Chapter 12: Masalah #2

Situasi menjadi sangat tegang. Semua orang termasuk aku mengeluarkan energi sihir elemen masing-masing. Aku bersiap untuk menyerang jika melakukannya terlebih dahulu.

Saat Rovka sudah bersiap untuk melakukan gerakan serangan. Tiba-tiba dari langit ada sambaran petir yang membuat kami semua mundur dan terpental. Dari debu tersebut keluar sosok Pak Hendry yang mengejutkan semua orang dan membuat kami terdiam.

“Apa yang kalian lakukan di sini?! Sudah hebat ingin saling menyerang hah?!” Sergah Pas Hendry sambil menatap ke Rovka.

“Kivasta! Kamu kembali ke kelas dahulu! Rovka dan kalian semua ikut saya ke ruang guru...!”

Pak Hendry membawa paksa murid-murid itu, juga dia mengantarku ke ruang kelas sebelum berpisah ke ruang guru.

Saat akan masuk ke dalam ruang kelas. Oh tidak! Alissa lagi. Siapa sih yang memberitahu hal ini? Apa Chiva mengikuti lagi?

Chiva keluar dari balik tubuh Alissa. Sudah kuduga pasti dia pelakunya. Aku berjalan menghadap Alissa dengan perasaan kesal.

“Jadi apa yang kamu lakukan di belakang tadi?” Tanya Alissa dengan nada tanpa emosi.

“Hanya sedikit masalah dengan bangsawan...,” jawabku.

“Oh, yang harus kamu tahu adalah Rovka anak dari raja Ron dan jika kamu menyakitinya maka kontrak akan selesai hukuman paling ringan kamu akan dikembalikan ke Alvia dan hukuman terberatnya kamu akan menjadi budak untuk selamanya. Sekarang jawab aku, kenapa kamu melakukan itu? Ini perintah...,” Tanya Alissa lagi tanpa emosi.

“Aku melakukan itu karena mereka dahulu yang memancing amarah dengan menyebutku sebagai peliharaanmu,” walau kesal dipaksa menjawabnya karena sihir yang telah dia pasang padaku. Aku tidak bisa berbuat apa-apa jika dia sudah memberi perintah.

Alissa sedikit menyeringai dan berkata, “Hanya karena itu? Apa salahnya? Aku memang menganggapmu sebagai peliharaan,” ungkap Alissa.

Wanita ini...! Jadi dia benar-benar menganggapku sebagai peliharaannya. Aku sangat tidak sudi menjadi peliharaan seorang wanita, terutama orang sepertinya. Gaya berpakaiannya saja terbuka seperti itu, sungguh tidak pantas dan merendahkan derajat diri sendiri.

Seringainya benar-benar membuatku kesal. Entah dia hanya bercanda atau tidak, tapi perkataannya sangat merendahkan harga diriku. Aku rasa aku akan menyesali kontrak ini....

Aku kemudian menoleh ke arah Chiva dan bertanya apakah dia yang melaporkan kejadian ini.

“I-iya, tapi aku khawatir saja padamu saat merasakan energi sihir yang berbeda. Jadi aku mengikuti arah asal sihir itu dan menemukanmu akan berkelahi dengan murid bangsawan di belakang...,” tutur Chiva sambil terus bersembunyi di belakang Alissa.

Aku menghela napas panjang mencoba untuk sabar. Aku berbalik dan berjalan keluar dari kelas. Namun, Alissa memanggilku lagi. Aku tidak bisa membantah atau menolak perintahnya dan langsung kembali ke hadapannya.

Alissa mengingatkanku untuk selalu bersiap, karena Kekaisaran Veratha bisa menyerang kapan saja dan mungkin saat ini mereka sedang membangun perkemahan militer.

Setelah mengatakan itu, dia memperbolehkanku untuk pergi dari kelas. Chiva berlari mengikutiku dari belakang. Aku bertanya kenapa dia mengikutiku dan dia menjawab bahwa dia hanya ingin jalan-jalan bersamaku. Jijik banget, sumpah nih anak agak miring pola pikirnya.

Aku berhenti dan bertanya dengan rasa penasaranku..., “Chiva.... Kamu itu laki-laki atau perempuan sih? Suara kamu juga cempreng kayak anak perempuan dan sifat yang lugu gitu.”

