Setelah berjalan selama beberapa menit di dalam kota, Kivasta menoleh ke kiri dan ke kanan melihat sekitar. Namun, sedari awal pandangannya selalu terpaku pada bangunan pusat pemerintahan kerajaan Setavia atau lebih tepatnya istana Setavia. Istana yang berwarna putih tersebut terletak di dataran tinggi tepat di tengah-tengah kota dan langsung terhubung ke jalanan kota. Istana tersebut dibangun dengan sangat megah, besar, dan kubahnya yang berwarna biru seperti lautan.
Kivasta berjalan tanpa melihat arah karena fokus kepada istana megah itu, dan hal itu membuatnya menabrak seorang pria besar di depannya.... “Aduh..., m-maaf aku menabrak Anda, saya tadi fokus melihat istana kerajaan.”
Pria besar itu berbalik dan melihat ke bawah ke arah Kivasta, dengan tatapan yang menakutkan dan sangar.
“Lain kali lebih hati-hati lagi...,” ucap pria besar itu dengan nada seolah mengancam dan tanpa perasaan.
“I-Iya,” Kivasta langsung berjalan lurus ke depan menjauhi pria besar itu, pria itu sepertinya masih menatap ke arahnya. Tatapannya tadi sangat mengerikan, tapi untung saja ia tidak menyakiti Kivasta atau tiba-tiba memukuliku karena ia tidak sengaja menabraknya.
Kivasta segera berjalan cepat menjauhi pria besar tersebut, berbelok ke arah kanan hingga pria besar menakutkan itu tidak melihatnya lagi. Setelah merasa sedikit aman, Kivasta mengambil napas dalam-dalam untuk menenangkan diri
Kivasta menunduk sambil menarik napas, “Huft dia tadi sangat menakutkan...,” ucapnya dengan jantung yang berdebar-debar dan sedikit panik.
Saat Kivasta menaikkan kepalanya, Kivasta melihat banyak orang yang berkumpul menggunakan baju zirah dan membawa pedang di sana juga ada wanita. Kivasta pun melihat langsung apa yang ada di depan sana.
Kivasta berjalan menghampiri sekumpulan orang-orang dengan baju zirah, pedang, dan juga busur beserta tas berisi panah. ia menanyai salah satu pria yang membawa pedang besar dan memakai baju zirah.
“H-Halo, ada apa ramai-ramai di sini? Dan tempat apa ini?” tanya Kivasta gugup. Namun, penasaran.
Pria itu berbalik melihat ke arah Kivasta dan berkata, “Ini adalah guild, semua orang sedang berkumpul untuk pemberitahuan tentang naga bawah tanah.”
“Naga bawah tanah?” Tanya Kivasta lagi masih penasaran.
“Guild memberitahukan hadiah untuk orang atau kelompok dari anggota mereka yang dapat mengalahkan naga bawah tanah. hadiahnya juga sangat besar seperti permata dan emas. Bahkan, jika kamu bisa mencabut sisik naga saja itu sudah berharga sangat mahal,” ujar pria itu dengan santainya.
“Begitu ya..., terima kasih ya.”
“Tidak apa-apa,” pria itu kembali berbalik dan melihat pengumuman dari guild.
Kivasta tidak begitu terlalu tertarik dengan guild, menurutnya guild hanya tempat sekumpulan orang-orang penantang atau orang yang suka membantai monster. Tetapi, setidak lebih baik dari pada hanya diam di rumah tidak melakukan apapun.
Kivasta berjalan menjauhi kerumunan, ia berjalan cukup lama di dalam kota. Terlalu asik melihat pemandangan sehingga tidak menyadari bahwa matahari sudah berwarna oranye gelap yang menandakan akan menjelang sore hari.
Saat Kivasta berjalan di jalanan kota ia melihat ke kiri ada sebuah penginapan kecil dua tingkat lantai yang mungkin bisa ia sewa untuk setidaknya bisa tidur dan beristirahat dengan tenang.
Kivasta memasuki penginapan itu. Penginapan itu walaupun dari luar berukuran kecil tapi karena ini penginapan jadi jelas dalamnya akan terlihat besar, dengan banyak ornamen pajangan yang menempel di dinding.
Kivasta menghampiri meja resepsionis dan berbicara dengan wanita resepsionis, “H-Halo, a-aku satu kamar tidur,” ucapnya yang masih gugup.
