Chapter 7: Kebangsawanan

Empat murid laki-laki dan satu perempuan mendatangi mereka berdua, menggertak Kivasta dan Chiva serta memaksa mereka untuk pergi dari meja ini.

Lima murid itu. Bahkan, sempat menghina Chiva dengan sebutan "Bangsawan sampah". Kivasta tidak mengenal siapa lima orang ini, tapi perilaku mereka jelas sangat tidak sesuai dengan etika dan tata krama. Saat Kivasta berdiri Chiva memegang tangannya dan dia menggelengkan kepalanya, sepertinya dia tidak ingin ada keributan di kantin. Kivasta juga hanya pendatang baru jadi sangat tidak pantas jika baru saja datang sudah membuat masalah.

“Sudahlah sampah! Bertemannya dengan pendatang dari kalangan rendahan!” Ejek murid berambut pirang dengan nama yang tertulis di seragamnya "Rovka Zivanna". Empat murid lain juga ikut mengejek Chiva dengan hinaan. Bahkan, mereka juga mengejek Kivasta sebagai murid babu.

“Benar-benar...!” Tangan Kivasta mengeluarkan energi es saat mereka terus menghinanya. Chiva yang melihat tangan Kivasta mengeluarkan energi es memintanya untuk bersabar dan membiarkan mereka pergi.

Kivasta tidak terima mereka menghinanya dengan menyebut Kivasta sebagai murid babu. Tetapi, Chiva mencoba untuk membuatnya sabar dan tidak gegabah.

kelima murid-murid itu pergi, sebelum pergi mereka satu per satu memukul kepala Chiva kecuali satu orang murid perempuan yang mengikuti mereka.

Raut muka Chiva terlihat sangat depresi dan tidak seperti sebelumnya yang selalu ceria dan bersemangat.

Kivasta bertanya kepada Chiva kenapa dia membiarkan mereka melakukan itu padanya. Bahkan, tidak ada murid lain yang berniat untuk membantunya.

“Chiva, kenapa kamu membiarkan mereka mengejekmu seperti itu?” Tanya Kivasta sambil memperhatikan raut muka yang terus murung setelah diejek.

Chiva menghela napas dan berbicara, “Sebenarnya aku berasal dari keluarga bangsawan yang tidak terlalu terhubung dengan garis keturunan kerajaan secara langsung. Sekolah ini juga lebih banyak orang yang berasal dari keluarga bangsawan yang terkenal seperti keluarga Zivanna yang merupakan keturunan langsung dari keluarga kerajaan Setavia,” ujarnya dengan nada tanpa ekspresi.

Setelah mendengar penjelasan dari Chiva, Kivasta mulai berpikir. Bahwa, akademi ini memang penuh dengan murid dari kalangan atas yang sombong. Mereka jelas akan menunjukkan perasaan superioritas saat bertemu dengan seseorang yang mereka anggap lebih lemah dan juga derajatnya lebih rendah. Termasuk Kivasta sendiri, mereka menghinanya karena ia tidak berasal dari keluarga bangsawan manapun, mereka juga menghina Kivasta sebagai "murid babu". sepertinya orang-orang sudah tahu jika Kivasta adalah budak Alissa, entah bagaimana caranya.

“Jangan terlalu dipikirkan Kivasta, biarkan saja mereka pergi dan lelah dengan perbuatan mereka sendiri. Sekarang kita makan saja makanan kita sebelum pelajaran selanjutnya dimulai.”

Kivasta dan Chiva memakan makanan dengan cepat agar tidak disusul suara bel. Kivasta menghabiskan makanan pertama kali. Lalu Chiva juga sudah selesai menghabiskan makanannya.

Kivasta mengikuti Chiva ke meja kantin dan memberikan piring bekas mereka makan kepada penjaga kantin.

Dentingan bel berbunyi menandakan sudah masuk sesi pelajaran selanjutnya. Lalu Kivasta dan Chiva berjalan dengan cepat menuju kelas mereka, menaiki anak tangga ke lantai dua. Setelah berjalan sebentar mereka sampai di depan pintu kelas yang terbuka. mereka masuk dan untungnya guru masih belum masuk ke kelas. Kivasta dan Chiva segera menaiki anak tangga menuju meja mereka yang berada di belakang atas. Lalu mereka duduk, jelas mereka duduk bersebelahan.

Beberapa saat kemudian seorang guru pria menggunakan kacamata dan pakaian hitam yang elegan datang ke kelas membawa satu buku. Lalu ia berhenti di depan meja guru, meletakkan buku itu di atas meja guru.

