Kivasta berhenti di depan pintu kelas sesaat setelah satu langkah masuk, ia melihat sosok yang menatapnya, “Wow.... Sungguh tidak terduga bahwa dia akan menjadi guruku....” Sosok guru itu adalah Alissa. Sebenarnya Kivasta sudah punya perasaan. Bahwa, dia akan menjadi gurunya dan ternyata itu benar-benar dia.
Kivasta melangkah masuk ke kelas menuju ke sisi Alissa....
Kivasta berhenti di sisi Alissa dan menghadap ke murid-murid yang sedang duduk di meja masing-masing, “Baiklah murid-murid, hari ini kita kedatangan murid baru dari tempat yang jauh, yaitu kerajaan Alvia. Dia memiliki kemampuan unik untuk mengendalikan sihir elemen es dan dikarenakan akademi ini belum memiliki kelas khusus untuk sihir es maka dari itu para pimpinan akademi memutuskan untuk memasukkannya ke kelas sihir air. Kamu boleh memperkenalkan namamu sekarang dan juga kamu bisa menunjukkan sihir milikmu kepada teman-temanmu,” tutur Alissa kepada seluruh murid yang ada di kelas ini.
Para murid mulai berbisik satu sama lain, mungkin mereka membicarakan Kivasta yang berasal dari padang pasir. Namun, dapat dapat menggunakan sihir es yang "katanya" sangat langka.
Kivasta mengambil napas dan mulai memperkenalkan dirinya, “Hai semuanya, namaku Kivasta Ekova Lanhamr, panggil saja aku Kivasta. Aku berasal dari kerajaan Alvia. Namun, aku memutuskan untuk tinggal di Setavia. Salam kenal semuanya.” Ucap Kivasta mengenalkan diri dengan cara bicara yang tidak niat dan tatapan mata yang tidak berekspresi. Lebih seperti orang yang dipaksa dan Kivasta benar-benar sedang dipaksa.
Lalu Kivasta mengeluarkan semacam energi sihir es di tangannya untuk menunjukkan sihir es yang ia miliki. Semua murid terkagum melihat sihir es yang ia miliki.
Setelah menunjukkan sihir es, Alissa memintanya untuk duduk, “Kamu bisa duduk di sana Kivasta,” ucap Alissa sambil menunjukkan meja berada di belakang atas dan di sana ada orang yang sedikit melambaikan tangan padanya. Ya, dia yang kemarin. Chiva. Ternyata apa yang dia katakan benar. bahwa, Kivasta akan sekelas dengannya.
Kivasta berjalan menaiki tangga di antara meja murid lain. Ia duduk di bersebelahan dengan Chiva yang tersenyum saat Kivasta duduk di sebelahnya.
Alissa memulai pelajaran sihir. Sementara Kivasta mengamati seisi kelas dengan cermat. Menurutnya kelas ini sangat bagus dengan lukisan yang indah, dan tata letak meja dan kursi yang langsung menyatu dengan lantai dan bentuk yang menanjak ke atas layaknya universitas di Alvia.
Awalnya Kivasta pikir setiap kelas akan terisi penuh oleh laki-laki atau terisi penuh oleh perempuan. Ternyata tidak, walau di sini memiliki sistem asrama. Tetapi, di sini murid masih bergaul satu sama lain tanpa memandang jenis kelamin.
Chiva menepuk bahu Kivasta saat Kivasta sedang memperhatikan lukisan dan dinding kelas, “Apa yang kamu perhatikan Kivasta?” Tanya Chiva dengan rasa penasaran.
“Hanya sedang memperhatikan lukisan dan dinding kelas saja kok.” jawab Kivasta sambil terus memperhatikan lukisan pemandangan gunung salju di dinding.
“Apakah ada yang menarik perhatianmu dari semua lukisan yang terpampang di dinding?” Tanya Chiva lagi sambil mendekatkan dirinya kepada Kivasta.
“Aku hanya sedang melihat saja, tolong jangan terlalu dekat-dekat....” balas Kivasta sambil mendorongnya sedikit agar tidak terlalu dekat dengan tubuhnya.
“Hei, tanda apa yang ada di belakang lehermu itu?” Tanya Chiva dengan rasa penasaran.
“Sial, aku lupa kalau aku masih memiliki tanda budak di leherku! Bisa gawat jika murid lain tahu akan tanda yang ada di leherku.” Ucap Kivasta dalam hati dengan panik
Kivasta menutupi bagian belakang leher nya dengan kerah seragam akademi, “Kamu tidak perlu tahu....”
“Oh, itu adalah tanda-” Sebelum dia dapat menyelesaikan perkataannya Kivasta sudah memotongnya, “Diam!” Bentak Kivasta menyuruhnya agar diam dan tidak mengatakan sesuatu yang bisa membuat orang-orang tahu rahasianya.
