Aku membuka pintu dan melihat sosok di depanku.... “Chiva?!” Aku terkejut saat melihat Chiva berada di depan pintu kamarku.
Entah bagaimana anak ini bisa berjalan padahal dia sudah dipastikan tidak bisa melakukan aktivitas fisik selama 2 minggu
“Bagaimana kamu bisa sembuh begitu cepat?!” Tanyaku dengan cepat dan terheran-heran.
“Oh, tengah malam tadi aku berusaha berdiri dari kasur lalu mencuri sebuah ramuan penyembuh dari lemari obat.... Hehe,” ujar Chiva sambil nyengir dan menggaruk kepala.
Memang selain aneh, anak ini juga memang biadab, “Tapi kan ramuan penyembuh cuma bisa menyembuhkan luka luar aja....”
“Oh aku mencampur beberapa bahan. Karena luka yang ku alami adalah luka fisik dan bukan infeksi, maka ramuan itu masih bisa bekerja dengan baik. Walau aku masih harus menunggu beberapa hari agar bisa memastikan benar-benar sembuh, setidaknya ramuan itu mempercepat proses penyembuhan ku,” tutur Chiva.
Udahlah sifat mirip perempuan, pintar pula. Tidak ku sangka anak ini bisa menjadi sangat biadab. Entah bahan apa yang dia gunakan untuk dicampurkan ke ramuan penyembuhan, tapi semoga saja tidak memiliki efek samping untuknya....
“Apakah ada efek samping?” Tanyaku.
“Sejak malam hingga pagi ini sih tidak ada efek samping apapun.... Semoga saja tidak ada efek samping apapun,” ucapnya.
“Mending kita latihan aja dulu, lagi pula lawan pas final nanti pasti kuat banget.”
Baru juga sembuh sehari sudah ngajak latihan, dia ini bukan optimis tapi gila.
“Tidak, kamu masih belum benar-benar sem-” Chiva tiba-tiba menarik tangan ku. “Aku tidak apa-apa kok, yuk langsung aja,” Chiva berlari sambil menarik tangan ku. Kami sampai di belakang bangunan kelas.
“Kenapa kita di sini? Bukankah kamu bilang mau latihan? Kenapa tidak di lapangan saja?” Tanyaku terheran-heran.
“Kita latihan di sini saja biar tidak ada orang yang melihat sihir apa yang baru kita pelajari.”
Chiva mengeluarkan sebuah buku dari bajunya.... “Aku baru saja mempelajari sihir baru dari buku yang ku ambil di perpustakaan.”
“Tunjukkin sihirnya...,” pintaku.
Chiva memintaku untuk memegang bukunya sebentar. Aku mengambil buku itu lalu menyaksikan sihir yang baru dipelajari Chiva.
Chiva menutup mata dan menarik napas, tangannya ke depan lalu semburan angin yang sangat kuat keluar dari tangannya hingga membuat daun pada pepohonan rontok.
Lumayan, ini bagus untuk menghalau lawan yang tiba-tiba merubah target.
Setelah menunjukkan sihirnya Chiva berbicara, “Bagaimana? Aku jarang menggunakan sihir angin bahkan terkadang aku lupa kalau aku pernah mempelajari sihir angin....”
Aku katakan padanya bahwa teknik baru nya itu mungkin akan berguna. Aku membuka buku yang tadi Chiva berikan dan membaca isinya....
Tentang sihir air.... Jelas tidak ada sihir es. Aku menemukan suatu teknik unik yang berbeda dan mungkin akan berguna....
Aku menyerahkan buku itu pada Chiva setelah membaca tata cara tekniknya.
Aku menarik napas, bola-bola air muncul di sekitar ku. Aku mengubah bola-bola air yang terbang itu menjadi bola es lalu melemparkan semuanya sekaligus hanya dengan satu kali gerakan tangan.
Chiva terkagum melihat ku langsung bisa mempraktikkan sihir yang baru saja ku pelajari.
Bebatuan yang terkena serangan bola-bola es tersebut langsung hancur....
“S-sepertinya jika kamu menggunakan itu akan terlalu berbahaya Kiva....”
Iya sih, jika aku menggunakan bola es ini.... Mungkin aku akan langsung didiskualifikasi karena mencoba untuk membunuh peserta....
Aku mencoba lagi mengeluarkan bola-bola sihir air. Namun, kali ini aku tidak merubahnya menjadi es, aku ingin melihat efek air nya saja....
Bola-bola tersebut ku lontarkan ke bebatuan yang berbeda. Bebatuan tersebut tidak hancur, hanya saja kecepatan dari bola air itu jelas bisa membuat orang lain sakit dan nyeri.... Apalagi bola-bola itu terbuat dari air....
Singkat cerita aku dan Chiva berlatih dari pagi hingga siang lalu makan sebentar dan lanjut latihan lagi. Tidak ada tanda-tanda efek samping dari ramuan penyembuhan yang diminum Chiva.
4 hari kemudian kami sudah berhasil menguasai sihir yang bisa kami kuasai dan bersiap untuk pertandingan final.... Untung kami hanya mempelajari sihir yang telah kami kuasai dan tidak mempelajari sihir baru seperti petir atau api.
Hari ini adalah hari yang di nanti.... Final kelas elemen air. Lawan kami adalah murid dari kelas alpha, Neka Ventova dan Herla Yovaria.... Neka, salah satu dari teman Rovka....
Kenapa kelas Alpha lagi? Karena tiga kelas, yaitu alpha, beta, delta, dan omega harus setidaknya menyumbang dua tim sedangkan satu tim dari kelas kami sudah gugur melawan Winfrey dan Nicolas sejak awal pertandingan kelas elemen.
