke permukaan dan semua menggelap.
***
Brak!
Sony menggebrak meja dengan kesal, sedangkan Ryan, Freya dan rekan lainnya melotot melihat tingkah anak itu.
"Bisa-bisanya dia lolos!"
Freya memegang bahu Sony, dia membalikkan tubuh lelaki itu agar menghadapnya.
"Tak ada gunanya kau marah-marah, Rama sudah mencoba mengejarnya" ucap Freya lembut agar Sony mengerti.
Jika dilihat dari umur, wanita itu jauh lebih tua dari semua anggota divisi Makara yang ada. Bisa dibilang dia adalah senior disana.
Sony yang dikenal tempramen itu mendecih, dan dibalas tatapan tajam oleh sang Leader, Ryan.
Rama alias White hanya diam, seolah tidak peduli dengan perlakuan rekannya itu. Harusnya dia yang kesal karena Sony alias Purple maupun Ryan sebagai Red tidak datang membantu.
"Rambutnya panjang, gradasi hitam biru, ku rasa dia masih di bawah level 5 karena serangan yang digunakan hanya basic skill." tutur Rama sambil bersandar pada kursinya.
"Tapi dia tidak ditemukan pada sistem. Apa Putra yang menyembunyikannya?" sambung Rama lagi. Sedangkan Ryan hanya menghela nafas.
"Apa perlu kita menggunakan dia ?"
Ryan menghentikan jarinya yang menari di atas keyboard.
"Tidak! Itu hanya jadi opsi terakhir jika Putra benar-benar melampaui batas".
"Tapi kita juga harus mengambil langkah cepat soal Putra! Kau paham tidak!?" Sony kembali menimpali dengan emosi.
Ryan bangkit dari duduknya. "Aku tau betul situasinya." katanya seraya menatap Sony tajam.
"Ambil ini, kita kembali ke Neosantara." sambungnya sambil melempar VR Gear kepada Sony dan Rama.
"Kalian tetap cari Putra dan berusaha mengambil kendali darinya!" begitu ucap Ryan kepada Freya, Sani dan Eril sebelum pergi ke ruang sebelah.
Semua anggota divisi Makara terdiam melihat sifat sang Leader yang semaunya sendiri. Freya saling tatap dengan Sani, sebagai wanita mereka tentu lebih peka. Rasanya Ryan menyembunyikan hal lain dari mereka.
***
Partha tak menyangka jika dirinya bisa selamat lagi. Rasanya keberuntungan datang bertubi-tubi, bahkan saat ini.
Kini, lelaki itu tengah termenung di sebuah balé atau tempat duduk berupa panggung khas Sunda. Sedangkan di sampingnya ada Uta yang setia menemani.
"Tadi Aki menemukan kamu hanyut di sungai saat menjala ikan. Begitu ditarik ke tepi, ternyata kamu téh masih hidup" tutur seorang pria tua yang rambutnya penuh uban.
si Kakek itu berjalan dengan punggung yang sudah membungkuk. Ia menyodorkan segelas air kepada Partha.
Partha menerima gelas tersebut. "Terima kasih sudah menolong saya, Kek" ucapnya meski agak sungkan.
"Tidak masalah, Nak" jawab si Kakek. "Panggil saja aku Ki Sadam" sambungnya mengenalkan diri.
"Ah, iya Ki. Aki juga bisa panggil saya Partha".
Ki Sadam duduk di samping Partha, ia menatap lelaki di sebelahnya lamat-lamat dari ujung kaki sampai kepala.
"Partha adalah nama lain dari Arjuna, sang Pahlawan Perang. Ku harap namamu adalah do'a yang bisa menghentikan kekacauan di Neosantara." ujarnya sambil tersenyum.
Partha tertegun mendengarnya, lalu mengibaskan lengannya sambil berkata "Ah tidak, Ki. Saya hanya petualang biasa".
Ki Sadam terkekeh. "Amini saja... Karena seluruh pelosok Neosantara selalu berharap akan kehadiran sosok tersebut. Sudah terlalu lama kami menderita". Wajah Ki Sadam langsung terlihat sendu di akhir kalimat.
Kepala lelaki tua itu menunduk.
"Memang apa yang terjadi, Ki?" tanya Partha penasaran, karena sepanjang game tidak ada narasi lebih lanjut soal masalah yang dihadapi oleh Neosantara. Sehingga player sendiri yang harus menggali lebih dalam. Inilah salah satu keunikan dari game "NeosanTower" .
Ki Sadam mengangkat kepalanya sambil menatap sendu pekarangan rumah.
"Dua abad yang lalu bencana raya terjadi. Rumornya seseorang berhasil menemukan legenda NeosanTower dan membuka paksa pintu langit lewat sana."
"Langit pun terbuka, tapi bukannya mendapat anugerah, dia malah mendapat murkanya Dewa karena lancang."
"Disamping itu, dia juga merusak keseimbangan tujuh langit. Hingga makhluk dari langit lain terlempar ke dunia kita dan membuat kekacauan disini."
Partha terdiam sejenak, dia menyimak penjelasan dari Ki Sadam dengan seksama.
"Kekacauan seperti apa, Ki?" tanyanya untuk mengorek informasi lebih lanjut.
Ki Sadam menoleh, kepalanya menggeleng pelan lalu kembali menunduk.
"Kekacauan terjadi ketika makhluk itu ingin menguasai bumi Neosantara, karena merasa lebih unggul dari umat manusia." Partha terkejut mendengarnya.
"Mereka bahkan menghabisi keluarga Aki. Cucu Aki pun diculik oleh mereka kemarin lusa... " setetes air pun lolos dari pelupuk mata Ki Sadam. Ia berusaha membendung tangisnya tapi tak bisa.
Spontan Partha mengelus bahu Ki Sadam. "Kejam sekali... " ucapnya yang turut merasa empati.
"Utha... " Uta pun ikut menimpali. Makhluk mungil itu mengelus lengan Ki Sadam dengan kepalanya.
[ Quest 2 : Berbicara dengan orang sekitar. ⭕ ]
Jendela notifikasi tiba-tiba muncul, Partha mendapat beberapa exp dan poin dari quest tersebut.
[ Quest 3 : Mencari tau tentang makhluk langit ]
Muncul misi baru yang membuat Partha terperangah. Mungkin kah dia bisa mencari tau hal itu lewat Ki Sadam?
Partha pun menarik nafas dalam-dalam lalu menegakkan duduknya. "Ki... " panggilnya pelan.
Ki Sadam pun menoleh sambil melempar senyum, "Iya kenapa, Nak?".
Dengan sedikit ragu, Partha mengutarakan maksudnya terlebih dahulu.
"Bolehkah saya membantu Aki? Maksudnya ikut mencari cucu Ki Sadam yang diculik. Karena kebetulan akupun tengah mencari tau soal pembuat keonaran disini".
Senyum Ki Sadam merekah, tentu dia senang jika ada yang ingin menbantu.
"Be-betul kah?" tanyanya memastikan dan dibalas anggukan mantap dari Partha.
Sontak air mata kembali banjir.
"Terima kasih... Terima kasih... " ujarnya sambil terisak. Sedangkan Partha malah keki karena tidak tau harus berbuat apa. Jadi dia diamkan saja Ki Sadam menangis.
"Ah iya, kau pasti belum makan. Mari makan dulu dan pulihkan tenagamu"
Partha hanya menurut saja, kebetulan bar energinya sedang sekarat. Ia butuh makan dan tidur dulu agar bisa kembali beraktifitas.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 17 Episodes
Comments