Alissa menyebut nama mereka, menyuruh Kivasta dan Chiva untuk tidak berisik selama jam pelajaran, “Kivasta, Chiva. Kalian jangan berisik saat Ibu sedang mengajar, perhatikan pelajaran dengan lebih baik,” ucapnya dengan suara lembut seolah merayu.
“Baik Bu....” Jawab mereka berdua dengan kompak.
Kali ini Kivasta memperhatikan apa yang sedang diajarkan oleh Alissa di depan kelas. Dia mengajar tentang pengertian dari manipulasi sihir menjadi sebuah senjata, sama seperti apa yang ia lakukan waktu itu.
Kivasta masih tidak menyangka bahwa nasibnya akan berakhir di sini. Walau, ini lebih baik dari sebelumnya.
Kalau dipikir-pikir sekolah ini sangat luas mengingat setiap sihir elemen memiliki kelas yang berbeda-beda. Seperti sihir air yang memiliki kode "A" atau "Aqua", sihir api dengan kode "F" atau "Flame", sihir petir dengan kode "B" atau "Blitz", dan terakhir sihir angin dengan kode "W" atau "Wind". Sebenarnya masih banyak tapi tidak bisa menyebutkan semuanya. Lalu apa kode yang ada di depan nomor asrama? Itu adalah kode kromosom jenis kelamin, yaitu X untuk perempuan dan Y untuk laki-laki. Bagaimana tidak luas jika laki-laki dan perempuan yang beda elemen saja akan berada di kamar yang berbeda-beda.
Saat Kivasta sedang memperhatikan Alissa, tiba-tiba dia memanggilnya untuk mempraktikkan manipulasi sihir elemen menjadi sebuah senjata, “Kivasta, tolong kamu contohkan pada teman-temanmu bagaimana cara memanipulasi sihir elemen menjadi sebuah senjata.”
Kivasta berdiri, turun melalui anak tangga menuju ke depan depan kelas. Kivasta menghadap ke semua murid di kelas lalu mulai melakukan praktik seperti yang Alissa katakan.
Dengan sihir es Kivasta menciptakan sebuah pedang dengan bentuk khas Alvia atau padang pasir, yaitu melengkung. Semua murid yang melihat kagum dan terpesona setelah Kivasta menciptakan pedang yang berasal dari sihir es. Tentu saja seluruh bagian pedang itu berbahan es.
“Bagus Kivasta kamu menunjukkannya dengan baik di depan teman-temanmu. Sekarang Ibu ingin kalian dalam 2 pekan ke depan sudah menguasai setidaknya satu sihir elemen senjata, baik itu pedang, busur, tombak, atau apapun itu yang penting kalian sudah menguasai satu saja. Mengerti semuanya?” Tanya Alissa menunggu jawaban dari semua murid.
“Mengerti Bu.” jawab semua murid.
“Baiklah pelajaran sudah habis, kalian boleh istirahat dan setelah itu kembali melanjutkan pelajaran yang lain.”
Alissa tiba-tiba menarik tangan Kivasta membawanya keluar dari kelas.
“Kita mau ke mana?!” Tanya Kivasta yang terkejut saat dia membawanya keluar.
“Ikut saja aku.” Dia membawanya ke tempat yang sepi, yaitu di bawah anak tangga lantai satu.
“Aku membawamu ke sini karena aku ingin memberitahumu. Bahwa, tanda budak itu tidak akan hilang sebelum kamu menyelesaikan kontrakmu, yaitu membantu melawan kekaisaran Veratha dan Jika kamu tidak patuh.... Aku bisa membuatmu menjerit kesakitan.... Mengerti?” Tanya Alissa sambil sedikit menunduk dan mendekatkan wajahnya yang menakutkan dekat sekali dengan wajah Kivasta.
Kivasta menoleh ke kanan dan menjawabnya, “Ya, ya aku mengerti....”
Alissa menjauhkan wajah dari Kivasta. “Bagus, sekarang kamu boleh istirahat,” Alissa pergi begitu saja sesaat sebelum dentingan bel berbunyi yang menandakan waktu istirahat.
Kivasta berjalan mencari kantin. Namun, bukan kantin yang ia temukan melainkan Chiva yang sedang berjalan ke arahnya....
Chiva mulai berlari ke arah Kivasta dan berhenti di depannya, “Kamu mau ke mana?” Tanya Chiva.
“Aku sedang mencari kantin.” Jawab Kivasta.
“Ah.... jadi kamu belum tahu di mana kantin, ikuti aja aku.”
“Baiklah....” Kivasta mulai mengikutinya menuju kantin karena ia tidak tahu di mana kantin berada.
Saat sudah ada di kantin Kivasta dan Chiva langsung memesan makanan, makanan di sini gratis untuk para murid. Setelah itu Kivasta dan Chiva berjalan ke meja makan sambil membawa makanan masing-masing.
Baru saja duduk datang 5 orang murid yang menggertak mereka, menyuruh mereka untuk pergi dari meja tersebut....
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 41 Episodes
Comments
Neonnorey
ouh ini kelas sihit thor?
2023-05-28
1