3. Maung vs Roh Hutan

Matanya membeliak tak percaya dengan kemunculan aura berwujud harimau yang tengah mengaum. Partha mematung di tempat saking terkejutnya.

"MAUNG!" seru Gesang dan sontak harimau itu menoleh, lalu berjalan mendekati mereka. Semakin dekat jaraknya, semakin berat pula atmosfir yang dirasa.

Tanpa menunggu aba-aba, harimau yang Gesang sebut Maung pun berlari melewati keempatnya. Ia tiba-tiba melompat tinggi seraya mengeluarkan cakar yang siap mencabik musuh.

Partha sampai tidak berkedip sedikitpun. Penampakan di depan terlalu epic untuk dilewatkan.

Bayangkan saja, Maung berhasil merobohkan Roh Hutan yang berwujud asap hitam hingga jatuh ke tanah.

Groaaaarr!

Suara menggema dari Roh itu nyaris membuat mereka tuli. Tanah di sekitar sana terasa bergetar karena Roh terus meronta-ronta dengan melepaskan ledakan dari tubuhnya sendiri.

"Cage Soul's!"

Sebuah cahaya muncul membentuk sangkar guna menahan sihir Roh Hutan yang terus membuat kerusakan.

"Aura!" teriak Gesang dengan kencang. Maung pun kembali mengaum seraya mengeluarkan aura merah dengan hawa panas, sampai yang lain ikut merasakannya.

Partha menoleh ke arah anak itu. Ia baru menyadari, ternyata Gesang mengendalikan Maung menggunakan energi sihir yang terpancar dari tangannya.

Rasa bimbang pun muncul ketika Roh masih tetap mengeluarkan serangan secara brutal meski Maung tengah mengekang pergerakannya. Gesang mulai kewalahan ketika energinya saling dorong mendorong dengan energi negatif dari Roh.

Brak!

Maung terpental, namun dengan sigap ia kembali melompat sambil melepaskan cakarannya berkali-kali.

Partha rasa ia tidak bisa diam saja. Dengan segera, ia pun mengangkat busurnya dan mencoba membidik.

"Sihir harus dilawan dengan sihir, energi kita berbeda!" tutur Hijau yang sukses menghentikan upaya Partha.

Alis lelaki itu menukik, "Lantas bagaimana caranya melawan Roh itu? Kita tidak bisa membiarkan Gesang sendirian!".

"Itu sulit, kita bukan Snake Class yang menguasai sihir" kini Malin turut ikut dalam perbincangan.

"Berisik kalian!" ketus Gesang di tengah kepayahannya mengatur energi. Ia menatap tajam kepada Partha dan Hijau yang nyaris adu mulut, lalu kembali berfokus para Roh.

Tak kuat dihadang ledakan berkali-kali, Maung pun melepas kekangannya dengan melompat ke belakang. Maung dan Gesang terengah-engah, pancaran energi mereka pun mulai pudar. Peluh pun sampai membasahi baju anak itu.

"Gesang, apa kau bisa mengalirkan energi sihir kepadaku sambil menyerang Roh?".

Terkejut, semuanya terkejut, minus Partha karena dia yang menyarankan hal tersebut.

"Bagaimana bisa?" tanya Malin tak percaya. Sedangkan Gesang sendiri hanya menghela nafas. Mungkin ini patut dicoba.

"Baiklah, hanya 10 detik, cepat!"

Lengan kanan Gesang direntangkan ke samping. Telapak tangannya terbuka ke bahu Partha. Energi sihir pun mengalir dalam sekejap.

Partha tersentak karena rasanya seperti tersengat listrik, namun ia bergegas untuk menyiapkan anak panahnya.

Tangan kanan Gesang mentransfer energi sedangkan tangan kirinya mengendalikan Maung yang berhasil mengukung Roh kembali.

Sett.

Anak panah pun melesat secepat kilat mengenai Roh itu dan memberikan efek stun. Tanpa buang waktu, Maung langsung menggunakan taringnya untuk mengkoyak inti roh yang berbentuk merah menyala sebesar bola kasti.

"AUMMMMM!"

Auman Maung kembali menggema sambil memancarkan aura merah yang lebih besar. Aura itu sukses membakar habis Roh Hutan. mengirimnya kembali ke alam baka.

"Semoga tenang disana... " bisik Gesang sebelum pada akhirnya tumbang. Malin pun dengan sigap menyanggah tubuhnya sebelum jatuh mencium tanah.

Sedangkan Partha merasakan pandangannya menggelap, semua di sekelilingnya pun seolah berputar.

[Level Up! 2]

"Selamat, anda telah mengalahkan Roh Hutan level 4!".

"Aku benci... Dedemit tadi... "

Hijau dan Malin geleng-geleng kepala saat melihat jalannya yang sempoyongan.

"Tubuhnya pasti kaget karena menerima mana sebesar itu." tutur Hijau seraya menuntun Partha yang hampir teler.

Mana yang Hijau sebutkan adalah nama lain dari energi sihir. Sebenarnya orang biasa pun punya mana, namun kapasitasnya sangat rendah dibandingkan dengan para Mage dari Viper Class.

Bisa dibilang menjadi Mage adalah bakat alami. Mereka memang dianugerahi cicle mana yang banyak. Sedangkan jika orang biasa ingin setara dengan Mage, entah harus berapa lama dan seberat apa latihan yang harus dia lakukan.

***

Sebuah guncangan datang menghadang. Ia pikir Roh Hutan kembali menyerang.

"Laillaha ilallah.. Laillaha ilallah.. " mulut Partha pun terus komat-kamit sambil memejamkan matanya erat. Jujur dia malah trauma dengan dedemit di game. Ternyata game ini mahal tapi pengalaman yang diberikan itu bukan kaleng-kaleng. Sangat mirip seperti nyata!

Plak!

"Juna! Kalo tidur komputernya jangan dibiarin nyala atuh! Boros listriknya nih!" tanpa disangka bu Wiwin melayangkan tampolan manja ke wajah Juna.

"Astagfirullah Bu!"

Juna tersadar dan melepas VR Gear yang ia kenakan. Seketika duduknya menjaddi tegap dengan keadaan linglung.

"I-ibu kenapa masuk kesini?" gagap Juna ketakutan.

Sang Ibu pun mendengus, "Mau ke dapur terus pintu kamarnya kebuka. Ehh pas diliat ternyata malah molor. Mana komputernya nyala gini" tutur sang Ibu dengan emosi yang menggebu-gebu.

"Iya maaf, Bu".

Masih dengan perasaan sebal, Ibu Juna pun melirik VR Gear yang sebelumnya digunakan.

"Itu apaan Jun?" tanya Ibu dengan tatapan penuh selidik.

"Anu Bu, alat terapi mata" bohon Juna karena lelah diomeli seharian. sang Ibu pun hanya ber-oh ria.

Brak!

"Boong orang itu ada di TV! Buat ngegame kan!?" gagal lagi ngibulin Emak, ternyata beliau inget aja sama iklan di TV.

"Ya maap, Mak.. "

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!