Berdiri di garis putih masing-masing, kami bersiap untuk menyerang saat setelah bel berbunyi.
Bel berdenting dengan suara yang menggema dibarengi sorakan dari para penonton. Aku berlari maju tanpa senjata dan setiap langkah kaki ku membuat tanah menjadi es yang sangat licin. Neka mengayunkan tangannya dan semburan air muncul di depanku menghalangi ku untuk menyerang mereka.
Neka tiba-tiba muncul di belakang ku dengan energi sihir bayang di sekitarnya. Tapi aku sudah tahu dia akan melakukan ini. Aku langsung membuat pedang air dan berbalik menangkis tebasan sihir air nya. Saat saling berhadapan dan menatap, aku mengubah pedang air ku menjadi tombak air....
Sementara Chiva menghalangi Herla yang akan menyerang ku, Chiva menggunakan sihir semburan angin. Jelas dengan kekuatan angin sebesar itu Herla terpental karena tidak bisa mempertahankan posisi.
Aku tidak hanya bisa menggunakan pedang, aku juga bisa menggunakan tombak bahkan aku sudah berlatih sejak kecil.
Aku berlari, melompat dan menyerang Neka dengan tombak air. Neka juga menggunakan tombak. Namun, tombak asli yang telah diberi energi sihir bayangan.
Begitu ya.... Sembari mengayunkan tombak, aku mengubah ujung tombak menjadi es, kecuali bagian batang yang tetap dalam bentuk air.
Nekan mengayunkan tombak dengan lihai dan menangkis setiap serangan tombak ku. Baiklah kalau begitu....
Aku mengayunkan tangan kiri ku ke depan lalu ombak air muncul di depan Neka, sebelum dapat bereaksi aku mengubah ombak itu menjadi kubah es. Aku langsung melakukan teleportasi sihir es dan menyerang Neka dengan tombak ku.
Neka melakukan teleportasi. Namun, bukan untuk menyerangku.... Melainkan menyerang Chiva yang sedang berurusan dengan Herla....
Chiva terkejut dan tidak sempat untuk melakukan perlawanan balik, alhasil dia terkena serangan sihir bayangan dari Neka. Chiva terlempar hingga ke dinding arena. Namun, sebuah keajaiban membuatnya kembali berdiri....
Chiva berdiri dan luka yang dia terima sekejap hilang. Sepertinya itu adalah efek dari ramuan penyembuh.
Aku berteleportasi ke belakang Neka dan Chiva juga langsung merespon dengan melontarkan tebasan air dari tangannya.
Neka berteleportasi ke atas. Namun, sebelum tebasan air Chiva mengenai ku, aku mengubah tebasan air itu menjadi pedang es dan menangkap pedang es tersebut. Kemudian aku aku menebas ke arah Neka. Gelombang tebasan sihir es keluar dari pedang dan Neka langsung terjatuh karena tidak sempat untuk menghindar.
“Sekarang kau...,” aku menoleh ke arah Herla dengan tatapan dingin dan mengancam sambil berjalan perlahan ke arahnya dengan pedang es yang mengeluarkan sangat banyak energi es.
“Tidak ku sangka akan secepat ini...!” Ucap Herla yang panik lalu berlari menjauhi ku.
“Saatnya untuk mencoba...,” bola-bola air mulai muncul di sekitar tubuh ku, mengelilingi tubuh ku. Aku mengayunkan pedang ke arah Herla lalu bola-bola air itu langsung meluncur sangat cepat menyerang Herla yang berlari.
Herla membuat dinding air yang terus mengikuti pergerakannya dan melindunginya dari serangan bola-bola air ku. Bola-bola terus bermunculan di sekitar ku dan aku juga terus meluncurkannya ke arah Herla.
Herla yang sangat panik berhenti dan menghentakkan tongkat sihirnya ke tanah, lalu ombak air yang sangat besar muncul bergerak ke arah kami. Apa dia lupa jika aku adalah pengguna sihir es?
Aku perlahan mengarahkan tangan ku ke arah ombak, lalu uap es muncul dari tangan ku yang mengubah ombak menjadi es beku.
Herla yang panik kembali menyerang. Namun, dia menggunakan tongkat sihirnya dan seekor harimau api muncul. Harimau itu berubah menjadi petir saat berlari ke arah ku. Kecepatan harimau itu sangat cepat, tapi beruntung aku bisa menghindari terkamannya.
Chiva datang dari belakang Herla dan mulai menyerang Herla dengan dua pisau air nya. Herla membuat perisai yang dapat menahan setiap serangan Chiva. Namun, Chiva berhasil menjatuhkan tongkat sihir Herla dan harimau yang berhadapan dengan ku langsung lenyap.
Aku menoleh ke arah Herla dan berteleportasi ke belakangnya, lalu berbisik. “Menyerah saja, aku tidak ingin menyakiti perempuan.”
Herla terduduk ketakutan dalam kepanikan. Sudah jelas siapa yang menang, hahaha....
...****************...
Setelah pertarungan itu kami yang akan makan siang karena lelah, malah bertemu dengan Alissa.
Alissa memuji pertarungan kami, Alissa juga sedikit tertawa saat kami membuat penyihir hebat seperti Herla menjadi panik dan ketakutan....
Alissa pun pergi setelah memuji kami. Kami juga berjalan kembali menuju kantin.... Sesampainya di kantin dan duduk di kursi dengan makanan di meja. Datang lima orang bedebah lagi....
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 41 Episodes
Comments
Neonnorey
ouh klo ini tentang sihir...
2023-06-03
1