Chiva agak kebingungan dengan pertanyaanku lalu dia membantahku, “Eh?! Jelas aku ini laki-laki lah! Mana mungkin aku perempuan! Dari lahir aku memang kayak gini!”

Masa sih? Emangnya dia dari lahir kayak gini? Apa suaranya tidak berubah? Aneh..., untung dia tidak menggunakan pakaian perempuan. Kalo iya, dia sudah kujauhi sejak awal....

Aku kembali berjalan ke kantin untuk makan, aku lapar karena belum makan karena harus berurusan dengan wanita sialan itu! Setelah makan aku kembali ke kamarku dan beristirahat....

****

Sudah 3 bulan sejak aku di sini. Namun, walau kontrak masih berjalan, aku tidak merasa ada sesuatu yang janggal atau Kekaisaran Veratha menyerang kota ini. Ujian praktik juga akan dimulai dan Alissa meminta untuk semua murid memilih pasangan rekan masing-masing karena ujian yang akan dilaksanakan adalah ujian untuk menguji kemampuan bertarung para murid baik sekelas ataupun antar kelas.

Bisa dibilang jika satu tim sudah menang dikelas nya sendiri maka mereka akan bertarung dengan kelas lain dan juga kelas yang memiliki sihir elemen berbeda.

Tetapi..., Sial sekali bukannya mendapat rekan yang bagus, aku malah harus satu tim dengan Chiva. Kenapa seluruh hari-hariku harus bersamanya? Aku tidak membencinya hanya saja aku heran kenapa takdir selalu mendekatkanku padanya....

Awalnya aku mengeluh dan sempat berdebat dengan Chiva. Namun, mengeluh dan berdebat tidak akan memberikan manfaat apapun, jadi kami memutuskan untuk bekerja sama agar bisa memenangkan ujian ini.

Aku dan Chiva berlatih elemen sihir. Chiva selalu mengeluhkan sihir air miliknya yang tidak sekuat sihir air milik murid lain.

Aku menyarankannya untuk menaikkan tekanan dari sihir air untuk membuat air pada sihirnya bergerak dengan kecepatan tinggi dan tajam sesuai apa yang kami pelajari difisika.

Namun, Chiva dengan otaknya yang lambat tidak dapat memahami perkataanku. Aku mencoba untuk membuat penjelasanku menjadi tidak rumit.

“Intinya Chiva, kamu hanya perlu membuat air pada sihirmu menjadi tajam dan bergerak dengan cepat,” ucapku sambil memegang sebelah bahunya.

“Akan kucoba....”

Dipercobaan pertama Chiva tidak berhasil membuat sihir airnya bergerak sangat cepat. Namun, pada percobaan ketiga dia berhasil memotong sebuah batu hanya dengan sihir air yang tipis. Namun, memiliki kecepatan dan ketajaman yang luar biasa.

Chiva mengembangkan sihir airnya menjadi senjata yang berada di tangannya. Senjata air itu seperti pisau yang sebesar telapak tangan Chiva. tapi bentuk pisau itu sangat tajam dan memiliki pergerakan air yang cepat. Sepertinya itu akan menjadi senjata yang berbahaya....

****

Hari yang di nanti telah tiba. Hari ini adalah hari pertama ujian. Ujian hari ini adalah kualifikasi sekelas. Semua murid kelas sihir air ku akan saling berhadapan satu sama lain sebelum dapat naik tingkat untuk melawan antar kelas.

Aku dan Chiva sedang berada di lapangan tanding yang cukup luas. Kami sedang menonton murid kelas kami yang sedang bertarung satu sama lain....

Bel berbunyi menandakan pertarungan sudah selesai dan pemenang sudah ditentukan. Kami berjalan ke lapangan, berhadapan dengan dua lawan kami. Aku juga ingin mengatakan. Bahwa, diujian pertarungan ini murid bebas menggunakan sihir elemen mereka selama mereka tidak kelewatan dalam menggunakan kekuatan sihir mereka.

Aku dan Chiva sudah berada di posisi kami masing-masing, lawan juga sudah bersiap untuk menyerang....

Bel berdenting dan ujian tanding dimulai...!

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!