“Ah baiklah nak, biaya permalamnya adalah 25 selova ya,” tutur wanita resepsionis itu.
“B-Baiklah,” Kivasta memberikan uangnya padanya dan ia segera mengambil kunci kamar lalu menyerahkannya padanya.
Kivasta melihat nomor pada kunci yang tertulis nomor '18'. Kivasta pergi meninggalkan wanita resepsionis, berjalan menaiki tangga lalu mencari kamar yang sesuai dengan nomor kunci.
“15, 16, 17..., 18!” Kivasta membuka pintu kamar yang bertuliskan '18' lalu masuk ke dalam kamar dan langsung berbaring telentang di kasur karena lelah.
“Capek.... Besok harus ngapain ya? Oh ya bagaimana cara aku mendapatkan uang,” Kivasta membalikkan tubuhnya dan membentangkan tangannya di kasur.
“Kira-kira kerja apa yah? Memangnya di sini ada lowongan kerja? Besok tanya orang yang ada di resepsionis aja lah,”
Hari sudah menjelang malam, setelah bergumam sendiri Kivasta merasa sangat mengantuk lalu memutuskan untuk tidur agar bisa melakukan sesuatu di esok hari.
Keesokan harinya Kivasta terbangun pada pagi hari lalu ia beranjak dari kasur lalu berjalan ke jendela membuka tirai dan membuka jendela kamar. Setelah membuka tirai dan jendela sinar matahari langsung masuk dan menerangi seisi kamar. Kivasta melihat orang-orang berjalan lalu-lalang, ada yang membawa barang dagangan, ada yang membawa..., budak dalam kandang..., dan juga ada prajurit yang sepertinya sedang melakukan patroli.
Kivasta memutuskan untuk keluar dari kamar dan menuju ke meja resepsionis dan menanyai mereka apakah mereka memiliki lowongan kerja.
Singkat cerita Kivasta sampai di meja resepsionis dan kembali bertemu dengan wanita yang kemarin melayaninya, “Halo, aku ingin bertanya sesuatu padamu.”
Wanita itu melihat Kivasta dengan santai dan ramah, “Ya, ada bisa saya bantu?”
“Apakah di sekitar sini ada lowongan kerja?” tanya Kivasta pada wanita resepsionis.
“Kalau di penginapan ini sendiri sepertinya tidak membutuhkan karyawan lagi dan jikapun kamu mau menjadi salah satu dari pegawai di sini kamu tidak boleh menginap di sini,” tutur wanita resepsionis sambil menggelengkan kepala.
“Begitu ya..., bagaimana dengan tempat-tempat lain? Apakah kamu tahu?” tanya Kivasta lagi.
“Yah, aku tidak tahu banyak tapi pasti ada yang sedang membuka lowongan kerja. Maaf hanya itu yang bisaku jawab karena sepanjang hari aku harus berada di sini melayani orang yang ingin menginap.”
“Tidak apa-apa terima kasih atas informasinya,” setelah itu Kivasta pergi keluar dari penginapan.
“Berhati-hatilah!” Wanita resepsionis melambaikan tangan di saat Kivasta pergi dari penginapan.
Setelah keluar dari penginapan Kivasta mulai berjalan seperti orang tanpa tujuan yang luntang-lantung mengelilingi kota. Kivasta berjalan sambil memandangi toko-toko yang ada di pinggi jalan, tapi mereka semua masih tutup dan baru akan buka..., sepertinya Kivasta terlalu pagi....
Kivasta merasa sedikit bosan karena tidak ada yang bisa ia lakukan di dalam kota, jadi ia memutuskan untuk keluar kota dan menguji kemampuan elemen es miliknya.
Kivasta berjalan menuju gerbang, walau ia sendiri sempat tersesat karena lupa di mana arah jalan gerbang masuk-keluar kota.
Setelah mencapai gerbang Kivasta menyapa prajurit yang berjaga di sana dengan melambaikan tangannya lalu keluar dari kota dengan santai.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 41 Episodes
Comments
Yurika23
aku mbayanginya macam Naofumi Iwatani... si pasukan perisai...
2024-10-09
0
Vellysia
what budak dalam kandang ini maksudnya manusia kah? aku bener bener merasakan seperti ada di dalam cerita .
Nyesss duh..
2023-06-26
1
Ayano
Budak dalam kandang tuh udah bisa aku bayangkan mereka manusia 😓😓
Hiks... jadi ngenes
2023-06-26
0