Guru memberi salam pada semua murid. Lalu para murid membalas salam guru tersebut. Saat ia akan baru memulai pelajaran, ia bertanya tentang siapa murid baru di kelas ini.

“Sebelum kita mulai, saya dengar ada murid baru di sini.... siapa murid baru itu?” Tanya guru itu sambil memegang kapur papan tulis.

Kivasta mengangkat tangan kanannya dan berdiri, “Saya. Nama saya Kivasta Ekova Lanhamr dari Alvia.” Jawab Kivasta memperkenalkan dirinya pada guru tersebut.

“Oh jadi kamu yang namanya Kivasta, jangan kecewakan saya di kelas ini....” Guru itu memulai pelajaran sambil menulis sesuatu di papan tulis dengan kapur putih.

Kivasta tidak mengerti apa yang ia maksud "Jangan kecewakan saya di kelas ini".

Guru pria itu menuliskan beberapa kata yang sangat familiar di mata Kivasta, itu adalah rumus fisika.

“Arrghhh..., kenapa harus fisika.... Udah ada sihir kenapa harus ada fisika?!” Gerutu Chiva sambil membaringkan kepalanya di meja sembari melihat ke papan tulis. Sepertinya Chiva sangat tidak menyukai pelajaran ini, sampai-sampai dia mengeluh seperti itu.

“Kenapa kamu tidak suka pelajaran ini?” Tanya padanya.

“Iyalah, kenapa sih harus repot belajar kek gini kalo ada sihir.” Jawabnya sambil menggerutu.

“Semuanya membutuhkan prinsip, tidak terkecuali sihir.... Mungkin fisika akan membuat sihir menjadi lebih efisien,” balasnya.

Melalui perkataan guru pria itu Kivasta bisa menebak. Bahwa, sebagian besar murid di sini tidak suka fisika. Jelas sekali karena rumus fisika memang sulit untuk dipahami, Kivasta saja hanya mengerti sebagian rumus saja....

“Oh iya, nama guru itu siapa Chiva?” Tanya Kivasta.

“Hendry Morgan.... Biasa dipanggil Pak Hendry.” jawabnya dengan lesu.

“Oh....”

Entah Kivasta harus berkata apa lagi menghadapi anak ini. Dari pada Kivasta mendapat masalah lebih baik ia perhatikan saja apa yang terpampang di papa tulis dan mendengarkan Pak Hendry.

Kivasta perhatikan dengan baik rumus yang ada di papan tulis.... Rumus itu adalah yang ditemukan oleh para ilmuwan di Alvia dan beberapa negeri padang pasir lainnya. Sepertinya ilmu tersebut sudah dimasukkan ke dalam kurikulum akademi ini.

Kivasta memikirkan tentang perkataan Chiva mengenai fungsi fisika pada sihir. Itu membuat penasaran, karena sebelumnya Kivasta tidak pernah mencoba untuk menggabungkan konsep fisika dengan ilmu sihir.... Mungkin Kivasta bisa mencobanya nanti.

Singkat cerita pelajaran pun selesai pada siang hari. mereka pun pergi meninggalkan kelas. Kivasta berjalan keluar dari bangunan akademi menuju lapangan besar. Kivasta duduk di kursi kayu yang terlihat indah dan elegan layaknya kursi bangsawan, meskipun memang sebenarnya ini hanya kursi biasa.

Beberapa saat kemudian seseorang datang menghampiri Kivasta.... Siapa lagi kalau bukan Chiva yang dari awal sok akrab. Dia duduk di sebelahnya sambil membawa roti. Ia menawarkan rotinya padanya. Namun, Kivasta menolak tawarannya

Dia memakan rotinya hingga habis. Kemudian Kivasta bertanya padanya, “Chiva, siapa nama orang-orang yang mengejekmu di kantin tadi?”

Chiva menoleh pada Kivasta sambil menelan rotinya, “Mereka adalah, Rovka Zivanna, Gevario Ounata, Zhela Festania, Kylian Aliva, dan Neka Ventova. Mereka semua masih satu kerabat dekat dengan keluarga kerajaan utama, terutama keluarga Zivanna,” Jawabnya.

“Oh begitu ya, jadi mereka itu adalah calon-calon pewaris takhta?” Tanya Kivasta lagi.

“Bisa dibilang begitu sih.... Mau roti?” Jawabnya sambil menawarkan rotinya.

“Tidak terima kasih.”

Beberapa langkah kaki terdengar di belakang mereka. Langkah kaki tersebut terdengar jelas lebih dari satu orang, mereka berbalik dan melihat siapa itu....

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!